MasukKelopak mata Yenzing bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sempurna.
Pandangan yang semula kabur, perlahan mulai menajam, mengenali langit-langit serba putih khas ruang perawatan rumah sakit. Bau karbol yang menyengat langsung menusuk indra penciumannya.
"Zhue ...." gumam Yenzing dengan suara parau dan bibir yang terasa sangat kering. "Di mana kamu Sayang?"
Yenzing memegang kepala yang terasa amat berat. "Zhue .... "
"Bisa-bisanya dia datang ke sini dan menemui suamiku! Dasar wanita murahan! Aku tidak akan membiarkannya mendekati Paman!"Sepanjang jalan menghampiri Diego, Freya terus mengoceh dan mengumpat. Tatapan matanya lurus ke depan, melotot tajam seperti ingin menelan Laura hidup-hidup.Namun, langkah kaki Feya yang semula mantap terhenti mendadak saat melewati persimpangan lorong.Dari balik dinding pembatas, samar-samar terdengar pembicaraan serius dua orang pria.Freya mengenali suara itu ... itu adalah Yoss dan Bayu, dua pengawal kepercayaan Diego.Bukannya langsung menghampiri, Freya memilih menempelkan tubuh rapat ke dinding, menguping pembicaraan sensitif tersebut."Aku masih merasa ada yang aneh," ucap Yoss dengan wajah tegang. "Tuan Diego sangat yakin Nona Zhue adalah dalang di balik kecelakaan itu setelah mendapat informasi dari Dokter Laura. Tapi firasa
Kelopak mata Yenzing bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sempurna.Pandangan yang semula kabur, perlahan mulai menajam, mengenali langit-langit serba putih khas ruang perawatan rumah sakit. Bau karbol yang menyengat langsung menusuk indra penciumannya."Zhue ...." gumam Yenzing dengan suara parau dan bibir yang terasa sangat kering. "Di mana kamu Sayang?"Yenzing memegang kepala yang terasa amat berat. "Zhue .... "Saat ingatan tentang detik-detik kecelakaan membayang kembali di kepalanya, Yenzing langsung menegakkan posisi secara mendadak.Matanya menyapu sekeliling ruangan, melihat Yoss dan tiga pengawal lain berdiri tegap mematung di sisi tempat tidur."Di mana Zhue?" tanya Yenzing dengan raut wajah panik, menatap para pengawal itu satu per satu. "Jawab aku, Yoss! Di mana Nona Zhue sekarang? Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja 'kan? Dia d
"Dia benar-benar kabur? Bagaimana bisa?" cecar Laura panik setengah mati. "Kalau dia kembali ke mansion Diego dan membongkar semua rencana kita. Kita pasti akan mati!"Suara Laura bergetar. Air matanya runtuh dengan wajah pucat pasi ketakutan."Aku tidak ingin gagal mendapatkan Diego. Tidak!" tangis Laura tak tertahankan."DIAM!" bentak Kevin emosi. Di situasi seperti ini Laura masih saja memikirkan cara mendapatkan Diego yang membuatnya muak.Laura terdiam, kaget mendengar suara menggelegar Kevin. Tubuhnya mendadak kaku bagai patung lilin."Dia pasti belum pergi jauh!" Tanpa membuang waktu, Kevin memanjat kloset dan menerobos masuk ke dalam rongga atap yang gelap dan berdebu.Matanya menyipit, menangkap jejak bercak darah segar yang tercecer di atas papan dek kayu.Pria itu menyusuri jejak tersebut dengan rahang menegang tajam, didorong
"Aahhh!" Suara pelepasan tanda akhir dari pertempuran ronde kedua.Kevin terdiam, mengumpulkan tenaganya. Setelah tenaganya terkumpul sempurna, ia mulai memakai pakaian satu per satu."Aku suka tubuh indahmu," kekeh Kevin.Selesai melampiaskan hasrat liar di atas meja, Kevin dan Laura merapikan pakaian dan membawa dokter itu menuju kamar di lantai dua tempat ia menyekap Zhue."Kamu yakin Zhue aman di sana?" tanya Laura memastikan."Kevin tidak pernah salah perhitungan. Tidak ada satupun sandera yang berhasil melarikan diri dari Kevin!" jawabnya percaya diri."Bagus," senyum kagum Laura.Dengan santai, Kevin memutar gagang pintu dan melangkah masuk. Pria itu sama sekali tidak menaruh curiga pada gadis tawanannya yang ia anggap lemah dan manja."Zhue tidak ada!" kata Laura panik saat melihat gadis itu tidak ada di kamar. "Dia di dalam kamar mandi," jawab Kevin masih santai. "Dia tidak akan bisa kabur. Jendela itu tidak akan bisa dibuka dengan tangan kosong."Laura menatap ke arah jende
"Mau apa kamu?" Tubuh Laura mulai terasa panas seperti terbakar api. Sesuatu di bawah sana mulai bereaksi saat Kevin mulai menyentuh kulitnya."Kamu terlihat cantik." Kevin berbisik. Suaranya terdengar begitu merdu di telinga Laura. "Aku masih ingat hisapan milikmu di bawah sana. Sangat nikmat. Milikmu masih rapat dan hangat."Rayuan Kevin bagai racun manis yang merayap cepat, melumpuhkan seluruh pertahanan Laura.Tatapan tajam berhias gairah dari pria itu membuat wanita berpakaian seksi itu kehilangan akal sehatnya."A-apa kamu sudah menghabisi laki-laki itu?" tanya Laura dengan napas terengah-engah. Menahan hasrat yang mulai naik. Harus ia akui, permainan Kevin waktu itu membuatnya sulit tidur. Nikmat dengan caranya sendiri. Milik Kevin juga besar, nyaris membuat lubangnya pecah.Apa milik Diego jauh lebih besar dari Kevin? pikiran mesum Laura."Pipimu memerah. Apa kamu sudah mulai basah?" kekeh Kevin.Ia memajukan wajahnya, mengikis jarak hingga helaan napas hangatnya berembus tep
"Agh! Sakit!" Zhue membuka mata, memegang kepala yang berdenyut. Deg! Ia menyadari Kevin tidak ada. Teringat Kevin tadi pergi dengan terburu-buru saat mendengar Laura datang.Memanfaatkan kesempatan berharga saat Kevin keluar dari kamar, Zhue berusaha keras mengumpulkan kesadarannya yang sempat hilang.Rasa pening hebat akibat pukulan keras di rahangnya masih menyengat, tetapi tekad untuk bertahan hidup membakar semangatnya.Beruntung, ikatan tambang di pergelangan tangan dan kakinya telah dilepas oleh Kevin saat pria itu hendak melampiaskan nafsu bejatnya tadi.Kemungkinan besar pria mesum itu lupa untuk memasangnya kembali karena terburu-buru ingin menemui Laura.Zhue menyapu pandangan ke sekeliling kamar. Meski ruangan itu memiliki jendela kaca yang cukup besar, semuanya terkunci rapat dari luar dan menggunakan kaca tebal anti-peluru yang mustahil dipecahkan dengan tangan kosong.Namun, Zhue tidak kehabisan akal. Gadis itu segera berlari menuju kamar mandi, mencari jalan untuk
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja







