共有

Bab 272

作者: Jw Hasya
last update 最終更新日: 2026-02-16 22:32:38
Kaca jendela apartemen lantai dua belas menghadap ke pusat kota Vilateli, di mana lampu-lampu neon dari gedung-gedung bertingkat dan jalan raya yang ramai menjadikan malam yang tadinya seharusnya sunyi tampak seperti tengah hari yang sibuk.

Aina berdiri di depan cermin kamar mandi. Tangan kirinya secara refleksmengikuti menyentuh lekukan pinggangnya, garis tubuhnya dengan baik, sementara kedua gendang telinganya mendengar dengan samar sebuah suara yang datang dari ruang tamu.

Sesaat kemudi
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (6)
goodnovel comment avatar
Mariati Binti kamarudin
Kalau saja kama aku berhenti baca sory ya
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
awas kama,, kalau sutra pergi untuk yang kedua kalinya.. kau takkan menemukan nya
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
ah kama.. awas kalau sutra hilang lagi darimu
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Kama Sutra   Bab 289

    Sambil memeluk Sutra, Kama berusaha tersenyum meskipun senyum itu palsu. Entah kenapa, dia seolah tak tega saat melihat kesedihan itu sedikit menyapu wajah sang istri. Kama tidak ingin Sutra menjadi kepikiran hanya karena akan memikirkan penyakitnya tersebut. Namun, pria itu tiba tiba bertekad untuk bisa kembali sembuh tanpa sepengetahuan Sutra. Kama akan mencari cara agar dirinya bisa teraelamatkan dari mau yang tengah mengintainya. “Lain kali kau jangan membuat hatiku takut, aku tidak suka. Kecuali kau memang menginginkan aku pergi dari hidupmu,.” Suaranya terisak di dalam pelukan Kama. Membuat pria itu semakin merasa bersalah. Kama semakin mengeratkan pelukannya. “Hei, jangan bicara seperti itu. Sungguh, aku hanya ingin bercanda tadi. Maafkan aku, aku tidak tahu kalau candaanku itu membuat kau bersedih.” ***Di ruangan rawat inap anak bagian hematologi rumah Sakit, sorot mata seorang dokter terfokus pada layar monitor yang menampilkan data kesehatan Sofia, bayi berusia tujuh

  • Kama Sutra   Bab 288

    Suara sirene semakin menggelegar, menyebar ke setiap sudut gedung tua yang terbengkalai. Cahaya lampu dari mbil polisi mulai menerangi bagian dalam gedung melalui celah-celah dinding yang retak dan jendela tua, menciptakan bayangan samar yang bergoyang-goyang seolah ada makhluk tersembunyi di dalamnya. “Jangan biarkan mereka menangkap kita! Segera selesaikan ini sekarang juga!” pekik Bruno, menyadari bahwa kesempatan mereka sudah hampir habis. Pria itu kemudian mengambil senternya yang jatuh di tanah dan menyalakannya kembali, sorot sinarnya langsung menemukan sosok Delon yang masih berusaha melepaskan diri dari anak buah Bruno yang sedang menahan kakinya. Dengan kekuatan yang luar biasa, Bruno menarik Delon dari genggaman anak buahnya. Tubuhnya yang lemah dan terluka tampak seperti mainan di tangan pria tinggi itu. “Mau lari ke mana kau! Nyawamu sudah di ujung tanduk, Keparat!!” ujar Bruno dengan tatapan yang tidak lagi menunjukkan rasa kasihan sedikitpun. Delon masih terus beru

  • Kama Sutra   Bab 287

    “Ke mana kau, Naina!” Delon terlihat mondar mandir di dalam ruangan kerjanya. Sudah lebih dari sepuluh kali, hari ini dia mencoba menghubungi Naina, tapi tak ada jawaban. Bahkan, ponsel wanita itu mati. Sesekali Delon menganjur napas kasar dengan sambil mengacak acak rambutnya sendiri. Delon kembali menekan ponselnya untuk menghubungi Naina. Beruntungnya, panggilan kali ini ada jawaban. “Naina, kau ke mana saja? Kenapa tidak mengabariku! Kau seolah menghilang dua hari ini!” ucap Delon dengan suara meninggi. “Bagaimana kelanjutan rencana kita? Apa kau sudah berhasil menghancurkan semua perusahaan Grup Deodola?” sambung Delon. Tak ada jawaban dari seberang sana. Namun, Delon dapat mendengar ada suara desahan napas yang begitu berat. Akan tetapi pria itu tidak dapat menebak, itu desahan suara siapa. “Kau jangan main main denganku, Naina! Aku bisa membuatmu hancur!”Masih tak ada jawaban. “Naina, apa kau i—“Tiba tiba panggilang terputus sebelum Delon menuntaskan kata katanya. “Si

  • Kama Sutra   Bab 286

    “Sebetulnya kau pernah ada hubungan seperti apa dengan Sutra, hingga Kama sebenci itu terhadap dirimu?” Ellies duduk di bangku pangjang di koridor rumah sakit. Tatapannya tertunduk, seakan mencari jawaban atas rasahasia yang tengah disembunyikan Hans kepadanya. “Tidak ada. Tapi aku memang sudah salah besar pada Tuan Muda, karena sempat menaruh dendam terhadap dirinya,” elak Hans. Ellies tersenyum datar. “Apa kau pikir aku mudah untuk kau bohongi, Hans? Bahkan aku begitu mengenal sepupuku meskipun kau pernah menjadi salah satu orang kepercayaannya.” Ellies menengadahkan kepalanya, menatap langit langit koridor rumah sakit yang tampak sedikit memudar. “Dia orang yang mudah memaafkan, tapi … untuk sesuatu hal yang begitu menyakiti hatinya, dia tidak akan pernah bisa memaafkannya.” Ellies kemudian menoleh ke arah Hans, di mana pria itu saat ini yang tertunduk dalam. Kata kata Ellies betul betul menusuk tepat di ulu hatinya. Rasa bersalah itu kembali menyeruak, menganga di perm

  • Kama Sutra   Bab 285

    “Apa yang pernah kau lakukan pada Sutra? Hingga Kama tidak bisa memaafkanmu?”Hans turun dari atas pahan Ellies, kemudian merebahkan tubuhnya di samping perempuan tersebut. Sedangkan dia merbahkan tubuhnya, benda yang tadinya mengeras dan berotot di bagian selangkangannya saat ini tampak layu. Hans menindih kedua lengannya dengan kepala, tatapannya menerawang ke atas langit langit kamar. “Kenapa kau menanyakan hal itu?”Ellies ikut merebahkan tubuhnya di sampingnya. “Karena aku ingin tahu saja. Setidaknya agar aku lebih yakin jika kau memang betul betul mencintaiku dan ingin hidup denganku.”Hans tersenyum datar. “Aku tidak pernah melakukan apa pun terhadap Sutra. Kama tidak bisa memaafkanku karena dia memang betul betul menyimpan dendam padaku,” tepis Hans. Rasanya pun tidak mungkin jika dia harus mengatakan pada Ellies hal apa yang pernah dilakukannya terhadap Sutra. “Tapi kenapa hatiku mengatakan jika kau menyembunyikan sesuatu dariku?”Hans memiringkan tubuhnya. Lalu menatap

  • Kama Sutra   Bab 284

    “Ellies, kuharap kau tidak pernah lagi melakukan sesuatu yang bisa membahayakan dirimu sendiri.” Hans berujar saat keduanya telah sampai di apartemen. Ellies tengah membuka lemari untuk memilih milih baju mana yang akan dipakai setelah membersihkan tubuhnya nanti. Sejenak dia menghentikan aktivitasnya ketika Hans berujar seperti itu. “Maksudmu?” Kedua alisnya tampak saling menaut. Seolah bingung dengan kata kata Hans. “Jadi … kau tidak mengingat apa pun kemarin malam?” tanya Hans penasaran. Ellies diam sesaat, memikirkan kata kata Hans barusan. “Aku tidak mengingat apa pun. Memangnya ada apa?” Ellies berjalan menuju Hans sambil menengeng sebuah baju di tangannya. Hans menatap dalam, memastikan sesuatu di bola mata wanita itu. Detik kemudian, Hans menganjur napas panjang dan menyeret. “Kau mabuk berat di kelab. Hampir saja seorang pria asing menjamahmu kalau aku tidak datang tepat waktu.”“Apa?!” Ellies terperangah.Kemudian wanita itu memejam kan mata sesaat, menyisir sesuatu ya

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status