ログインSuara sirene semakin menggelegar, menyebar ke setiap sudut gedung tua yang terbengkalai. Cahaya lampu dari mbil polisi mulai menerangi bagian dalam gedung melalui celah-celah dinding yang retak dan jendela tua, menciptakan bayangan samar yang bergoyang-goyang seolah ada makhluk tersembunyi di dalamnya. “Jangan biarkan mereka menangkap kita! Segera selesaikan ini sekarang juga!” pekik Bruno, menyadari bahwa kesempatan mereka sudah hampir habis. Pria itu kemudian mengambil senternya yang jatuh di tanah dan menyalakannya kembali, sorot sinarnya langsung menemukan sosok Delon yang masih berusaha melepaskan diri dari anak buah Bruno yang sedang menahan kakinya. Dengan kekuatan yang luar biasa, Bruno menarik Delon dari genggaman anak buahnya. Tubuhnya yang lemah dan terluka tampak seperti mainan di tangan pria tinggi itu. “Mau lari ke mana kau! Nyawamu sudah di ujung tanduk, Keparat!!” ujar Bruno dengan tatapan yang tidak lagi menunjukkan rasa kasihan sedikitpun. Delon masih terus beru
“Ke mana kau, Naina!” Delon terlihat mondar mandir di dalam ruangan kerjanya. Sudah lebih dari sepuluh kali, hari ini dia mencoba menghubungi Naina, tapi tak ada jawaban. Bahkan, ponsel wanita itu mati. Sesekali Delon menganjur napas kasar dengan sambil mengacak acak rambutnya sendiri. Delon kembali menekan ponselnya untuk menghubungi Naina. Beruntungnya, panggilan kali ini ada jawaban. “Naina, kau ke mana saja? Kenapa tidak mengabariku! Kau seolah menghilang dua hari ini!” ucap Delon dengan suara meninggi. “Bagaimana kelanjutan rencana kita? Apa kau sudah berhasil menghancurkan semua perusahaan Grup Deodola?” sambung Delon. Tak ada jawaban dari seberang sana. Namun, Delon dapat mendengar ada suara desahan napas yang begitu berat. Akan tetapi pria itu tidak dapat menebak, itu desahan suara siapa. “Kau jangan main main denganku, Naina! Aku bisa membuatmu hancur!”Masih tak ada jawaban. “Naina, apa kau i—“Tiba tiba panggilang terputus sebelum Delon menuntaskan kata katanya. “Si
“Sebetulnya kau pernah ada hubungan seperti apa dengan Sutra, hingga Kama sebenci itu terhadap dirimu?” Ellies duduk di bangku pangjang di koridor rumah sakit. Tatapannya tertunduk, seakan mencari jawaban atas rasahasia yang tengah disembunyikan Hans kepadanya. “Tidak ada. Tapi aku memang sudah salah besar pada Tuan Muda, karena sempat menaruh dendam terhadap dirinya,” elak Hans. Ellies tersenyum datar. “Apa kau pikir aku mudah untuk kau bohongi, Hans? Bahkan aku begitu mengenal sepupuku meskipun kau pernah menjadi salah satu orang kepercayaannya.” Ellies menengadahkan kepalanya, menatap langit langit koridor rumah sakit yang tampak sedikit memudar. “Dia orang yang mudah memaafkan, tapi … untuk sesuatu hal yang begitu menyakiti hatinya, dia tidak akan pernah bisa memaafkannya.” Ellies kemudian menoleh ke arah Hans, di mana pria itu saat ini yang tertunduk dalam. Kata kata Ellies betul betul menusuk tepat di ulu hatinya. Rasa bersalah itu kembali menyeruak, menganga di perm
“Apa yang pernah kau lakukan pada Sutra? Hingga Kama tidak bisa memaafkanmu?”Hans turun dari atas pahan Ellies, kemudian merebahkan tubuhnya di samping perempuan tersebut. Sedangkan dia merbahkan tubuhnya, benda yang tadinya mengeras dan berotot di bagian selangkangannya saat ini tampak layu. Hans menindih kedua lengannya dengan kepala, tatapannya menerawang ke atas langit langit kamar. “Kenapa kau menanyakan hal itu?”Ellies ikut merebahkan tubuhnya di sampingnya. “Karena aku ingin tahu saja. Setidaknya agar aku lebih yakin jika kau memang betul betul mencintaiku dan ingin hidup denganku.”Hans tersenyum datar. “Aku tidak pernah melakukan apa pun terhadap Sutra. Kama tidak bisa memaafkanku karena dia memang betul betul menyimpan dendam padaku,” tepis Hans. Rasanya pun tidak mungkin jika dia harus mengatakan pada Ellies hal apa yang pernah dilakukannya terhadap Sutra. “Tapi kenapa hatiku mengatakan jika kau menyembunyikan sesuatu dariku?”Hans memiringkan tubuhnya. Lalu menatap
“Ellies, kuharap kau tidak pernah lagi melakukan sesuatu yang bisa membahayakan dirimu sendiri.” Hans berujar saat keduanya telah sampai di apartemen. Ellies tengah membuka lemari untuk memilih milih baju mana yang akan dipakai setelah membersihkan tubuhnya nanti. Sejenak dia menghentikan aktivitasnya ketika Hans berujar seperti itu. “Maksudmu?” Kedua alisnya tampak saling menaut. Seolah bingung dengan kata kata Hans. “Jadi … kau tidak mengingat apa pun kemarin malam?” tanya Hans penasaran. Ellies diam sesaat, memikirkan kata kata Hans barusan. “Aku tidak mengingat apa pun. Memangnya ada apa?” Ellies berjalan menuju Hans sambil menengeng sebuah baju di tangannya. Hans menatap dalam, memastikan sesuatu di bola mata wanita itu. Detik kemudian, Hans menganjur napas panjang dan menyeret. “Kau mabuk berat di kelab. Hampir saja seorang pria asing menjamahmu kalau aku tidak datang tepat waktu.”“Apa?!” Ellies terperangah.Kemudian wanita itu memejam kan mata sesaat, menyisir sesuatu ya
Kama memutuskan untuk segera membawa Naina ke tempat biasanya dia menyekap para pengkhianat. Kali ini Bruno yang dititahkan. Naina memohon, bersujud di ujung kaki Kama agar dirinya tak di bawa ke tempat yang begitu mengerikan tersebut. “Terlambat! Kau tidak mau mengatakan siapa orang yang menyuruhmu!” Tatapannya penuh seringai, bahkan dengan keadaan sadar, Kama menjambak rambut Naina. “Bruno, seret dia masuk!” pekiknya dengan nada penuh penekanan. ***Aroma anyir menyergap indera penciuman Naina, kala wanita itu baru memasuki ruangan yang begitu gelap dan engap. Tetesan air terdengar nyaring di kedua telinga. Itu adalah air yang merembes dari langit langit ruangan. “Kumohon, jangan kau tinggalkan aku di ruangan ini, aku takut. Aku tidak terbiasa hidup di tempat kumuh dan gelap seperti ini.” Dia meraih sepatu Bruno, hampir menciumnya, wanita itu merengek memohon. Bruno lekas menendang tubuhnya. “Harusnya kau bilang keinginanmu itu sebelum Tuan berubah pikiran. Kau bahkan terlal







