Share

114. Cemburu

Author: Alya Feliz
last update publish date: 2026-06-20 05:58:53

Rendra menggertakkan rahangnya dengan tangan terkepal erat. Dia menatap kamar yang dia sewa dengan dua ranjang di sana. Entah apa yang dipikirkannya ketika menerima permintaan Intan alias Dewi untuk ikut ke Malang, padahal dia berniat untuk pulang kampung mumpung pabrik libur 3 hari karena tanggal merah dan cuti bersama di akhir pekan.

"Kenapa susah sekali mencari wanita yang bener seperti Kamila?" gumamnya sebelum menghisap rokoknya yang hanya tinggal sedikit, lalu membuangnya ke lantai yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Karma Suami Mendua    EPILOG

    Tangisan dua bayi menggema memenuhi ruang bersalin. Suara itu membuat Harsa yang sejak tadi menggenggam tangan Kamila, langsung menitikkan air mata. Siapa yang menyangka bahwa dia akan memiliki dua anak sekaligus, padahalnya sebelumnya divonis sperma lemah oleh dokter dan susah untuk memiliki anak?"Dua-duanya laki-laki, Pak."Dokter tersenyum sambil memperlihatkan kedua bayi mungil yang baru saja lahir.Harsa mematung. Tatapannya terpaku pada wajah kedua putranya. Hidung mungil, alis yang tegas, bentuk bibir, dan lesung pipi samar yang muncul ketika salah satu bayi meringis.Dadanya berdebar semakin kencang. Dua bayi tampan itu adalah anaknya. Darah dagingnya."Dek, wajah mereka..."Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. Hatinya terasa begitu penuh, sampai-sampai rasanya ingin meledak."Persis..."Kamila yang masih sangat lemah, menoleh dengan pelan ke arah Harsa. Keningnya mengernyit. "Mas? Kenapa?"Harsa menggenggam tangan istrinya. "Sayang... mereka sama persis seperti anak-anak

  • Karma Suami Mendua    146. Harapan Baru

    Aroma kuah bakso memenuhi ruang keluarga sejak siang.Kamila duduk di sofa sambil memangku semangkuk bakso lengkap dengan tahu, mi, dan kerupuk pangsit. Sesekali ia menyeruput kuahnya, lalu mendesah nikmat. Rasanya benar-benar seperti yang dia harapkan."Maas! Teh lemonnya sudah belum?" teriaknya."Sebentar, Sayang. Tinggal ngasih es batu!" sahut Harsa dari dapur.Sejak pulang dari rumah sakit, Harsa memang selalu siaga dan menuruti segala kemauan Kamila saat itu juga. Kebahagiaan itu membuat Harsa rela melakukan apa pun demi dirinya, dan pria itu sama sekali tidak mengeluh. Urusan toko bangunan untuk sementara diserahkan sepenuhnya pada Anton dan Faisal.Di ruang keluarga, Fiona yang baru pulang dari sekolah, sedang menikmati sepotong lapis kukus."Enak banget, Ma. Belinya di mana?" tanya Fiona sambil mengunyah."Di kota tadi. Sekalian pulang dari rumah sakit."Fiona menatap makanan yang begitu banyak di atas meja. "Ma, makanan kita banyak banget. Kayak warung." Kamila tertawa kecil

  • Karma Suami Mendua    145. Tujuh Minggu

    "Eh, spermanya lemah, Bu. Suami saya kapan hari periksa di rumah sakit lain. Kami niatnya ke sini tadi itu sebenarnya mau ke poli Andrologi. Mau periksa ulang," jawab Kamila terburu-buru, lalu memelototi suaminya yang langsung salah tingkah. "Oh..." Wanita seumuran Bu Aminah itu tertawa, begitu juga dengan perawat yang kembali melanjutkan kegiatannya mengoleskan gel ke perut Kamila. "Hasil analisa dokter memang terkadang bisa salah, Pak. Bapak sudah benar mau mengeceknya lagi di rumah sakit lainnya sebagai referensi. Tapi kalau hasilnya sudah ada, ya tidak usah periksa lagi toh." Dokter kandungan itu menempelkan alat USG ke perut Kamila, lalu menggeser-gesernya. "Nah, itu sudah kelihatan kantong janinnya. Usianya kalau di layar ini sudah 7 minggu malah."Mata Kamila membesar ketika melihat bulatan kecil di layar monitor. Hatinya langsung meleleh. Dia melihat suaminya yang ternyata masih kebingungan. "Tapi istri saya baru saja datang bulan, Bu. Kok bisa hamil? Apa nggak keguguran it

  • Karma Suami Mendua    144. Kembung 1,5 Bulan

    Harsa menatap tak enak pada dokter Andrologi di hadapannya. Setelah istrinya buru-buru keluar sambil menutup hidung, dia langsung berdiri. "Maafkan istri saya, Dok. Dari tadi pagi masuk angin. Mencium bau apapun langsung muntah. Padahal sudah saya larang untuk ikut," kata Harsa dengan terburu-buru. Bukannya tersinggung, dokter itu malah tertawa. Pria berusia 45 tahun itu ikut berdiri."Sepertinya yang perlu diperiksa justru istri anda. Silahkan daftar ke poli kandungan. Bawa istri anda ke sana." Harsa langsung bengong. "Istri saya kenapa, Dok? Ada masalah dengan rahimnya? Dia cuma masuk angin. Apa nggak sebaiknya dibawa ke poli umum saja? Mungkin maag-nya kumat." Dokter itu menggeleng. Pria itu mendekati Harsa dan menggiringnya keluar. "Sudah, bawa saja ke poli kandungan." "Tapi saya belum periksa..." "Nggak usah periksa. Nggak perlu. Selamat ya." Dokter itu menepuk pundak Harsa sambil tersenyum, sebelum meminta perawat untuk memanggil nomor antrian berikutnya. Harsa berdiri de

  • Karma Suami Mendua    143. Mual

    "Udah, nenek tenang aja. Mama saya udah nggak ada dendam sama anaknya nenek. Mama saya kan baik. Saya juga udah punya papa baru, jadi mama udah nggak marah sama papa Putra dan Tante." Fiona tiba-tiba menyeletuk. Mereka semua terdiam. Bu Maria terlihat gelagapan. Tapi kemudian, wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya dan memegang kepala Fiona. Kedua mata Bu Maria berkaca-kaca, dan setetes air mata meluncur di pipinya yang keriput. "Pantaslah kalau ayahnya Rebecca bilang sebelum meninggal, kalian seperti malaikat. Kalian... Kalian mau memaafkan kesalahan anak ibu yang keterlaluan. Semoga Tuhan Yesus selalu memberkati kalian. Aku berdoa dengan setulus hati, semoga kalian masuk surga," ucap Bu Maria sambil berlinang air mata, lalu menegakkan tubuhnya dan memegang tangan Kamila yang ikut menangis. "Perbuatan Rebecca dan Putra memang sudah melewati batas. Tapi, kamu dan anakmu tidak dendam. Aku...aku kagum pada sikapmu, Nak. Pantas saja kamu terlihat bercahaya," lanjut Bu Maria. "Boleh

  • Karma Suami Mendua    142. Memaafkan Rebecca

    Sudah satu menit berlalu sejak wanita yang kini terlihat menyedihkan itu duduk di hadapan Kamila. Tidak ada lagi jejak kesombongan di wajah wanita itu. Hanya ada rasa lelah dan kesakitan. "Putra sudah lama meninggal. Sekitar dua tahun yang lalu." Rebecca mendongak dengan mata membelalak. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan kulitnya begitu pucat. "Ap-apa?" Kamila mengangguk. "Dia...gagal bertahan." Tidak mungkin dia menceritakan betapa menderitanya mantan suaminya gara-gara tidak kunjung mendapatkan maafnya. Kedengarannya begitu angkuh dan jumawa. Tiba-tiba, terdengar tawa kecil dari Rebecca, membuat Kamila mengernyit. Apa ada yang lucu dari perkataannya? "Dia memang benar-benar mencintai kamu." Kamila mendengus, lalu menggeleng. "Kamu salah. Dia mencintai Delina. Mereka bahkan punya 2 anak di belakangku." Rebecca mungkin terlihat mengerikan dengan kondisinya sekarang. Rambut sangat tipis, kulitnya keriput, dan tubuhnya yang dulu kurus terlihat semakin kurus saja. Seperti mayat

  • Karma Suami Mendua    1. Gambar Aneh

    "Jaman sekarang, masalah ranjang pun diposting di medsos.""Ih, masa sih? Kok nggak malu ya? Jadi nggak ada privasi. Persis seperti perselingkuhan. Malah diumbar di medsos."Kamila melirik dua walimurid yang sibuk bergosip, salah satunya menunjukkan layar ponsel dengan antusias.Dia sama sekali tid

  • Karma Suami Mendua    7. Diabaikan

    "Fiona, sini peluk papa, Nak." Putra dengan tanpa merasa bersalah, mendekati Fiona yang hendak menyusul Kamila.Sikap istrinya membuat Putra lega bukan main. Istrinya ternyata sangat dewasa. Tidak seperti perempuan lain yang mengamuk dan berbuat kekerasan, Kamila justru bersikap tenang. Dia lega wa

  • Karma Suami Mendua    3. Kejutan yang Gagal

    Hujan turun di sepanjang perjalanan saat mobil Harsa memasuki jalan tol. Kamila duduk di belakang, sedangkan Fiona duduk di depan. Anak itu selalu bersemangat jika sudah bertemu dengan Harsa. Berbeda sekali saat bertemu dengan ayahnya.Banyak orang yang mengira bahwa Fiona adalah anak Harsa, karena

  • Karma Suami Mendua    2. Mulai Bimbang

    "Fio, sudah mama bilang, jangan bicara sembarangan ya, sayang," tegur Kamila dengan lembut.Meskipun dia ingin sekali bertanya tentang tante yang digambar oleh Fiona, Kamila memilih untuk menahan diri. Tante siapa? Apakah sepupunya? Dia tidak memiliki saudara perempuan, begitu juga dengan Putra. "

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status