ANMELDEN"Aahhh!" Suara pelepasan tanda akhir dari pertempuran ronde kedua.Kevin terdiam, mengumpulkan tenaganya. Setelah tenaganya terkumpul sempurna, ia mulai memakai pakaian satu per satu."Aku suka tubuh indahmu," kekeh Kevin.Selesai melampiaskan hasrat liar di atas meja, Kevin dan Laura merapikan pakaian dan membawa dokter itu menuju kamar di lantai dua tempat ia menyekap Zhue."Kamu yakin Zhue aman di sana?" tanya Laura memastikan."Kevin tidak pernah salah perhitungan. Tidak ada satupun sandera yang berhasil melarikan diri dari Kevin!" jawabnya percaya diri."Bagus," senyum kagum Laura.Dengan santai, Kevin memutar gagang pintu dan melangkah masuk. Pria itu sama sekali tidak menaruh curiga pada gadis tawanannya yang ia anggap lemah dan manja."Zhue tidak ada!" kata Laura panik saat melihat gadis itu tidak ada di kamar. "Dia di dalam kamar mandi," jawab Kevin masih santai. "Dia tidak akan bisa kabur. Jendela itu tidak akan bisa dibuka dengan tangan kosong."Laura menatap ke arah jende
"Mau apa kamu?" Tubuh Laura mulai terasa panas seperti terbakar api. Sesuatu di bawah sana mulai bereaksi saat Kevin mulai menyentuh kulitnya."Kamu terlihat cantik." Kevin berbisik. Suaranya terdengar begitu merdu di telinga Laura. "Aku masih ingat hisapan milikmu di bawah sana. Sangat nikmat. Milikmu masih rapat dan hangat."Rayuan Kevin bagai racun manis yang merayap cepat, melumpuhkan seluruh pertahanan Laura.Tatapan tajam berhias gairah dari pria itu membuat wanita berpakaian seksi itu kehilangan akal sehatnya."A-apa kamu sudah menghabisi laki-laki itu?" tanya Laura dengan napas terengah-engah. Menahan hasrat yang mulai naik. Harus ia akui, permainan Kevin waktu itu membuatnya sulit tidur. Nikmat dengan caranya sendiri. Milik Kevin juga besar, nyaris membuat lubangnya pecah.Apa milik Diego jauh lebih besar dari Kevin? pikiran mesum Laura."Pipimu memerah. Apa kamu sudah mulai basah?" kekeh Kevin.Ia memajukan wajahnya, mengikis jarak hingga helaan napas hangatnya berembus tep
"Agh! Sakit!" Zhue membuka mata, memegang kepala yang berdenyut. Deg! Ia menyadari Kevin tidak ada. Teringat Kevin tadi pergi dengan terburu-buru saat mendengar Laura datang.Memanfaatkan kesempatan berharga saat Kevin keluar dari kamar, Zhue berusaha keras mengumpulkan kesadarannya yang sempat hilang.Rasa pening hebat akibat pukulan keras di rahangnya masih menyengat, tetapi tekad untuk bertahan hidup membakar semangatnya.Beruntung, ikatan tambang di pergelangan tangan dan kakinya telah dilepas oleh Kevin saat pria itu hendak melampiaskan nafsu bejatnya tadi.Kemungkinan besar pria mesum itu lupa untuk memasangnya kembali karena terburu-buru ingin menemui Laura.Zhue menyapu pandangan ke sekeliling kamar. Meski ruangan itu memiliki jendela kaca yang cukup besar, semuanya terkunci rapat dari luar dan menggunakan kaca tebal anti-peluru yang mustahil dipecahkan dengan tangan kosong.Namun, Zhue tidak kehabisan akal. Gadis itu segera berlari menuju kamar mandi, mencari jalan untuk
Kevin murka. Kedua matanya membulat lebar nyaris keluar dari kelopak. Pria itu mengusap kasar bekas ludah di wajahnya, lalu kembali menatap Zhue dengan aura membunuh."Bangsat! Berani kamu kurang ajar pada Kevin!" geramnya, berdiri tegak dan mencengkeram kuat kedua pergelangan tangan Zhue."Lepaskan aku! Brengsek!" pekik Zhue dengan nada melengking tajam.Gadis itu menendang-nendangkan kakinya secara liar ke arah dada Kevin. "Pria tidak tahu diri! Kamu tidak lebih dari sampah menjijikkan yang pantas membusuk di neraka!""Teruslah memaki, Cantik!" kekeh Kevin dengan tatapan kelam penuh nafsu.Ia menghiraukan setiap pukulan Zhue dan menghempaskan tubuh ringkih gadis itu ke atas kasur empuk. "Makin kamu memberontak, makin besar hasratku untuk menghancurkanmu!"Zhue terus bergerak brutal, mencoba memutar tubuhnya demi melepaskan diri dari kungkungan pria itu."Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu, Sialan!" desis Zhue dengan rahang menegang keras. "Kalau sampai aku berhasil lepa
"Paman, mobil Yenzing mengalami kecelakaan! Bagaimana keadaan Yenzing dan Zhue sekarang? Mereka baik-baik saja 'kan? Di mana mereka sekarang?"Baru saja melangkah masuk ke dalam ruang IGD, Diego langsung dicecari berbagai pertanyaan beruntun oleh Freya.Pria itu menghela napas panjang, mendudukkan tubuhnya di kursi samping tempat tidur, lalu menggenggam erat jemari lentik Freya yang terasa dingin."Mereka berdua baik-baik saja, Baby. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, hmm," jawab Diego tenang, memilih menyembunyikan kebenaran tentang hilangnya Zhue.Mengingat pesan peringatan dari Laura tadi, Diego sangat yakin Zhue bukan gadis baik. Apalagi Zhue anak dari musuh bebuyutannya yang sudah meninggal dunia.Bagaimanapun juga, darah mafia yang mengalir di tubuh Zhue tidak akan bisa luntur oleh apapun. Gadis itu pasti menyimpan dendam atas kematian ayahnya, pikir Diego.&n
Senyum puas merekah lebar di bibir Laura. Ia yakin Diego akan menelan mentah-mentah semua informasi yang baru saja dikirimkannya.Sejujurnya, taktik licik ini muncul dari Kevin setelah membuat Laura murka saat tahu Freya ikut menjadi korban kecelakaan.Kemungkinan sekarang Kevin sudah melenyapkan nyawa Zhue, dan posisi Laura aman dari kecurigaan Diego.'Tidak percuma aku menjalin kerja sama dengan keluarga Nadia, wanita yang pernah menghancurkan hidup Freya,' batin Laura.Setelah memastikan pesan tersebut terkirim, Laura melangkah menyusuri lorong menuju unit apartemennya.Namun, langkah kaki itu mendadak terhenti tepat di depan pintu utama. Tiba-tiba saja perasaannya tidak enak.Laura membeku di tempat, jemarinya mendadak dingin dengan raut wajah tegang.Tatapannya tertuju pada gagang pintu yang bergerak pelan, menyadari ada seseorang yang bersiap keluar dari dalam sana.Saat Laura memutar tubuh untuk melarikan diri, pintu apartemen itu dibuka lebar."Mau lari ke mana, Sayang?"
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s







