INICIAR SESIÓNKarin, seorang karyawan kontrak yang masa kerjanya hampir berakhir, mencari berbagai cara agar tetap bertahan, termasuk mendekati salah seorang atasannya, Elmer, yang usianya terpaut cukup jauh. Usahanya itu, akhirnya membuat Karin dekat dengan atasan yang cukup berpengaruh untuk kantor tersebut. Awalnya Karin, hanya mendekat untuk mengamankan karirnya. Namun, interaksi yang intens, dan tekanan yang menuntut membuat Karin akhirnya menjadi kekasih gelap sang Bos. Imbas dari hubungan tersebut juga membuat karier Karin melejit. Namun, di satu sisi, Karin juga mendapat konsekuensi dari hubungan terlarang tersebut karena Elmer sudah memiliki keluarga.
Ver másKarin menatap layar komputer tanpa benar-benar membaca satu pun kalimat di sana. Dokumen laporan yang sejak lima belas menit lalu terbuka di hadapannya masih berada di halaman yang sama.
Kursor berkedip di ujung kalimat, seolah ikut mengejek kebuntuan pikirannya. Dua minggu lagi kontrak kerjanya sebagai karyawan kontrak di perusahaan itu berakhir, dan sampai pagi ini, belum ada satu pun kabar mengenai perpanjangan. "Kalau sampai nggak diperpanjang ...." Karin mengembuskan napas panjang, dia tidak sanggup menyelesaikan kalimat itu. Selama hampir dua tahun, pekerjaan ini menjadi satu-satunya sumber penghasilannya. Gajinya memang tidak besar, tetapi cukup untuk membayar kos, kebutuhan sehari-hari, cicilan kecil yang masih tersisa, dan membantu keluarganya di kampung. Mencari pekerjaan baru bukanlah sesuatu yang mudah. Karin sudah beberapa kali membuka situs lowongan kerja dalam sebulan terakhir. Dia bahkan sempat mengirimkan beberapa lamaran secara diam-diam, tapi tidak ada satu pun yang memberikan kepastian. Ada yang tidak membalas, menolaknya, dan ada pula yang menawarkan gaji lebih rendah dari yang sekarang. Di saat itulah, tiba-tiba ponsel yang tergeletak di samping laptop tiba-tiba bergetar. Satu pesan masuk, dari Dinda, adiknya. Karin langsung mengambil ponsel itu. Pesan tersebut singkat, tetapi cukup untuk membuat dadanya semakin sesak. "Kak, maaf ganggu kerja. Kata sekolah, uang bukunya belum dibayar. Besok terakhir, kalo nggak Dinda nggak boleh ikut ujian." Karin terdiam, detik berikutnya, jari Karin bergerak membuka aplikasi perbankan. Saldo rekeningnya membuat wajah Karin seketika pucat. "Nggak sampai dua juta, akhir bulan masih cukup lama." Padahal uang itu harus digunakan untuk membayar kos, makan, transportasi, dan beberapa tagihan lain. Kalau sekarang dia membayar tunggakan sekolah Dinda, dia sendiri tidak yakin uang tersebut bisa membuat dirinya bertahan sampai akhir bulan atau tidak. Karin memejamkan mata. "Kenapa semuanya datang bersamaan?" gerutu Karin, sembari bersandar pada kursinya. Untuk sesaat, dia ingin menangis. Namun suara rekan kerja di sekitar membuatnya menahan diri. Di kantor ini, Karin sudah belajar satu hal. Jangan pernah menunjukkan kelemahan, karena di tempat seperti ini, orang yang terlihat tidak punya pilihan akan lebih mudah dimanfaatkan. Tak berapa lama, ponsel Karin kembali bergetar, sebuah pesan masuk dari Dinda. "Kalau memang belum ada, nggak apa-apa, Kak. Dinda coba ngomong sama wali kelas." Karin langsung mengetik. "Jangan, kakak usahakan." Karin mengirim pesan itu dengan cepat. Padahal dirinya sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Karin menatap layar ponselnya lama. Kemudian pikirannya kembali pada kontrak kerja. Kalau kontraknya diperpanjang, semuanya akan sedikit lebih mudah. Setidaknya dia masih memiliki penghasilan tetap. "Tapi bagaimana caranya memastikan kontrak itu benar-benar diperpanjang? Selama ini aku cuma kerja sesuai tugas, datang tepat waktu, menyelesaikan laporan, dan membantu ketika diminta." Karin menggerutu frustasi, karena dia tahu, dunia kerja tidak selalu sesederhana itu. Kadang-kadang kemampuan saja tidak cukup. Pandangan Karin tanpa sengaja mengarah ke lantai atas melalui dinding kaca. Di sanalah para petinggi perusahaan bekerja, termasuk salah satu orang yang namanya paling sering dibicarakan karyawan, Elmer. Atasan yang jarang terlihat turun ke lantai mereka. Pria yang usianya jauh di atas Karin. Tegas, dingin, dan memiliki pengaruh besar terhadap keputusan perusahaan. Karin hanya beberapa kali berinteraksi dengannya dalam urusan pekerjaan, tidak lebih. Namun, tiba-tiba sebuah pikiran melintas di kepalanya. "Bagaimana kalau?" Karin buru-buru menggeleng. "Ah nggak, jangan berpikir macam-macam." Karin pun kembali menatap komputer, tapi pikiran itu sudah terlanjur muncul, dan semakin dia memikirkan nasibnya, semakin sulit pula pikiran tersebut diusir.Karin terdiam. Kedekatan itu membuat jantungnya berdegup tak beraturan. Dia bisa mencium aroma parfum Elmer yang maskulin, sementara tangan pria itu masih menyentuh pipinya dengan lembut.Untuk sesaat, Karin hampir terbawa suasana. Bagaimanapun, Elmer adalah pria yang menarik. Wajahnya tampan, pembawaannya berwibawa, dan ada sisi perhatian yang sempat membuat Karin merasa nyaman malam ini.Sebenarnya pria itu sudah menyentuh bagian terdalam hatinya, bagian yang selama ini kosong akan perhatian dari sosok lelaki dewasa.Sejak ayahnya meninggal, Karin terbiasa menjalani hidup dengan mengandalkan dirinya sendiri. Dia belajar menahan tangis, menyembunyikan ketakutan, dan tetap tersenyum meskipun hatinya lelah. Tak ada lagi sosok yang bisa dia datangi ketika dunia terasa berat, tak ada lagi tangan yang mengusap kepalanya sambil berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Karin bahkan sering kali harus mengubur keinginannya sendiri demi memastikan keluarganya tetap bisa bertahan.Malam ini,
Sementara itu, Elmer yang menunggu di ruang tengah, merasa khawatir sesuatu terjadi karena tak ada jawaban dari Karin. Apalagi beberapa saat yang lalu, gadis itu begitu menggigilElmer akhirnya berjalan menuju kamar. Dia mengetuk pintu sekali, lalu membukanya sedikit."Sudah nemu belum?"Di saat itulah, langkahnya langsung terhenti. Karin tampak masih berdiri di depan lemari, dengan mengenakan bathrobe yang tadi diberikan kepadanya. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi, beberapa helai jatuh di sisi wajahnya.Karin yang menyadari kehadiran Elmer langsung menoleh."Pak ...."Elmer tidak segera menjawab. Tatapannya sempat berhenti pada Karin sebelum akhirnya turun ke tangannya yang sedang memegang sepotong pakaian tidur milik istrinya.Karin pun buru-buru mengangkat pakaian tersebut."Pak, cuma ada baju tidur."Elmer melihat pakaian tersebut, itu memang salah satu pakaian tidur istrinya dengan model yang cukup berani. Elmer terdiam sesai, ada sesuatu yang bergerak dalam dirinya. N
Setelah makan malam selesai, Karin dan Elmer akhirnya keluar dari restoran."Saya pulang dulu, Pak."Elmer mengangguk."Hati-hati.""Iya."Karin berjalan menuju area parkir. Langit memang sudah gelap dan sejak tadi terlihat mendung, tetapi dia tidak menyangka hujan akan turun secepat itu.Baru beberapa langkah meninggalkan pintu restoran, titik-titik air mulai jatuh. Karin pun mendongak, dan dalam hitungan detik, hujan berubah semakin deras.Karin langsung berlari kecil menuju motornya. Dia membuka jok dan memeriksa isinya, tapi tidak ada jas hujan.Karin menghela napas."Yah ...."Dia sempat berdiri sebentar, menimbang apakah sebaiknya menunggu. Namun melihat jam di ponselnya, Karin akhirnya menggeleng."Pulang aja deh."Karin mengenakan helm, menyalakan motornya, lalu perlahan keluar dari tempat parkir. Namun, baru beberapa meter meninggalkan area restoran, air hujan sudah membasahi tubuhnya.Blus yang dikenakannya langsung menempel di tubuh. Rambutnya yang tadi masih rapi mulai bas
Keesokan harinya, Karin duduk di depan komputer dengan pandangan yang sesekali beralih pada ponsel di samping keyboard. Sejak datang ke kantor pagi tadi, entah sudah berapa kali dia membuka satu percakapan yang sama, dengan nama kontak Elmer yang terpampang di bagian atas layar. Percakapan mereka sebenarnya sangat singkat.Karin: Pak, mobil Bapak sudah dibawa ke bengkel.Elmer: Baik. Terima kasih sudah membantu." Karin: Sama-sama, Pak.Hanya itu, tidak ada percakapan lain yang bersifat pribadi. Namun, setiap kali membaca percakapan tersebut, sudut bibir Karin terangkat. Setidaknya sekarang mereka sudah saling mengenal."Kenapa cuma gini aja udah seneng? Aku benar-benar harus ambil kesempatan ini," gumam Karin seraya tersenyum, lalu kembali menghadap komputer. Namun beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar.Karin pun meliriknya sekilas, dan melihat sebuah pesan masuk. Sontak tangan Karin langsung berhenti mengetik saat melihat nama Elmer di layar. Dia pun buru-buru mengambil ponsel












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.