LOGINBaku tembak yang tadinya sengit perlahan mereda seiring berjatuhannya anggota Yakuza ke atas tanah basah.
Sisa-sisa musuh yang kebingungan dan terkepung tidak mampu menandingi kedisiplinan serta keahlian pasukan elit Foster.
Namun, pertempuran belum sepenuhnya selesai. Diego tidak membuang waktu. Sembari menyeka butiran keringat bercampur jelaga mesiu di pelipisnya, ia memberi isyarat agar pasukannya memperluas area penyisiran ke dalam hutan bakau da
"Tuan, kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit," kata Yoss memberitahu Diego lewat sambungan telepon."Tetap berhati-hati. Jangan sampai terjadi sesuatu di jalan. Dan jangan katakan apapun tentang kondisi Yenzing. Jangan sampai Zhue cemas.""Baik Tuan."Setelah telepon diakhiri oleh Diego, Yoss meletakkan ponselnya ke atas dasbor. Ia menatap Zhue dan Freya dari kaca spion di atasnya."Apa kata Tuan? Bagaimana kondisi Yenzing sekarang? Dia baik-baik saja kan?" tanya Zhue panik luar biasa.Air matanya tidak berhenti mengalir membasahi wajahnya yang pucat."Tolong jawab, Yoss!" kata Freya.Yoss menghela napas panjang. "Maaf Nona Freya, Nona Zhue, Tuan belum memberitahu saya bagaimana keadaan Yenzing sekarang. Tolong doakan saja yang terbaik untuk Yenzing."Zhue membuang napas kasar. Jawaban Yoss tidak membuatnya tena
"Kondisinya kritis, kalau tetap di sini dia tidak akan bisa diselamatkan," ujar tim medis.Diego menatap Yenzing, menggenggam jemari tangan pria itu. "Bertahanlah Yenzing, Zhue menunggumu. Kamu harus tetap hidup. Kita akan kembali ke Atalia setelah badai ini mereda."Yenzing tak menanggapi. Untuk membuka mata saja ia tidak sanggup. Namun, air mata yang mengalir menjelaskan ia ingin secepatnya keluar dari gua itu."Tolong usahakan apapun agar Yenzing bisa bertahan sampai kita tiba ke Atalia!" titah Diego pada tim medis. "Jangan sampai Yenzing mati!""Baik Tuan, kami akan mengusahakan yang terbaik sebisa kami."Tuntutan besar itu membuat mental tim medis sedikit goyah. Namun, mereka tetap mengusahakan yang terbaik untuk Yenzing.***Matahari pagi di balik awan kelabu perlahan menyingkap sisa-sisa amukan badai besar yang semalam melump
Baku tembak yang tadinya sengit perlahan mereda seiring berjatuhannya anggota Yakuza ke atas tanah basah.Sisa-sisa musuh yang kebingungan dan terkepung tidak mampu menandingi kedisiplinan serta keahlian pasukan elit Foster.Namun, pertempuran belum sepenuhnya selesai. Diego tidak membuang waktu. Sembari menyeka butiran keringat bercampur jelaga mesiu di pelipisnya, ia memberi isyarat agar pasukannya memperluas area penyisiran ke dalam hutan bakau dan tebing karang di bagian tengah pulau."Tetap waspada! Selidiki setiap sudut, pastikan tidak ada satu pun jebakan," perintah Diego tegas dengan suara dingin yang membelah keheningan malam.Suasana di dalam hutan pulau tak berpenghuni itu terasa jauh lebih mencekam dibanding garis pantai.Kegelapan pekat menyelimuti tajuk-tajuk pohon tinggi, hanya diterangi oleh sorotan senter yang melekat di laras senjata para prajurit.&nb
"Honey, bagaimana? Apa ada kabar tentang Yenzing? Apa masih ada harapan? Jujur, aku sangat takut Yenzing tidak ditemukan dalam keadaan selamat. Zhue pasti hancur jika itu semua terjadi."Diego menghela napas panjang saat menerima telepon dari sang istri yang bertanya tentang Yenzing.Lagi-lagi ia tidak bisa mengungkapkan perasaan kecewanya pada diri sendiri karena hingga detik ini ia belum juga menemukan orang kepercayaannya itu."Zhue terus menangis. Aku khawatir, Honey," lanjut Freya lirih. "Ya, aku paham perasaan Zhue. Tolong minta dia untuk tetap tenang dan tunggu kabar baik dariku. Kamu temani dia dulu, Baby.""Ya, aku selalu menemani dia, tapi apakah ada harapan?"Diego kembali menghela napas kian panjang dan lirih. "Percayalah, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Aku yakin Yenzing masih hidup, hanya saja, mungkin dia sedang berada di suatu tempat yang sangat jauh. Lautan sangat luas, besar kemungkinan dia ada di suatu tempat.""Ya, semoga saja. Hati-hati, kamu harus mem
Sementara itu, di lantai dasar area manajemen klub malam yang remang-remang, Ruth melangkah mantap menyusuri koridor berkarpet tebal menuju sebuah ruangan pribadi berukuran cukup luas."Silakan masuk Tuan."Seorang penjaga berbadan besar membuka pintu begitu melihat kedatangan pria kepercayaan keluarga Foster tersebut.Di dalam ruangan ber-AC dingin itu, duduklah seorang wanita paruh baya berbusana elegan dengan perhiasan berlian berkilauan di lehernya.Wanita berwajah tegas itu adalah Madam Sera, pemilik klub malam elite paling terkenal di kota Atalia.Melihat pintu terbuka, Madam Sera segera berdiri dan menyambut Ruth dengan senyuman ramah penuh hormat.Maklum saja, berurusan dengan keluarga besar Foster sama artinya dengan mencari mati jika tidak dilayani dengan sempurna."Ah, Tuan Ruth! Suatu kehormatan besar Anda kembali mampir ke tempat saya malam-malam begini," sapa Madam Sera dengan nada suara yang manis. "Ada yang bisa saya bantu? Apa fasilitas VIP kami kurang memuaskan u
"Ayo kita ke ranjang saja!" kekeh Clea dan Misya.Kedua wanita itu terlihat tak sabaran. Dengan kompak mereka mendorong tubuh ZingZing yang sudah setengah polos ke atas ranjang.ZingZing terbaring dengan posisi telentang. Memperlihatkan pusakanya yang sudah berdiri tegak."Ugh! Sangat menggoda," senyum Clea dengan tatapan mesum."Biar aku duluan," serobot Misya tak sabaran. Ia segera naik ke atas ranjang dan menurunkan kepalanya sambil memegang rambutnya yang terurai."Elmuhhmm!"Sentuhan hangat dan basah yang mendadak melingkupi kejantanannya membuat lutut ZingZing lemas seketika.Pemuda asal pulau terpencil itu mencengkeram erat seprai ranjang sutra merah di bawahnya, matanya terpejam rapat dengan kepala mendongak ke belakang menahan gelombang sensasi asing yang belum pernah ia rasakan seumur hidup."Ah ... ugh ... Nona ... s-sabar ...." desah ZingZing terbata-bata, suaranya parau dan bergetar hebat di antara desing napas yang memburu.Misya bergerak semakin terampil, memainkan li
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me







