Masuk"Nggak punya teman? Please, gue bisa dapetin siapa pun kalau gue mau. Termasuk lo," ancam Lana dengan nada angkuh yang khas, mencoba mempertahankan harga dirinya yang mulai tersudut.Eran tertawa hambar lalu berkata, "lo kira di sini ada yang bakal tertarik sama lo? Atau sama nama besar keluarga lo? Liat sekeliling lo. Di sini isinya mahasiswa beasiswa yang harus kerja sampingan buat makan, atau anak pegawai biasa, bahkan anak buruh tani. Nggak ada yang punya waktu buat peduli sama drama 'Tuan Putri' kayak lo. Di sini, lo itu bukan siapa-siapa."Lana terdiam, dia tidak bisa membantah,karna dia tahu, itulah kenyataannya.Tak lama pintu kelas terbuka lebar. Beberapa mahasiswa senior masuk dengan wajah "garang" yang dibuat-buat, membawa tumpukan kertas dan pita kain."Oke, perhatian semuanya! Mahasiswa baru, silakan berdiri!" teriak salah satu senior.Lana mengernyit. Di tahun ini, tradisi Inaugurasi dan Pengakraban masih kental, meski bentuknya
"Ya ampun, akhirnya aku sampai juga di sini," gumamnya sambil menatap sekeliling.Ia akhirnya berdiri di depan gerbang kampus yang tampak semakin renta. Hari ini, ia sengaja memilih pakaian paling simpel yang ia punya—kaus polos berwarna putih dan celana denim gelap. Ia berharap bisa sedikit membaur dan tidak menarik perhatian. Apalagi, ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia menaiki bus umum. Pengalaman yang membuatnya berkali-kali mual karena bau asap dan sesak, namun ia bertahan demi sebuah kata: kebebasan.Begitu ia melangkah melewati gerbang, atmosfer kampus yang "berbeda" itu kembali menyergapnya. Dan entah karena kutukan atau kebetulan, mata Lana langsung tertuju pada satu titik di koridor utama.Di sana, bersandar pada pilar gedung yang catnya mengelupas, berdiri Eran.Pria itu tampak sedang menghisap sebatang rokok dengan gaya masa bodoh. Rambut gondrongnya yang berantakan tertutup kupluk hitam, dan tatapannya yang sayu namun tajam sedang mengawasi lalu lalang mahasisw
"Om! Aku sudah cukup usia kalau hanya untuk menikah!" seru Sonya, tak mau kalah. Ia berdiri tegak, menantang tatapan Antonio dengan keberanian yang entah datang dari mana. "Kamu jangan macam-macam. Dengar, kamu masih harus kuliah, harus mengejar cita-citamu. Menikah itu urusan belakangan," balas Antonio. Suaranya berusaha tetap tegas, meski sebenarnya batinnya sedang jungkir balik. "Lalu, apa Om mau kita terus-terusan seperti ini selama empat tahun ke depan?" Antonio menghela napas panjang, mencoba memberikan pengertian yang paling logis. "Aku akan berusia 46 tahun, Sonya, saat kamu lulus nanti. Dan seandainya saat itu kamu memilih pria lain yang lebih muda, aku akan mendukungmu sepenuhnya. Bukan karena aku melanggar kata-kataku sendiri—aku menyayangimu—tapi aku ingin gadis yang aku sayangi tumbuh menjadi wanita yang kuat dan pintar." "Om..." gumam Sonya, matanya mulai berkaca-kaca. "Tidak. Mamamu tidak akan pernah melepasmu begitu saja, aku tahu itu. Sekarang pulang, sopirku aka
Karin diam, omelannya terhenti seketika. Ia menatap Saka seolah pria itu baru saja kehilangan kewarasannya akibat hantaman balok di bahu tadi. "Kamu... kamu barusan kena pukul di kepala juga ya? Kok ngomongnya ngaco!" seru Karin, wajahnya memerah padam, entah karena sisa emosi atau karena malu yang mendadak menyerang. "Gue serius, Rin. Gue suka cewek yang bisa jagain gue," goda Saka sambil tertawa kecil, meskipun wajahnya sedikit meringis saat rasa perih di bahunya mulai menjalar. "Nggak!" tegas Karin tanpa ragu. "Aku lebih suka cowok yang bisa diandelin, daripada yang cuma bisa ngandelin ceweknya." Sudah tidak terhitung berapa kali Saka ditolak mentah-mentah. Di saat mahasiswi lain di kampus berusaha keras mencuri perhatiannya, Karin justru menghindarinya seolah Saka adalah wabah yang harus dijauhi. Penolakan itu bukannya membuat Saka menyerah, malah membuatnya semakin penasaran. "Gue emang nggak jago berkelahi kayak lo, tapi gue pasti bisa jadi tameng lo kok suatu hari nan
Setelah pembicaraannya dengan Antonio di teras berakhir, Elian melangkah masuk ke ruang tengah. Di sana, Rinjani sedang duduk bersama Lana, menatap layar televisi yang masih menyiarkan berita duka dari keluarga Wijaya."Kasihan ya, Sayang, keluarga Jacob," ujar Rinjani saat Elian duduk di sampingnya. "Sekalipun aku merasa Sefa bukan wanita yang bisa diajak kerja sama dengan baik, tapi kalau dia menghilang begitu saja, rasanya iba juga. Apa menurutmu, Sefa juga mengikuti langkah kakaknya... bunuh diri?"Elian terdiam. Ia memilih menyimpan rapat-rapat rahasia tentang keterlibatan Antonio dalam menyelamatkan perusahaannya. Ia tidak ingin istrinya tahu bahwa di balik runtuhnya Wijaya, ada tangan dingin teman lamanya yang bekerja sebagai perisai. Elian hanya mengangguk pelan, matanya tetap tertuju pada TV yang menyala, meski pikirannya melayang jauh.Pandangan Elian kemudian beralih kepada Lana. Anak gadisnya itu tampak sedang menyiapkan beberapa keperluan untuk esok hari."Lana, besok
"Dulu kamu memberiku makan agar aku tidak mati. Sekarang, biarkan aku memberimu alasan untuk tetap hidup, walau itu harus di neraka bersamaku." Sefa tidak punya tenaga lagi untuk memberontak. Ia hanya bisa pasrah saat tarikan tangan Zen membawanya keluar dari gudang pengap itu menuju sebuah apartemen di sudut kota. Namun, begitu pintu terbuka, perut Sefa langsung bergejolak hebat. Ia mual luar biasa. Sampah bungkus makanan berserakan di mana-mana, pakaian kotor menumpuk di sudut ruangan, ribuan lembar tisu bekas pakai, dan aroma dari kamar mandi... rasanya seperti bau bangkai yang membusuk. Apa pria ini tidak pernah mengenal air dan sabun selama hidupnya? Dan Sefa akan dipaksa tinggal di sini? "Maaf, Angel. Aku tidak pernah belajar caranya bebersih," ujar Zen tanpa rasa bersalah. Ia melangkah melewati tumpukan sampah menuju meja komputernya. "Tapi tenang saja, aku tetap bisa memberimu makan enak. Aku baru saja menerima sisa bayaran dari klienku... hasil karena aku berhasil meng
"Sonya..." batin Maya perih. Dadanya terasa sesak saat melihat lampu ruang IGD yang masih menyala merah.Kenapa semua jadi begini? Dulu, di tahun-tahun pertama pernikahan, Maya sempat mencoba membuka hati untuk Abil. Namun, setiap kali ia mencoba melangkah mendekat, orang tua Abil selalu saja meng
Abil memacu mobilnya membelah jalanan kota dengan kecepatan gila. Ponsel di dasbor terhubung ke speaker mobil, tersambung ke panggilan Maya yang baru diangkat setelah puluhan kali mencoba."Ngapain sih kamu nelpon terus mas? Aku kan udah bilang mau pergi!" suara Maya terdengar ketus da
Di kediaman keluarga Abil dan Maya yang megah namun terasa dingin, Sonya melangkah masuk dengan bahu yang masih merosot. Rumah itu selalu terasa terlalu luas untuk tiga orang yang jiwanya saling menjauh."Ma, aku pulang," ucap Sonya pelan.Maya yang sedang duduk di sofa ruang
"Aku akan memenjarakan pria itu, aku janji."Hanya itu kalimat terakhir yang diucapkan Elian sebelum ia melangkah pergi. Boy, yang biasanya tidak pernah kehabisan kata-kata dan selalu punya selera humor pedas untuk mencairkan suasana, kini hanya bisa berdiri mematung. Pria kemayu







