LOGINHanya dalam hitungan menit, Dokter kepercayaan Zhang tiba di ruangan pengap itu dan bergegas memeriksa keadaan Zhue."Apa yang terakhir dimakan oleh Nona Zhue?" tanya sang Dokter tegas pada tiga anak buah Zhang yang berdiri di sisi ranjang.Ketiganya saling menatap sejenak sebelum salah satu dari mereka menjawab gugup, "Nona hanya makan mie dan daging asap, Dok."Dokter mengalihkan pandangan ke arah rantang sisa makanan di lantai, lalu beranjak berdiri untuk memeriksanya.Memanfaatkan fokus semua orang yang teralih pada rantang tersebut, Zhue membuka matanya tipis.Tatapannya tertuju pada tas peralatan medis milik Dokter yang terbuka di atas meja kecil.Dengan gerakan secepat kilat dan tanpa suara, jarinya menyambar sebuah alat suntik yang sudah terisi cairan obat.Setelah berhasil mengamankan benda itu, ia menyembunyikan suntikan tersebut di balik bantal lalu kembali memejamkan mata, berpura-pura tak sadarkan diri."Hanya makanan ini, Dok. Seingat kami Nona tidak pernah alergi
Di dalam ruangan pengap berdinding besi baja, Zhue tampak tengah melamun. Pikirannya berputar keras mencari cara agar bisa meloloskan diri dari mansion sang ayah.Ia mengedarkan pandangan, menyisir setiap sudut untuk menemukan celah melarikan diri.Namun, usahanya sia-sia. Seluruh ventilasi tertutup rapat, bahkan tidak ada satu pun jendela di ruangan itu."Lama-lama tinggal di sini, aku bisa gila," gerutu Zhue kesal. "Kenapa Ayah tidak langsung membunuhku saja? Lebih baik aku mati menyusul Ibu daripada disiksa seperti ini!"Zhue mengembus napas kasar. Perlahan berdiri lalu melangkah mendekati pintu besi yang tebal.Melalui kaca kecil tebal di pintu baja itu, Zhue berusaha memanggil penjaga di luar. "Tolong ambilkan aku makan! Aku lapar!"Suaranya tidak langsung terdengar karena ruangan itu kedap suara. Namun, gerakan bayangan Zhue yang terlihat dari balik kaca berhasil menarik perhatian salah satu penjaga."Kami tidak diperbolehkan berbicara dengan Anda, Nona," ucap penjaga itu
"Aku mendengar semuanya!"Diego terhenyak kaget saat baru saja membuka pintu kamar perawatan putranya.Tiba-tiba saja Freya sudah berdiri tepat di belakang pintu sambil berkacak pinggang dengan tatapan mata sangar.Seketika itu, ekspresi dingin Diego melunak. Pria itu menyunggingkan senyum semanis mungkin untuk meluluhkan Wanita Kesayangan."Tentang apa, hmm? Kenapa berdiri di sini? Kamu menungguku, Baby?" Diego melangkah mendekat, hendak merangkul lengan Freya dengan lembut.Namun, Freya menepis kasar tangan itu sambil melotot tajam. "Aku mendengar semua percakapanmu dengan Yenzing di kamar tadi! Aku tahu kamu meminta Yenzing melupakan Zhue. Apa kamu sadar saat mengatakan itu? Apa kamu bisa melupakan wanita yang kamu cintai dengan semudah itu? Dan memaksa Yenzing mencari wanita lain yang lebih cantik? Memangnya cinta bisa datang hanya karena melihat wajah cantik? Kamu pikir Yenzing pria dangkal seperti itu?" cecar Freya tanpa jeda.Napas Freya memburu, wajahnya memerah menahan
"Sejauh apa hubunganmu dengan gadis bernama Zhue?"Baru saja membuka mata, Yenzing sudah dihujani pertanyaan dingin dari Diego Foster.Dengan mata bengkak parah yang sulit dibuka, Yenzing menatap Tuan Besar-nya itu. "Saya mengenal Zhue sejak beberapa bulan lalu, Tuan. Dan saya baru tahu kalau dia anak Zhang, musuh Anda. Saya berani bersumpah tidak tahu sama sekali tentang itu. Andai saja saya tahu dari awal, saya tidak mungkin mendekatinya."Yenzing menahan napas sejenak sebelum melanjutkan, "Awalnya, tujuan saya mendekati Zhue hanya untuk memanfaatkannya. Saya tahu dia tinggal di Hong Kong dan bekerja di rumah sakit tempat Nona Freya rutin memeriksakan kandungan. Saya berharap bisa menggali informasi tentang Nona Freya melalui dia. Rencana itu berhasil. Berkat dia, saya tahu Nona Freya dalam keadaan baik-baik saja, termasuk soal kelahiran Tuan Muda Dante.""Saya benar-benar bersumpah tidak tahu-menahu soal identitas aslinya. Dia tidak pernah menceritakan apa pun tentang ayahnya.
"Jangan melihat ke arah situ!""Kenapa? Apa yang salah?" balas Diego santai. "Bukannya kamu sendiri yang memulainya? Kamu memberikannya, dan akhirnya aku tahu rasanya seperti apa. Wajar 'kan kalau ternyata aku suka?""Ish! Menyebalkan! Kamu masih tetap mesum seperti dulu!"Diego tertawa renyah. Namun, tawa itu seketika terhenti saat Freya membekap mulut suaminya menggunakan telapak tangan."Dante baru saja tidur!" bisik Freya sambil melirik ke arah box bayi. "Jangan berisik!"Diego mengangguk pelan. Menggenggam pergelangan tangan istrinya, menatap lekat-lekat dengan tatapan yang selalu berhasil membuat dada Freya berdesir.Ditatap sedalam itu oleh pria yang amat dicintai, Freya refleks memalingkan wajah. Teringat masalah di antara mereka belum sepenuhnya selesai. Dengan cepat, Freya melepas genggaman Diego lalu menegakkan posisi duduknya.Sadar sang istri belum sepenuhnya membuka pintu maaf, Diego mengalah. Menerima sikap dingin itu, setidaknya Freya masih mengizinkannya berad
Kondisi Dante sudah sangat stabil. Bayi tampan itu kini dipindahkan ke ruang perawatan bayi.Freya dan Diego setia menemani putra mereka. Pagi harinya, Ibu Muda itu terbangun saat merasakan perutnya lapar.Ia membuka mata dan melihat Diego masih terlelap di atas sofa empuk. Perlahan, Freya beranjak turun dari ranjang yang sengaja disediakan rumah sakit di ruang VVIP demi kenyamanan ibu pasien.Freya melangkah mendekati pintu dan membukanya lebar.Melihat keberadaan Freya, anak buah Diego langsung mendekat. "Nona, Anda ingin ke mana?" tanya anak buah Diego yang berjaga di depan pintu.Freya tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada orang-orang yang berlalu-lalang di koridor rumah sakit, pria-pria berpakaian serba hitam, tetapi bukan anak buah Diego Foster.Keningnya berkerut dalam, penuh tanda tanya. Apalagi saat ia mendengar suara helikopter yang berlalu-lalang tepat di atas gedung rumah sakit entah sejak kapan."Carikan aku makanan," pinta Freya pada anak buah Diego."Baik, Nona
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak







