Teilen

Bab 11 Samudra dan Langit

last update Zuletzt aktualisiert: 09.02.2026 11:39:16

Cinta berjalan setengah berlari menyusuri koridor, meninggalkan botol air mineralnya yang masih bergetar di tempat sampah terdekat.

Ia tidak peduli lagi soal haus. Ia hanya ingin menjauh dari mata biru yang mengintip dari balik air tadi.

“Eehh... Gue ke perpus dulu, Ra. Jangan cari gue!” serunya tanpa menoleh.

Rara, yang baru saja membeli cilok di depan koridor, hanya bisa melongo dengan mulut penuh.

“Wooii! Katanya mau makan seblak ke kantin? Takut ya lo sama gosip pelet? Sok artis lo Cin...
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 38 Desis Yang Aneh

    “Boleh gue masuk, Cinta?”Suara itu lembut, tapi entah kenapa bulu kuduk Cinta meremang. Vanessa berdiri di ambang pintu sendirian. Tidak ada geng The Snakes yang biasanya mengekor di belakangnya. Dia hanya mengenakan dress kasual mahal, namun auranya sangat mendominasi ruangan sempit itu.Cinta membeku di tepi kasur. Bau anyir yang tadi sempat memudar kini kembali menusuk, kali ini lebih tajam dan lembap, seolah ada sesuatu yang basah baru saja merayap masuk.“Eh, Vanessa? Ngapain lo ke sini? Tumben tumbenan kan main ke kosan rakyat jelata.. ” celetuk Rara tanpa dosa. Dia masih asyik menyeruput kuah seblaknya, sama sekali tidak merasakan ketegangan yang membuat Cinta nyaris berhenti bernapas.Vanessa tersenyum tipis, matanya yang kuning kecokelatan melirik Rara sekilas sebelum kembali menatap Cinta. “Gue.. cuma mau balikin ini. Kemarin Lo jatuhin di koridor fakultas, kan?”Vanessa melangkah masuk. Gerakannya sangat luwes, seolah-olah sendi-sendinya terbuat dari karet. Ia meletakka

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 37 Mata Kodok

    “Cin? Lo masih idup kan? Ini gue udah bawa amunisi... seblak ceker sama masker timun buat mata kodok lo!”Gedoran pintu Rara yang brutal itu seolah-olah menghantam gendang telinga Cinta yang masih berdenyut. Cinta mengerang, mencoba membuka kelopak matanya yang terasa seberat beton. Benar kata Rara semalam, matanya benar-benar bengkak, merah, dan nyaris tidak bisa terbuka... persis kodok sawah yang habis kena lindas ban motor.Cinta meraba-raba bawah bantalnya. Kertas itu masih di sana. Kertas yang semalam membuatnya tidak bisa tidur tenang karena takut isinya adalah ancaman dari Samudra atau kutukan bayangan Arden.“Bentar, Ra! Gue lagi ngumpulin nyawa!” teriak Cinta dengan suara serak.Cinta duduk di tepi kasur, memegang kertas putih yang terlipat rapi itu dengan tangan gemetar. Ini dia, pikirnya. Dengan jantung yang berpacu liar, Cinta membuka lipatan kertas itu perlahan. Ia memicingkan mata kodoknya, berusaha fokus membaca tulisan di dalamnya.[NOTA TOKO MEKAR JAYA]1 set Lace B

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 36 Sisa Sisa Kepercayaan

    “Persetan sama kalian semua! Gue benci kalian! Pergi dari hidup gue!”Cinta tidak menoleh lagi. Dia tidak peduli jika Samudra membekukan aspal di belakangnya atau jika Arden menelan cahaya lampu jalan dengan bayangannya yang merayap. Dia berbalik dan lari sekuat tenaga. Kakinya yang gemetar dipaksa menghantam aspal jalanan yang sunyi. Napasnya tersengal, dadanya sesak seolah ada batu besar yang menghimpit ulu hatinya. Air mata yang sejak tadi ditahannya mulai luruh, membasahi pipinya yang panas karena amarah dan rasa malu yang bercampur jadi satu.Dia terus berlari menembus kabut tipis malam, mengabaikan teriakan atau panggilan apa pun yang mungkin menyusul di belakangnya. Yang dia tahu, dia harus sampai ke kosan. Dia harus sembunyi. Dia harus hilang dari pandangan dua monster yang baru saja menghancurkan hatinya.BRAKKK!Cinta membanting pintu kamarnya hingga debu dari langit-langit berjatuhan. Dengan tangan gemetar, dia memutar kunci dua kali, lalu merosot di balik pintu kayu yan

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 35 Bulan Purnama

    “Jangan keluar malem ini ya, Cin. Perasaan Mbak nggak enak, bulannya lagi bulat sempurna, nggak bagus buat anak gadis yang pikirannya lagi kosong.”Cinta yang baru saja hendak mencangklong tas selempangnya terhenti di depan pintu gerbang kosan. Ia menoleh ke arah Mbak Ayu, ibu kos mereka yang sering dianggap punya indra keenam karena hobi banget ngoleksi bunga melati di teras.“Cuma sebentar kok, Mbak. Perut saya udah demo dari tadi, butuh asupan seblak level lima buat nenangin saraf yang habis kena teror,” sahut Cinta sambil nyengir, mencoba menutupi kegundahan hatinya soal Arden.Mbak Ayu menatap Cinta dengan tatapan dalam, matanya terpaku pada leher Cinta yang entah kenapa terlihat lebih putih dari biasanya di bawah lampu teras. “Bulannya beda, Cin. Malam ini bulan purnamanya lapar. Kamu jangan sampai jadi santapannya.”"Sama dong, Mbak! Nanti saya bungkusin seblak juga buat Mbak sama bulannya, biar bulannya nggak berani macem macem!” seru Cinta sambil melangkah keluar gerbang, m

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 34 Luka Yang Menari

    “Cinta.. Sini bergabung dengan semesta yang puitis ini! Kenapa muka lo ditekuk kayak cucian nggak kering gitu?”Suara Gilang memecah lamunan Cinta yang baru saja mendarat dengan lemas di rumput taman belakang kampus.Gilang, si anak indie garis keras, sedang sibuk nyetem gitar bolongnya, sementara di sampingnya ada Rian yang lagi asyik niup asap rokok sambil baca buku puisi yang judulnya 'Luka yang Menari'.“Semesta lagi nggak ramah sama gue, Lang. Semesta gue isinya orang-orang aneh di hidup gue,” sahut Cinta lemas. Ia menyandarkan kepalanya ke batang pohon mahoni yang besar, mencoba mencari sedikit ketenangan setelah huru-hara di gedung BEM tadi.“Hidup itu emang ribet kalau lo cari maknanya pakai logika, Cin. Coba pakai rasa,” celetuk Rian tanpa menoleh, gayanya sok filsuf. “Mau kopi nggak? Biar pahitnya hidup lo kalah sama pahitnya biji kopi pilihan ini. Gue seduh pake air mata kegelisahan.”“Lebay deh Lo.. Nggak usah, makasih. Hari gue udah cukup pahit gara-gara denger berita be

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 33 Buta Rasa

    “Dasar cowok aneh! Dateng nggak diundang, pulang nggak dianter, udah kayak jelangkung!”Cinta membanting pintu kamarnya setelah punggung tegap Samudra hilang di kegelapan lorong kosan. Ia berjalan mondar-mandir di atas karpet tipisnya, tangannya masih gemetar karena emosi campur baper yang nggak jelas juntrungannya.Ia berhenti di depan Kerang dan Mutiara yang masih duduk manis di lantai. “Heh, lo berdua denger nggak tadi? Dia bilang nilainya nggak bisa dituker sama seblak! Emang seblak salah apa coba? Seblak itu pahlawan perut gue pas lagi bokek, tau! Mending makan seblak daripada makan ati gara-gara dia!”Cinta mendengus, lalu menunjuk kotak biru misterius di sudut. “Dan lo, Kotak Biru! Jangan diem aja. Si Samudra itu beneran pasang alat sadap ya? Kok dia tau gue mau jual kalian? Jangan-jangan di dalem kerang ini ada microchipnya?”Tik!Lampu kamar berkedip lagi, kali ini lebih lama, seolah-olah si lampu lagi capek dengerin curhatan Cinta yang nggak kelar-kelar.“Udah, nggak usah

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status