Compartilhar

Bab 105

Autor: Olivia Yoyet
last update Data de publicação: 2026-05-16 13:04:21

105

Bulan demi bulan berganti. Zhao Yìchen, Elma dan keluarga Wirya serta almarhumah Delany, bergantian datang ke kediaman Wirya, guna memberikan dukungan penuh pada pria itu dan ketiga anaknya.

Sebab mengalami depresi, Wirya akhirnya cuti selama 3 bulan dari posisi direktur utama PBK. Pada awalnya dia hendak berhenti, tetapi ditolak sembilan komisaris lainnya.

Alvaro turun langsung menjaga stabilitas perusahaan itu, sambil menunggu Hisyam dan rekan-rekannya siap untuk diserahkan tanggung jawa
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 106

    106Sepulang dari umrah, Zhao Yìchen beberapa kali menemani Wirya mengunjungi psikiater. Zhao Yìchen turut berkonsultasi, demi menenangkan jiwanya yang masih terguncang dengan wafatnya Delany. Selain mereka, ketiga anak Wirya juga ikut terapi. Zhao Yìchen, Hendri, Irshava, Zulfi, bahkan Dante, turut andil dalam mengantarkan Bayazid, Marwa dan Zayd, ke psikiater, secara bergantian. Penghujung tahun telah tiba. Jauhari dan Avreen pulang pada minggu kedua. Mereka hendak menghadiri acara pelantikan petinggi PB dan PBK 2nd generation. Siang menjelang sore itu, ratusan orang berkumpul di aula luas di lantai 15 gedung PBK. Sebagian besar dari mereka adalah para pengawal lapis 1 sampai lapisan terakhir, dan perwakilan dari setiap cabang di luar negeri. Tio dan Alvaro bergantian memberikan pidato singkat. Kemudian giliran Wirya yang menyampaikan kata-kata sambutan dengan santai. Hadirin terkekeh kala Wirya melontarkan candaan. Mereka senang, karena pria itu terlihat sudah lebih tenang dari

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 105

    105Bulan demi bulan berganti. Zhao Yìchen, Elma dan keluarga Wirya serta almarhumah Delany, bergantian datang ke kediaman Wirya, guna memberikan dukungan penuh pada pria itu dan ketiga anaknya.Sebab mengalami depresi, Wirya akhirnya cuti selama 3 bulan dari posisi direktur utama PBK. Pada awalnya dia hendak berhenti, tetapi ditolak sembilan komisaris lainnya. Alvaro turun langsung menjaga stabilitas perusahaan itu, sambil menunggu Hisyam dan rekan-rekannya siap untuk diserahkan tanggung jawab sepenuhnya. Selain itu, Alvaro dan para sahabatnya bergantian menginap di rumah Wirya, atau mengajak pria itu beserta ketiga anaknya berlibur ke banyak tempat wisata, guna menyembuhkan luka batin mereka.Awal bulan Oktober, Zhao Yìchen dan keluarganya, menemani Wirya yang hendak umrah. Selain mereka, belasan pengawal lapis 1 dan 2, serta keluarga Kartawinata, turut berangkat bersama istri masing-masing. Bayazid turut diangkut Wirya, karena putra tertuanys itu sudah memahami tata cara umrah. S

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 104

    104 Ketibaan Wirya dan kelompoknya di siang hari ketiga, disambut isak tangis banyak orang. Wirya mendatangi Harsaya dan langsung mendekap bapaknya, sembari merengek mengutarakan kesedihannya. Harsaya mengusap punggung putra sulungnya sembari menenangkan Wirya. Dia juga menguatkan hati sang putra, karena ketiga cucunya butuh ketegaran Wirya. Seusai menyalami Murti, Wirya menyambangi kedua mertuanya di ruang tengah. Wirya bersujud di lantai sambil memohon ampun, karena tidak bisa menjaga Delany dengan baik. Qianfan dan Nancy bekerjasama membujuk menantu mereka yang sesenggukan. Keduanya juga turut menguatkan Wirya, supaya pria itu bisa lebih tenang. Wirya memanggil ketiga anaknya dan menciumi pipi mereka satu per satu. Kemudian Wirya mendekap ketiganya sembari terisak-isak, yang menyebabkan hadirin turut berurai air mata.Sekian menit berlalu. Wirya memutari area guna menghampiri para tetua. Meskipun jiwa dan raganya penat, tetapi Wirya berusaha untuk tetap beramah tamah dengan me

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 103

    103Kabar wafatnya Delany, menghantam keras dada Zhao Yìchen. Dia meraung menyebut nama sang adik, sembari menangis di sofa ruang kerja Tio, di mana Yoga telah menyampaikan informasi itu pada orang-orang terdekat Wirya. Andri termangu di sofa tunggal. Bulir bening luruh dari kedua matanya, sebelum dia meraih saputangan dari saku kemeja, yang digunakan untuk menutupi mukanya. Tio yang menempati kursi putar, menelungkup di meja. Bahunya berguncang seiring dengan isakannya. Rangga terdiam cukup lama, sebelum memejamkan mata dan menangis. Hal serupa juga dilakukan Haryono, Fajar, Nugraha dan Aswin. Hanya Yoga dan Mardi yang bertahan tetap tegar, sembari menelepon banyak orang untuk menyampaikan berita duka.Dalam hitungan menit, banyak orang berdatangan ke ruangan itu. Hamid dan Haikal yang terbiasa tenang, juga tampak syok seperti yang lainnya. Tim Hisyam tidak mengatakan apa pun dan hanya menunduk sambil bersila di lantai, karena semua kursi penuh. Sedu sedan terdengar di seputar rua

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 102

    102Sepanjang hari itu, suasana rumah Wirya terlihat tegang. Meskipun ketiga bocah tidak diberitahu tentang kabar dari tanah suci, tetap saja mereka gelisah. Bayazid dan Marwa kesulitan untuk terlelap. Sedangkan Zayd berulang kali merengek, sambil memanggil bundanya. Hal itu menjadikan semua orang dewasa di rumah juga makin cemas. Merasa lelah untuk mencoba tidur, akhirnya Zhao Yìchen bangkit berdiri dan jalan keluar kamar depan. Dia tertegun melihat Rangga dan Fikri, yang tengah mengaji di ruang tengah dengan suara pelan. Zhao Yìchen berpindah ke dapur guna membuat teh. Dia terkejut menyaksikan Harsaya keluar dari kamar belakang, sembari menggendong Zayd yang masih merengek. "Sini, Pak. Biar aku yang gendong," ucap Zhao Yichen sembari mengulurkan tangannya.Harsaya memindahkan sang cucu yang memeluk leher Zhao Yìchen dengan erat, sembari menempelkan kepalanya ke pundak kiri sang om. Harsaya tercenung kala Zhao Yìchen mengusap rambut dan punggung Zayd, sebelum menotok belakang le

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 101

    101Jalinan waktu terus bergulir. Sore itu, Zhao Yìchen dan banyak anggota keluarga Adhitama lainnya, tengah berada di terminal keberangkatan luar negeri, khusus untuk jemaah haji ONH plus plus. Mereka hendak mengantarkan Wirya dan Delany, yang akan berangkat ke tanah suci, bersama Zulfi, Sabrina, Alvaro, Mayuree, Yanuar, Malanaya, Zein dan Hendri. Serta beberapa asisten mereka. Zhao Yìchen memandangi perempuan berjilbab putih, yang tengah memeluk Bayazid, Marwa, dan Zayd. Isakan Delany nyaris tidak berhenti, dan itu membuat semua pengantar turut terharu. Setelah Delany menjauhkan diri, Rangga segera menggendong Zayd. Delany berpindah untuk menciumi pipi Tadya, anak Rangga, dan Dilbaz. Perempuan bermata sipit itu kembali sesenggukan dalam pelukan Irshava, dan Zaheera, istri Rangga, yang telah pulang dari London dan menetap di Jakarta bersama sang suami, sebelum lebaran kemarin. Kala Delany berpindah untuk menyalaminya dengan takzim, Zhao Yìchen memeluk adiknya yang kembali terisak

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 12

    12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 27

    27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 18

    18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 13

    13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status