Se connecterKarin diam, omelannya terhenti seketika. Ia menatap Saka seolah pria itu baru saja kehilangan kewarasannya akibat hantaman balok di bahu tadi. "Kamu... kamu barusan kena pukul di kepala juga ya? Kok ngomongnya ngaco!" seru Karin, wajahnya memerah padam, entah karena sisa emosi atau karena malu yang mendadak menyerang. "Gue serius, Rin. Gue suka cewek yang bisa jagain gue," goda Saka sambil tertawa kecil, meskipun wajahnya sedikit meringis saat rasa perih di bahunya mulai menjalar. "Nggak!" tegas Karin tanpa ragu. "Aku lebih suka cowok yang bisa diandelin, daripada yang cuma bisa ngandelin ceweknya." Sudah tidak terhitung berapa kali Saka ditolak mentah-mentah. Di saat mahasiswi lain di kampus berusaha keras mencuri perhatiannya, Karin justru menghindarinya seolah Saka adalah wabah yang harus dijauhi. Penolakan itu bukannya membuat Saka menyerah, malah membuatnya semakin penasaran. "Gue emang nggak jago berkelahi kayak lo, tapi gue pasti bisa jadi tameng lo kok suatu hari nan
Setelah pembicaraannya dengan Antonio di teras berakhir, Elian melangkah masuk ke ruang tengah. Di sana, Rinjani sedang duduk bersama Lana, menatap layar televisi yang masih menyiarkan berita duka dari keluarga Wijaya."Kasihan ya, Sayang, keluarga Jacob," ujar Rinjani saat Elian duduk di sampingnya. "Sekalipun aku merasa Sefa bukan wanita yang bisa diajak kerja sama dengan baik, tapi kalau dia menghilang begitu saja, rasanya iba juga. Apa menurutmu, Sefa juga mengikuti langkah kakaknya... bunuh diri?"Elian terdiam. Ia memilih menyimpan rapat-rapat rahasia tentang keterlibatan Antonio dalam menyelamatkan perusahaannya. Ia tidak ingin istrinya tahu bahwa di balik runtuhnya Wijaya, ada tangan dingin teman lamanya yang bekerja sebagai perisai. Elian hanya mengangguk pelan, matanya tetap tertuju pada TV yang menyala, meski pikirannya melayang jauh.Pandangan Elian kemudian beralih kepada Lana. Anak gadisnya itu tampak sedang menyiapkan beberapa keperluan untuk esok hari."Lana, besok
"Dulu kamu memberiku makan agar aku tidak mati. Sekarang, biarkan aku memberimu alasan untuk tetap hidup, walau itu harus di neraka bersamaku." Sefa tidak punya tenaga lagi untuk memberontak. Ia hanya bisa pasrah saat tarikan tangan Zen membawanya keluar dari gudang pengap itu menuju sebuah apartemen di sudut kota. Namun, begitu pintu terbuka, perut Sefa langsung bergejolak hebat. Ia mual luar biasa. Sampah bungkus makanan berserakan di mana-mana, pakaian kotor menumpuk di sudut ruangan, ribuan lembar tisu bekas pakai, dan aroma dari kamar mandi... rasanya seperti bau bangkai yang membusuk. Apa pria ini tidak pernah mengenal air dan sabun selama hidupnya? Dan Sefa akan dipaksa tinggal di sini? "Maaf, Angel. Aku tidak pernah belajar caranya bebersih," ujar Zen tanpa rasa bersalah. Ia melangkah melewati tumpukan sampah menuju meja komputernya. "Tapi tenang saja, aku tetap bisa memberimu makan enak. Aku baru saja menerima sisa bayaran dari klienku... hasil karena aku berhasil meng
Sefa menatap layar monitor yang sengaja ditinggalkan Zen dalam keadaan menyala, memaksa Sefa menyaksikan setiap detik kehancuran dunianya yang runtuh tanpa sisa.Pemberitaan pagi itu meledak seperti bom di seluruh stasiun televisi nasional.[BREAKING NEWS: KEMAHALAN HARGA DIRI, WIJAYA GROUP RUNTUH DALAM SEMALAM]"Pemirsa, dunia bisnis tanah air digemparkan dengan kolapsnya raksasa properti dan logistik, Wijaya Group. Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam, seluruh aset perusahaan dinyatakan disita setelah terungkapnya skandal pencucian uang dan penipuan investasi berskala masif. Namun, kabar paling mengejutkan datang dari sang CEO, Jacob Wijaya..."Layar beralih menampilkan potongan rekaman CCTV dari dalam ruang kerja Jacob pada malam nahas itu. Sefa menutup mulutnya, menahan isak tangis yang menyesakkan dada saat melihat pemandangan memilukan di layar.Dalam rekaman yang buram itu, Jacob tampak seperti orang kesurupan. Ruangan mewah yang dulunya menjadi simbol kekuasaan kini beran
"Halo Elian, bagaimana kejutan siang ini?" tanya Antonio melalui sambungan telepon, suaranya terdengar berat dan tenang, seolah baru saja menyelesaikan tugas ringan. "Jadi... ini semua ulahmu?" tanya Elian balik, suaranya masih menyiratkan ketidakpercayaan. Elian menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, menatap tumpukan laporan masuk yang menyatakan bahwa musuh-musuhnya sedang kocar-kacir. Ia tidak habis pikir pria yang selama ini menjadi ayah angkat bagi putranya itu akan bertindak sejauh ini. Antonio telah menjadi perisai yang terlalu kuat, menghancurkan Jacob Wijaya tanpa menyisakan debu sedikit pun. "Kamu bermain kotor, kan? Aku bisa-bisa dibunuh Saka kalau dia tahu kamu melakukan semua ini demi menyelamatkan perusahaanku," celetuk Elian, mencoba mencairkan ketegangan di hatinya. "Demi ayah kandung dari anak yang sudah kubesarkan sejak usia setahun. Walau kalian tidak terlalu dekat, kalau dia tahu kau hancur, d
Zen berdiri di depan deretan layar monitor di apartemennya yang kumuh dan bau mie instan. Tangannya yang kurus menari-nari di atas keyboard dengan kecepatan yang mengerikan."Jacob, Jacob... kamu pikir uang bisa membeli loyalitas?" gumam Zen sembari menyesap kopi dinginnya.Ia baru saja mengirimkan sebuah email anonim ke Sefa. Isinya adalah undangan eksklusif untuk bergabung dengan konsorsium luar negeri yang sebenarnya tidak ada. Zen tahu, Sefa yang ambisius pasti akan langsung menggigit umpan itu tanpa bertanya pada kakaknya."Satu klik, dan seluruh kerajaanmu akan menjadi milikku... oh, maksudku, milik Antonio," tawa Zen serak.Ia kemudian membuka folder foto Sefa—wanita yang dulu menghinanya. Zen mengusap layar monitor dengan ujung jarinya yang kasar."Hancurkan kakaknya dulu, baru kita jemput bidadarinya. Antonio terlalu kaku untuk mengerti betapa indahnya skenario ini," ucap Zen pada diri sendiri.Tiba-tiba, ponselnya
"Eh, Bil, nabila... tunggu dulu! Ini nggak kayak yang lo pikirin, Sayang! Listen to me dulu, ini..." Boy mencoba mendekat dengan tangan terbuka, bermaksud menjelaskan."Nggak kayak yang aku pikirin gimana?!" potong Nabila histeris. Ia menunjuk ke arah bayi itu. "Mukanya... muk
"El... kalau Sarah bilang itu anak lo, gue cenderung percaya kalau dia nggak bohong. Dia bukan tipe wanita yang suka memanipulasi hal rendah kayak gitu, gue kenal dia," gumam Boy pelan. "Tapi masalahnya... Rinjani. Sialan, El! Kalau Rinjani tahu, hidup lo bakal berantakan. Lo tahu sendiri Rinjani
Sudah tiga hari berlalu sejak pertengkaran hebat di taman itu, dan selama itu pula ponsel Boy tidak aktif. Pesan-pesan Maya hanya berakhir dengan centang satu yang membeku."Udah tiga hari, Mas Boy kenapa nggak bisa dihubungi ya?" gumam Maya gelisah."Maya..." Sebuah suara serak memecah keheninga
Suasana di masjid itu begitu kontras dengan badai yang berkecamuk di dada Maya. Dekorasi bunga melati dan mawar putih premium menghiasi setiap sudut ruangan.Di kursi pesakitan—begitulah Maya menyebut kursi pengantin itu—ia duduk dengan kebaya putih yang sangat cantik, namun wajahnya tertutup kain







