เข้าสู่ระบบTante Lia terkekeh pelan melihat ekspresi terkejut Zahwa. Ia mendekati sisi ranjang, lalu mengusap bahu Lusi yang tersenyum malu-malu."Iya, Zahwa... Lusi sekarang lagi hamil tiga bulan," jawab Tante Lia. "Alhamdulillah, Lusi udah dikasih rezeki secepat ini. Tante minta doanya ya, Zahwa, supaya Lusi dan calon bayinya selalu sehat, diberi kelancaran sampai hari persalinan nanti."Rasa terkejut Zahwa seketika berganti menjadi keharuan. "Masya Allah... selamat ya, Lusi! Tante Lia juga selamat! Aku ikut senang dengarnya. Aku doakan semoga Lusi sehat-sehat terus, nggak mual parah, dan debay di dalam kandungan tumbuh kuat serta lancar sampai lahiran nanti.""Amin. Makasih banyak ya, Zahwa," sahut Lusi seraya memeluk Zahwa dengan hati-hati.Setelah melepas pelukannya, Lusi mengambil sebuah bingkisan dari tas jinjing yang dibawanya. Ia menyerahkan bingkisan tersebut pada Mbok Minah."Ini ada sedikit bingkisan dariku sama Mama buat kamu dan baby Zayyan. Tadi sebelum ke sini, Tante Debby
"Zayyan sekarang lagi dirawat di ruang NICU, Ra, Lex," jawab Devan, mengambil alih.Mata Kinara membelalak, sementara Alex mengerutkan alisnya. "NICU? Kenapa, Dev?" "Waktu proses persalinan tadi pagi, asma Zahwa sempat kambuh sampai kadar oksigennya drop," terang Devan. "Kondisi itu berpengaruh ke pernapasan si Kecil pas masih di dalam kandungan. Begitu lahir, dokter anak harus langsung pasang bantuan pernapasan di NICU."Kinara menutup mulutnya, matanya kembali berkaca-kaca menatap Zahwa. "Ya Allah, Wa...""Tapi kalian nggak usah khawatir," sela Zahwa, tersenyum tipis untuk menenangkan sahabatnya. "Zayyan anak yang kuat. Tadi aku sama Mas Devan baru aja dari NICU buat lihat dia. Dia udah bisa genggam telunjuk aku kencang banget, Ra.""Jadi... keponakanku namanya Zayyan?""Zayyan Dewangga Sakti," sahut Devan memperkenalkan nama putra pertamanya. "Itu nama yang disiapkan Zahwa buat jagoan kami.""Zayyan Dewangga Sakti..." bisik Kinara mengulang nama itu, lalu mengusap sudut mat
"Zayyan artinya seseorang yang selalu memperindah sekitarnya," terang Zahwa. "Aku ingin anak kita tumbuh menjadi sosok yang gak cuman tampan, tapi juga hadir membawakan keindahan bagi siapa pun di sekelilingnya."Debby mengelus dada, mengangguk-angguk haru mendengar makna yang begitu indah."Lalu Dewangga..." lanjut Zahwa, menatap Devan. "...artinya kain sutra yang indah, lambang kelembutan hati. Dan untuk nama terakhirnya... tentu saja Sakti, nama belakang Mas Devan. Agar dia selalu ingat bahwa dia adalah kebanggaan bagi Papanya."Irfan menepuk tangannya seraya mengulas senyum bangga. "Masya Allah... nama yang luar biasa indah. Zayyan Dewangga Sakti. Papa suka nama itu!""Artinya dalam dan indah sekali, Zahwa," puji Debby ikut mengusap air mata bahagianya. "Seoang anak laki-laki yang tampan, berhati lembut seperti sutra, keturunan keluarga Sakti."Devan membungkuk, mengecup dahi Zahwa dengan penuh cinta. Kebahagiaan dan rasa hormatnya pada Zahwa kini kian membubung tinggi."Ma
Beberapa jam kemudian. Di sore harinya, kondisi Zahwa dinyatakan sudah membaik. Saturasi oksigennya sudah kembali normal tanpa bantuan alat. Sedang Mbok Minah dan Bik Kokom sebelumnya sudah memutuskan untuk pulang mengingat jam besuk pasien yang sudah habis."Mas, aku mau lihat anak kita sekarang," ujar Zahwa setelah dokter dan perawat yang memeriksa berlalu dari kamarnya.Devan tersenyum. Atas izin dari dokter, Devan pun menyiapkan kursi roda yang sudah disiapkan oleh suster. Ia pun memapah Zahwa dengan hati-hati hingga Zahwa bisa duduk dengan nyaman."Yuk, kita temui si kecil," bisik Devan.Didampingi Debby dan Irfan yang mengekor di belakang, Devan mendorong kursi roda menyusuri koridor rumah sakit menuju lorong khusus ruang perawatan intensif bayi.Pintu ruangan terbuka secara otomatis. Suasana di dalam ruangan itu steril, didominasi bunyi peralatan medis.Devan menghentikan kursi roda tepat di samping sebuah inkubator kaca. Di dalamnya, terbaring seorang bayi mungil bers
Debby dan Irfan seketika saling berpandangan, menyadari raut tegang di wajah Devan. Devan menarik napas panjang, mengelus pipi Zahwa, lalu menatap manik mata istrinya."Sayang... anak kita Alhamdulillah baik-baik aja. Dia sangat kuat, persis kayak Mamanya."Zahwa menghela napas lega. "Tapi... kenapa dia nggak ada di sini, Mas?""Waktu proses operasi tadi, asma kamu kan sempat kambuh dan kadar oksigen kamu drop. Hal itu memengaruhi pernapasan si Kecil pas dia masih di dalam kandungan. Begitu lahir, napasnya belum stabil, Sayang."Mata Zahwa seketika membelalak, bulir air mata langsung menetes membasahi pipinya. "Mas... maksudmu...""Sekarang si Kecil lagi dirawat di ruang NICU. Dokter spesialis anak langsung pasang bantuan alat pernapasan khusus buat bantu paru-parunya berkembang dengan sempurna. Dokter bilang ini tindakan terbaik supaya kondisinya cepat stabil."Isakan kecil seketika lolos dari bibir Zahwa. Rasa bersalah mendadak menghimpit dadanya. "Ini... ini gara-gara asmaku y
Panik seketika menguasai Devan. Tanpa membuang waktu, ia langsung memapah Zahwa keluar kamar.Bik Kokom yang melihat hal itu segera menghampiri Devan."Ada apa, Pak Devan? Bu Zahwa kenapa?""Tolong bantu saya, Bik. Kayaknya Zahwa mau lahiran ini."Bik Kokom ikut panik mendengarnya. "Terus saya bantuin apa, Pak?""Tolong bantu bawakan tas persalinan yang ada di atas meja ke dalam mobil, Bik. Nanti tolong kasih tahu Mbok Minah kalau udah pulang dari rumah Ares buat nyusul kami ke rumah sakit."Bik Kokom mengangguk dan bergegas masuk ke kamar, mengambil tas persalinan yang sudah disiapkan oleh Zahwa jauh-jauh hari. Kemudian ia membawanya ke dalam mobil, dimana Devan sudah membawa Zahwa masuk."Bik, jaga rumah, ya. Doakan semoga persalinan Zahwa nanti lancar," kata Devan."Aamiin. Bibik doakan semoga ibu dan adek bayinya sehat dan lengkap." Bik Kokom sambil mengelus perut Zahwa sebentar sebelum menutup pintu mobil.Zahwa yang sudah merasa sangat kesakitan tidak bisa merespons apa-apa.Dev
Zahwa menoleh. Jantungnya mencelos. Itu adalah Alex.Alex berjalan mendekat dengan raut wajah terkejut sekaligus bingung. "Kenapa kamu ada di sini? Jangan bilang kamu menguntit Devan lagi? Kamu kira Devan ada di sini? Astaga, Devan masih di luar kota sama Valerie."Resepsionis tadi langsung menund
Setelah pertemuannya dengan Kinara, Zahwa pulang dan kembali masuk kamar. Ucapan Kinara di kafe tadi terus terngiang-ngiang dalam benaknya sepanjang perjalanan pulang."...Apa kamu mau menghabiskan sisa umurmu hanya untuk menjadi bayangan pria yang mencintai wanita lain?"Zahwa tak tahu akan keman
Darah Zahwa seolah mendidih membaca kalimat itu. Ia tahu kalimat itu adalah sindiran tajam untuk status pernikahannya.Zahwa meremas ponselnya. Rasa panas menjalar dari dada hingga ke wajahnya. Penghinaan yang terjadi secara terus-menerus ini terasa begitu tidak adil.Memangnya ia suka dipaksa masu
Zahwa merasakan dadanya sesak. Ia meremas flashdisk di tangannya hingga pinggirannya yang tajam melukai telapak tangannya.Valerie yang sejak tadi diam, menyesap minumannya lalu menyandarkan kepala di sandaran sofa dengan anggun. "Sudahlah, jangan bahas itu. Aku nggak keberatan, kok. Bagiku, berad







