تسجيل الدخولAyu pergi ke dapur untuk mengambil susu permintaan ayahnya. Sedangkan Nala tampak memijit pundak ayahnya. Bagas, Nathan, dan Rendra, memijit kaki ayah mereka. Setiap hari Aland terlihat seperti seorang raja. Ia selalu diperlakukan seperti itu oleh kelima anaknya sebelum ia datang kepada istrinya. Jika ia menolak maka anak-anak itu pasti marah. Kelima anak itu memang sengaja berinisiatif untuk menyambut kedatangan ayah mereka dengan memberikan pijitan dan sedikit layanan sebelum pria itu masuk ke kamar dan tidak keluar-keluar. "Ayah, ayah pasti capek, ya?" ucap Nala sambil memijit pundak ayahnya. "Hmmmm, iya ayah capek sekali!" Aland menjawabnya sambil tersenyum nakal pada Vina yang saat itu masih asyik duduk di atas sofa tepat berada di hadapannya. "Ayah mau diambilkan makanan apa? Bilang saja biar Nala ambilkan!" tawar bocah perempuan itu. "Ayah, emmm mau makan daging!" Jawaban Aland seketika terdengar di telinga Vina. Wanita itu mengerutkan keningnya mendengar jawaban aneh
"Tentu saja, Tuan. Saya pasti datang bersama istri saya!" jawab Aland. Kali ini Erick tersenyum menyeringai, untuk kali pertama ia berhasil mengelabuhi Aland. Pertemuan hari ini memberi kesan bahwa Erick adalah pria yang baik. Bahkan ia bersedia bekerjasama dengan Aland. Tapi di sisi lain Romi tidak melihat ada ketulusan pada pria itu. Entahlah, ia sangat tidak percaya dengan ucapan manis Erick kepada bosnya. Setelah acara rapat selesai, Romi kembali mengingatkan kepada Aland agar terus berhati-hati terhadap pria itu. Karena ia yakin sekali bahwa Erick memiliki sebuah rencana. "Aku lihat Tuan Erick orang yang baik. Apa kamu tidak salah duga, Rom?" kata Aland sambil duduk merebahkan punggungnya pada kursi kebesarannya. "Dia memang terlihat baik. Tapi di mata saya dia seperti laki-laki yang licik. Ah maaf bos, saya tidak bermaksud untuk menjelekkan dia. Tapi entahlah saya sendiri tidak tahu kenapa bisa berpikiran seperti itu," jawab Romi apa adanya. "Yah, aku bisa mengert
"Pras, tapi itu anakmu! Darah dagingmu!" sahut Pak lurah. "Bukan! Aku tidak pernah yakin kalau itu adalah anakku. Ada Mas Agus yang ikut andil juga, kenapa harus aku yang dituduh! Enak sekali tinggal nuduh orang!" bantah Pras atas pernyataan dari hasil tes DNA itu. "Kamu jangan sembarang ngomong, Pras. Hasil tes DNA itu berdasarkan data-data yang akurat dan diteliti oleh dokter yang ahli di bidangnya. Jadi nggak mungkin hasilnya bohong. Seharusnya kamu bersyukur bisa punya anak meskipun caranya salah, dan kamu kudu bisa menerima kenyataan ini. Toh, anak itu tidak berdosa, kamu dan masmu itu yang sinting!" oceh Pak lurah menasehati anaknya yang benar-benar tidak mau peduli. "Kalian itu kok bisa-bisanya main sama satu cewek di lubang yang sama. Apa itu namanya kalau bukan cah sableng! Untung ada Tuan Aland yang akhirnya membuat kalian mendapatkan ganjarannya, kalau tidak, seumur hidup bapak pasti menanggung malu dan dosa gara-gara perbuatan mesum kalian!" lanjut Pak lurah seraha me
Ani makin sedih melihat Nyonya Ratna yang begitu bersedih. Sepertinya wanita itu menutupi kesedihannya selama bertahun-tahun. Bahkan Aland sekalipun tidak tahu jika sang Tante pernah melahirkan. "Saya mengerti perasaan, Nyonya. Ini memang tidak mudah. Semoga suatu hari nanti Nyonya bisa bertemu dengan anak nyonya lagi," kata Ani menguatkan. "Tapi itu tidak mungkin. Putraku sudah pergi jauh entah dibawa kemana. Aku hanya memiliki foto saat dia masih berusia satu hari, hanya itu yang bisa mengobati rinduku padanya," kata Nyonya Ratna seraya menyeka air matanya. Ani tahu betul jika Nyonya Ratna teramat merindukan anaknya. "Tidak ada yang tidak mungkin, Nyonya. Jika Tuhan sudah berkehendak, kita tidak bisa menolaknya. Semoga nyonya dan anak nyonya bisa bersama lagi," katanya Ani sambil tersenyum memberikan semangat. Nyonya Ratna pun tersenyum. Ternyata Ani memang sudah banyak berubah. Wanita itu terlihat lebih dewasa dalam berpikir. "Terima kasih banyak, An. Aku bangga padamu.
"Iya, Vin. Sekarang Tante sedang menemani dia. Kasihan, dia kesakitan sekali! Tante bisa rasakan itu! Karena Tante juga pernah melahirkan. Emm maksudnya Tante bisa merasakan bagaimana wanita yang sedang melahirkan itu!" ucap Nyonya Ratna seolah wanita itu pernah melahirkan. Padahal diketahui wanita itu tidak memiliki anak meskipun ia seorang janda. "Iya, Tante. Ya Tuhan, semoga Ani dan bayinya selamat. Aku ikutan panik," balas Vina sambil mengusap perutnya. Ia tahu bagaimana paniknya seorang wanita yang hendak melahirkan. "Iya Sayang. Tante juga berharap kamu segera melahirkan!" kata Nyonya Ratna. Di saat itu, Ani yang sedang menunggu kontraksi penuh, ia ingin sekali bicara dengan Vina. Nyonya Ratna mengerti dan ia mengizinkan Ani untuk berbicara dengan Vina. "Vina, Ani ingin bicara!" Mendengar itu, Vina segera mengiyakan permintaan wanita itu. "Halo, Mbak Vina!" Suara Ani terdengar lemah namun ia berusaha untuk kuat. "Ani, Ani kamu baik-baik saja, kan? Kamu harus kuat y
Tak berselang lama, mobil Mercedes Benz yang ditumpangi oleh Aland Orlando tiba di depan gedung bertingkat itu. Seorang pria sudah menunggunya. Iya, Erick Hermawan sudah tidak sabar untuk berjumpa dengan suami Vina itu. Aland turun bersama sang asisten. Pria itu melihat Erick Hermawan yang sedang berdiri di depan kantornya. Sepertinya pria itu baru saja datang. Saat Aland hendak menemui pria itu, Romi membisikkan sesuatu pada sang bos. "Anda harus berhati-hati, Bos. Kita harus tetap waspada meskipun dia terlihat baik!" Aland terdiam sejenak. Pria itu memang tidak pernah mendengar berita miring tentang Erick. Tapi ucapan Romi cukup membuatnya berpikir lagi. Aland melanjutkan langkahnya. Di sana, ia sudah disambut hangat dengan sebuah senyuman. Seorang pria yang berusia sama dengan istrinya, terlihat sangat antusias menunggu nya. "Halo Tuan Aland! Senang sekali bisa bertemu dengan Anda!" kata Erick mengawali obrolan mereka sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.







