LOGINDi tempat berbeda."Aku dengar, bayi itu akhirnya selamat berkat donor darah dari ayah kandungnya."Jackie mendongak, menatap rekan kerjanya yang berdiri di depan meja. Namun, ia tidak bersuara, hanya mampu mengembus napas berat dan kembali menatap kosong ke atas meja."Sudah, jangan menyiksa dirimu dengan rasa bersalah terus-menerus," hibur rekan kerjanya berusaha menyemangati. "Yang terpenting bayi itu selamat. Kamu bisa menghubungi ibunya lagi dan minta maaf secara baik-baik. Jangan hanya karena satu kegagalan yang tidak disengaja, kamu langsung menyerah begitu saja untuk mengejar hati ibu dari bayi itu. Ayo jangan menyerah, Jack!"Jackie kembali menghela napas panjang. Rasa bersalah yang membakar dadanya tidak serta-merta padam hanya karena mendengar kata-kata sang rekan kerja.Ia merutuki kegagalannya mendapatkan donor darah untuk Dante di saat-saat paling kritis.
"Aku butuh bantuanmu. Diego Foster ada di Hong Kong saat ini," ucap Zhang pada seseorang di ujung sambungan telepon, di tengah perjalanannya menuju gudang rahasia."Diego Foster? Untuk apa dia ke sana?" sahut suara dingin di seberang sana. "Apa dia turun tangan langsung hanya untuk memantau pengiriman barang ke Kota itu? Aneh sekali. Seorang Diego Foster mau repot-repot mengurus pekerjaan sepele seperti itu."Zhang mengembus napas kasar. "Bukan itu alasannya. Aku juga tahu dia tidak akan sudi turun tangan langsung meskipun pengiriman barangnya gagal total di sini. Dia pasti hanya akan mengerahkan pasukan elitnya. Mana mungkin pria itu mau membuang tenaganya secara cuma-cuma hanya untuk urusan sepele.""Itu dia maksudku. Lalu, apa alasan sebenarnya dia datang ke sana?" tanya orang di seberang telepon."Dia sudah menikah," jelas Zhang, nadanya terdengar kesal. "Entah masalah apa yang terjadi di an
Zhue mendongak, menatap lekat wajah pria yang tengah memeluknya sangat erat. "Kamu ... kenapa bisa ada di sini?" tanyanya bingung.Ia merasa sudah melajukan mobil sejauh mungkin dari kejaran anak buah Zhang, bahkan ia tidak tahu di pelosok mana posisi mobilnya sekarang. Namun, secara tiba-tiba Yenzing sudah berdiri tepat di hadapannya.Kejadian ini terasa sangat janggal, seperti mimpi indah dengan alur serbabingung yang sulit diterima logika.Dari mana Yenzing bisa tahu ia berada di gang buntu ini, di saat ia tengah terdesak oleh kepungan anak buah Zhang?"Yenzing, jawab aku!" desak Zhue, suaranya bergetar. "Apa jangan-jangan semua ini benar-benar hanya mimpi? Atau aku memang sudah mati karena kecelakaan?"Mendengar pertanyaan panik itu, Yenzing tersenyum lembut. "Semua ini bukan mimpi, Zhue. Semua ini nyata. Sebaiknya kita ke mobil dulu, nanti aku jelaskan semuanya di sana."Yenzing beranjak berdiri lalu membimbing Zhue menuju mobil serba hitam yang terparkir di pinggir jalan u
"Tunggu aku, Yenzing!" ucap Zhue sambil menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam menuju rumah sakit tempat sang kekasih dirawat.Namun, harapan perjalanan itu akan berjalan mulus seketika sirna saat matanya melirik kaca spion.Iring-iringan mobil hitam milik anak buah ayahnya melaju kencang, mengekor ketat di belakang bagai bayangan maut."Sial!" gerutu Zhue dengan dada bergemuruh panik.Kemalangan seolah tidak berhenti di situ. Karena terlalu cemas dan antusias, jarum suntik berisi racun mematikan yang sejak tadi ia genggam erat mendadak terlepas dari jemarinya, menggelincir jatuh ke lantai mobil.Zhue melirik ke bawah dengan panik, mencarinya, namun benda itu hilang tak berbekas. Sementara itu, mobil para pengejarnya kian merapat di belakang."Tidak ... aku tidak boleh membiarkan perjuanganku keluar dari neraka bawah tanah itu sia-sia begitu saja!" bisik Zhue penuh tekad membara.Dengan nekat, ia menekan pedal gas hingga batas maksimal. Mobil melesat bagai anak panah, meliuk l
"Ini semua bukti tentang kematian orang tuamu yang aku miliki," ucap Diego sambil menyerahkan sebuah map cokelat tebal pada Freya. "Setelah kamu memeriksa semuanya dan memberiku maaf, aku berjanji akan menyelamatkan Zhue."Freya menerima map tersebut dengan jemari gemetar. Satu per satu lembaran berkas medis, laporan autopsi, dan hasil visum ia keluarkan lalu diamati dengan saksama.Namun, raut wajahnya berubah keruh seketika. Semua dokumen yang diberikan Diego terasa sangat familier, sama persis dengan salinan berkas rumah sakit yang pernah ia terima dulu.Freya mengerutkan kening. Mendongak, menatap suaminya yang berdiri tegap di hadapan. "Semua bukti ini sama persis dengan apa yang pernah aku baca. Lalu di mana letak pembelaanmu? Kamu hanya ingin mempertegas kalau kamu memang membunuh orang tuaku atas perintah kakekmu?"Diego menggeleng tegas. "Coba amati kembali berkas-berkas itu lebih teliti, Baby. Banyak kejanggalan di sana. Aku sudah mengonfirmasi langsung ke pihak rumah s
Hanya dalam hitungan menit, Dokter kepercayaan Zhang tiba di ruangan pengap itu dan bergegas memeriksa keadaan Zhue."Apa yang terakhir dimakan oleh Nona Zhue?" tanya sang Dokter tegas pada tiga anak buah Zhang yang berdiri di sisi ranjang.Ketiganya saling menatap sejenak sebelum salah satu dari mereka menjawab gugup, "Nona hanya makan mie dan daging asap, Dok."Dokter mengalihkan pandangan ke arah rantang sisa makanan di lantai, lalu beranjak berdiri untuk memeriksanya.Memanfaatkan fokus semua orang yang teralih pada rantang tersebut, Zhue membuka matanya tipis.Tatapannya tertuju pada tas peralatan medis milik Dokter yang terbuka di atas meja kecil.Dengan gerakan secepat kilat dan tanpa suara, jarinya menyambar sebuah alat suntik yang sudah terisi cairan obat.Setelah berhasil mengamankan benda itu, ia menyembunyikan suntikan tersebut di balik bantal lalu kembali memejamkan mata, berpura-pura tak sadarkan diri."Hanya makanan ini, Dok. Seingat kami Nona tidak pernah alergi
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s







