Share

Bab 87

Author: Galih Rembulan
Suami istri itu sama-sama tidak bisa saling meyakinkan satu sama lain. Jika pertengkaran dilanjutkan, suasana akan menjadi makin tidak karuan, sehingga keduanya memutuskan untuk sama-sama berhenti berdebat.

Tak lama kemudian, pembantu muda itu datang melapor, "Bu Kamila, Pak Adrian mau keluar. Dia lagi naikin barang ke dalam mobil. Dia juga bilang, nggak pulang untuk makan malam."

Mendengar itu, Kamila pun buru-buru keluar.

"Adrian, kita tadi cuma diskusi. Perbedaan pendapat itu wajar. Aku juga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 278

    "Mau bikin aku kehilangan pekerjaan? Aku juga akan bikin kalian kehilangan pekerjaan!""Jangan lakukan pada orang lain apa yang nggak ingin kamu lakukan pada dirimu sendiri!""Saat kalian semua kehilangan sandaran, aku ingin lihat, apa lagi yang kalian punya?"Adrian merasa kesal, tetapi dia dengan cepat bisa menenangkan diri dan mulai bekerja.Adrian lalu melihat istri Adam dan Bisma sedang berbisik-bisik. Ketika Adrian menghampiri mereka, istri Adam justru menghindar.‘Apa ada masalah dengan Adam? Apa istrinya Adam mencurigai sesuatu ….’ Adrian merasakan firasat buruk. Namun, dia sangat percaya diri dengan metode yang digunakannya. Selama Adrian tidak membiarkan Adam sadar, mustahil bagi pria itu untuk bangun. Hanya saja, sebelumnya Adrian tidak mengisolasi Adam secara total, jadi mungkin di situlah celahnya.Namun, sekecil apa pun celahnya, seberapa banyak yang bisa diketahui istri Adam? Adam tidak bisa berbicara dan tidak bisa menulis. Informasi apa yang bisa disampaikan Adam? Seka

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 277

    Lindri tentu saja mengatakan bahwa dia tidak akan mengkhianati Adrian. Setelah berkali-kali memastikan jika Hardi tidak akan hidup lebih lama lagi, barulah Lindri meminta adiknya untuk mengantarkan Adrian pergi.Kurang dari sepuluh menit kemudian, Lindri melihat Juwita kembali seorang diri. Lindri pun bertanya kepada Juwita, "Di mana orangnya?""Dia turun di tengah jalan dan nggak mau kuantar. Jelas sekali dia nggak ingin aku tahu tempat tinggalnya. Dia juga punya rahasia yang nggak ingin diketahui orang lain. Kalau nggak ada yang lain, aku akan kembali ke tempatku. Kamu sendirian nggak apa-apa, ‘kan?""Nggak apa-apa. Adrian bilang, Hardi akan tidur pulas sampai jam delapan hingga sembilan besok pagi dan akan bangun dengan sendirinya. Aku nggak melihat Adrian melakukan apa pun, menurutmu apa dia akan menipuku?""Apa maksudmu dengan ‘apa yang akan dilakukan Adrian?’""Memberi racun, memberi obat, atau cara lainnya.""Kalau begitu, mungkin pemikiranmu yang terlalu sederhana. Tapi, pernah

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 276

    "Salah paham? Kamila, saat kamu kena batunya nanti, kamu akan mengerti kalau apa yang kamu sebut salah paham ini akan membuatmu menyesal setengah mati!"Kamila menelepon hanya untuk menanyakan siapa Sita dan apa hubungannya dengan Adrian. Lantaran itu tidak ada artinya, Adrian pun langsung menutup teleponnya.Akan tetapi, Adrian juga merasa Sita sangat kekanak-kanakan karena langsung mendatangi rumahnya untuk meminta pertanggungjawaban, bahkan mengancamnya di depan Kamila.‘Divisi Medis di belakang Sita, atau bahkan Keluarga Nandana itu, kemungkinan besar memiliki orang-orang hebat. Sita hanyalah suruhan yang diketahui secara terang-terangan. Sementara, siapa tahu ada orang yang diam-diam sedang menyelidiki aibku!’Kota Raksi ini situasinya memang sangat rumit, berbahaya, penuh rahasia tersembunyi dan orang-orangnya juga licik semua.Adrian menyadari sesuatu dan meninjau kembali trik yang sudah dilakukannya pada Emir di dalam kepalanya. Merasa tidak ada celah, barulah Adrian bisa agak

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 275

    "Obat apa? Bicara yang jelas! Keluarga Nandana memperlakukanmu seperti barang berharga, tapi aku nggak! Kamu berguna bagi Keluarga Nandana, tapi nggak berguna bagiku? Kita satu profesi dan orang yang profesinya sama itu musuh. Kamu belum pernah dengar kalimat itu?" Adrian melirik Sita. Tidak ada kilatan kejam di mata Sita. Itu artinya, hanya omongan Sita saja yang kasar, tetapi sebenarnya hatinya lembut."Kamu, kamu berani berbuat, tapi nggak berani bertanggung jawab! Kamu bukan laki-laki!" Sita mengulurkan tangan dan menunjuk Adrian."Sita, kamu lagi-lagi membuatku benar-benar memahami arti dari sebuah pepatah. Asalkan kita merasa diri paling benar dan paling bermoral, kita bisa mengkritik dan mencela orang lain sesuka hati tanpa peduli dan menempatkan diri kita di posisi yang nggak terbantahkan. Kamu adalah orang seperti itu dan itulah yang kamu lakukan.""Aku nggak seperti itu.""Kamu memang seperti itu! Apa tujuanmu datang ke hadapanku? Mencurigaiku sudah membunuh Emir Efendi, oh

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 274

    Kamila merasa Sita itu gila, benar-benar gila. Jika tidak, bagaimana mungkin dia bisa datang ke rumah dan mengatakan hal seperti itu. Kamila pun menelepon Adrian, tetapi tidak ada yang mengangkat teleponnya."Adrian, kamu nggak pulang hari demi hari. Berapa banyak orang yang ingin kamu sakiti?"Kamila benar-benar kesal. Kebakaran yang melanda Grup Hadinata sama sekali di luar prediksinya dan hingga kini masih belum diketahui siapa pelakunya. Tentu saja, melalui proses eliminasi, mereka sudah mencoret kemungkinan keterlibatan faksi ibu kota.Samar-samar, Kamila dan timnya merasa jika masih ada kekuatan lain di Kota Raksi yang arogan, tidak berperikemanusiaan dan sangat berbahaya. Mereka harus menemukan kekuatan itu dan kemudian menghancurkannya!Di Kota Raksi, tidak boleh ada keberadaan yang sekuat itu.Kamila pun kembali ke kamar dan melihat Rani sedang menguping. Kamila lalu berkata, "Mau ngapain lagi kamu? Kalau ingin mencari tahu urusan ayahmu, tanyakan saja terang-terangan. Ayahmu

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 273

    ‘Apa dia sengaja memancingku agar aku menunjukkan kelemahan?’Adrian tahu betul di dalam hati. Dia bertukar pandang dengan Sita, lalu tersenyum lega. Adrian memutuskan untuk menganggap Sita tidak ada. Dia lalu membuka dokumen di komputernya dan mulai bekerja.Melihat Adrian merapikan rekam medis dan membalas email dari para dokter di departemennya, yang berisi pertanyaan medis dan beberapa kasus klinis yang sulit, Sita pun berkata, "Kamu buang-buang waktu dengan melakukan pekerjaan ini. Kamu nggak pantas memegang jabatan wakil kepala departemen dan ketua tim medis rumah sakit.""Kalau begitu, katakan padaku, apa yang harus kulakukan?" Adrian menanggapi dengan santai dan balik bertanya."Kamu seharusnya berada di garis depan ruang gawat darurat, menggunakan kemampuan medismu untuk menyelamatkan nyawa pasien semaksimal mungkin.""Kamu benar. Tapi, lain kali nggak usah mengatakannya lagi." Adrian meminta kepala perawat masuk untuk memberikan beberapa tugas, lalu dia pergi menemui Mirza.M

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 1

    Adrian Pramudya terpaku menatap tiga lembar hasil tes DNA di depannya. Tulisan "Dinyatakan Tidak Memiliki Hubungan Darah" di dalam stempel merah itu terlihat begitu menusuk mata.Ketiga putrinya sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya.Putri sulungnya berusia 15 tahun, putri kedua 11 tah

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 7

    Menghadapi tatapan menyelidik Haris, Adrian pun berkata, "Ini benar. Awalnya aku juga nggak percaya dengan kenyataan ini. Makanya, aku melakukan beberapa kali tes. Tapi, hasilnya … kesimpulannya selalu sama."Haris tidak terburu-buru untuk berbicara. Dia menatap Adrian dengan tajam, seakan sedang me

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 6

    Mendengar hal itu, Adrian yang sudah bersiap sejak awal tidak takut untuk membalas tatapan istrinya. "Kamila, kamu sekarang orang terkaya di Kota Raksi. Kekayaanmu diperkirakan mencapai 160 triliun. Aku nggak bakal jadi orang yang serakah dan minta setengah dari kekayaanmu, karena itu bukan aku yang

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 5

    Adrian masuk ke bar dan mencari wanita pemilik bar tersebut. Begitu melihat pemilik bar itu berambut panjang bergelombang dan berwarna hitam legam, Adrian kembali curiga jika rekaman kamera pengawas yang dilihatnya di hotel adalah palsu.Benar saja, saat Adrian ingin mengembalikan biaya kamar dan ua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status