공유

23

작가: Harucchi
last update 게시일: 2026-10-31 17:18:38

“Pulang. Sekarang, atau aku akan meninggalkanmu di sini.” Julian menatap Alana geram. “Elsa melukai pergelangan tangannya sendiri. Pelayannya bilang dia kehilangan banyak darah karena aku terus mengabaikannya demi menuruti kencan konyolmu ini!”

Alana terdiam. Tubuhnya menegang. Ia tahu persis ini adalah taktik tipuan Elsa yang mulai panik karena kehilangan perhatian Julian.

Namun, Alana hanya menatap kosong wajah berang suaminya. Tanpa air mata kecewa atau bibir yang bergetar memohon.

“Kalau be
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Ketika Aku Pergi Nanti   25

    Julian berlari menuruni tangga rumah sakit dengan langkah panik. Di balik jas, kaos alpukat kuningnya sudah basah oleh keringat. Sementara sebelah tangannya tak henti menempelkan ponsel ke telinga. Ia barusan menghubungi pelayan di mansion. Tapi mereka bilang, Alana belum kembali.“Angkat teleponnya, Alana ….”Setelah sampai di lobi, Julian menghampiri mobilnya yang sudah menunggu di depan. Begitu pintu dibukakan, Julian masuk ke kursi penumpang sambil tanpa henti menyambungkan teleponnya ke nomor Alana.Ia sudah mengirim pesan ke nomor Alana, bertanya apakah istrinya itu masih berada di kedai mie milik Pamannya. Namun, pesannya tidak juga dijawab. Selama dalam perjalanan, tak hentinya Julian menghubungi Alana. Satu kali. Lima kali. Sepuluh kali. Panggilannya tetap tak dijawab.Ia teringat dengan kalimat bodohnya tadi sebelum pergi.‘Pastikan kau tidak merengek meminta supir yang kugaji dengan uangku untuk menjemputmu nanti!’Dan sekarang, melihat dirinya sendiri yang bergerak menc

  • Ketika Aku Pergi Nanti   24

    Julian terperangah. “A-apa maksudnya? Bagaimana bisa sayatan yang dangkal mengeluarkan darah sebanyak itu?”Dokter itu mengangguk. “Tuan Ashford, anda sudah bisa menemui langsung Nona Elsa. Dan saya bisa pastikan bahwa Nona Elsa baik-baik saja,” ucap Dokter itu sebelum kemudian pamit.Sepeninggal dokter, Julian mematung. Demi segera menyelamatkan Elsa, ia baru saja membatalkan beberapa meeting penting hari ini, meminta supirnya mengemudi melewati batas kecepatan aman, melanggar dua lampu merah, juga ….Meninggalkan istrinya sendirian di rumah keluarganya yang sudah lama tak pernah ia temui.‘Pergilah padanya, Julian. Aku masih ingin berada di sini. Kau bebas meninggalkanku.’Dan ia justru menjawab dengan kalimat paling bodoh.‘Pastikan kau tidak merengek meminta supir yang kugaji dengan uangku untuk menjemputmu nanti!’Julian mengepalkan tangannya erat. Sesuatu terasa menghantam dadanya hingga sesak.***Di antara suara deras hujan yang menghantam atap mobil, Adrian memindai area pert

  • Ketika Aku Pergi Nanti   23

    “Pulang. Sekarang, atau aku akan meninggalkanmu di sini.” Julian menatap Alana geram. “Elsa melukai pergelangan tangannya sendiri. Pelayannya bilang dia kehilangan banyak darah karena aku terus mengabaikannya demi menuruti kencan konyolmu ini!”Alana terdiam. Tubuhnya menegang. Ia tahu persis ini adalah taktik tipuan Elsa yang mulai panik karena kehilangan perhatian Julian.Namun, Alana hanya menatap kosong wajah berang suaminya. Tanpa air mata kecewa atau bibir yang bergetar memohon.“Kalau begitu, tinggalkan saja aku.”Mendengar jawaban tenang Alana, Julian mengernyit tak menyangka. “Kau bilang apa?”Alana menatap lurus ke dalam mata Julian dengan sorot paling dingin yang ia miliki. “Pergilah padanya, Julian. Aku masih ingin berada di sini. Kau bebas meninggalkanku.”Urat di leher Julian tampak menonjol. Ketidakpedulian Alana menampar keras egonya. “Baik,” bisiknya geram. “Pastikan kau tidak merengek meminta supir yang kugaji dengan uangku untuk menjemputmu nanti!”Mendengar kalima

  • Ketika Aku Pergi Nanti   22

    Keringat dingin membulir di dahi Alana. Wanita itu memaksakan diri menahan napas dan memejamkan mata. Ia tidak ingin sampai muntah di sini.Melihat wajah Alana yang mendadak pucat, Julian yang baru saja hendak menyuap makanannya langsung menghentikan gerakan.Pria itu memperhatikan Alana yang menekap mulut dengan sumpit menggantung di udara.Tanpa banyak bicara, Julian menarik mangkuk Alana hingga bergeser tepat ke hadapannya.“Julian?” Alana berbisik sambil menatap suaminya dengan sisa napas terengah.“Kau sudah terlalu banyak makan jajanan berminyak tadi. Perutmu pasti kaget,” potong Julian datar, suaranya sengaja dikeraskan sedikit agar terdengar wajar.Di luar dugaan Alana, Julian yang sangat anti dengan makanan pinggir jalan, kini mulai menyantap mie itu dengan tenang.Samuel yang memperhatikan pemandangan itu terkekeh pelan, lalu melangkah menghampiri meja mereka.“Wah, Tuan Ashford sepertinya sangat lapar. Atau masakan Paman yang terlalu enak sampai porsi istrimu direbut begitu

  • Ketika Aku Pergi Nanti   21

    Alana terpaku. Pandangannya perlahan berembun. Tangannya meremas tali tas yang diapitnya.Di dalam kedai itu, seorang pria bertubuh tambun mengenakan celemek kumal, kaos longgar dan kulit berkeringat karena uap panas yang mengelilinginya. Ia tampak bersenda gurau dengan seorang pemuda yang juga mengenakan celemek pudar.Lalu, datang seorang wanita paruh baya yang dengan penuh perhatian melap keringat di pelipis pria itu. Wanita itu juga menaruh dua gelas minuman dingin di meja sekitar mereka.Di tengah situasi kedai yang sedang tidak ada pengunjung itu, ketiganya lalu tertawa bersama. “Bukankah itu ….” suara Julian tak selesai karena Alana kini menghambur masuk ke dalam kedai.Dengan rahang bergetar, Alana menghentikan langkah tepat di pintu masuk kedai. Sebuah memori masa lalu berputar dalam kepala. Ia mendengar suara pecahan botol kaca, lalu suara bentakan Richard Sinclair—Ayah Alana yang biasanya bahkan tak pernah berteriak.“Keluar! Kau bukan lagi bagian dari Sinclair sejak nega

  • Ketika Aku Pergi Nanti   20

    Julian menyoret kasar dua poin yang baru mereka lewati hari ini; memakai kaos pasangan yang dibeli di toko pakaian pinggir jalan dan berbagi satu porsi jajanan pinggir jalan.Pria itu menghela napas pelan selagi menghentikan langkah di depan pintu masuk sebuah pusat perbelanjaan sederhana yang bahkan tidak menggunakan AC.“Nomor delapan, membeli jepit rambut di toko aksesori sederhana, dan membiarkan suami memakaikannya.” Julian membaca halaman yang baru ia buka, lalu menatap Alana dengan dahi mengerut.“Di sini tempatnya?” tanyanya.Alana mengangguk. “Aku ingat aku pernah ke sini satu kali.”Iya. Waktu itu, Alana yang masih berseragam sekolah menemani temannya yang bernama Clara membeli jepit rambut. Namun, suasana itu berubah ketika Ben—pacar Clara datang dan secara instan mengubah status kehadiran Alana menjadi roda ketiga.Mereka sungguh mesra hingga membuat Alana berharap suatu saat bisa memiliki hubungan sehangat itu dengan pasangannya.Alana menunduk sambil tersenyum getir. Sad

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status