Masuk"Om! Aku sudah cukup usia kalau hanya untuk menikah!" seru Sonya, tak mau kalah. Ia berdiri tegak, menantang tatapan Antonio dengan keberanian yang entah datang dari mana. "Kamu jangan macam-macam. Dengar, kamu masih harus kuliah, harus mengejar cita-citamu. Menikah itu urusan belakangan," balas Antonio. Suaranya berusaha tetap tegas, meski sebenarnya batinnya sedang jungkir balik. "Lalu, apa Om mau kita terus-terusan seperti ini selama empat tahun ke depan?" Antonio menghela napas panjang, mencoba memberikan pengertian yang paling logis. "Aku akan berusia 46 tahun, Sonya, saat kamu lulus nanti. Dan seandainya saat itu kamu memilih pria lain yang lebih muda, aku akan mendukungmu sepenuhnya. Bukan karena aku melanggar kata-kataku sendiri—aku menyayangimu—tapi aku ingin gadis yang aku sayangi tumbuh menjadi wanita yang kuat dan pintar." "Om..." gumam Sonya, matanya mulai berkaca-kaca. "Tidak. Mamamu tidak akan pernah melepasmu begitu saja, aku tahu itu. Sekarang pulang, sopirku aka
Karin diam, omelannya terhenti seketika. Ia menatap Saka seolah pria itu baru saja kehilangan kewarasannya akibat hantaman balok di bahu tadi. "Kamu... kamu barusan kena pukul di kepala juga ya? Kok ngomongnya ngaco!" seru Karin, wajahnya memerah padam, entah karena sisa emosi atau karena malu yang mendadak menyerang. "Gue serius, Rin. Gue suka cewek yang bisa jagain gue," goda Saka sambil tertawa kecil, meskipun wajahnya sedikit meringis saat rasa perih di bahunya mulai menjalar. "Nggak!" tegas Karin tanpa ragu. "Aku lebih suka cowok yang bisa diandelin, daripada yang cuma bisa ngandelin ceweknya." Sudah tidak terhitung berapa kali Saka ditolak mentah-mentah. Di saat mahasiswi lain di kampus berusaha keras mencuri perhatiannya, Karin justru menghindarinya seolah Saka adalah wabah yang harus dijauhi. Penolakan itu bukannya membuat Saka menyerah, malah membuatnya semakin penasaran. "Gue emang nggak jago berkelahi kayak lo, tapi gue pasti bisa jadi tameng lo kok suatu hari nan
Setelah pembicaraannya dengan Antonio di teras berakhir, Elian melangkah masuk ke ruang tengah. Di sana, Rinjani sedang duduk bersama Lana, menatap layar televisi yang masih menyiarkan berita duka dari keluarga Wijaya."Kasihan ya, Sayang, keluarga Jacob," ujar Rinjani saat Elian duduk di sampingnya. "Sekalipun aku merasa Sefa bukan wanita yang bisa diajak kerja sama dengan baik, tapi kalau dia menghilang begitu saja, rasanya iba juga. Apa menurutmu, Sefa juga mengikuti langkah kakaknya... bunuh diri?"Elian terdiam. Ia memilih menyimpan rapat-rapat rahasia tentang keterlibatan Antonio dalam menyelamatkan perusahaannya. Ia tidak ingin istrinya tahu bahwa di balik runtuhnya Wijaya, ada tangan dingin teman lamanya yang bekerja sebagai perisai. Elian hanya mengangguk pelan, matanya tetap tertuju pada TV yang menyala, meski pikirannya melayang jauh.Pandangan Elian kemudian beralih kepada Lana. Anak gadisnya itu tampak sedang menyiapkan beberapa keperluan untuk esok hari."Lana, besok
"Dulu kamu memberiku makan agar aku tidak mati. Sekarang, biarkan aku memberimu alasan untuk tetap hidup, walau itu harus di neraka bersamaku." Sefa tidak punya tenaga lagi untuk memberontak. Ia hanya bisa pasrah saat tarikan tangan Zen membawanya keluar dari gudang pengap itu menuju sebuah apartemen di sudut kota. Namun, begitu pintu terbuka, perut Sefa langsung bergejolak hebat. Ia mual luar biasa. Sampah bungkus makanan berserakan di mana-mana, pakaian kotor menumpuk di sudut ruangan, ribuan lembar tisu bekas pakai, dan aroma dari kamar mandi... rasanya seperti bau bangkai yang membusuk. Apa pria ini tidak pernah mengenal air dan sabun selama hidupnya? Dan Sefa akan dipaksa tinggal di sini? "Maaf, Angel. Aku tidak pernah belajar caranya bebersih," ujar Zen tanpa rasa bersalah. Ia melangkah melewati tumpukan sampah menuju meja komputernya. "Tapi tenang saja, aku tetap bisa memberimu makan enak. Aku baru saja menerima sisa bayaran dari klienku... hasil karena aku berhasil meng
Sefa menatap layar monitor yang sengaja ditinggalkan Zen dalam keadaan menyala, memaksa Sefa menyaksikan setiap detik kehancuran dunianya yang runtuh tanpa sisa.Pemberitaan pagi itu meledak seperti bom di seluruh stasiun televisi nasional.[BREAKING NEWS: KEMAHALAN HARGA DIRI, WIJAYA GROUP RUNTUH DALAM SEMALAM]"Pemirsa, dunia bisnis tanah air digemparkan dengan kolapsnya raksasa properti dan logistik, Wijaya Group. Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam, seluruh aset perusahaan dinyatakan disita setelah terungkapnya skandal pencucian uang dan penipuan investasi berskala masif. Namun, kabar paling mengejutkan datang dari sang CEO, Jacob Wijaya..."Layar beralih menampilkan potongan rekaman CCTV dari dalam ruang kerja Jacob pada malam nahas itu. Sefa menutup mulutnya, menahan isak tangis yang menyesakkan dada saat melihat pemandangan memilukan di layar.Dalam rekaman yang buram itu, Jacob tampak seperti orang kesurupan. Ruangan mewah yang dulunya menjadi simbol kekuasaan kini beran
"Halo Elian, bagaimana kejutan siang ini?" tanya Antonio melalui sambungan telepon, suaranya terdengar berat dan tenang, seolah baru saja menyelesaikan tugas ringan. "Jadi... ini semua ulahmu?" tanya Elian balik, suaranya masih menyiratkan ketidakpercayaan. Elian menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, menatap tumpukan laporan masuk yang menyatakan bahwa musuh-musuhnya sedang kocar-kacir. Ia tidak habis pikir pria yang selama ini menjadi ayah angkat bagi putranya itu akan bertindak sejauh ini. Antonio telah menjadi perisai yang terlalu kuat, menghancurkan Jacob Wijaya tanpa menyisakan debu sedikit pun. "Kamu bermain kotor, kan? Aku bisa-bisa dibunuh Saka kalau dia tahu kamu melakukan semua ini demi menyelamatkan perusahaanku," celetuk Elian, mencoba mencairkan ketegangan di hatinya. "Demi ayah kandung dari anak yang sudah kubesarkan sejak usia setahun. Walau kalian tidak terlalu dekat, kalau dia tahu kau hancur, d
Mobil polisi yang dikendarai Darmono meraung membelah jalanan kota, sirinenya memekakkan telinga, namun bagi Elian, suara itu kalah kencang dengan detak jantungnya sendiri."Cepat, Darmono! Dia akan membakar ruangan itu!" raung Elian. "Sabar, Elian! Kita hampir sampai!"Di Rumah Sakit – Bangsal
Rinjani meraih botol obat di atas nakas dengan jari-jari yang kaku karena ketakutan. Ia menuangkan air ke gelas, berusaha tidak memedulikan denting gemetar kaca yang beradu."Minum, Elian. Tolong... ini akan membuatmu sedikit lebih tenang," pinta Rinjani.Sudah jam sebelas mala
Satu minggu berlalu. Rumah Baskara berubah menjadi tempat yang mengerikan. Elian tidak lagi pergi ke kantor. Ia mengurung diri di rumah, menolak makan, dan hanya mau meminum obat penenangnya dalam dosis yang mengkhawatirkan.Bi Lastri mencoba membawakan nampan makanan ke kamarnya. "Tuan, makanlah
Di dalam kamar tamu, Rinjani bergerak dengan sangat tenang. Tidak ada air mata yang jatuh, yang ada hanya gerakan jemari yang cekatan melipat pakaian-pakaian lamanya—pakaian yang ia bawa sebelum ia "dibeli" oleh Elian.Ia tidak menyentuh satu pun gaun sutra, tas bermerek, atau sepatu mewah pemberi







