เข้าสู่ระบบDi depan pintu gerbang utama, Santoso, Tiara, dan Dani tampak sedang menunggu gerbang dibuka.Wajah Dani terlihat cemas, pucat pasi, padahal ia sendiri yang tadi ngotot memaksa kedua orang tuanya datang ke sini untuk melihat keadaan Freya."Kamu yakin Pamanmu yang mengundang kita ke sini, Dani? Jangan membohongi kami!" tanya Tiara dengan nada curiga sekaligus tidak percaya mendengar ucapan anaknya.Dani hanya diam sambil menghela panjang. Ia memang berbohong dengan mengatakan kalau Diego mengundang keluarga mereka ke mansion untuk melihat keadaan Freya dan menikmati makan malam bersama.Padahal, jangankan mengundang, tulang-tulang Dani saja ingin dipatahkan oleh Diego malam ini."Tidak mungkin Dani berbohong, Mi. Dia dan Diego 'kan tadi sempat berbicara panjang lebar di ruang kerja. Mungkin saja Diego membahas soal undangan makan malam itu di sana. Lebih baik kita datang saja, daripada Diego mengira kita tidak menghargai undangannya," bela Santoso meyakinkan istrinya.Tiara meli
"Kopi itu mengandung obat penenang dosis tinggi, Tuan. Dan mengenai kedatangan Dani ke rumah kedua orang tuanya, itu karena dia memang berniat membalas dendam pada Anda. Sepertinya saat ini Dani benar-benar dikendalikan oleh Nadia."Diego menyimak penjelasan dari orang suruhannya dengan tatapan dingin. Bukan hanya Yoss yang sengaja ia tugaskan di lapangan untuk memata-matai gerak-gerik Dani, tapi seluruh tim terbaik dari agensi Detektif profesional miliknya ikut diturunkan langsung.Mungkin Dani lupa siapa yang sedang ia hadapi. Diego bukan pria idiot yang mudah dijatuhkan, apalagi hanya dengan rencana murahan seperti itu."Bagaimana, Tuan? Apa Anda akan membalas perbuatan Dani pada Anda?" tanya anak buahnya di ujung sambungan."Aku pasti akan memberinya pelajaran," jawab Diego datar tanpa emosi."Lalu, bagaimana dengan Nadia? Apa Anda juga berniat memberinya pelajaran? Wanita itu sangat berbahaya, dia ular berbisa yang bisa kapan saja menggigit Tuan, bahkan Dani sendiri. Saya y
"Sudah dapat informasi lengkap tentang Freya?" Dani berbicara setengah berbisik dengan seseorang di seberang telepon sambil mengawasi area sekitar."Sudah, Pak. Kami berhasil mendapatkan rekam medis dan informasi terkait kecelakaan yang menimpanya satu bulan lalu. Wanita bernama Freya itu sempat mengalami koma akibat benturan keras di kepala. Setelah menjalani operasi besar, dia berhasil selamat, tapi dia mengalami amnesia berat. Semua memorinya terhapus total, bahkan dia tidak mengenali identitasnya sendiri. Dan saat ini, dia tinggal bersama seorang pria yang mengaku sebagai suaminya."Dani terdiam sejenak mencerna penjelasan dari Detektif swasta sewaan, sebuah agensi penyelidikan independen yang cukup ternama.Meski kapasitas agensi ini bukan level Detektif profesional papan atas seperti lembaga milik Diego Foster, informasi yang mereka berikan tergolong sangat cepat dan mendalam."Amnesia?" Dani membeo, memastikan tak salah dengar."Benar, Pak. Selain amnesia, kondisi fisik w
"Bagaimana? Sudah merasa agak enakan?" Diego menatap Freya lekat-lekat, meski wanita di hadapannya itu terus saja mengalihkan pandangan dan menghindari tatapannya.Freya mengangguk pelan, lalu menjawab ketus, "Bukan berarti kamu boleh pergi dari kamar ini! Aku tidak mau merasakan sakit perut lagi."Diego tersenyum tipis, menyadari wanitanya mulai menunjukkan sisi manja yang ia rindukan."Artinya anakku tahu kalau Daddy-nya sedang dibenci oleh Mommy-nya. Dia sengaja membuat perutmu sakit agar kita selalu dekat, dan dia ingin kamu bisa secepatnya mengingat siapa aku."Freya berdecak kasar. "Entahlah, mungkin ini cuma bawaan bayi." Ia memberanikan diri membalas tatapan Diego, lalu beralih pada bekas kemerahan di pipi pria itu yang masih terlihat jelas. "Kamu ... tidak marah?"Diego menaikkan sebelah alisnya. "Marah? Kenapa aku harus marah?""Itu ... pipimu merah. Tadi aku menamparmu cukup keras. Kenapa kamu tidak marah? Bukannya kamu tidak pernah diperlakukan serendah itu oleh wani
"Lepas!" Freya mendorong dada bidang Diego sekuat tenaga, memutus paksa tautan bibir mereka yang posesif.Plak!Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi kiri Diego, bersamaan dengan pintu kamar yang dibuka lebar oleh Bibi Ziang.Wanita paruh baya itu datang bersama Dokter Spesialis Kandungan."Maaf!" Bibi Ziang yang terkejut setengah mati refleks menutup pintu itu kembali.Sementara, Freya langsung bergeming dengan mata membulat. Perlahan menatap telapak tangannya yang terasa panas. Dalam hati, ia merutuki perbuatannya yang sangat keterlaluan pada Diego tadi. Namun, tidak ada kemarahan sama sekali di wajah Diego. Pria itu hanya mengusap rahangnya pelan, lalu berdiri tegap dan berkata tegas ke arah pintu, "Bawa dokternya masuk. Periksa kandungan Istriku!""Baik, Tuan," sahut Bibi Ziang dari luar. Kembali membuka pintu dan mempersilakan Dokter wanita di belakangnya untuk masuk.Freya terus menatap Diego yang pipinya tampak sedikit memerah karena tamparan keras tadi.'Dia ... t
"Bawa ini ke lab sekarang!" perintah Diego dari kaca jendela mobil.Ia menyerahkan cangkir kopi berisi obat penenang pada Yoss yang sengaja berjaga di luar gerbang rumah Santoso dengan penyamaran sempurna."Baik, Tuan," sahut Yoss sigap.Diego melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi menuju mansion.Sampai di istana Foster, Diego turun dari mobil dan melangkah tergesa-gesa memasuki kediaman mewahnya."Di mana Freya?" tanya Diego saat berpapasan dengan Bibi Ziang di lorong."Nona Freya ada di dalam kamar utama, Tuan.""Kenapa kalian tidak membawanya ke rumah sakit? Atau minimal panggilkan Dokter!" cecar Diego dengan raut wajah cemas sambil terus melangkah menuju kamar."Maaf, Tuan. Yenzing takut melanggar peraturan yang dibuat Tuan. Dan sebenarnya ... Nona Freya menolak dibawa ke rumah sakit," jawab Bibi Ziang yang menyusul di belakang.Diego berdecak kasar, rahangnya mengeras menahan gejolak kekhawatiran yang makin menyesakkan dada.Saat pintu kamar utama didorong dan
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s







