공유

[69] b

작가: Major_Canis
last update 게시일: 2026-08-23 12:00:17

Awalnya Adrian tidak terlalu memedulikannya. Pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang harus ia selesaikan sebelum siang berakhir. Namun perlahan, isi percakapan Gilbert mulai menarik perhatiannya.

"Semua laporan akhir sudah berada di tangan Nona Tara."

Tubuh Adrian menegang nyaris tanpa sadar. Tatapannya tetap lurus ke depan. Ekspresinya juga tidak berubah. Namun seluruh perhatiannya kini tertuju pada suara Gilbert.

"Ya." Gilbert kembali berkata. "Nona Tara sedang mela

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [163]

    Victor tiba di rumah sakit dengan langkah terburu-buru. Begitu mendapatkan kabar dari Vivian bahwa Tara sudah dibawa ke ruang persalinan, ia langsung meninggalkan semua urusan yang masih harus diselesaikannya. Perjalanan yang biasanya terasa panjang kini seolah tidak cukup cepat baginya.Saat Victor akhirnya sampai di depan ruang persalinan, pintu baru saja terbuka. Seorang perawat keluar, dan beberapa saat kemudian Victor melihat Tara yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan.Ia berhenti di ambang pintu.Tara tampak lelah. Wajahnya masih pucat setelah melewati proses persalinan, tetapi ada senyum tipis di wajahnya. Di dalam dekapannya, seorang bayi kecil tertidur dengan tenang.Victor tidak langsung bergerak.Matanya perlahan memerah ketika melihat pemandangan itu. Selama beberapa detik, ia hanya berdiri di sana, seolah sedang memastikan bahwa semua yang ada di hadapannya benar-benar nyata.Tara menoleh. “Victor?”Pria itu akhirnya mendekat. Tatapannya tidak pernah lepas dari bayi y

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [162]

    Hari itu, Tara merasa begitu senang dan bahagia. Wajahnya tampak berbinar cerah sejak pagi. Setelah beberapa hari beristirahat di rumah, ia akhirnya datang ke kantor untuk melakukan serah terima tugas kepada orang yang akan menggantikannya sementara selama masa cuti.Tara sebenarnya tidak terlalu menyukai gagasan meninggalkan pekerjaannya dalam waktu cukup lama. Namun, ia juga memahami bahwa kali ini tubuhnya membutuhkan lebih banyak waktu untuk beristirahat. Karena itu, ia memastikan semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya telah dijelaskan dengan baik sebelum dirinya benar-benar mengambil cuti.Namun, ia tidak menyangka akan mendapatkan begitu banyak kejutan.Beberapa teman kerjanya sudah menyiapkan hadiah kecil untuknya. Teman-teman satu divisi datang memberikan ucapan, bahkan beberapa orang dari divisi lain ikut menyempatkan diri untuk menemui Tara. Mereka memberikan berbagai perlengkapan bayi, bunga, dan beberapa hadiah sederhana yang membuat Tara berkali-kali tersenyum.“S

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [161]

    Malam semakin larut, tetapi Tara masih belum bisa tidur. Ia sudah beberapa kali mencoba memejamkan mata, tetapi pikirannya terus kembali pada percakapannya dengan Vivian. Entah mengapa, sosok Isabel tiba-tiba memenuhi pikirannya. Wanita yang bahkan tidak pernah ia temui itu justru membuat Tara memikirkan banyak hal tentang Victor.Tara tahu bahwa Isabel pernah menjadi seseorang yang sangat berarti bagi Victor. Tara tidak ingin membandingkan dirinya dengan Isabel. Ia bahkan merasa tidak pantas melakukannya. Namun, semakin ia memikirkan semua itu, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.Ponselnya tiba-tiba berdering. Tara mengambilnya dan melihat nama Victor di layar. Ia segera menerima panggilan tersebut.“Belum tidur?” suara Victor terdengar dari seberang.“Belum.”Victor terdiam sesaat. “Kau terdengar berbeda.”Tara menghela napas pelan. “Aku ... hanya tidak bisa tidur.”“Ada masalah?” tanya Victor dengan nada cemas.“Tidak ada.”“Tara.” Nada suara Victor membuat Tara tah

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [160]

    Beberapa hari kemudian, Victor mendapatkan sebuah agenda meeting yang mengharuskannya pergi ke luar negeri. Pertemuan tersebut tidak bisa diwakilkan dan diperkirakan akan berlangsung selama beberapa hari. Setidaknya, Victor harus berada di luar negeri selama satu minggu.Sejak mengetahui hal itu, Victor terlihat tidak terlalu tenang. Bukan karena urusan pekerjaannya, melainkan karena ia harus meninggalkan Tara dalam kondisi seperti sekarang.“Kau benar-benar harus pergi?” tanya Tara ketika Victor kembali memastikan jadwal keberangkatannya.“Ya.”“Kalau begitu, pergilah. Urusan ini tak bisa ditunda.”Victor menatapnya seolah tidak menyangka jawaban Tara akan sesingkat itu.Tara tersenyum kecil. “Ini hanya pekerjaan, Victor. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja.”“Aku tahu kau bisa menjaga dirimu sendiri.”“Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti itu?”Victor tidak langsung menjawab. Ia justru kembali me

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [159]

    Dua hari berlalu sejak Tara diminta untuk beristirahat total di rumah. Untuk sementara waktu, ia tidak lagi membuka pekerjaan yang terlalu berat dan mulai membiasakan dirinya mengikuti saran dokter.Kamar yang diminta Victor juga sudah selesai dibuat. Letaknya di lantai satu, dekat taman di sudut mansion, dan kini siap didekorasi sesuai keinginan Tara. Dan seperti apa yang Victor katakan, bagian ini terasa lebih tenang, nyaman, dan benar-benar terasa lebih hangat dibanding sudut rumah lainnya.Berbagai barang yang mereka beli dari beberapa butik mulai berdatangan. Liora tampak sangat antusias ketika melihat semua perlengkapan bayi tersebut. Ia bahkan ikut membawa beberapa barang kecil ke dalam kamar calon adiknya, meski sebagian besar waktu justru dihabiskannya dengan melihat-lihat setiap benda yang ada di sana.“Yang ini untuk adik, kan?” tanya Liora sambil mengangkat sebuah pakaian bayi.“Iya,” jawab Tara.“Kalau yan

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [158]

    Setelah selesai dari butik pertama, Tara mengira mereka akan langsung pulang. Namun, Victor ternyata sudah memiliki rencana lain.“Kita mau ke mana lagi?” tanya Tara ketika mereka kembali berhenti di depan sebuah butik perlengkapan bayi lainnya.Victor membelokkan kursi roda yang membawa Tara masuk. “Masih ada beberapa barang yang belum kita beli.”Tara menatapnya tidak percaya. “Bukankah tadi sudah cukup banyak?”“Belum.”“Tapi—““Masih ada yang diperlukan, Tara.” Pria itu hanya tersenyum. “Ayo. Kau bisa melihat-lihat dulu. Kalau memang tidak ada yang kau sukai, kita tidak perlu membeli apa pun.”Tara akhirnya menuruti apa yang Victor katakan. Namun, setelah memasuki butik kedua, ia segera menyadari bahwa perkataan Victor tidak sepenuhnya benar. Mereka kembali melihat pakaian bayi, perlengkapan tidur, selimut, hingga berbagai barang kecil yang m

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status