ログインDiego membuang napas kasar, menatap Yoss dengan sorot mata tajam seolah ingin menelan pria itu hidup-hidup.
Kedua tangannya mengepal erat di atas meja kerja porselen hingga membuat kuku-kuku jarinya memutih.
Menyadari tatapan intimidasi yang luar biasa mematikan itu, Yoss tidak sanggup lagi berdiri. Ia langsung berlutut sambil menundukkan kepala dalam-dalam, menatap lantai marmer dengan tubuh gemetar.
"Maafkan saya, Tuan. Maaf
"Masukan wanita itu ke mobil! Dia akan berguna untuk membuat Bernad tidak berkutik!""Baik Bos."Tiga orang pria melempar tubuh ringkih istri Bernad ke dalam mobil Van putih. Setelah tawanan mereka berhasil ditenangkan, mobil melaju cepat menuju lokasi penukaran.Sementara itu, di lorong toilet umum di ujung taman kota, suasana terasa begitu mencekam.Bernard melangkah pelan dengan lutut gemetar, terus memeluk erat gulungan selimut berisi boneka bayi reborn doll.Bau lembap dan kegelapan lorong seolah menyambut kedatangannya menuju pintu kematian."Bagaimana situasi di sana?" tanya Yenzing di ujung sambungan."Masih belum ada tanda-tanda mereka datang," jawab Bernard gemetar. Sesekali ia merapikan posisi earphones di telinga, alat komunikasi tersembunyi."Jangan gugup, kami akan terus mengawasi dan menjagamu dari sin
"Jangan membuat mereka curiga!" tegas Diego mengingatkan."Baik Pak Diego."Beberapa jam kemudian, rencana penyergapan dirancang dengan sangat rapi. Diego dan Bernard pergi berdua menuju area taman kota yang cukup sepi. Lokasi penukaran yang telah disepakati sebelumnya.Di sekitar area taman, anak buah kepercayaan Diego disebar secara terselubung, bersembunyi di balik pepohonan dan dalam kendaraan mereka untuk mengawasi setiap pergerakan.Bernard berjalan perlahan menuju sebuah bangku taman yang berada di dekat air mancur.Di lengannya, ia menggendong erat sebuah gulungan selimut bayi. Di dalam dekapannya bukan bayi Dante yang asli, melainkan sebuah boneka reborn doll yang dirancang sangat persis, memiliki bobot, tekstur kulit, hingga lekuk wajah yang mirip seratus persen dengan bayi sungguhan.Dengan jemari gemetar, Bernard merogoh ponsel lalu menekan nom
"Tuan Diego!" Semua pengawal yang menjaga ruang bawah tanah tersentak kaget saat melihat kedatangan sang penguasa.Tanpa kata perintah, para penjaga itu langsung membuka pintu baja tempat Bernad ditahan.Brak!Pintu besi itu terbuka lebar. Diego melangkah masuk dengan tatapan dingin. Bernard yang terduduk di sudut sel seketika mendongak, matanya berbinar melihat kedatangan Diego Foster."Pak Diego! Tolong saya, Pak! Bebaskan saya!" mohon Bernard dengan suara gemetar, merangkak mendekat. "Saya tahu siapa pengkhianatnya! Saya punya informasi penting, Pak! Tolong beri saya kesempatan Pak. Jangan bunuh saya."Namun, bukannya melepas tawanannya, Diego justru memberi perintah pada pengawal di belakang. "Pegang dia.""Baik, Tuan!" Dua pengawal bertubuh kekar langsung memiting kedua tangan Bernard ke belakang, mengunci pergerakan pria paruh baya itu hingga berlutut di atas lantai yang dingin."Pak Diego! Kenapa ini? Anda ingin melakukan apa pada saya? Tolong lepaskan saya! Saya bukan mu
"Daddy! Daddy!"Suara jerit tangis Jegar terdengar menggema di dalam ruang kamar bernuansa biru muda itu.Air matanya mengalir deras tanpa henti, membasahi pipinya yang kian tirus dan pucat."Mommy! Mommy!"Bocah kecil yang belum genap berusia dua tahun itu terus menangis dan menjerit, memanggil-manggil kedua orang tuanya yang tak kunjung datang.Tubuh mungilnya terguncang hebat di dalam boks bayi yang terbuat dari besi kaku."Mommy! Daddyyy! Mamam! Mommy!"Suara Jegar serak, nyaris habis. Hidungnya memerah dengan mata yang sembab dan bibir kian pucat."Daddy! Mommy!"Dua penjaga bertubuh kekar yang berdiri kaku di samping boks bayi hanya bisa menutup telinga mereka rapat-rapat.Mereka mulai kehilangan kesabaran, tak tahan lagi mendengar teriakan dan tangisan melengking bo
"Honey ...."Freya mendorong pintu kayu berukir itu hingga terbuka lebar, lalu melangkah pelan mendekati suaminya."Sudahi tangisanmu." Freya berdiri tepat di samping Diego.Tanpa mengucap sepatah kata pun, Diego langsung menyandarkan kepalanya tepat di perut sang istri, melingkarkan kedua tangan di pinggang Freya dengan erat seolah mencari pegangan hidup."Aku tahu kamu sedang hancur, tapi kamu harus tetap kuat seperti dulu. Bibi Ziang sudah bahagia di sana. Dia pasti tidak akan tenang kalau terus melihatmu meratapi kepergiannya seperti ini," ucap Freya lembut sambil mengusap rambut suaminya dengan penuh kasih sayang.Diego menghela napas panjang dan berat, berjuang keras menahan isak tangis yang ingin meledak kembali dari dadanya.Dalam kehangatan pelukan itu, ia bisa merasakan cinta yang begitu tulus dari sang istri, kehangatan yang perlahan menyulut k
"Tuan Diego!" jerit Yoss dan Yenzing panik.Kedua pria tegap itu berlari kencang, mengangkat tubuh Diego yang tergeletak di atas lantai.Dokter dan perawat bergegas memberikan pertolongan darurat, memindahkan Diego ke ruang perawatan terpisah."Apa yang terjadi dengan Tuan Diego, Dok?" tanya Yenzing khawatir."Pak Diego hanya mengalami syok berat karena berita kehilangan. Setelah kondisinya membaik, Pak Diego akan segera sadar.""Tidak ada gangguan kesehatan lain 'kan Dok? Serangan jantung, atau masalah kesehatan selain itu?" tanya Yoss memastikan. Dokter menggeleng yakin. "Tidak ada. Kondisi kesehatan fisik Pak Diego sangat baik, hanya saja kondisi psikologis Pak Diego yang tidak baik. Pak Diego sangat terguncang setelah mendengar kabar kematian keluarga yang sangat dia cintai dan itu sangat wajar."Yenzing dan Yoss menghela napas panjang. Ada perasaan lega, dan sesak yang masih menyelimuti hati mereka saat ini."Saya permisi," ucap Dokter setelah menjelaskan. "Baik Dok. Terima ka
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak







