Share

Ancaman

Author: Nyctophilia.
last update publish date: 2026-06-01 14:43:26

Deg!

Satu kelas membeku. Wajah Kathryn langsung pucat. Navya sendiri bahkan tidak bisa bernapas dengan benar, ia tidak mengerti.

Kenapa pria ini melakukan semua itu? Jenson menarik kursi di sebelahnya lalu duduk santai, tatapannya masih tertuju pada Navya, seolah sedang mengamati sesuatu yang menarik atau mangsa baru.

Sementara Navya sendiri merasakan kalau dirinya sekarang mungkin dalam bahaya besar.

"Anda tidak ingin kembali? Aku ingin sendiri," tanya Navya pelan takut ada yang mendengar suaranya.

"Kau tidak senang aku duduk di sampingmu?"

"Bu-bukan begitu, aku hanya merasa nyaman sendiri."

"Kalau tidak suka duduk di sampingku, keluar saja dari Kelas Nirmala," ucapnya datar seraya menatap lurus ke depan. "Tapi sekali keluar jangan pernah berharap bisa kembali."

Bel masuk kelas berbunyi.

Suara sepatu high heels berbunyi keras di lorong sunyi lantai tiga, semua murid Kelas Nirmala terdiam dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.

Navya yang tidak mengerti dengan situasi di sekitarnya, memutuskan untuk ikut diam dan mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tas.

Miss Vina masuk ke dalam Kelas Nirmala, tatapan tajam matanya mengarah ke Navya. "Siapa namamu?"

"Navya Anindya," jawab Navya pelan menundukkan kepalanya.

Miss Vina menganggukkan kepalanya, dan memberi isyarat lewat telunjuknya agar Navya duduk kembali.

Pelajaran di Kelas Nirmala dimulai dengan tenang, semua murid memperhatikan apa yang dijelaskan Miss Vina, tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap ke arah lain.

Bel istirahat berbunyi.

Suara ketukan di pintu membuat Navya menoleh, ia tersenyum saat melihat Hazel teman barunya berdiri di depan pintu sambil tersenyum.

"Ngapain, ayo ke kantin," ajak Hazel.

Navya menganggukkan kepalanya lalu berjalan keluar kelas bersama Hazel. Saat sampai di kantin semua mata menatap tidak suka kedatangan Navya, Hazel menggenggam erat tangan Navya berusaha meyakinkan gadis itu bahwa dia akan tetap berada di samping Navya.

"Ayo pergi, jangan pedulikan tatapan mereka." Hazel menarik tangan Navya dan membawanya pergi untuk mengambil nampan jatah makan siang mereka.

Jenson menarik kursi di sebelah Navya hingga berbunyi nyaring. "Pindah!"

Navya menggenggam sendoknya erat. "Aku ingin makan bersama temanku."

Tatapan Jenson berubah dingin. "Kau sedang menolak perintahku?"

"A-aku tidak bermaksud-"

"Navya pergilah, aku tidak apa-apa di sini sendiri."

"Tapi Hazel-"

"Pergilah!"

Navya terpaksa mengangkat nampannya dan mengikuti Jenson yang sudah berjalan duluan di depannya, gadis itu melirik sekitar dan mendapatkan semua murid berbisik-bisik sambil menatap tidak suka ke arahnya.

"Duduk!" Jenson menggeser kursi dan menyuruh Navya duduk di sebelahnya.

Kathryn, tunangan Jenson menggebrak meja dengan kuat dan bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan kantin. Ketiga temannya berinisiatif untuk mengikuti Kathryn tapi terhalang dengan suara dingin Jenson.

"Pergi kalian, kupastikan hidup kalian tidak tenang sampai akhir hayat kalian!"

Grisella Natasha dan Wilona terdiam, terpaksa mendudukkan kembali tubuh mereka di atas kursi. Grisella mengepalkan tangannya kuat dan menatap sinis Navya lewat ekor matanya, ia bersumpah akan menyingkirkan Navya bagaimanapun caranya.

Bel masuk kembali berbunyi.

Navya melangkahkan kakinya menuju kelas, perasaannya gelisah seperti sesuatu yang buruk sedang menunggunya di balik pintu kayu yang berdiri tegak mewah di ujung lorong yang sunyi.

Navya mendorong pintu kelasnya pelan lalu masuk ke dalam kelas, ia melangkahkan kakinya menuju kursi duduknya, matanya menyipit saat melihat ada cairan berwarna putih yang menyebar di kursi tempat duduknya, ia ingin menyentuh cairan itu tapi terhalang ketika mendengar langkah kaki Miss Vina masuk ke dalam kelas.

"Apa yang kamu lakukan, kenapa masih berdiri?" tanya Miss Vina melirik kursi Navya. Ia jelas melihat cairan putih itu, tapi ia tetap berkata dingin. "Duduk!"

Navya menghembuskan napasnya kasar dan mendudukkan dirinya di atas kursi, ia berdoa semoga cairan putih itu bukan sesuatu yang akan membuatnya rugi.

Miss Vina menjelaskan pelajaran Bahasa Perancis yang membuat Navya terdiam, ia tidak tahu kalau di kelas ini ternyata memiliki pelajaran bahasa luar negara, ia pikir pelajarannya hanya sedikit berbeda dengan pelajaran kelas lain tapi ini bukan sedikit dan ini di luar ekspektasinya.

Bel pulang sekolah berbunyi.

Satu persatu murid keluar dari kelas, Navya berdiri dari duduknya dan suara sobekan terdengar pelan. Navya langsung membeku, tawa kecil terdengar dari seisi kelas.

Kathryn dan teman-temannya datang mendekati Navya, gadis itu bertanya dengan lembut. "Ada apa, tidak bisa berdiri?"

"Apa kamu yang melakukannya?"

"Tentu saja, ini balasan karena lo berani mencuri perhatian tunangan gue, dan gue pastikan gak bakal ada yang nyelamatin lo hari ini. Mati lo jalang!"

"Bangsat, aku tidak pernah merebut siapa pun!"

Kathryn terkejut mendengar bentakan Navya, ia menatap pucat gadis di depannya. "Lo bahkan gak tahu apa yang sedang mendekati lo."

Navya terdiam dan menangis melihat nasibnya sekarang, ia bingung harus melakukan apa, berteriak percuma lorong ini hanya didatangi murid Kelas Nirmala dan Miss Vina. Menelpon meminta bantuan juga percuma, ia bahkan tidak membawa ponsel ke sekolah.

Navya mencoba berjalan pelan menuju pintu sambil membawa kursi yang masih menempel erat di rok sekolahnya, saat sampai di depan pintu Navya menarik engsel pintu dan terkejut mendapati pintunya terkunci.

Navya mencoba dengan menggedor pintu sekuat yang ia bisa agar ada seseorang di bawah sana yang mendengar ketukannya, tapi sia-sia ketukannya terasa hampa seperti tidak ada yang mendengar.

"Navya kamu baik-baik saja?" Suara Hazel terdengar keras dari balik pintu, gadis itu berusaha membuka pintu tapi percuma karena pintu itu telah sepenuhnya terkunci.

"Aku baik-baik saja Hazel, tapi apa pintunya tidak bisa dibuka?"

"Maaf Na aku tidak bisa, hanya murid Kelas Nirmala dan Miss Vina yang punya kuncinya."

"Baiklah tidak apa-apa, tapi kamu kenapa masih ada di sekolah?"

"Aku nunggu kamu, tapi kamu gak keluar juga jadi aku putuskan untuk naik, dan dugaanku benar mereka menyakitimu."

"Aku takut, apa aku bisa keluar?"

"Pasti, tapi kalau tidak bisa kamu jangan takut aku ada dibalik pintu menemani kamu."

Rian menepuk pelan kepalanya saat mengingat ia meninggalkan ponselnya di bawah meja kelas, pria itu kembali memutar setir mobilnya menuju sekolah.

Saat sampai di sekolah ia langsung berlari menuju lantai tiga, matanya melotot kaget melihat seorang gadis duduk di depan pintu kelasnya.

"Apa yang kamu lakukan?" tanya Rian sedikit membentak Hazel.

Hazel menegakkan tubuhnya dan menundukkan kepalanya meminta maaf, gadis itu menunjuk kelas dan berujar, "Tolong selamatkan temanku kak, dia terjebak di dalam."

Rian membuka pintu menggunakan kartu yang dimiliki murid Kelas Nirmala, dan matanya melotot melihat keadaan Navya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Tumbal

    Chris mengagetkan Navya dari belakang dengan cara menepuk bahunya, ia tertawa melihat ekspresi terkejut Navya. "Ayo lagi ngapain, nungguin prince ya?" goda Chris sambil menaik turunkan alisnya. "Mana ada, aku gak nungguin dia ya," jawab Navya memukul pelan lengan Chris. "Kalian gak masuk kelas? Nanti kena hukum kalau terlambat," tanya Rian dari arah belakang Chris dan Navya. Chris melihat sekitar Rian, tapi tidak menemukan keberadaan dia sahabatnya, ia menatap Rian dan bertanya, "Di mana Marvin dan prince?" "Mereka masih di tangga, bentar lagi naik," jawab Rian merangkul pundak Navya dan menyeret gadis itu masuk ke dalam Kelas Nirmala. Bel pulang sekolah berbunyi. Navya menutup buku catatannya setelah selesai mencatat semua materi yang diberikan Miss Vina, ia menatap sekitarnya tapi tidak menemukan siapapun. Navya merasakan dingin tiba-tiba yang membuat bulu kuduknya berdiri, ia buru-buru memasukkan semua barangnya ke dalam tas lalu keluar dari kelas. Saat d

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Peringatan

    "Bersik goblok, bisa diam gak sih?" Natasha menatap tajam Grisella, menendang kursi gadis itu agar ia duduk kembali di kursinya. "Sakit bangsat!" Grisella mengelus pelan lututnya yang terkena tendangan kursi dari Natasha, lalu mendudukkan kembali tubuhnya di kursi. Jenson Rian Marvin dan Chris masuk ke dalam kelas, mereka langsung memasang wajah datar saat melihat kondisi Kathryn dan teman-temannya sudah membaik, mereka tahu apa yang dilakukan para gadis itu hingga bisa kembali pulih. Kathryn bangkit dari duduknya dan menghampiri Jenson, gadis itu memasang wajah imutnya dan bertanya dengan nada lembut. "Kamu baik kan sayang? Maaf aku tidak mengurusmu selama dua minggu kemarin, tapi aku janji aku akan mulai mengurusmu lagi." "Kapan kamu keluar dari rumah sakit?" tanya Jenson dengan nada datar, menatap lurus tepat ke arah Kathryn. "2 hari yang lalu, kenapa?" tanya Kathryn menatao curiga Jenson. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu kapan kamu sembuh." "Nanti siang ke ka

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Sembuh

    Pertanyaan Navya berhasil membungkam Veer, pria itu tidak tahu mau menjawab apa, karena permasalahan keluarga Jenson tidak ada yang boleh tahu dan ia sudah berjanji. "Berapa hasil poinmu melawan temanmu?" tanya Veer mengalihkan pembicaraan. "5 2 kata Miss Vina." "Baiklah, poin yang bagus." "Kamu mengalihkan pembicaraan?" tanya Navya menatap curiga wajah Veer yang tampak ketakutan di depannya. Veer menghembuskan napasnya kasar dan menganggukkan kepalanya. "Maaf Na, aku tidak berhak mengatakannya, mungkin orang lain yang bisa menjelaskan." Navya diam dan membiarkan Veer melanjutkan pekerjaannya, Navya tahu Veer berhutang budi kepada Jenson itu sebabnya ia tidak mungkin memberitahu kebenarannya. Jenna tersentak dari tidurnya saat mendengar suara ketukan di pintu, ia membuka pintu kamarnya dan suara Navya terdengar dari balik pintu. "Jenna ini kakak, bukan pintunya kakak ngantuk." Jenna melirik jam, jam baru menunjukkan pukul 22.00 malam, tapi bagaimana bisa kakakny

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Ucapan selamat

    Saat sampai di depan ruang Miss Vina, pintu itu terbuka dari dalam, Navya masuk dengan menundukkan kepalanya, ia melihat Miss Vina duduk di sofa sambil melipat kakinya dan menatap tajam kertas di depannya. Miss Vina membuka suara, bertanya tanpa menatap murid di depannya. "5 2 , bagaimana bisa, apa yang kamu lakukan sampai bisa mengalahkan murid yang menjadi perwakilan sekolah tahun lalu?" Navya diam, bingung mau menjawab apa, ia pun juga bingung dan tidak tahu bagaimana caranya ia bisa meraih poin sebanyak itu, padahal ia sudah berusaha melesetkan semuanya dari target, tapi entah bagaimana peluru itu selalu bisa kembali tepat pada sasarannya. Melihat Navya yang hanya diam, Miss Vina berbicara memperingatkan Navya atas posisi dia yang sebenarnya. "Kamu tahu, kamu masuk ke sekolah ini bukan karena keberuntungan yang kamu miliki, tapi karena kamu terpilih untuk menjadi target selanjutnya, dia sudah mengincarmu sejak lama dan pertandingan kali ini kamu menang itu bukan karena usa

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Hasil tidak diharapkan

    Navya membalas pelukan adiknya, ia mengelus lembut rambut panjang Jenna dan bertanya, "Kenapa baru pulang, kamu dari mana?" "Dia dari sekolah kita," jawab Chris turun dari mobilnya, lalu mendekati Navya dan Jenna. Navya yang terkejut mendengar jawaban Chris langsung menatap tajam Jenna dan bertanya, "Sekolah, ngapain?" Mendengar suara Navya yang berubah dingin dan cara menatapnya tajam, membuat Jenna ketakutan, ia menundukkan kepalanya sambil meremas kuat jari-jarinya, lalu menjawab pelan. "Maaf kakak." Navya menghembuskan napasnya kasar, lalu melihat Chris dan berujar, "Terima kasih karena telah membantu adikku." "Sama-sama, kalau gitu aku pulang dulu, Jenna kakak pulang ya." Chris tersenyum melihat Jenna yang menganggukkan kepalanya sambil menunduk, gadis itu belum mau mengangkat kepalanya karena masih takut dengan aura Navya yang berubah jadi dingin. Setelah Chris pergi Navya menatap adiknya yang masih menunduk, gadis itu melangkahkan kakinya pergi masuk ke dalam ruma

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Jenna Chris

    Jenson datang dari belakang Navya, ia berdiri di samping gadis itu melindungi tubuh Navya dari tatapan Lorenzo, ia merapatkan tubuhnya dan berbisik pelan di telinga Navya. "Fokus dengan targetmu." Navya menganggukkan kepalanya, ia membiarkan tubuh Jenson menutupi tubuhnya dari samping, para siswa dan siswi yang melihat kedekatan intim tubuh Navya dan Jenson langsung membicarakannya, bahkan ada yang memfotonya untuk dijadikan bahan gosip dengan teman sekelasnya. Navya sadar dan ia tahu bahwa semua siswa dan siswi yang ada di akademi menembak sedang membicarakan mereka, ia merasa risih dengan perkataan murid yang berada di dekatnya, ia berbisik pelan bertanya, "Bagaimana apa dia sudah pergi?" "Sudah," jawab Jenson tapi tidak melepaskan tangannya dari pinggang Navya. Navya mencoba melepaskan tangan besar Jenson dari pinggangnya, tapi ia tidak kuat tangan itu terlalu besar dan kekar, Navya menatap memelas ke arah Jenson. "Aku mohon lepaskan tanganmu, mereka memperhatikan kita."

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Lorenzo

    "Siapa yang melakukannya?" tanya Wylona sembari membantu ketiga temannya membersihkan mata dan wajah mereka dari air kemiri. "Ya jelas perempuan itu bodoh! Siapa lagi kalau bukan dia?" bentak Kathryn menjawab pertanyaan Wylona. "Ya masalahnya gadis siapa yang lo maksud Ryn?" "Navya Wylona k

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Taruhan

    "Turun!" Jenson menghentikan mobilnya di depan gang gelap menuju rumah Navya, gadis itu mengernyit bingung saat tahu Jenson berhenti di depan gang rumahnya. "Dari mana kau tahu ini gang rumahku?" tanya Navya menatap tajam Jenson. Jenson membalas balik tatapan Navya yang berhasil membuat jantu

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Dia

    "Hazel, kenapa memanggilku?" tanya Navya setelah membuka pintu kamar mandi. "Aku, memanggilmu. Siapa yang mengatakannya?" Hazel mencuci tangannya lalu mendekati Navya yang berada di depan pintu " Kathryn." Jawaban Navya berhasil membuat Hazel terdiam. "Sial! Dia membohongimu Na." "Baiklah

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Rumah mangsa

    Tok Tok Tok. Suara ketukan di pintu terdengar. Miss Vina menjawab dari dalam. "Masuk!" "Bibi," panggil Kathryn sambil tersenyum. "Kathryn, kemarilah!" Miss Vina menutup berkas-berkas yang sedang ditandatanganinya lalu menyuruh Kathryn untuk duduk di sampingnya. Kathryn menutup pintu di b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status