LOGIN"Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke m
"Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke m
"Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke ma
"Pagi Bik, Mas Arga kemana Bik? sudah berangkat ke kantor?" Tanya Aluna sambil menyapa perempuan paruh baya itu di dapur yang terlihat sedang sibuk menyiapkan sarapan. "Pagi Nyonya, Tuan sudah berangkat dari pagi tadi. Tuan bilang, Anda sedang tidak enak badan. Untuk itu tidak membangunkan Anda pagi tadi." Jawab Bik Tutik. Mendengar jawaban itu, membuat hati Aluna menghangat. Terdengar setitik perhatian yang Tuan Kenzo selipkan untuknya. "Apa dia sudah sarapan Bik?" Tanya Aluna yang tiba-tiba kepikiran lantaran saat ini saja dirinya masih melihat Bik Tutik memasak untuk menyiapkan sarapan. "Tidak Nyonya, tadi saya tidak memasak karena biasanya Nyonya yang menyiapkan nya untuk Tuan, maaf saya tidak tahu jika Anda sedang sakit. Jadi tadi saya belum sempat memasak untuk sarapan Tuan, karena Tuan keburu berangkat duluan." Jelas Bik Tutik seperti sedang menyampaikan berita acara. "Kalau begitu saya bantu masak nya ya Bik. Kita bikin masakan yang enak untuk suamiku, nanti biar aku y
"Astaga, Tuan berlebihan sekali. Memang nya aku kenapa sampai tidak bisa turun dari kasur? sudah lah Bik lain kali jangan terlalu di dengarkan perkataan nya." Kata Aluna dan kini dia berniat untuk turun dari ranjang menuju sofa. "Aauuuwww... " Seru Aluna yang tampak meringis menahan perih di bagian paha dalam nya, terutama di area sensitiv nya yang tampak sangat perih hingga membuat Aluna kesusahan saat hendak berdiri dan berjalan. "Nyonya tidak apa-apa? apa perlu saya panggilkan dokter?" Kata Bik Tutik dengan panik dan kini sedang membantu Aluna dan memapa tubuh gadis itu. "Tidak perlu Bik, Aku hanya sedikit keram saja barusan. Tidak Perlu panggil dokter." Jawab Aluna. "Sialann... kenapa rasanya masih sangat sakit seperti saat pertama kali? Ah miliknya memang begitu besar dan panjang sehingga membuat milik ku terasa sakit begini." batin Aluna, baru saja membatin tiba-tiba pintu kamar di buka dari arah luar dan menampilkan sosok Tuan Kenzo yang baru saja Aluna omongkan dala
"Mas mau ngapain?" Tanya Aluna waspada saat tubuh Tuan Kenzo kini condong ke arah nya dan membuat wajah keduanya saling beradu pandang. Meskipun itu bukan kali pertama bagi Aluna melihat dan di tatap sebegitu dekat nya oleh Tuan Kenzo, tapi tetap saja jantung nya masih suka berdetak tak karuan. "Bukankah kamu yang memintaku untuk tetap tinggal di sini?" Kata Tuan Kenzo tepat di depan wajah Aluna dengan posisi keduanya saling tatap dan hanya berjarakkan beberapa cm saja sebelum saling tersentuh. Bahkan setiap hembusan nafas yang Tuan Kenzo keluarkan dapat sangat jelas Aluna bisa rasakan. "A-aku? ka-kapan? kapan aku mengatakan hal itu?" tanya Aluna dengan panik dan kegugupan yang benar-benar tidak bisa di tutupi nya. "Saat setelah aku selesai memakaikan jubah tidurmu ini, dan aku ingin pergi tapi kamu justru menarik tanganku dan memintaku untuk tetap tinggal." jelas Tuan Kenzo membuat Aluna semakin membolakan matanya tak percaya bahkan hampir saja korneanya ingin melompat dari tempa
Setelah tau akan menikah dengan Tuan Kenzo, saat ingin berangkat ke Gedung Gama untuk melangsungkan pernikahan nya, orang-orang suruhan Tuan Kenzo sudah datang untuk mengambil barang-barang milik Aluna untuk dibawa nya ke mansion. Sehingga barang-barang milik Aluna sudah tertata rapi di dalam kam
Dunia ibarat roda yang terus berputar. Kadang akan membawa kita kepuncak kebahagiaan tanpa duga dan bisa juga membawa kita pada jurang nestapa.Setelah kehilangan Ayah nya dan kini menikah dengan laki-laki arogan bermarga Mahesa, yang menjadi satu-satunya penerus di keluarga itu.Dunia Aluna seketi
Pagi sang surya bangunkan mimpi, embun pagi yang telah menghilang akan cahaya mentari yang kini mulai menyinari bumi dengan kehangatan sinarnya. Membangunkan setiap insan yang terlelap dari mimpi malamnya. Hari Minggu yang seharusnya Aluna nikmati dengan begitu santai nya. Hari Minggu yang seharus
"Harus Kenzo katakan berapa kali agar Kakek bisa paham, sampai kapanpun Kenzo tidak akan mau menikah lagi. Sekalipun perempuan itu pilihan kakek." Ucap laki-laki berbadan tinggi besar yang kini sedang duduk tegak di sebuah sofa yang menghadap langsung dengan laki-laki paruhbaya yang dipanggilnya ka







