LOGINTim Leonardo dipenuhi oleh kultivator-kultivator yang berada di alam kebangkitan dengan level yang jauh lebih tinggi dari siapa pun di tim Mentira.Leonardo menatap rombongan Mentira dengan pandangan yang sama seperti seorang raja memandang sekelompok pengemis yang menghalangi jalannya. "Keluarga Wongso? Kalian juga mau ikut campur? Aku dengar kalian pindah dari level ketiga ke level pertama tahun ini." Dia tertawa singkat. "Keputusan yang sangat bodoh. Kalian akan dihancurkan di babak pertama."Leonardo memandang Mentira langsung. "Dan kau, gadis kecil. Kalau keluargamu berani berpihak dengan keluarga Wicaksana, maka setelah kontes ini aku juga akan mengarahkan tanganku ke kota Bantara. Aku akan memastikan keluarga Wongso tidak pernah lagi memiliki tempat di wilayah Selatan."Paman kedua Mentira yang berdiri di belakang keponakannya merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Ancaman Leonardo bukan ancaman kosong. Keluarga Limanto memiliki kekuatan untuk mewujudkan setiap anca
Setelah Winona meninggalkan kamarnya, Wandra langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Dia duduk bersila di atas tempat tidur dan mengeluarkan inti roh gurita iblis tingkat enam dari cincin penyimpanannya. Bola keunguan itu melayang di udara di hadapannya, berdenyut dengan energi yang sangat padat.Wandra memejamkan matanya dan mulai proses pemurnian. Energi dari inti roh itu mengalir masuk ke tubuhnya melalui setiap pori-pori kulitnya, diserap oleh setiap sel, dimurnikan oleh setiap meridian.Tubuhnya yang sudah dimurnikan selama tujuh ribu tahun menerima energi baru itu dengan efisiensi yang luar biasa, mengintegrasikannya ke dalam fondasi kultivasinya yang sudah sangat tinggi.Proses itu berlangsung selama beberapa menit. Dan saat Wandra membuka matanya, dia merasakan perbedaan yang signifikan di seluruh tubuhnya. Setiap otot terasa lebih padat. Setiap tulang terasa lebih kokoh. Setiap meridian terasa lebih lancar. Energi yang mengalir di dalam tubuhnya berputar dengan kecepa
Setelah beberapa menit berbaring dalam pelukan hangat, Wandra akhirnya bangun pelan, kontolnya masih setengah tegang di dalam memek Winona yang basah. Dia tarik diri keluar dengan desahan pelan, lihat cairan campuran mereka menetes dari bibir memek gadis itu ke seprai. "Waktunya bersiap, Win. Kontesnya nggak akan nunggu kita," katanya sambil berdiri, ambil celananya dari lantai. Winona menggeliat, payudaranya bergoyang saat dia duduk, matanya masih penuh sisa hasrat. "Iya, tapi aku nggak mau kau pergi tanpa tambahan kekuatan," balasnya, ambil gaunnya yang tergeletak di dekat ranjang.Mereka mulai berpakaian, Wandra masukkan kontolnya ke dalam celana dalam, rasakan kehangatan sisa yang bikin ia tersenyum. Winona tarik gaun tipisnya naik, kain sutra itu gesek putingnya yang sensitif, bikin napasnya tersengal pelan. Saat dia angkat lengan untuk masukkan resleting, Wandra lihat lekuk punggungnya yang mulus, ingat bagaimana ia cakar kulit itu tadi. "Kau cantik sekali pagi ini," gumam W
Pagi ini, sinar matahari pagi menyusup melalui jendela kamar kos Wandra yang sederhana, menerangi ranjang berantakan dan tas perjalanan yang sudah siap di sudut ruangan. Wandra sedang merapikan pakaiannya, pikirannya sudah melayang ke Kota Candi di mana kontes beladiri bakal dimulai nanti. Tubuhnya masih segar setelah kultivasi malam sebelumnya, qi mengalir lancar di meridiannya, membuatnya merasa penuh energi. Tapi tiba-tiba, ketukan pelan di pintu mengalihkan perhatiannya.“Wandra? Ini aku, Winona,” suara lembut gadis itu terdengar dari balik pintu, penuh nada menggoda yang langsung bikin jantung Wandra berdegup lebih kencang. Dia buka pintu, dan di sana berdiri Winona, mengenakan gaun tipis berwarna merah muda yang menempel ketat di lekuk tubuhnya yang montok. Rambutnya terurai panjang, matanya berkilau penuh hasrat, dan senyumnya seperti janji kenikmatan yang tak terbantahkan. “Aku dengar kau mau berangkat ke kontes hari ini. Biar aku kasih hiburan pagi dulu, supaya qi-mu makin
"Lebih baik dia fokus saja di kontes level ketiga bersama keluarga Wicaksana. Walaupun di sana pun aku ragu dia bisa menang."Wandra menelan sepotong daging dan meminumnya dengan air putih. Wajahnya sama sekali tidak berubah mendengar semua itu.Saat itulah pintu ruangan VIP terbuka dan Winona masuk bersama ayahnya, Wahyu Wicaksana. Mereka baru saja tiba setelah mendapatkan undangan dari Mentira untuk bergabung dalam jamuan perpisahan sebelum keberangkatan.Winona langsung mengedarkan pandangannya mencari Wandra dan menemukannya duduk sendirian di ujung meja dengan piring yang sudah hampir kosong. Ekspresi di wajah Winona langsung berubah saat dia mendengar sisa-sisa percakapan yang masih bergema di ruangan, percakapan yang jelas-jelas meremehkan Wandra.Winona menoleh ke ayahnya dan berbisik. "Ayah, mereka terus meremehkan Wandra. Kita harus memberitahu mereka tentang kemampuan Wandra yang sebenarnya."Wahyu yang juga merasa tidak nyaman mengangguk dan hendak berbicara. Tapi Wandra y
Siang ini, Mentira tiba di rumah kos Wandra dengan sebuah mobil van besar yang diparkir di depan pagar. Dia mengenakan pakaian kasual, celana hitam dan blus biru muda, tapi wajahnya menunjukkan campuran antara kecemasan dan tekad yang tidak biasa terlihat pada gadis yang biasanya selalu angkuh itu."Wandra, kita perlu bicara," Mentira berkata begitu Wandra membuka pintu.Wandra mengajaknya masuk ke ruang tamu. Mereka duduk berhadapan dan Mentira langsung memulai pembicaraannya tanpa basa-basi."Kakekku terus-menerus menyuruhku untuk mempercayai kamu sepenuhnya dalam kontes nanti. Dia bilang kamu sangat mampu untuk mengangkat keluarga Wongso menjadi nomor satu di wilayah Selatan." Mentira menghela napas. "Tapi jujur, Wandra, aku sama sekali tidak mengerti mengapa kakekku sangat mempercayaimu. Kamu cuma berada di alam pemurnian tubuh level satu. Kontes level pertama itu diikuti oleh kultivator-kultivator terkuat dari kota Dekon dan kota Candi. Bagaimana mungkin kamu bisa bersaing dengan
Asap keunguan dari liontin giok Wandra mengepul semakin pekat, memenuhi lorong rumah Arno dengan aroma manis yang memabukkan.Wandra dan Maya, pelayan itu, saling tatap, dunia di sekitar mereka seolah lenyap, hanya menyisakan dua jiwa yang terpikat oleh gelombang hasrat yang tak tertahankan. Logika
*"Sekarang serangan balik,"* kata suara. *"Tangan kanan—letakkan di dadamu, tepat di atas liontin. Rasakan kehangatan yang ada di sana. Kumpulkan. Kemudian dorong dengan telapak tangan ke arahnya. Bukan dorong seperti mendorong benda—dorong seperti melepas sesuatu yang selama ini kamu tahan."*Wand
Arno Dwisetya—menurut apa yang berhasil Wandra kumpulkan dari pencarian cepat di ponselnya sambil menunggu di warung kopi dekat Jalan Kebon Sirih—adalah nama yang tidak sulit ditemukan.Sebuah nama yang tercetak di berbagai papan nama gedung perkantoran di kawasan Sudirman. Foto profil di sebuah ma
Gudang nomor tujuh belas adalah bangunan tua dengan dinding seng yang berkarat di beberapa bagian dan pintu besi besar yang sedikit terbuka—hanya cukup untuk satu orang masuk menyamping. Di luarnya ada satu orang penjaga yang duduk di kursi plastik dengan kepala menunduk, mungkin setengah tidur.Wa







