LOGINSementara itu, Aslan dan Laura masih duduk di dermaga. Piring-piring kosong sudah disisihkan. Kini mereka hanya duduk berdampingan, kaki menjuntai di tepi dermaga, memandang kapal-kapal nelayan yang mulai berlabuh."Aku sudah bicara dengan pengacaraku," kata Aslan memecah kesunyian. "Proses perceraianku dengan dia hampir selesai. Tinggal tanda tangan."Laura mengangguk tanpa berkata apa-apa."Dan aku sudah siapkan rumah untuk kita di kawasan perumahan yang aman. Satpam 24 jam, kamera keamanan di setiap sudut. Jayden bisa pindah sekolah ke sana. Ada taman bermain yang bagus.""Kau sudah merencanakan semuanya, ya?" Laura tersenyum getir."Karena aku tidak mau kehilangan kalian lagi."Laura menoleh ke arah Aslan. Lelaki itu tampak berbeda dari yang ia kenal dulu. Dulu Aslan adalah pria ambisius yang selalu mengejar kekuasaan, yang rela mengorbankan apa pun demi posisi. Kini ada kelembutan di matanya. Atau mungkin itu hanya ilusi? Mungkin Aslan tetap sama, hanya saja Laura sekarang lebih
Matahari sore mulai menggantung rendah di ufuk barat, menebarkan cahaya jingga ke seluruh permukaan dermaga kecil tempat Laura dan Aslan duduk berdampingan. Aroma laut bercampur dengan wangi seafood yang baru saja mereka pesan dari pedagang kaki lima di sekitar pelabuhan.Aslan mengupas kulit udang dengan gerakan yang terampil—terbiasa dengan kemewahan, namun tangannya tetap lincah melakukan hal sederhana seperti ini. Ia menyodorkan udang yang sudah bersih ke mulut Laura. Hal yang tak pernah ia lakukan pada siapapun, kecuali pada Laura."Buka," katanya dengan nada memerintah tapi penuh kasih.Laura tersenyum malu. "A-aku bisa makan sendiri.""Aku tahu. Tapi biarkan aku melakukan ini. Untuk mengobati kepergianmu selama hampir 7 tahun ini."Laura akhirnya membuka mulut, membiarkan Aslan menyuapinya. Rasa udang goreng tepung itu terasa biasa saja, tapi ada manis yang berbeda di lidahnya. Mungkin karena perhatian, mungkin karena rasa bersalah yang mulai luruh, atau mungkin karena ia akhir
Laura tak menjawab. Bukan karena ia tidak punya suara, tetapi karena ada ribuan pertanyaan yang berputar di kepalanya seperti angin puyuh. Di satu sisi, ia tahu Aslan benar. Keselamatan Jayden adalah segalanya. Di sisi lain, meninggalkan Julian terasa seperti mengkhianati seseorang yang telah hadir saat ia tidak punya siapa-siapa.Julian bukan sekadar tetangga baik hati yang suka mengantarkan makanan setiap malam Minggu. Julian adalah sosok yang menemani Jayden belajar membaca ketika Laura sibuk, Julian selalu menjaganya juga seperti seorang kakak baginya. Julian yang membawa mobilnya ke bengkel ketika mogok di tengah hujan. Julian yang tidak pernah menanyakan masa lalunya, tidak pernah memaksa cerita tentang hatinya.Namun, Julian juga bukan miliknya. Mereka tidak pernah berkomitmen. Akan tetapi, saat Laura tahu kalau Julian ada rasa padanya, mengapa seberat ini?Aslan seolah membaca kegalauan Laura. Lelaki itu mendekat, meraih dagu Laura dengan dua jarinya, menatap wajahnya yang ter
"Kau gila," gumam Laura, tapi ia tidak melepaskan pelukan Aslan."Mungkin. Tapi kau menyukainya.""Kau percaya diri sekali. Siapa juga yang suka? Huh!"Aslan tertawa kecil. Getaran tawanya merambat dari dadanya ke pipi Laura yang menempel di sana. "Bukan percaya diri. Aku hanya membaca matamu, little girl. Matamu tidak pernah bisa berbohong."Laura mendongak, menatap mata Aslan. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat ketegasan atau dinginnya mafia di sana. Yang ia lihat hanyalah kehangatan—dan kerentanan yang berusaha disembunyikan."Aslan..." bisiknya.Lelaki itu menurunkan pandangannya ke bibir Laura, lalu kembali ke matanya. "Bolehkah?""Tapi aku belum gosok gigi," katanya polos. Aslan pun tersenyum lalu bertanya lagi. "Boleh kan? Aku juga belum gosok gigi." Laura hanya mengangguk pelan.Aslan menciumnya , lembut, perlahan, seolah Laura terbuat dari kaca yang paling rapuh. Tidak seperti ciuman malam sebelumnya yang singkat dan terburu-buru. Ciuman pagi ini penuh makna. Penuh jan
"Aku tidak punya pilihan!" Sonya meninggikan suara. "Wanita tua itu sudah tahu semuanya. Aslan tahu Viona bukan anaknya sejak awal. Aku tidak bisa kembali ke sana.""Lalu kenapa kau tidak kembali ke keluargamu?" tanya Ron sinis.Sonya menggigit bibirnya. "Mereka... mereka tidak mau menerimaku. Aku sudah tidak berguna bagi mereka."Ron menggelengkan kepala. "Bukan urusanku. Aku tidak mau terlibat. Cari tempat lain."Dengan gerakan nekad, Sonya menarik koper besar yang ia bawa dan meletakkannya di tengah ruangan. Ia kemudian mengambil tas ransel Viona dari pundaknya dan meletakkannya di sofa, sofa yang beberapa menit lalu ia lihat Ron bercinta dengan wanita lain."Aku tidak akan pergi, Ron. Aku dan Viona akan tinggal di sini."Mata Ron melebar. "Kau gila? Apartemen ini milikku!""Dan Viona adalah anakmu. Secara hukum dan biologis, kau berkewajiban menanggung kami berdua," Sonya menatap Ron dengan tatapan penuh tekad. "Kecuali kau mau namanya tercoreng di pengadilan. Tentu keluarga besar
Kemarahan Mariana masih belum mereda, meskipun Sonya dan putrinya sudah pergi dari mansion Aslan. Ia masih tidak terima dibohongi selama hampir 6 tahun oleh Sonya."Haa ... aku tidak percaya ini. Masa Aslan bisa dibodohi oleh wanita ular itu? Dia itu cerdas! Mana mungkin tertipu!" geram Maria."Tidak Nyonya. Tuan Aslan tidak tertipu. Hans mengatakan kalau sejak awal Tuan besar sudah mengetahui tentang Nona Sonya. Dia membiarkannya di sini, karena punya alasan," tutur Amber yang mendapatkan info dari Hans, salah satu anak buah Aslan.Maria menaikkan dagunya dan tersenyum. "Kau benar. Tak mungkin cucuku yang merupakan seorang mafia cerdik itu, memiliki sifat bodoh. Tidak ada dalam kamus seorang Luca, ada orang bodoh.""Oh ya. Apa cucuku yang bodoh itu sudah bisa membujuk cucu menantuku dan cicitku untuk datang kemari?" tanya Maria yang teringat dengan Laura dan Jayden. Ia siap menerima mereka berdua. Sekarang ia sadar kalau darah lebih kental daripada air.Ia sadar kalau Laura adalah wa
Siang itu kafe belum terlalu ramai. Musik lembut mengalun dari speaker kecil di sudut ruangan, bercampur aroma kopi dan roti panggang yang baru keluar dari oven. Laura duduk di salah satu meja dekat jendela bersama Evan dan Wendy. Seragam kerjanya masih terlipat rapi di dalam tas, yang siap dipakai
"Sudah dua kali dia dalam bahaya. Jelas, ini bukan ancaman biasa," gumam Aslan dengan mata menggelap dan rahang mengeras.Ia pun memutuskan sesuatu yang besar, agar Laura dan Alisha tidak berada dalam bahaya. Satu-satunya cara yang harus ia lakukan."Rick, kemari!" ujar Aslan saat menelpon Rick.Ta
Rick menyadari atmosfer yang berbeda di dalam mobil. Baik tuannya, maupun nonanya, tidak ada yang berbicara lebih dulu. Mereka memperlihatkan wajah muram, menahan kesal."Padahal AC dimatikan, tapi udara di sini terasa sangat dingin," gumam Rick pelan, dengan bulu kuduk yang berdiri.Apalagi saat i
“Laura!”Suara itu membuat langkah Aslan terhenti seketika. Alisnya mengerut, rahangnya mengeras. Laura yang sudah setengah berbaring di atas brankar menoleh spontan ke arah sumber suara itu.Senyum tipis langsung terbit di wajahnya.“Evan?” panggilnya pelan, nyaris tak percaya.Seorang pria berpar







