LOGINKhaelia menyewa perawat paruh waktu untuk membantu mengawasi sang mama selama dirinya tidak ada. Beralasan harus ke luar kota untuk bertugas, ia berani membayar sedikit mahal. Berdiri di depan cermin dalam keadaan telanjang dalam kamar kosnya yang sempit, Khaelia mencoba pakaian satu per satu. Dimulai dengan G-string merah, lalu sepatu hak tinggi dengan stoking mencapai pangkal paha. Ada mawar dari kain satin di ujung stoking. Ia memakai dengan sedikit kesulitan dan saat selesai, menatap baya
Dalam hati Carter memaki Corrado yang sengaja memancing masalah. Ia tahu kalau Khaelia pasti resah sekarang, seandainya bisa sudah pasti pindah meja dan memilih untuk menjauh. Sayangnya ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Khaelia harus tetap di sini, selalu di sampingnya dan tidak ke mana-mana.Beberapa kali tanpa sengaja ia mendengar bisikan dari para laki-laki di ruangan ini. Mereka mempunyai ketertarikan khusus pada Khaelia dengan beragam alasan. Selain beranggapan kalau bisa mendekati Khaelia berarti bisa mengorek informasi soal Capital Group, mereka juga memuja serta memuji tubuh serta wajah sekretarisnya. Banyak orang beranggapan kalau Khaelia terlalu cantik dan molek untuk jadi sekretaris. Pikiran kotor juga tercetus dari benak mereka, membuat Carter marah dan kesal. Karena itulah ia ingin menjaga sekretarisnya agar tidak didekati para laki-laki hidung belang itu.“Alasan pribadi, aku tidak bisa menjelaskan padamu karena menyangkut keluargaku.”
Pertemuan berlangsung selama lima jam tanpa henti. Membahas beragam masalah dari mulai inflasi, pengaruh daya beli masyarakat pada pelaku usaha, peraturan baru pemerintah, dan membuat perjanjian khusus untuk saling membantu. Selama pertemuan berlangsung, Khaelia mencatat semua hal yang dirasa penting dengan cermat, begitu pula para sekretaris lain. Para pimpinan mengelilingi meja, duduk di bagian depan. Sedangkan sekretaris berada di meja belakang.Setelah lima jam, pertemuan diakhiri dengan makan malam bersama. Kali ini para peserta berpindah ke ruang samping, yang merupakan tempat khusus untuk bersantap. Ada sepuluh meja bundar dikelilingi sepuluh kursi. Khaelia sudah memosisikan diri bersama para sekretaris lain saat Carter memanggil.“Duduk di sini, memangnya kamu mau membiarkan Emima sendiri? Lihat, mukanya mencebik dari tadi.”Emima meleletkan lidah. “Tahu aja kamu kalau aku bosan. Kepalaku sedikit sakit karena membahas masalah bisnis. Di
Sofia memainkan nada-nada dari tuts piano, jemarinya bergerak cepat dengan tubuh berayun. Di sampingnya seorang laki-laki muda mengangguk-anggukkan kepala mengikuti irama yang muncul dari permainan Sofia. Alunan nada, musik yang tercipta dengan indah, serta kemegahan melodi menghanyutkan keduanya. Seakan ingin mencurahkan perasaannya yang pedih dengan cinta tak berbalas pada suaminya, membuat Sofia bermain sepenuh hati. Tuts piano adalah penghibur sekaligus penyembuh untuknya. Jiwanya terasa hanyut dalam ketidakpastian serta terjerat kebodohan yang meluluhlantakkan kewarasan.Keseriusan membuat konsentrasi terkumpul hingga tidak menyadari sebuah kendaraan memasuki halaman. Satu ketukan terakhir dari nada membuat si laki-laki muda memberikan applause yang panjang dan nyaring.“Luar biasa, Nyonya. Kemajuan Anda pesat sekali.”Sofia bangkit dari kursi, tersenyum pada laki-laki muda di depannya. Bernama Adito, laki-laki berumur pertengahan dua p
Pertentangan dan persaingan dua perempuan itu terlihat sangat jelas. Sama-sama cantik, kaya raya, dan berbakat, keduanya adalah aset dari kota ini. Banyak laki-laki sekarang ini merasa iri dengan Carter karena berada di antara dua perempuan cantik serta hebat. Mereka menginginkan hal yang sama, kalau tidak bisa mendapatkan Joice yang secantik dewi dengan ayah yang berkuasa, dekat dengan Karenia juga hal yang sangat membanggakan. Dengan tubuh sexy dan wajah menawan, Karenia adalah dambaan laki-laki di kota ini. Semua pandangan tertuju pada mereka dan berharap ada drama cinta segitiga yang seru.“Karenia, kenapa terlambat? Apa kamu tahu kalau keberhasilan dari para pebisnis adalah sikap mereka yang selalu tepat waktu?”Teguran Joice dijawab dengan senyum kecil oleh Karenia. Bersedekap dengan kedua tangan berada di dada, wajahnya yang cantik terlihat bercahaya karena lampu yang terang benderang.“Sorry, ada beberapa masalah di ka
Joice tidak menyukainya, itu hal pertama yang terbersit di otak Khaelia saat mengamati bagaimana pasangan di depannya bicara. Joice selalu berupaya mengajak Carter bicara dan memperkenalkan pada banyak orang. Tidak segan menunjukkan pada semua yang hadir kalau dirinya mempunyai hubungan akrab dengan Carter.“Carter sangat menyukai benda-benda seni, dan karenanya kami akrab satu sama lain.”“Kalian memang pasangan yang serasi.”Bisikan dari Corrado yang ditiupkan ke telinga membuat bulu kuduk Khaelia meremang.“Khaelia, apa kamu setuju kalau Carter dan Joice serasi?”Khaelia menelan ludah. “Tuan, itu bukan sesuatu yang bisa saya komentari.”“Kenapa? Padahal dengan sekali lihat akan muncul jawabannya.”“Karena bukan bagian dari tugas saya untuk berkomentar.”“Khaelia, kamu ini terlalu sopan.”Corrado meninggalkan Khaelia saat beberapa orang
Carter melepaskan pelukan Joice dengan lembut, tidak menanggapi perkataannya tentang perjodohan. Tidak perlu juga terlibat provokasi, mereka di sini untuk bisnis. Sejujurnya ia heran kenapa Joice bersikap begini, tidak biasanya menggembos-gemborkan tentang perjodohan. Apa yang sebenarnya terjadi? Ada banyak orang di sekitar mereka, menatap dengan penuh ingin tahu dan Carter memutuskan untuk bersikap baik demi menjaga sopan santun. Tentu akan mempermalukan Joice kalau menolak secara terang-terangan, karena itu sekarang ia memilih untuk mengalah. Hanya kali ini saja, tidak ada kesempatan kedua.Para pegawai Joice membungkuk, memberi hormat pada Carter. “Selamat datang, Tuan Carter Solitare.”Carter mengangguk kecil. “Terima kasih.”“Ayo, masuk. Semua orang sudah di dalam, termasuk sepupumu.”Joice tersenyum, menggandeng lengan Carter dengan sudut mata melirik ke arah Khaelia. Merasa senang karena Carter tidak menolak sent
Laki-laki muda dan tampan itu bernama Carter June Solitaire. Tidak banyak yang tahu kalau ia adalah anak kedua dari keluarga Solitaire yang merupakan pemilik saham terbanyak sekaligus pimpinan di Capital Group. Carter yang berambut sehitam arang dan bermata tajam, saat ini sedang memandang seorang
Khaelia bergegas mengikuti Bosman menuju lift. Sedikit lega karena bossnya ternyata tidak setua bayangannya. Lobi dalam keadaan masih cukup ramai, ia menduga mereka adalah para pekerja yang sedang lembur. Tanpa sadar Khaelia mengamati Bosman diam-diam dan menyadari kalau kulit laki-laki itu cenderu
Warning : Adult roman story 21+Nama kota itu adalah Devil Town, tidak ada yang tahu bagaimana asal muasal nama itu diberikan. Kota iblis yang bagi banyak penduduknya memang perpaduan surga bagi orang kaya dan neraka bagi mereka yang tiak punya apa-apa.Devil Town merupakan kota besar dengan gedung
Khelia sedang melintasi lobi yang hari ini cukup ramai saat ponselnya bergetar. Ada notifikasi yang tidak dikenalnya dan ternyata pemberitahuan uang masuk. Ia terbelalak karena tidak menyangka gajinya akan sebesar ini. Hampir lima kali lipat dari gaji di perusahaan terdahulu. Ia sudah tahu gajinya







