LOGIN"Jangan sok mengatur di kamar ini, Tania. Kita hanya rekan bisnis." Arkael melepas jasnya dengan kasar di kamar pengantin mereka yang mewah.Suara hempasan kain jas yang jatuh ke atas sofa beludru memecah keheningan malam di dalam kamar tidur utama istana Mozaus. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya temaram yang menciptakan bayangan panjang di dinding pualam. Arkael berdiri tegak di hadapan meja rias besar, melonggarkan ikatan dasi hitam di lehernya dengan gerakan kasar yang mencerminkan sisa-sisa emosi akibat insiden di ruang makan tadi.Tania yang masih berdiri di dekat pintu masuk melipat kedua tangannya di dada.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang sarat akan rasa jengkel. "Kau tidak perlu bersikap seolah-olah aku berniat merusak malam pertama kita, Arkael. Aku juga tidak punya ketertarikan sedikit pun pada mantan pesuruh jalanan yang mendadak jadi pengusaha ini."Arkael berbalik, menatap tajam wanita di hadapannya dengan sorot mata sedingin es. "Bagus kalau
Cahaya lampu kristal raksasa memantulkan kemegahan ruang makan utama istana Mozaus, tempat di mana meja panjang berbahan kayu jati tua dipenuhi berbagai hidangan mewah. Bau daging panggang bercampur rempah mahal menguar di udara, namun atmosfer di sekeliling meja justru terasa sangat membeku dan penuh ketegangan. Dhandra, Kalandra, dan Bramantyo duduk menempati kursi kehormatan dengan ekspresi wajah yang mengeras sempurna begitu pintu ganda ruang makan terbuka lebar.Langkah kaki tegas menggema di atas lantai marmer, memecah kesunyian malam saat dua sosok manusia melangkah masuk berdampingan."Kenalkan, ini wanita yang akan dinikahi oleh pewaris tunggal keluarga Mozaus," ucap Arkael dingin, suaranya membelah ruangan tanpa keraguan sedikit pun.Ia menggandeng lengan Tania erat, membiarkan sosialita bergaun malam sutra hitam itu berdiri tegak dengan senyum penuh kemenangan di sampingnya.Kehadiran Tania di tengah-tengah benteng keluarga inti Mozaus langsung memicu gempa kecil yang mem
"Menikah denganmu demi harta keluarga Mozaus? Penawaran yang menarik, tapi apa untungnya buat aku, Arkael?" Tania menatap tajam sambil menyesap wine mahalnya.Suasana sudut VIP kelab malam yang remang-remang mendadak terasa lebih dingin dari biasanya.Cahaya lampu gantung kristal kecil di atas meja mereka memantulkan kilau merah keunguan di permukaan cairan merah pekat di dalam gelas kristal Tania.Wanita itu menyandarkan punggungnya ke sofa kulit hitam, melipat kedua tangan di depan dada dengan postur tubuh yang menunjukkan dominasi penuh.Arkael tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pelan, meresapi aroma alkohol dan parfum mewah yang menguar di sekitarnya. "Kau sudah menyebutkannya sendiri tadi, Tania. Kursi kepemimpinan Mozaus Corp tidak bisa diakses oleh orang luar tanpa aliansi darah atau pernikahan sah. Dengan menikahiku, kau otomatis melompati tembok pembatas kaum elite yang selama ini mengasingkanmu dari lingkaran inti dewan direksi."Tania mendengus pelan, sudut bibirnya
Dentuman bass musik elektronik berdenyut keras di balik dinding kedap suara klub malam Vortex, tempat di mana kemewahan dan dosa berpadu tanpa batas.Aroma alkohol mahal, parfum berkelas, dan asap shisha memenuhi udara remang-remang yang disiram cahaya laser merah-biru.Di sudut bar eksklusif lantai dua, Arkael melangkah pelan mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan untuk memastikan tidak ada penguntit dari kubu Paman Dhandra yang mengekorinya. Arkael datang bukan untuk mencari pelarian atau kembali ke masa lalunya yang kotor sebagai pria sewaan, melainkan untuk menemui informan lama demi mengamankan dokumen aset pribadinya sebelum klausul tiga puluh hari mengunci pergerakannya."Mencari mangsa baru atau sedang bersembunyi dari takdirmu, Arkael?"Suara desisan halus berbalut aroma parfum *om Ford yang pekat menghentikan langkah Arkael tepat di depan meja bar.Arkael menoleh perlahan.Di hadapannya, Tania, wanita sosialita elit dengan gaun mala
"Kau boleh memegang seluruh saham perusahaan, tapi syaratnya mutlak, kau harus menikah dalam waktu satu bulan." Paman Dhandra tersenyum licik di balik kepulan asap cerutunya.Cahaya lampu meja kerja mahoni memantulkan bayangan asap kelabu yang mengepul di udara ruang baca perpustakaan pribadi kakek.Arkael berdiri tegak di hadapan meja besar tersebut, menatap lembaran dokumen hukum yang dibentangkan oleh Jenar dengan tangan sedikit gemetar menahan amarah.Di sekeliling ruangan, Dhandra Mozaus dan istrinya, Kalandra, berdiri berdampingan dengan senyum kemenangan yang sulit disembunyikan di wajah mereka."Syarat menikah?" Arkael menyipitkan mata, menatap tajam ke arah sang paman. "Apa hubungannya kepemilikan saham pengendali dengan status pernikahan?""Kakekmu ingin memastikan bahwa pewaris takhta Mozaus bukan hanya seorang berandalan jalanan yang tidak tahu aturan, melainkan kepala keluarga yang mapan secara sosial," jawab Dhandra santai, menjentikkan abu cerutunya ke asbak kristal. "D
"Selamat datang di kandang serigala, cucu malang." Sambutan penuh racun dari Bibi Kalandra menyambut langkah pertama Arkael menapaki lantai marmer putih kediaman utama Mozaus.Arkael menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan yang luasnya menyerupai balai istana kerajaan.Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit tinggi memantulkan cahaya berkilau di atas permadani wol merah tua yang membentang luas.Di sekeliling ruangan, belasan anggota keluarga besar Mozaus duduk di kursi sofa bergaya klasik dengan tatapan menilai, mencemooh, dan merendahkan.Aroma parfum mahal bercampur dengan ketegangan udara yang pekat memenuhi rongga dada."Kandang serigala?" Arkael balas menatap Kalandra tanpa gentar sedetik pun.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang tipis. "Sayangnya, aku terbiasa hidup di jalanan di mana kelaparan jauh lebih berbahaya daripada anjing peliharaan rumahan seperti kalian."Kalimat dingin itu langsung membuat rahang Kalandra mengeras.Wanita paru







