LOGINSetelah hari itu, semua berjalan normal di kampus. Namun, pada hari ketiga dan keempat, Eran tidak menampakkan batang hidungnya. Lana sempat merasa heran, bahkan ada sedikit kekosongan di bangku sebelahnya. Baru pada hari kelima, Lana melihat pria itu kembali duduk di sampingnya dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya."Lo mau tahu apa? Bentar lagi dosen masuk..." gumam Eran tanpa menoleh."Judes amat, lo kena— Wait! Lo kenapa?!" Lana memekik pelan. Saat Eran hendak meletakkan tasnya, lengan kaos panjangnya tak sengaja tersingkap, memperlihatkan sisa luka terbuka dan lebam biru gelap yang mengerikan di sepanjang lengan bawahnya.Eran segera menarik turun lengan kaosnya, tak peduli. Baginya, rasa perih itu sudah menjadi teman akrab setiap malam."Lo beli salep kek, atau apa... itu lukanya bisa infeksi, Eran!""Gue nggak ada uang, paham?" ujar Eran singkat, lalu menguap lebar seolah luka-luka itu hanyalah goresan kucing.
"Lana... aku sudah bilang kan, jangan dekat-dekat dengan dia," bisik Saka. Sebagai kakak, ia tidak bisa membiarkan adiknya dekat dengan pria yang menurutnya adalah personifikasi dari kesialan.Lana tersentak, menoleh dan mendapati Saka sudah berdiri di samping motor besarnya yang terparkir tepat di depan pintu keluar pasar. "Kak? Kenapa bisa ke sini?"Lana menghela napas frustrasi. Padahal ia sudah berencana untuk pulang naik bus—meski melelahkan, setidaknya ia merasa mandiri. Tapi kehadiran Saka menghancurkan rencana "pelarian" kecilnya itu."Om Elian yang menyuruhku menjemput. Beliau ada urusan mendadak dan membawa sopir rumah, Tante Rinjani juga sedang sibuk di butik," terang Saka, matanya tidak lepas menatap Eran dengan pandangan penuh permusuhan.Eran yang sedari tadi hanya diam sembari menyampirkan tas kameranya, kini menatap Saka dengan dahi mengernyit. Ia merasa pernah melihat wajah ini, tapi memorinya tentang masa sekolah sudah ia buang j
"Nggak punya teman? Please, gue bisa dapetin siapa pun kalau gue mau. Termasuk lo," ancam Lana dengan nada angkuh yang khas, mencoba mempertahankan harga dirinya yang mulai tersudut.Eran tertawa hambar lalu berkata, "lo kira di sini ada yang bakal tertarik sama lo? Atau sama nama besar keluarga lo? Liat sekeliling lo. Di sini isinya mahasiswa beasiswa yang harus kerja sampingan buat makan, atau anak pegawai biasa, bahkan anak buruh tani. Nggak ada yang punya waktu buat peduli sama drama 'Tuan Putri' kayak lo. Di sini, lo itu bukan siapa-siapa."Lana terdiam, dia tidak bisa membantah,karna dia tahu, itulah kenyataannya.Tak lama pintu kelas terbuka lebar. Beberapa mahasiswa senior masuk dengan wajah "garang" yang dibuat-buat, membawa tumpukan kertas dan pita kain."Oke, perhatian semuanya! Mahasiswa baru, silakan berdiri!" teriak salah satu senior.Lana mengernyit. Di tahun ini, tradisi Inaugurasi dan Pengakraban masih kental, meski bentuknya
"Ya ampun, akhirnya aku sampai juga di sini," gumamnya sambil menatap sekeliling.Ia akhirnya berdiri di depan gerbang kampus yang tampak semakin renta. Hari ini, ia sengaja memilih pakaian paling simpel yang ia punya—kaus polos berwarna putih dan celana denim gelap. Ia berharap bisa sedikit membaur dan tidak menarik perhatian. Apalagi, ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia menaiki bus umum. Pengalaman yang membuatnya berkali-kali mual karena bau asap dan sesak, namun ia bertahan demi sebuah kata: kebebasan.Begitu ia melangkah melewati gerbang, atmosfer kampus yang "berbeda" itu kembali menyergapnya. Dan entah karena kutukan atau kebetulan, mata Lana langsung tertuju pada satu titik di koridor utama.Di sana, bersandar pada pilar gedung yang catnya mengelupas, berdiri Eran.Pria itu tampak sedang menghisap sebatang rokok dengan gaya masa bodoh. Rambut gondrongnya yang berantakan tertutup kupluk hitam, dan tatapannya yang sayu namun tajam sedang mengawasi lalu lalang mahasisw
"Om! Aku sudah cukup usia kalau hanya untuk menikah!" seru Sonya, tak mau kalah. Ia berdiri tegak, menantang tatapan Antonio dengan keberanian yang entah datang dari mana. "Kamu jangan macam-macam. Dengar, kamu masih harus kuliah, harus mengejar cita-citamu. Menikah itu urusan belakangan," balas Antonio. Suaranya berusaha tetap tegas, meski sebenarnya batinnya sedang jungkir balik. "Lalu, apa Om mau kita terus-terusan seperti ini selama empat tahun ke depan?" Antonio menghela napas panjang, mencoba memberikan pengertian yang paling logis. "Aku akan berusia 46 tahun, Sonya, saat kamu lulus nanti. Dan seandainya saat itu kamu memilih pria lain yang lebih muda, aku akan mendukungmu sepenuhnya. Bukan karena aku melanggar kata-kataku sendiri—aku menyayangimu—tapi aku ingin gadis yang aku sayangi tumbuh menjadi wanita yang kuat dan pintar." "Om..." gumam Sonya, matanya mulai berkaca-kaca. "Tidak. Mamamu tidak akan pernah melepasmu begitu saja, aku tahu itu. Sekarang pulang, sopirku aka
Karin diam, omelannya terhenti seketika. Ia menatap Saka seolah pria itu baru saja kehilangan kewarasannya akibat hantaman balok di bahu tadi. "Kamu... kamu barusan kena pukul di kepala juga ya? Kok ngomongnya ngaco!" seru Karin, wajahnya memerah padam, entah karena sisa emosi atau karena malu yang mendadak menyerang. "Gue serius, Rin. Gue suka cewek yang bisa jagain gue," goda Saka sambil tertawa kecil, meskipun wajahnya sedikit meringis saat rasa perih di bahunya mulai menjalar. "Nggak!" tegas Karin tanpa ragu. "Aku lebih suka cowok yang bisa diandelin, daripada yang cuma bisa ngandelin ceweknya." Sudah tidak terhitung berapa kali Saka ditolak mentah-mentah. Di saat mahasiswi lain di kampus berusaha keras mencuri perhatiannya, Karin justru menghindarinya seolah Saka adalah wabah yang harus dijauhi. Penolakan itu bukannya membuat Saka menyerah, malah membuatnya semakin penasaran. "Gue emang nggak jago berkelahi kayak lo, tapi gue pasti bisa jadi tameng lo kok suatu hari nan
Setelah jam yang terasa berdetak tanpa henti, akhirnya pintu ruang ICU terbuka. Dokter keluar sambil melepas maskernya. "Dokter, bagaimana keadaan Papa saya?" tanya Maya dengan suara gemetar, matanya menatap penuh harap sekaligus ketakutan."Kami berhasil mengembalikan ritme jantungnya, tapi kea
"Jangan pikirkan Cia sekarang. Pikirkan saja bagaimana caranya kita mengganti janin yang sempat hilang itu..."Rinjani merona hebat, jantungnya berdebar kencang saat napas hangat Elian menerpa kulit lehernya. "Aku berharap bisa memberinya dalam waktu singkat," gumam Rinjani lirih, hampir seperti b
"Pak Elian, maaf, ada tamu di bawah. Namanya Pak Adam," ucap Maya melalui interkom.Elian menghentikan aktivitasnya sejenak. Sorot matanya yang tajam sedikit melunak, namun ada seringai tipis yang muncul di sudut bibirnya. "Suruh dia ke atas sekarang," jawab Elian singkat.Beg
Ponsel Elian di atas nakas bergetar hebat tepat setelah ia merebahkan diri di samping Rinjani. Layarnya menyala, menampilkan nama "Darmono".Elian menghela napas, ia tahu jika pria itu menelpon di jam seperti ini, artinya ada sesuatu yang sudah tidak bisa ditahan lagi oleh jalur hukum bi







