แชร์

[70] a

ผู้เขียน: Major_Canis
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-24 11:00:57

Saat Adrian tiba di rumah sakit, jam makan siang sudah terlewati. Tapi ia tak peduli. Ada yang lebih penting dari sekadar makan siang.

Koridor lantai VIP terlihat jauh lebih tenang dibanding biasanya. Beberapa perawat berlalu-lalang membawa berkas pasien, sementara suara roda troli sesekali terdengar dari ujung lorong. Namun Adrian tidak memperhatikan apa pun di sekitarnya. Sejak meninggalkan kantor, pikirannya hanya dipenuhi satu hal.

Laporan audit.

Langkahnya berhenti d

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [131] c

    Ruangan kembali sunyi. Kara membeku.Victor tidak memberi kesempatan baginya untuk menghindar. "Kau menceritakan bahwa kau mencintai Adrian, tentang kehamilanmu, dan sekarang mengenai Liora.”Pria itu perlahan menegakkan punggungnya. Matanya terus menatap Kara tanpa jeda. “Bagian ketika Tara dinikahi oleh Adrian, bagaimana bisa kau lewatkan begitu saja?”Tatapan Victor berubah semakin tajam. "Kenapa?"Kara membuka mulut tapi tak ada suara yang keluar.Victor melanjutkan dengan tenang. "Kalau menurut ceritamu, kalian hanyalah dua orang yang saling mencintai. Lalu bagaimana mungkin Tara menjadi istri Adrian? Kau berharap aku mengabaikan bagian terpenting dari semua ini?”Ia berhenti sejenak. "Lalu kau berkata tidak punya pilihan." Victor menggeleng perlahan sembari berdecih sinis. "Tidak. Pilihan itu selalu ada. Yang tidak pernah ada adalah keberanian untuk jujur."Ruangan kembali hening."Kalian memilih m

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [131] b

    Beberapa detik kemudian, Jimmy menyerah. "Baik... saya coba."Sambungan telepon pun terputus.Kara meletakkan ponselnya di samping, lalu kembali menyandarkan tubuh di bangku taman. Angin sore bertiup pelan, tetapi sama sekali tidak mampu meredakan kegelisahan yang terus menggerogoti pikirannya.Menunggu ternyata jauh lebih menyiksa daripada yang ia bayangkan.Hampir dua jam Kara menunggu pesan balasan dari Jimmy. Di tengah ketidaksabarannya, di mana ia sudah berniat memberi pelajaran pada Jimmy karena tak lagi menuruti perintahnya, ponselnya bergetar pelan.Nama Jimmy muncul di sana.Kara segera mengangkat panggilan itu, seolah sedang menggenggam kesempatan terakhir yang masih tersisa. "Bagaimana?”"Alamatnya sudah saya kirim lewat pesan."Senyum Kara tercipta lebar. “Bagus.”Ia memutus sambungan tanpa menunggu ucapan apa pun dari Jimmy. Beberapa detik kemudian, sebuah notifikasi masuk. Kara membuka pes

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [131] a

    Pintu taksi tertutup sedikit lebih keras daripada seharusnya. Pengemudi sempat menoleh lewat kaca spion, tetapi memilih tidak mengatakan apa-apa ketika melihat wajah penumpangnya yang dipenuhi amarah."Ke taman Aries di pusat kota," ucap Kara pendek.Mobil kembali melaju meninggalkan sekolah.Sepanjang perjalanan, Kara bersedekap erat seolah sedang menahan sesuatu yang terus menggelegak di dalam dada. Namun semakin keras ia berusaha mengendalikan emosinya, semakin jelas bayangan kejadian beberapa menit lalu berputar di kepalanya.Liora menangis dan bersembunyi di balik tubuh Tara. Belum lagi tatapannya terhadap Kara—begitu waspada. Dan yang paling menyebalkan, Liora tak mau ikut dengannya. Menolaknya begitu jelas. Padahal sebelumnya, Liora sangat dekat dengannya.Tiap kali Kara datang, gadis kecil itu berlari menyambutnya. Apalagi saat Kara membawakan hadiah-hadiah mahal dan tak melarangnya banyak hal seperti Tara yang banyak aturan.T

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [130]

    Liora masih memeluk Tara erat, seolah takut jika perempuan itu menghilang begitu saja. Tangannya yang kecil mencengkeram pakaian Tara, sementara wajah mungilnya disembunyikan di balik bahu wanita yang selama ini ia panggil ibu.Kara menghentikan langkah beberapa meter dari mereka. Tatapannya bergantian mengarah kepada Tara dan Liora. Sesaat, wajahnya tampak menegang ketika melihat putrinya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menghampirinya."Liora," panggilnya sambil memaksakan senyum. "Aku datang menjemputmu. Kau tak merindukanku? Padahal aku sangat merindukanmu, Liora."Anak kecil itu mengangkat kepala sebentar. Tatapannya bertemu dengan Kara hanya sesaat sebelum kembali memeluk Tara lebih erat."Tidak mau."Jawaban singkat itu membuat senyum Kara membeku."Ayo, Sayang." Nada suaranya dipaksa tetap lembut. Ia pun mulai mendekat pada Tara dan Liora. "Mulai sekarang, aku yang akan mengurusmu."Liora menggeleng lebih kuat.

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [129]

    Pertanyaan itu membuat Tara kembali terdiam.Tatapannya kembali tertuju pada map cokelat yang masih berada di pangkuannya. Dokumen-dokumen di dalamnya terasa jauh lebih berat daripada kertas biasa. Seolah seluruh beban lima tahun hidupnya kini berada di sana.Ia mengembuskan napas panjang."Sebelumnya," suaranya masih terdengar serak, "aku hanya ingin Adrian membayar karena sudah membohongiku."Ia tersenyum tipis, namun senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan."Aku mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Jabatannya. Wewenangnya. Kepercayaan orang-orang yang selama ini ia bangun." Tara menundukkan kepala sejenak. "Saat itu aku merasa semuanya sudah cukup."Vivian tetap mendengarkan tanpa menyela."Tapi sekarang,” Tara menggeleng pelan. "aku baru tahu kalau kebohongan itu jauh lebih besar dari apa yang pernah kubayangkan."Matanya kembali memanas. "Aku bukan sekadar ditipu." Suaranya semakin lirih.

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [128]

    Mobil melaju perlahan meninggalkan kawasan Ashbourne Group. Di dalam kabin, keheningan begitu terasa hingga suara mesin kendaraan terdengar lebih jelas daripada biasanya.Tara duduk di kursi penumpang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kedua tangannya menggenggam map berwarna cokelat yang diberikan Vivian. Jemarinya mencengkeram begitu kuat hingga sudut map itu mulai kusut.Di dalamnya tersimpan salinan dokumen yang beberapa menit lalu mengubah seluruh dunianya dan pandangannya terhadap pernikahan yang ia jalani selama ini.Akta pernikahan, catatan rumah sakit, dokumen administrasi yang kini mulai menemui titik terang, lalu laporan investigasi yang dilakukan orang kepercayaan Vivian. Semuanya saling melengkapi, membentuk sebuah kenyataan yang selama lima tahun tidak pernah ia bayangkan.Selama ini ia hanya mengira Adrian membohonginya melalui akta pernikahan palsu. Baginya, pengkhianatan itu saja sudah cukup menghancurkan. Dan karena itu juga, ia berteka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status