LOGINMariana terus menatap Jayden seolah tidak bisa berpaling. "Kau tahu? Nenek sudah menyiapkan kamar untukmu. Kamar terbaik di lantai dua. Ada perosotan dan kolam bola. Kau suka?"Jayden yang tadinya mengantuk kini matanya berbinar. "Perosotan? Kolam bola?""Iya! Nenek suruh Hans membuatnya khusus untukmu. Amber juga sudah membelikan mainan-mainan. Banyak sekali. Ayo, Nenek tunjukkan!"Tanpa menunggu jawaban, Mariana langsung berjalan masuk ke dalam mansion dengan Jayden masih dalam gendongannya. Laura dan Aslan mengikuti di belakang, saling pandang dengan senyum tipis.Melihat bagaimana Mariana antusias dan bersikap berbeda dari sebelumnya, menunjukkan jika ia memang sudah berubah sekarang. Wanita tua itu menerima Laura dan Jayden ***Mansion itu sungguh luar biasa. Lampu gantung kristal menggantung di langit-langit tinggi. Lantai marmer mengkilap memantulkan cahaya dengan sempurna. Tapi yang paling mengejutkan adalah dekorasi yang menghiasi setiap sudut ruangan.Balon-balon warna-warn
"Bawa mereka kemari. Atau aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian berdua, hah!" teriak wanita itu marah-marah.Aslan menghela napas panjang, menjauhkan ponsel dari telinganya. Laura bisa mendengar suara Mariana dengan jelas meski tidak menggunakan mode speaker. Nenek tua itu benar-benar histeris."Nenek, sudah malam," kata Aslan dengan nada pasrah."TIDAK PEDULI! AKU TIDAK BISA TIDUR SEBELUM MELIHAT MEREKA!"Laura tersenyum kecil. Ada sesuatu yang menghangatkan hatinya dari kemarahan Mariana. Bukan kemarahan karena benci, tapi karena rindu. Karena keinginan untuk segera bertemu.Aslan menatap Laura, seolah meminta pendapat. Laura mengangguk pelan."Baiklah, Nenek. Kami akan ke sana sekarang," ucap Aslan akhirnya."SEKARANG? KALIAN BENAR-BENAR AKAN DATANG SEKARANG?""Iya, Nenek. Tapi janji, Nenek tidak akan teriak-teriak lagi. Oh ya,Jayden mungkin masih tidur."Suara di seberang langsung mereda. "Baik... baik, Nenek janji. Nenek akan bersikap baik. TAPI CEPAT!"Aslan mematikan p
Tiga hari kemudian, Laura dan Jayden pamit pergi. Mereka sudah membereskan semua urusan di Marseille , dibantu oleh Aslan. Hujan turun tipis-tipis saat mereka berdiri di teras rumah Julian. Aslan menunggu di dalam mobil hitam di depan pagar, mesin menyala, siap membawa mereka ke kehidupan baru.Julian jongkok di depan Jayden. "Kau ingat kata-kata Paman, kan? Be a good boy."Jayden menangis. Bocah itu memeluk Julian erat-erat. "Paman ayo ikut saja!"Aslan melihat putranya begitu dekat dengan Julian dan itu membuat hatinya cemburu. Tapi ia bisa apa? "Paman tidak bisa ikut. Paman punya pekerjaan di sini.""Tapi aku pasti akan merindukan Paman. Mommy juga," kata Jayden parau. "Paman juga akan rindu. Tapi nanti kita bisa telepon-teleponan, ya? Janji?"Jayden mengangguk sambil terisak. Julian berdiri, menatap Laura.Selamat jalan, Laura, ucapnya tanpa suara, hanya gerakan bibir.Laura tersenyum getir. "Terima kasih untuk semuanya, Kak Julian.""Pergilah sebelum hujannya besar."Laura men
Sementara itu, Aslan dan Laura masih duduk di dermaga. Piring-piring kosong sudah disisihkan. Kini mereka hanya duduk berdampingan, kaki menjuntai di tepi dermaga, memandang kapal-kapal nelayan yang mulai berlabuh."Aku sudah bicara dengan pengacaraku," kata Aslan memecah kesunyian. "Proses perceraianku dengan dia hampir selesai. Tinggal tanda tangan."Laura mengangguk tanpa berkata apa-apa."Dan aku sudah siapkan rumah untuk kita di kawasan perumahan yang aman. Satpam 24 jam, kamera keamanan di setiap sudut. Jayden bisa pindah sekolah ke sana. Ada taman bermain yang bagus.""Kau sudah merencanakan semuanya, ya?" Laura tersenyum getir."Karena aku tidak mau kehilangan kalian lagi."Laura menoleh ke arah Aslan. Lelaki itu tampak berbeda dari yang ia kenal dulu. Dulu Aslan adalah pria ambisius yang selalu mengejar kekuasaan, yang rela mengorbankan apa pun demi posisi. Kini ada kelembutan di matanya. Atau mungkin itu hanya ilusi? Mungkin Aslan tetap sama, hanya saja Laura sekarang lebih
Matahari sore mulai menggantung rendah di ufuk barat, menebarkan cahaya jingga ke seluruh permukaan dermaga kecil tempat Laura dan Aslan duduk berdampingan. Aroma laut bercampur dengan wangi seafood yang baru saja mereka pesan dari pedagang kaki lima di sekitar pelabuhan.Aslan mengupas kulit udang dengan gerakan yang terampil—terbiasa dengan kemewahan, namun tangannya tetap lincah melakukan hal sederhana seperti ini. Ia menyodorkan udang yang sudah bersih ke mulut Laura. Hal yang tak pernah ia lakukan pada siapapun, kecuali pada Laura."Buka," katanya dengan nada memerintah tapi penuh kasih.Laura tersenyum malu. "A-aku bisa makan sendiri.""Aku tahu. Tapi biarkan aku melakukan ini. Untuk mengobati kepergianmu selama hampir 7 tahun ini."Laura akhirnya membuka mulut, membiarkan Aslan menyuapinya. Rasa udang goreng tepung itu terasa biasa saja, tapi ada manis yang berbeda di lidahnya. Mungkin karena perhatian, mungkin karena rasa bersalah yang mulai luruh, atau mungkin karena ia akhir
Laura tak menjawab. Bukan karena ia tidak punya suara, tetapi karena ada ribuan pertanyaan yang berputar di kepalanya seperti angin puyuh. Di satu sisi, ia tahu Aslan benar. Keselamatan Jayden adalah segalanya. Di sisi lain, meninggalkan Julian terasa seperti mengkhianati seseorang yang telah hadir saat ia tidak punya siapa-siapa.Julian bukan sekadar tetangga baik hati yang suka mengantarkan makanan setiap malam Minggu. Julian adalah sosok yang menemani Jayden belajar membaca ketika Laura sibuk, Julian selalu menjaganya juga seperti seorang kakak baginya. Julian yang membawa mobilnya ke bengkel ketika mogok di tengah hujan. Julian yang tidak pernah menanyakan masa lalunya, tidak pernah memaksa cerita tentang hatinya.Namun, Julian juga bukan miliknya. Mereka tidak pernah berkomitmen. Akan tetapi, saat Laura tahu kalau Julian ada rasa padanya, mengapa seberat ini?Aslan seolah membaca kegalauan Laura. Lelaki itu mendekat, meraih dagu Laura dengan dua jarinya, menatap wajahnya yang ter
Kata-kata Sonya melayang di udara seperti racun yang menyebar perlahan. Aslan mematung, tangannya masih setengah terangkat, sementara Viona terisak dalam pelukan ibunya."Kau bilang apa?" suara Aslan bergetar, bukan karena emosi semata, tapi karena sesuatu yang lebih dalam, luka yang tak pernah sem
Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya, . sebab tangisnya pecah.Aslan terdiam. Kemarahannya sedikit mereda, berganti dengan sesuatu yang lebih berat, rasa bersalah."Laura..." ia mengulurkan tangan, ingin menyentuh wajah Laura, tapi Laura menepisnya."Jangan! Jangan sentuh aku dulu." Laura terisak
Langit malam seketika berubah merah oleh kobaran api yang menjilat langit. Potongan kayu dan serpihan besi beterbangan di udara, mendarat dengan suara berderak di tanah kering. Asap hitam mengepul tebal, menggelayuti indra penciuman dengan bau hangit yang menyengat.Aslan masih dalam posisi berlutu
Sambungan telepon terputus. Suara berat di seberang sana bahkan tidak memberi Aslan waktu untuk bertanya apa pun. Hanya satu kalimat ancaman yang meluncur dingin, lalu diam."Siapa?"Aslan menatap layar ponselnya. Matanya menyipit. Selama ini, tak banyak orang yang berani mengancamnya secara langsu







