Share

Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas
Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas
Author: Gekko

Bab 1

Author: Gekko
last update Last Updated: 2025-09-17 11:36:45

“Y–Yuze… kumohon lepaskan aku. Sakit… seluruh tubuhku benar-benar sakit…” ucap lirih Ming Yue nyaris tak terdengar, seakan tercekik oleh udara lembap yang memenuhi ruang bawah tanah.

Ming Yue tergantung pada rantai besi yang menahan kedua pergelangan tangannya tinggi-tinggi di atas kepala. Posisi itu memaksa tubuhnya tetap berdiri, meski lututnya sudah gemetar tak sanggup menopang.

Di sepanjang lengan mungilnya hingga bahu, goresan luka yang tak terhitung jumlahnya terus mengucurkan darah segar. Setiap tetes merah itu menuruni lengannya, jatuh ke wadah yang diletakkan di bawahnya

Di hadapannya berdiri pria yang dulu ia panggil suami, Putra Mahkota Qiang Yuze. Tatapannya datar, tanpa sedikit pun belas kasih.

“Diamlah, Ming Yue,” suaranya tenang namun penuh penekanan. “Jika kau benar mencintaiku, maka kau harus memberikan apa yang kumau. Darahmu lebih berharga daripada hidupmu sendiri.” Tangannya terampil memindahkan cairan merah itu ke dalam botol, seolah tengah menuang anggur istimewa.

Darah Ming Yue memiliki khasiat sangat unik dan langka, yaitu mampu menyembuhkan segala penyakit dan luka, bahkan yang hampir merenggut nyawa sekalipun. Karena itu, ia dijadikan elixir hidup atau obat penyembuh mujarab bagi tentara kekaisaran yang berperang demi ambisi Qiang Yuze untuk menaklukkan benua.

“A-aku, sudah tidak tahan lagi, Yuze...” suara Ming Yue makin melemah.

Namun mendengar hal itu, Qiang Yuze terlihat jengkel. Dengan kasar, ia mencengkeram rahang Ming Yue hingga wajah mereka hanya berjarak sejengkal.

“Kau harus hidup sampai peperangan ini berakhir. Jangan lagi mengeluh, paham?!” gertaknya, matanya berkilat penuh ancaman.

Air mata jatuh, namun Ming Yue terlalu lemah untuk melawan. Ia hanya bisa menatap balik, hatinya remuk. Sebelum pergi, Yuze mengusap tangannya seolah jijik telah menyentuh kulit istrinya sendiri.

 “Sayang sekali kau mandul. Jika saja bisa melahirkan, mungkin darah anakmu pun akan berguna untukku di masa depan.”

Setelah berkata demikian, ia berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Ming Yue hanya bisa menatap punggung pria yang pernah ia cintai sedalam hidupnya. Cinta itu kini retak, berganti pahitnya benci. Semua permohonan, semua usaha kabur yang pernah ia lakukan tak ada gunanya.

Tidak lama setelah kepergiannya, pintu besi kembali berderit terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah angkuh. Senyum sinisnya seketika membuat darah Ming Yue mendidih. Itu adalah Lao Lan, sepupunya sendiri yang sekarang menjadi istri kedua Qiang Yuze.

“Ternyata masih hidup juga, kau sangat menyebalkan, seperti kecoa,” ucapnya sambil mendengus.

Tatapan Ming Yue berubah tajam. Rambut kusutnya segera dijambak kasar, kepalanya dipaksa menengadah.

“Cepatlah mati, agar aku bisa memiliki Yang Mulia Yuze sepenuhnya,” desis Lao Lan penuh kebencian.

Ming Yue tersenyum getir meski tubuhnya sekarat, ia berkata. “Ambil saja manusia sialan itu. Rupanya selera kita sama-sama buruk dalam memilih lelaki.”

Plak!

Tamparan keras membuat sudut bibirnya pecah berdarah.

“Di saat seperti ini kau masih berani bicara?!” bentaknya kesal.

Lao Lan mengikat mulutnya dengan selendang agar tak bisa mengucap sepatah kata pun lagi. Ming Yue meronta, namun tubuhnya sudah terlalu lemah untuk melawan.

“Cepat mati, lalu temui keluargamu di neraka. Mereka sama menyebalkannya denganmu. Untung saja Yang Mulia Yuze sudah menyingkirkan mereka,” ucap Lao Lan.

Mendengar hal itu, mata Ming Yue membelalak terkejut.

“Apa? Kau tidak tahu?” Lao Lan menyeringai. “Ya itu benar, kakakmu yang suka berjudi itu bukan mati karena dirampok. Ayahmu juga mati karena mencoba mengungkapkan kejahatan Menteri Wei. Kau paham sekarang? Jadi cepatlah mati dasar kecoa memuakkan.”

Ucapan itu membuat jantung Ming Yue serasa berhenti. Lao Lan kemudian berbalik, meninggalkan sel tahanan dengan tawa puas. Air mata jatuh membasahi wajah Ming Yue. Isakan tertahan di balik kain yang membungkam mulutnya. Ia tak menyangka ternyata pelaku yang membunuh keluarganya adalah suaminya sendiri.

‘Qiang Yuze, Lao Lan, aku tidak akan pernah memaafkan kalian,’ batin Ming Yue bersumpah, sesaat sebelum akhirnya dia terpejam.

Ming Yue, istri Putra Mahkota yang telah sangat lama terkurung kini menghembuskan nafas terakhirnya karena penyiksaan, darahnya yang habis dikuras serta tekanan mental yang ia alami.

Namun, seakan dewa memberinya kesempatan sekali lagi, cahaya terang menyilaukan mata. Ming Yue membuka kelopak matanya dengan nafas sedikit terengah. Tubuhnya bangkit di atas ranjang empuk, bukan lagi rantai besi dan dinginnya penjara.

Ming Yue menatap sekitar dan sontak terkejut. “Ini, kamarku di kediaman Ming,” gumamnya terheran-heran.

Keringat dingin membasahi pelipis. Segalanya tampak nyata. “Tapi bagaimana bisa? Bukankah harusnya aku sudah mati?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 244

    Qiang Suli terdiam sejenak, alisnya mengernyit bingung. "Aku melarikan diri? Sungguh?""Iya. Kau menghilang tiga belas tahun lalu," jelas Ming Yue, ikut heran dengan reaksi."Aku hanya tau ibu adalah orang tuaku dan semua orang di istana. Aku tidak ingat bagaimana aku hilang," jawab Qiang Suli.Ming Yue menghela napas panjang. 'Ternyata dia tidak ingat,' pikirnya dengan perasaan pasrah yang bercampur kecewa. Lalu Ming Yue mengubah pertanyaannya lagi, mencoba pendekatan yang berbeda."Kalau begitu, bagaimana dengan gurumu? Kau bilang punya seorang guru yang merawatmu, kan? Seperti apa orangnya? Berasal dari mana?"Qiang Suli terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi itu. "Dia—"Tapi belum sempat menjawab, tiba-tiba pelayan pribadi Ming Yue, tiba-tiba datang dengan langkah tergopoh-gopoh."Yang Mulia!"Mereka refleks menoleh."Ada apa, Xin Yan?" tanya Ming Yue.Xin Yan datang dengan napas terengah-engah. "Saya baru dapat laporan. Di ibu kota, beberapa bangsawan dan pejabat

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 243

    Mendengar pernyataan adiknya yang bagai petir di siang bolong, Qiang Wangyi seketika melotot tajam padanya.“Menyerahkan tahta?!” desisnya, dengan suara rendah penuh ancaman. Tanpa pikir panjang, Qiang Wangyi mencengkeram kerah pakaian Qiang Suli. “Jadi kau juga mengincarnya? Sudah kuduga kau pasti yang menghasut Ayahanda!” bentaknya.Qiang Suli masih terlihat tenang di tengah cengkeraman kasar itu. Bahkan, ia tertawa pelan, seolah mengejek. “Kau bilang aku bisa minta apapun. Itulah permintaanku.”Tak kuasa menahan kekesalan dan kemarahan, Qiang Wangyi melempar tubuh adiknya itu ke atas kasur di belakangnya.“Kau bisa meminta apa pun kecuali yang satu itu! Atau kau memang ingin menantangku, hah?!” geram Qiang Wangyi.Qiang Suli sedikit terbentur dengan tiang tempat tidur kayu yang keras dan meringis sebentar. Namun, bukannya kesal atau takut, ia kembali tertawa, suaranya terdengar seperti cemoohan halus.“Astaga. Hanya sedikit bercanda, kau sudah terpancing seperti itu,” katanya samb

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 242

    "Sepertinya menyenangkan. Tapi aku harus dapat izin dari ayahanda," jawab Qiang Suli.Mendengar hal itu, Ming Hyun baru tersadar."Benar juga. Kaisar yang sangat posesif itu pasti tidak akan mudah mengizinkannya," gerutunya dengan helaan napas panjang.Qiang Suli hanya tersenyum tipis. "Tidak apa. Nanti akan kuusahakan. Ayahanda selalu mendengarkan permintaanku.""Aku mungkin bisa ikut, Ming Hyun. Asalkan paman Beiye juga ikut menjagaku," celetuk Qiang Ruxia di sampingnya.Ming Hyun mendelik tajam ke arahnya. "Siapa bilang aku mau mengajakmu juga? Aku hanya menawarkannya pada Kak Suli."Seketika, wajah Qiang Ruxia yang ceria berubah datar. Rahangnya menegang, menahan gelembung emosi yang mendidih. Tidak, dia tak bisa menahan lagi. Dengan gerakan cepat, kakinya menyepak punggung Ming Hyun dengan keras.Bugh!"Sialan! Kau bukan temanku lagi!" umpat Qiang Ruxia. Lalu merangkul lengan Qiang Suli. "Ayo, Kak. Kita tinggalkan pria brengsek seperti itu."Ming Hyun perlahan bangkit dari tanah,

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 241

    Setelah menceramahi putranya, Qiang Jun kini mengulurkan tangan menarik Qiang Wangyi untuk berdiri.“Jika kau sudah sedikit lebih sadar dengan kesalahanmu, cepatlah kembali ke aula dan minta maaf pada Suli,” perintah Qiang Jun.Qiang Wangyi kembali berdiri tegak, sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang berdebu. “Nanti saja,” jawabnya, menolak dengan sikap ketus yang masih tersisa. “Aku tidak mau meminta maaf di depan kerumunan orang seperti itu.”Setelah mengatakan itu, Qiang Wangyi berbalik dan melangkah pergi begitu saja.Qiang Jun terdiam di tempat, dengan raut wajah keheranan, tak percaya dengan sikap Putranya itu.‘Astaga. Kenapa anakku bisa sangat menyebalkanseperti ini?’ gumamnya menggerutu dalam hati. Qiang Jun tak sadar dia pun sering kali bersikap persis seperti itu dulu sebelum bertemu dengan Istrinya.Sementara itu, di aula pesta yang masih berlangsung.Bisik-bisik di antara para bangsawan dan pejabat yang hadir masih terdengar, meski berusaha diredam oleh suara musik yang me

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 240

    Pemuda itu tersentak kaget ketika melihat sosok ayahnya tiba-tiba muncul di depannya. “A-Ayahanda?! Kenapa kau—”Tapi belum sempat bertanya, Qiang Jun sudah lebih dulu bergerak. Dengan gerakan cepat, dia meraih kerah pakaian Qiang Wangyi, dan menariknya turun dari dahan pohon.Qiang Wangyi terpelanting, lalu diseret pergi oleh Ayahnya seperti membawa anak kucing jalanan.“Akh!” teriak Qiang Wangyi meringis, sekaligus merasa sesak di leher karena kerah bajunya yang tertarik. Dia meronta-ronta. “Lepaskan aku! Ayahanda, lepaskan!”Di lapangan pelatihan ksatria istana yang luas.Qiang Jun melepas cengkeramannya yang kuat di leher Qiang Wangyi dengan sedikit kasar, hingga pemuda itu tersungkur.“Ugh! Kenapa Ayah tiba-tiba menyeretku ke sini?!” protes Qiang Wangyi. Perlahan bangkit sambil mengusap lehernya yang terasa panas, wajahnya masih merah oleh emosi dan rasa malu.Qiang Jun masih tak menjawab. Dia berjalan dengan menuju rak senjata di sisi lapangan, mengambil dua buah pedang latihan.

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 239

    Pertanyaan si pejabat tua itu sontak membuat mereka yang mendengarnya di aula istana ikut berbisik-bisik penasaran, seolah baru teringat akan sebuah masalah yang mengambang. Suasana yang tadi riang perlahan bergeser menjadi penuh dengan intrik dan desas-desus.“Benar juga. Kenapa tak diumumkan, ya?” “Tapi bukankah sudah jelas Pangeran Qiang Wangyi yang akan jadi penerus? Dia putra satu-satunya.” “Benar! Hanya dialah satu-satunya putra Kaisar yang sah.”Qiang Wangyi tentu saja mendengar bisikan-bisikan yang membelanya. Wajahnya yang tadi cemberut kini menyunggingkan seringai penuh kemenangan.Pandangannya yang menantang beralih ke arah adik perempuannya. “Kau dengar itu? Tentu saja hanya aku yang bisa menjadi pen—”Belum selesai berbicara dengan nada sombongnya itu, suara lain memotongnya. Sang Kaisar, Qiang Jun, akhirnya bersuara dengan tegas dan penuh wibawa.“Aku masih belum memutuskan, tidak perlu terburu-buru. Penetuan penerus tahta bisa ditunda sampai penerus itu benar-benar lay

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status