Share

Bab 4. Air Mata Sekar

Penulis: Andy Lorenza
last update Terakhir Diperbarui: 2024-09-13 01:38:04

“Ya, sebagai seorang putra mahkota sudah selayaknya pula kamu memiliki ilmu silat yang jauh lebih tinggi dari para prajurit dan bahkan Panglima Kerajaan. Berangkatlah besok pagi, kamu akan di antar oleh beberapa orang prajurit istana yang pernah Ayahanda bawa serta dulu ke sana,” pinta Sang Prabu memberi perintah.

Saka Galuh sebenarnya sama sekali tidak berminat dengan usulan Ayahandanya itu, namun ia tak berani menolak perintah meskipun kesehariannya seorang Saka Galuh selalu membangkang perintah di belakang Sang Prabu.

Pagi itu Saka Galuh memang terlihat bersiap seperti seorang yang akan berpergian jauh, tentu saja Sang Prabu senang karena putranya itu menjalani perintahnya dan akan menjadi seorang pemuda yang memiliki keahlian silat.

Akan tetapi harapan Sang Prabu itu tidak sesuai dengan yang sebenarnya terjadi, saat Saka Galuh dan beberapa orang prajurit istana berlayar dengan perahu ke Pulau Madura. Putra mahkotanya itu memilih menuju Pulau Jawa, ia sengaja berada di Pulau Jawa itu beberapa hari agar Ayahandanya percaya jika saat itu ia benar-benar datang menemui Kiai pemilik pemondokan di Pulau Madura itu untuk berlatih ilmu silat.

Di Pulau Jawa itu pulalah Saka Galuh bertemu dengan Ketua sebuah padepokan besar, ilmu kanuragannya sangat tinggi. Orang itu juga menawarkan pada Saka Galuh jika hendak berlatih dengan syarat membayar kepadanya setelah ia berhasil menguasai ilmu silat yang diajarkan, namun Saka Galuh tetap tidak ingin berlatih melainkan menyusun sebuah rencana jahat dengan Ketua padepokan itu pada Ayahandanya sendiri di istana Kerajaan Dharma.

Saka Galuh pun kembali ke istana setelah memperkirakan waktu berlatih seorang murid selesai dan itu akan dipercaya oleh Ayahandanya, benar saja Sang Prabu sangat senang ketika putranya itu kembali dan langsung menunjukan beberapa gerakan silat yang sebenarnya bukan di ajarkan Kiai di Pulau Madura itu melainkan gerakan silat Ketua sebuah padepokan di Pulau Jawa.

“Aku senang sekarang kau telah menjadi seorang putra mahkota yang memiliki ilmu silat,” Sang Prabu senang dan memuji Saka Galuh.

“Terima kasih Ayahanda, apakah Ayahanda akan memberiku hadiah atas semua yang telah Ananda jalini ini?”

“Oh tentu saja putraku, apa hadiah yang kamu inginkan?”

“Hemmm, Ananda tidak menginginkan hadiah apa-apa. Justru Ananda ingin menikmati keberhasilan ini dengan mengajak Ayahanda berburu, apakah Ayahanda bersedia?”

“Kamu memang putraku yang baik dan tahu saja cara membuat Ayahanda senang. Baik besok pagi kita akan pergi berburu,” Sang Prabu memutuskan, Saka Galuh pun tersenyum yang di dalam senyumannya itu tersembunyi rencana jahat terhadap Ayahandanya itu.

Esok paginya berangkatlah Sang Prabu dan Saka Galuh ke sebuah kawasan hutan tempat mereka akan berburu, di sana juga ada beberapa orang prajurit istana yang menemani. Baru saja mereka tiba di kawasan hutan, dua sosok bayangan berkelebat menghadang.

Yang satu berusaha melumpuhkan para prajurit, yang satu lagi berhadapan dengan Sang Prabu. Sosok pria yang berhadapan dengan Sang Prabu berpakaian merah bertubuh tegap, ilmunya jauh lebih tinggi dibandingkan Prabu Swarna Dipa hingga beberapa serangan membuat Raja Kerajaan Dharma itu terdesak.

“Deeeeeees..!  Breeeeeet..! Breeeeet..! Cleeeep…! Arghhhhh..!”

Sang Prabu meraung kesakitan saat hantaman kaki serta beberapa kali sayatan golok merobek pakaian dan menores luka di beberapa bagian tubuh, dan saat golok itu ditancapkan ke dada Sang Prabu, Raja Kerajaan Dharma itu pun tersungkur dengan darah memancur.

Dua pria misterius itu pun berkelebat pergi dari tempat itu setelah memastikan Sang Prabu tewas, Saka Galuh meraung-raung berlari menghampiri lalu memeluk tubuh Ayahandanya. Beberapa pajurit yang telah mampu berdiri akibat di hajar oleh salah seorang dari dua pria yang menyerang tadi pun ikut berlari menghampiri, Sang Prabu Swarna Dipa pun menghembuskan napas terakhirnya.

Para prajurit segera mengotong tubuh Sang Prabu ke atas kereta kuda, selama di perjalanan pulang kembali ke istana, Saka Galuh yang terlihat sedih itu ternyata sangat bahagia dalam hatinya karena dua pria yang ternyata orang suruhannya itu berhasil menghabisi nyawa Ayah kandungnya sendiri.

Sejak tewasnya Sang Prabu, Saka Galuh langsung mengambil alih tahta Kerajaan. Pada saat itulah Sekar semakin dibuat menderita di istana, bahkan Dwinta dan Saka Galuh juga berencana akan membunuhnya. Beruntung hal itu cepat diketahui Wayan Bima, hingga ia dan istrinya membawa pergi Sekar dari istana Kerajaan Dharma itu.

Saat menyudahi ceritanya itu Sekar tak mampu lagi membendung air matanya, kedua pipinya basah. Lasmi langsung mengelus-elus dan merangkul keponakan angkatnya itu, Arya pun sempat mengigit bibirnya merasakan betapa getirnya peristiwa yang dialami gads cantik yang duduk di hadapannya itu.

Sesaat kemudian setelah merasa cukup tenang Sekar kembali bersuara, namun bukan untuk melanjutkan ceritanya melainkan ada hal lain yang hendak ia sampaikan pada Arya.

“Aku sebenarnya tidak berambisi untuk merebut tahta Kerajaan itu kembali dari tangan Saka Galuh Mas, melainkan yang terpenting rakyat tidak lagi tertindas oleh kesewenang-wenangannya. Ayahanda bersusah payah mendirikan dan mempertahankan Kerajaan Dharma demi untuk kesejahteraan rakyatnya, kini dalam sekejab hancur di tangan orang yang tamak,” tutur Sekar.

“Aku mengerti Sekar, tujuan sebenarnya maksudku untuk membantu kalian menyerang istana Kerajaan Dharma bukan pula untuk membalaskan dendam atas apa yang dilakukan saudara tirimu itu pada Ayahmu Prabu Swarna Dipa, tapi lebih dari itu bertujuan untuk menegakan keadilan bagi rakyat dibawah kekuasaan Kerajaan itu,” Arya menjelaskan.

“Ya Sekar, Paman juga tidak ingin terjadi pertumpahan darah di pihak kita dan istana Kerajaan. Tapi ini semua tidak lain hanya untuk kepentingan seluruh masyarakat yang mendiami Pulau Dewata ini,” tambah Wayan Bima.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 197. Sebelah Utara Gunung Merapi

    “Pantas saja dia memiliki 2.000 lebih anak buah, dan padepokan yang ia pimpin itu sudah dapat dikatakan sebuah Kerajaan yang besar,” ujar Sultan Demak.“Selain memiliki anak buah yang banyak, mereka juga sangat terlatih yang tentunya akan menjadikan mereka kuat. Jika prajurit dengan jumlah yang sama dikerahkan ke sana saya rasa akan sulit menaklukan mereka, cara satu-satunya untuk menghadapi anak buah si keparat itu dengan melipatkan gandakan kekuatan pasukan,” tutur Arya.“Satrio Mandalu sekarang memiliki berapa banyak prajurit di istananya?”“Sekitar lebih kurang 1.000 orang Kanjeng Sultan.”“Prajurit di istanaku hampir mencapai 3.000 orang, jika saya kerahkan semuanya tentu istana ini akan mengalami kekosongan prajurit.”“Tidak usah Kanjeng Sultan, setelah nanti para Raja Kerajaan di kawasan timur itu berhasil dikumpulkan nanti akan diketahui seberapa besar dan banyaknya prajurit jika digabungkan,” ujar Arya.“Hemmm, ya benar Dezo. Nanti sekitar 2.000 orang prajurit istana ini bisa

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 196. Kebiadaban Masih Berlanjut

    Pangeran Durjana yang saat itu berada di dalam air segera arahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Gurunya itu, ia tersenyum lalu menyelam ke dalam air.“Wuuuuuuus..! Buuuuuuuk..! Byuuuuuuuur..! Byuuuuuur..! Ha..ha..ha..!”Sebuah batu sebesar jempol kaki yang di ambil Pangeran Durjana dari dasar sungai saat menyelam tadi, ia lemparkan tepat mengenai badan seekor babi yang tengah menyeberang dengan rombongannya, babi itu meraung kesakitan dan tiba-tiba berlari hingga terdengar tawa kedua pria di dalam dan di tepi tebing seiring deburan air sungai itu.“Ayo Guru melompat ke sini..! Jangan bilang kau takut air dan tak pandai berenang pula..! Ha..ha..ha..!” ajak Pangeran Durjana.Mendengar ajakan seperti menantangnya itu, Setan Tanduk Neraka melepaskan bajunya lalu menceburkan diri ke dalam sungai. Mereka berdua terlihat seperti anak-anak yang mandi di sungai suka bersenda-gurau dan bermain air, bahkan beberapa kali kepala Pangeran Durjana di benam-benamnya sebab muridnya itu selalu mengat

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 195. Mengirim Mata-mata

    “Bohong...! Kau pasti tahu rencana apa yang akan disusun Rajamu itu..! Ayo, jujur saja sebelum yang mulia nanti memberi perintah untuk menghabisimu..!” kembali pengawal itu mengancam.Kesetiaan utusan Kerajaan Mandalu itu sangat teruji dengan tetap diam meskipun di siksa sedemikian rupa, pengawal istana Kerajaan Perisai Timur dibuat geram dan kesal. Kalau saja Gandika Ireng tidak melarang utusan itu untuk dibunuh, mungkin saat itu juga si pengawal menghabisinya.Dua dari tiga orang utusan ke Kerajaan Perisai Timur yang berhasil melarikan diri itu, kini telah tiba kembali di istana Kerajaan Mandalu. Mereka langsung menemui Satrio Mandalu di ruangan kebesaran istana Kerajaan itu, untuk melaporkan bahwa salah seorang dari mereka ditangkap prajurit Kerajaan Perisai Timur.“Kenapa sampai terjadi salah seorang dari kalian ditangkap oleh prajurit Kerajaan Perisai Timur itu?” tanya Satrio Mandalu terkejut setelah mendapat laporan salah seorang dari utusannya itu tertangkap.“Maafkan kami yang

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 194. Gandika Ireng

    “Parjurit di depan mengatakan jika Kisanak bertiga ini merupakan sahabat Kanjeng Sultan Demak, benarkah demikian?” tanya Sowan Broto kepala Desa Rowo itu saat menerima kedatangan dan mengajak mereka masuk ke rumah tepatnya di ruangan tamu.“Benar Mas, Saya Arya, ini Bidadari Selendang Biru dan ini Dewa Pengemis.”“Perkenalkan juga nama Saya Sowan Broto dan saya sebagai kepala desa di sini,” mereka saling berjabatan tangan.“Benarkah di desa ini telah terjadi tindakan pemerkosaan oleh dua orang pria yang tak dikenal Mas Sowan?”“Benar Arya, makanya kami langsung memberi laporan pada Kanjeng Sultan di istana mengenai hal itu. Dan beliau mengirimkan sejumlah prajurit istana ke sini,” jawab Sowan Broto.“Lalu di mana sosok perempuan tua yang juga datang bersama prajurit ke desa ini?”“Oh, Nyi Intan yang Arya maksudkan?” Arya hanya mengangguk.“Beliau dan Panglima serta sejumlah prajurit bergerak ke arah utara setelah menyisir kawasan desa ini tak menemukan dua orang pria yang telah melaku

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 193. Dua Orang Prajurit Melapor

    Setelah puas melakukan aksinya menggagahi kedua wanita itu secara bergiliran, Pangeran Durjana dan Setan Tanduk Neraka segera meninggalkan desa itu. Jika para wanita yang telah menjadi korban kebiadaban mereka selalu melaporkan pada suami atau warga yang lain, tidak demikian dengan dua orang wanita yang baru saja digagahi itu.Tak diketahui alasannya kenapa mereka hanya diam saja setelah diperlakukan seperti binatang itu, mungkin karena merasa ketakukan akan ancaman Pangeran Durjana dan Gurunya tadi, atau juga tak mau bicara karena malu sebab itu merupakan aib keluarga mereka jika diceritakan dan diketahui orang lain.Yang pasti setelah kedua wanita itu dapat bangkit berdiri dan membenahi pakaian, mereka pun menuju rumah masing-masing dan ikut beristirahat siang bersama anak-anak.“Tinggal satu wanita lagi di kawasan tengah ini yang musti kita gagahi Guru, setelah itu kita akan kembali ke kawasan timur.”“Benar bocah bejad..! Di kawasan timur nanti tentunya tidak akan sesulit ini kita

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 192. Desa Rowo Geger

    Rontaan dan pekik minta tolong dari sepasang petani itu tidak mereka hiraukan, justru hal itu makin menambah semangat kedua pria itu melakukan perbuatan bejad mereka. Setelah puas menggagahi wanita petani itu ditinggalkan begitu saja, kedua pria bejad itu pun pergi dengan tawa terbahak-bahak dan menghilang di balik semak-semak dan pepohonan kecil di kawasan itu.Beberapa saat kemudian wanita petani berusaha bangkit sambil membenahi pakaiannya terlebih dahulu, sambil menangis ia berdiri dan berjalan gontai ke arah suaminya yang terikat di batang pohon. Dengan sisa tenaganya wanita itu pun berusaha melepaskan tali dari akar-akaran yang mengikat kedua tangan suaminya, setelah tali terlepas wanita itu jatuh pingsan.Tak terbayangkan betapa pilunya hati pria petani di depan matanya istrinya itu digagahi secara bergiliran oleh dua orang pria yang tak ia kenal, ia lalu memeluk tubuh istrinya yang saat itu terkulai lemas, terdengar kembali teriakan pilu minta pertolongan dari sang suami.Kedu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status