LOGIN"Daddy! Daddy!"
Suara jerit tangis Jegar terdengar menggema di dalam ruang kamar bernuansa biru muda itu.
Air matanya mengalir deras tanpa henti, membasahi pipinya yang kian tirus dan pucat.
"Mommy! Mommy!"
Bocah kecil yang belum genap berusia dua tahun itu terus menangis dan menjerit, memanggil-manggil kedua orang tuanya yang tak kunjung datang.
Tubuh mungilnya terguncang hebat di dalam
"Tuan Diego!" Semua pengawal yang menjaga ruang bawah tanah tersentak kaget saat melihat kedatangan sang penguasa.Tanpa kata perintah, para penjaga itu langsung membuka pintu baja tempat Bernad ditahan.Brak!Pintu besi itu terbuka lebar. Diego melangkah masuk dengan tatapan dingin. Bernard yang terduduk di sudut sel seketika mendongak, matanya berbinar melihat kedatangan Diego Foster."Pak Diego! Tolong saya, Pak! Bebaskan saya!" mohon Bernard dengan suara gemetar, merangkak mendekat. "Saya tahu siapa pengkhianatnya! Saya punya informasi penting, Pak! Tolong beri saya kesempatan Pak. Jangan bunuh saya."Namun, bukannya melepas tawanannya, Diego justru memberi perintah pada pengawal di belakang. "Pegang dia.""Baik, Tuan!" Dua pengawal bertubuh kekar langsung memiting kedua tangan Bernard ke belakang, mengunci pergerakan pria paruh baya itu hingga berlutut di atas lantai yang dingin."Pak Diego! Kenapa ini? Anda ingin melakukan apa pada saya? Tolong lepaskan saya! Saya bukan mu
"Daddy! Daddy!"Suara jerit tangis Jegar terdengar menggema di dalam ruang kamar bernuansa biru muda itu.Air matanya mengalir deras tanpa henti, membasahi pipinya yang kian tirus dan pucat."Mommy! Mommy!"Bocah kecil yang belum genap berusia dua tahun itu terus menangis dan menjerit, memanggil-manggil kedua orang tuanya yang tak kunjung datang.Tubuh mungilnya terguncang hebat di dalam boks bayi yang terbuat dari besi kaku."Mommy! Daddyyy! Mamam! Mommy!"Suara Jegar serak, nyaris habis. Hidungnya memerah dengan mata yang sembab dan bibir kian pucat."Daddy! Mommy!"Dua penjaga bertubuh kekar yang berdiri kaku di samping boks bayi hanya bisa menutup telinga mereka rapat-rapat.Mereka mulai kehilangan kesabaran, tak tahan lagi mendengar teriakan dan tangisan melengking bo
"Honey ...."Freya mendorong pintu kayu berukir itu hingga terbuka lebar, lalu melangkah pelan mendekati suaminya."Sudahi tangisanmu." Freya berdiri tepat di samping Diego.Tanpa mengucap sepatah kata pun, Diego langsung menyandarkan kepalanya tepat di perut sang istri, melingkarkan kedua tangan di pinggang Freya dengan erat seolah mencari pegangan hidup."Aku tahu kamu sedang hancur, tapi kamu harus tetap kuat seperti dulu. Bibi Ziang sudah bahagia di sana. Dia pasti tidak akan tenang kalau terus melihatmu meratapi kepergiannya seperti ini," ucap Freya lembut sambil mengusap rambut suaminya dengan penuh kasih sayang.Diego menghela napas panjang dan berat, berjuang keras menahan isak tangis yang ingin meledak kembali dari dadanya.Dalam kehangatan pelukan itu, ia bisa merasakan cinta yang begitu tulus dari sang istri, kehangatan yang perlahan menyulut k
"Tuan Diego!" jerit Yoss dan Yenzing panik.Kedua pria tegap itu berlari kencang, mengangkat tubuh Diego yang tergeletak di atas lantai.Dokter dan perawat bergegas memberikan pertolongan darurat, memindahkan Diego ke ruang perawatan terpisah."Apa yang terjadi dengan Tuan Diego, Dok?" tanya Yenzing khawatir."Pak Diego hanya mengalami syok berat karena berita kehilangan. Setelah kondisinya membaik, Pak Diego akan segera sadar.""Tidak ada gangguan kesehatan lain 'kan Dok? Serangan jantung, atau masalah kesehatan selain itu?" tanya Yoss memastikan. Dokter menggeleng yakin. "Tidak ada. Kondisi kesehatan fisik Pak Diego sangat baik, hanya saja kondisi psikologis Pak Diego yang tidak baik. Pak Diego sangat terguncang setelah mendengar kabar kematian keluarga yang sangat dia cintai dan itu sangat wajar."Yenzing dan Yoss menghela napas panjang. Ada perasaan lega, dan sesak yang masih menyelimuti hati mereka saat ini."Saya permisi," ucap Dokter setelah menjelaskan. "Baik Dok. Terima ka
"Istri saya mau dibawa ke mana Dok?" Diego berdiri dari kursi tunggu saat melihat perawat dan Dokter keluar ruang ICU sambil mendorong bed rumah sakit."Kondisi kesehatan pasien menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Setelah melewati masa kritis di bawah pengawasan ketat tim medis, tingkat saturasi oksigennya merangkak naik dan paparan racun di paru-parunya berhasil ditangani. Dokter akhirnya mengizinkan pasien dipindahkan dari ruang steril ICU ke ruang perawatan VIP," jelas salah satu perawat.Diego menghela napas lega. "Apa saya boleh menemani Istri saya di ruang perawatan nanti?""Ya, boleh sekali Pak. Kehadiran dan dukungan dari Anda akan mempercepat pemulihan pasien.""Terima kasih."Setelah mendengar penjelasan tentang keadaan istrinya dan diizinkan untuk dijenguk, Diego bergegas membersihkan diri, mengganti pakaian dengan jubah steril, lalu melangkah cepat memasuki kamar perawatan.Namun, pemandangan di dalam ruangan seketika menyentak dadanya. Freya sedang berjuang untuk
"Bi, katakan kalau semua ini mimpi. Tolong bangun Bi. Kalau Bibi benar-benar pergi, siapa lagi yang akan memukulku saat aku terlambat makan siang?"Tangisan Yenzing terdengar pilu. Suaranya serak, bahkan nyaris habis. Sementara Yoss sudah tak sanggup lagi mengatakan apapun. Kehilangan Bibi Ziang sama seperti ia kehilangan orang tuanya sendiri. Begitu sakit, dan hancur."Kita bawa Bibi Ziang ke rumah sakit," kata Zhue, yang akhirnya berdiri dan membantu Yoss dan Yenzing mengangkat jasad Bibi Ziang.Langkah kaki Yenzing dan Yoss terasa amat berat saat mereka memapah dan membawa jasad Bibi Ziang keluar dari kedalaman ruang bawah tanah yang dingin.Menggendong wanita paruh baya itu menuju lantai atas mansion terasa bagai mengangkat beban berkuintal-kuintal, bukan karena bobot tubuhnya, melainkan karena luka tak kasatmata yang meremukkan dada mereka.Setelah mereka melintasi ambang pintu lantai utama, tangisan histeris seketika pecah di seluruh sudut mansion.Para pelayan, staf kebersihan
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan







