로그인"Eran... lo gapapa?" tanya Lana saat mereka berpapasan di gerbang kampus keesokan harinya. Awalnya Lana sudah bertekad untuk mogok bicara. Ia marah, kecewa, dan takut setelah tahu uangnya dipakai untuk membeli barang haram. Namun, melihat Eran yang berjalan sempoyongan dengan wajah sepucat kertas dan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Hatinya tetap saja terenyuh. Tanpa memedulikan tatapan mahasiswa lain, Lana menarik tangan Eran menuju area taman kampus yang sepi. Begitu sampai di sana, Lana langsung menarik lengan baju Eran lebih tinggi. "Eran, luka ini... kenapa makin banyak? Ini bukan cuma lebam, ini luka baru!" seru Lana ngeri melihat bekas sabetan yang masih memerah di kulit pria itu. Eran tidak menanggapi rasa khawatir Lana. Pikirannya sedang kalut. Tubuhnya terasa sakit luar biasa, saraf-sarafnya berteriak meminta "asupan" yang semalam ia habiskan dengan rakus. Di matanya saat ini, Lana bukan lagi teman sekelas atau gadis yang harus ia jauhi, melainkan satu-satu
Setelah hari itu, semua berjalan normal di kampus. Namun, pada hari ketiga dan keempat, Eran tidak menampakkan batang hidungnya. Lana sempat merasa heran, bahkan ada sedikit kekosongan di bangku sebelahnya. Baru pada hari kelima, Lana melihat pria itu kembali duduk di sampingnya dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya."Lo mau tahu apa? Bentar lagi dosen masuk..." gumam Eran tanpa menoleh."Judes amat, lo kena— Wait! Lo kenapa?!" Lana memekik pelan. Saat Eran hendak meletakkan tasnya, lengan kaos panjangnya tak sengaja tersingkap, memperlihatkan sisa luka terbuka dan lebam biru gelap yang mengerikan di sepanjang lengan bawahnya.Eran segera menarik turun lengan kaosnya, tak peduli. Baginya, rasa perih itu sudah menjadi teman akrab setiap malam."Lo beli salep kek, atau apa... itu lukanya bisa infeksi, Eran!""Gue nggak ada uang, paham?" ujar Eran singkat, lalu menguap lebar seolah luka-luka itu hanyalah goresan kucing.
"Lana... aku sudah bilang kan, jangan dekat-dekat dengan dia," bisik Saka. Sebagai kakak, ia tidak bisa membiarkan adiknya dekat dengan pria yang menurutnya adalah personifikasi dari kesialan.Lana tersentak, menoleh dan mendapati Saka sudah berdiri di samping motor besarnya yang terparkir tepat di depan pintu keluar pasar. "Kak? Kenapa bisa ke sini?"Lana menghela napas frustrasi. Padahal ia sudah berencana untuk pulang naik bus—meski melelahkan, setidaknya ia merasa mandiri. Tapi kehadiran Saka menghancurkan rencana "pelarian" kecilnya itu."Om Elian yang menyuruhku menjemput. Beliau ada urusan mendadak dan membawa sopir rumah, Tante Rinjani juga sedang sibuk di butik," terang Saka, matanya tidak lepas menatap Eran dengan pandangan penuh permusuhan.Eran yang sedari tadi hanya diam sembari menyampirkan tas kameranya, kini menatap Saka dengan dahi mengernyit. Ia merasa pernah melihat wajah ini, tapi memorinya tentang masa sekolah sudah ia buang j
"Nggak punya teman? Please, gue bisa dapetin siapa pun kalau gue mau. Termasuk lo," ancam Lana dengan nada angkuh yang khas, mencoba mempertahankan harga dirinya yang mulai tersudut.Eran tertawa hambar lalu berkata, "lo kira di sini ada yang bakal tertarik sama lo? Atau sama nama besar keluarga lo? Liat sekeliling lo. Di sini isinya mahasiswa beasiswa yang harus kerja sampingan buat makan, atau anak pegawai biasa, bahkan anak buruh tani. Nggak ada yang punya waktu buat peduli sama drama 'Tuan Putri' kayak lo. Di sini, lo itu bukan siapa-siapa."Lana terdiam, dia tidak bisa membantah,karna dia tahu, itulah kenyataannya.Tak lama pintu kelas terbuka lebar. Beberapa mahasiswa senior masuk dengan wajah "garang" yang dibuat-buat, membawa tumpukan kertas dan pita kain."Oke, perhatian semuanya! Mahasiswa baru, silakan berdiri!" teriak salah satu senior.Lana mengernyit. Di tahun ini, tradisi Inaugurasi dan Pengakraban masih kental, meski bentuknya
"Ya ampun, akhirnya aku sampai juga di sini," gumamnya sambil menatap sekeliling.Ia akhirnya berdiri di depan gerbang kampus yang tampak semakin renta. Hari ini, ia sengaja memilih pakaian paling simpel yang ia punya—kaus polos berwarna putih dan celana denim gelap. Ia berharap bisa sedikit membaur dan tidak menarik perhatian. Apalagi, ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia menaiki bus umum. Pengalaman yang membuatnya berkali-kali mual karena bau asap dan sesak, namun ia bertahan demi sebuah kata: kebebasan.Begitu ia melangkah melewati gerbang, atmosfer kampus yang "berbeda" itu kembali menyergapnya. Dan entah karena kutukan atau kebetulan, mata Lana langsung tertuju pada satu titik di koridor utama.Di sana, bersandar pada pilar gedung yang catnya mengelupas, berdiri Eran.Pria itu tampak sedang menghisap sebatang rokok dengan gaya masa bodoh. Rambut gondrongnya yang berantakan tertutup kupluk hitam, dan tatapannya yang sayu namun tajam sedang mengawasi lalu lalang mahasisw
"Om! Aku sudah cukup usia kalau hanya untuk menikah!" seru Sonya, tak mau kalah. Ia berdiri tegak, menantang tatapan Antonio dengan keberanian yang entah datang dari mana. "Kamu jangan macam-macam. Dengar, kamu masih harus kuliah, harus mengejar cita-citamu. Menikah itu urusan belakangan," balas Antonio. Suaranya berusaha tetap tegas, meski sebenarnya batinnya sedang jungkir balik. "Lalu, apa Om mau kita terus-terusan seperti ini selama empat tahun ke depan?" Antonio menghela napas panjang, mencoba memberikan pengertian yang paling logis. "Aku akan berusia 46 tahun, Sonya, saat kamu lulus nanti. Dan seandainya saat itu kamu memilih pria lain yang lebih muda, aku akan mendukungmu sepenuhnya. Bukan karena aku melanggar kata-kataku sendiri—aku menyayangimu—tapi aku ingin gadis yang aku sayangi tumbuh menjadi wanita yang kuat dan pintar." "Om..." gumam Sonya, matanya mulai berkaca-kaca. "Tidak. Mamamu tidak akan pernah melepasmu begitu saja, aku tahu itu. Sekarang pulang, sopirku aka
Begitu pintu kaca studio terbuka, Boy langsung merentangkan tangannya lebar-lebar dengan gaya teatrikal, seolah-olah ia baru saja memenangkan piala Oscar."Duh, lega banget gue! Attention, please! Guys, ini dia... perkenalkan, calon Nyonya pemilik Studio kedua kita! Maya! Yeee! Jangan l
Matahari siang itu terasa menyengat di depan gedung megah Baskara Group, namun suasana di antara Boy dan Maya jauh lebih panas. Sudah dua hari Boy menghilang bak ditelan bumi, meninggalkan Maya dalam kegelisahan yang menyiksa. "Mas... Mas sengaja cuekin aku?" tanya Maya dengan suara bergetar. La
"Rinjani, kamu dan Boy kembali saja ke rumah. Aku harus mengurus banyak hal setelah meninggalkan ruangan ini cukup lama," gumam Elian sambil merapikan tumpukan berkas yang sempat disentuh Hendra.Rinjani menatap suaminya cemas. "Kamu yakin? Lalu bagaimana dengan Paman Hendra? Dia tidak akan membia
Ketegangan di lantai eksekutif Baskara Group pagi itu bisa dirasakan bahkan oleh staf paling junior sekalipun. Lorong yang biasanya sibuk, kini sunyi mencekam. Semua mata tertuju pada pintu ruangan Direktur Utama yang terbuka lebar.Elian melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang sempurna, la







