ログイン"Ayolah, Sayang, sudah lama 'kan kita tidak melakukan hubungan ini?" Dani mengusap lengan Nadia dengan lembut sambil terus menatap lekat wanita yang berdiri di depannya itu. "Kalau kamu tidak mau, aku ...."
"Aku apa?" potong Nadia dengan kedua mata melotot tajam. "Apa kamu berniat menolak menjalankan rencana itu? Kamu mau aku benar-benar membuangmu dari hidupku? Iya?"
Dani menghela napas panjang, masih menatap wanitanya dengan raut wajah memohon.
Di mansion, suasana dapur terasa sangat hangat karena kehadiran Freya.Saat ini, ia dibantu Bibi Ziang, tengah sibuk menyiapkan makan malam spesial untuk menyambut kepulangan Diego."Seharusnya Nona Freya beristirahat saja di dalam kamar. Tugas memasak ini sudah menjadi tanggung jawab Bibi selama puluhan tahun bekerja dengan keluarga besar Foster," ucap Bibi Ziang lembut, merasa tidak enak melihat sang majikan repot di dapur.Freya tersenyum manis sambil memotong sayuran. "Mulai sekarang dan seterusnya, aku ikut mengambil alih tugas memasak Bibi. Sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Besar Tuan Foster, bukan? Aku tidak ingin hanya duduk diam, sementara lidah suamiku dimanjakan oleh masakan wanita lain."Mendengar penuturan itu, Bibi Ziang menghentikan aktivitas dan menatap Freya dengan kerutan bingung di dahi."Apa ... apa Nona Freya sudah mengingat semuanya? Nona ingat semua
"Duduk!" perintah Diego dengan suara bariton yang tajam saat melihat Dani baru saja menginjakkan kaki di dalam ruangan."I-iya, Paman. Tapi aku bahkan belum sempat masuk. Tunggu sebentar, oke," gumam Dani kikuk. Merasa tubuhnya menciut drastis di bawah tatapan Elang sang paman.'Sial! Lihat saja nanti! Sebentar lagi kamu akan tertidur pulas karena dosis obat yang aku masukan di dalam kopimu,' batinnya penuh dendam.Dani melangkah mendekati meja kerja, lalu duduk di kursi yang disediakan.Ia kembali menundukkan kepala, tidak berani sedikit pun menatap mata tajam Diego yang seolah mampu menembus isi kepalanya.Diego menghela napas panjang. Matanya beralih pada daun pintu yang sengaja dibiarkan tidak tertutup rapat. "Kamu sengaja membiarkan pintu itu terbuka?"Dani menoleh cepat ke belakang, berusaha bersikap natural. "I-iya, Paman. Aku tadi memesan minuman
"Aku sangat bersyukur bisa berkumpul lagi dengan kalian setelah kecelakaan tragis itu. Sampai sekarang, aku masih tidak menyangka bisa selamat dari maut yang sudah di depan mata," ucap Dani, membuka pembicaraan dengan nada bersemangat untuk mengusir kecanggungan yang kian menghimpit dada.Santoso dan Tiara tampak tersenyum sumringah. Mereka ikut merasakan kebahagiaan Dani dan tak henti bersyukur karena putra mereka bisa kembali dalam keadaan sehat."Kamu tahu, Dani? Papi dan Mami hampir saja nekat menyusul masuk ke dalam sungai untuk mencarimu waktu itu," sahut Tiara dengan kedua mata berkaca-kaca.Dani membulatkan kedua matanya lebar, berpura-pura terkejut. "Benar begitu, Mi? Berarti aku memang sangat berharga untuk kalian berdua?" kekehnya mencoba mencairkan suasana."Tentu saja kamu sangat berharga bagi kami, Dani. Kami hanya memiliki satu anak laki-laki yaitu kamu," jawab Santoso dengan tata
Dani tertegun di dalam mobil saat melihat kendaraan roda empat mewah milik Diego sudah terparkir di halaman depan rumah orang tuanya."Paman Diego ... ada di sini?" gumamnya pelan dengan tenggorokan mendadak kering.Tiba-tiba saja detak jantung Dani berdegup kencang seperti ingin keluar dari rongga dada.Ia tahu betul pamannya itu memiliki insting yang jauh lebih tajam dari Singa Lapar."Apa mungkin rencana yang sudah aku siapkan dengan matang, bocor?" Kedua lutut Dani mendadak bergetar hebat, hingga ia kesulitan untuk mengangkat kakinya keluar dari mobil."Pak Dani, kita sudah sampai," ucap supir pribadi Santoso sambil membuka sabuk pengaman dan bergegas turun lebih dulu untuk membukakan pintu.Dani masih membeku di posisinya, menatap lurus ke arah pintu masuk rumah yang terbuka lebar. Sangat yakin, Diego sedang menunggunya di dalam.
"Tuan Diego!"Penjaga gerbang rumah mewah Santoso langsung bergegas menghampiri Diego dan memberi hormat pada adik kandung bosnya itu.Diego tidak menyahut. Hanya diam dengan wajah datar yang dingin, melangkah tegap menuju pintu masuk utama.Sementara itu, seorang penjaga lain langsung berlari masuk ke dalam rumah untuk melaporkan kedatangan Diego pada Santoso yang berada di ruang makan.Di dalam ruang makan, suasana tampak hangat."Papi yakin Dani akan pulang hari ini?" tanya Tiara dengan wajah berseri-seri penuh harap.Sejak mengetahui putra semata wayangnya itu selamat dari kecelakaan maut dan berada di kediaman Nadia, Tiara sudah tidak sabar ingin memeluk anak kesayangan tersebut."Ya, kemarin Dani sendiri yang menghubungi Papi dan dia mengatakan akan pulang hari ini. Kita tunggu saja kedatangannya," jawab Santoso dengan nada ya
"Ayolah, Sayang, sudah lama 'kan kita tidak melakukan hubungan ini?" Dani mengusap lengan Nadia dengan lembut sambil terus menatap lekat wanita yang berdiri di depannya itu. "Kalau kamu tidak mau, aku ....""Aku apa?" potong Nadia dengan kedua mata melotot tajam. "Apa kamu berniat menolak menjalankan rencana itu? Kamu mau aku benar-benar membuangmu dari hidupku? Iya?"Dani menghela napas panjang, masih menatap wanitanya dengan raut wajah memohon."Aku pasti akan melakukan perintahmu, tapi aku ingin kamu memberiku sesuatu untuk meyakinkan aku kalau kamu tidak akan berpaling setelah aku berhasil melenyapkan pamanku sendiri."Nadia terdiam sambil memalingkan wajah ke arah lain. Malas melihat Dani yang terus-menerus memohon servis ranjang padanya."Ini hari terakhirku di rumahmu. Aku sudah menghubungi kedua orang tuaku seperti yang kamu perintahkan sebelumnya. Mereka pasti akan
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat







