MasukWarning : Adult roman 21+
Khaelia berdiri gemetaran dengan tubuh telanjang di depan Carter yang mengamatinya penuh minat. Pertama kalinya terjadi dalam hidup, ia menelanjangi diri sendiri dan berdiri dengan berani di depan seorang laki-laki. Berapa lama mereka saling mengenal? Hanya beberapa Minggu saja dan selama ini memang sering bersentuhan serta berciuman, tapi tidak pernah menyangka akan seperti ini. Melakukan sex tanpa cinta hanya demi kepuasan belaka.
Khaelia men
Eiwa menghela napas lega mendengar lanjutan cerita Khaelia. “Begitu ternyata, kalian pulang sebelum pagi. Carter tidur di mana karena di malam itu dia tertidur nyenyak dan pulang saat pagi menjelang. Hal yang tidak lumrah untuk Carter.”Khaelia menelan ludah, menggigit bibir dengan bingung. Apakah setiap hal yang dilakukan Carter harus diketahui semua orang? Untungnya Khaelia diselamatkan Carter dalam keharusan menjawab.Para laki-laki mendekat, pelayan memberikan minuman segar dan dingin. Eiwa mengusap keringat suaminya, tempatnya semula diduduki Clovis. Sofia juga menghampiri suaminya, sedangkan Carter berpamitan ke kamar kecil.“Aku heran kamu masih hidup,” gumam Clovis dengan suara rendah. “Jarang sekali seorang gadis bisa keluar dari sini dalam keadaan segar bugar setelah bicara dengan mamaku.”“Apa kamu menyumpahiku?” ucap Khaelia dengan geram. “Sayangnya doamu nggak terkabul, Tuan Clovis. Apa ka
Kaspia menatap Carter, mempertimbangkan usulnya dan di luar dugaan mengangguk. “Tentu saja, rumah bukan sesuatu yang sulit. Aku sepakat membelikan rumah untuk Khaelia kalau memang dia bisa menolong Celila.”Carlo memprotes, Sofia menatap lekat-lekat. Eiwa dan Carter memberi selamat, sedangkan Clovis tetap tidak peduli. Reaksi berbeda-beda diterima oleh Khaelia. Untungnya makan malam berakhir, meski begitu ia diharuskan tetap tinggal untuk acara selanjutnya. Semua orang berganti tempat ke halaman belakang. Mereka berencana untuk sedikit olahraga. Tadinya Khaelia mengira olahraga yang dimaksud mereka adalah berjalan keliling taman, tapi ternyata salah. Semua orang ingin bermain golf di halaman belakang.Carter, Carlo, Kaspia, dan Clovis memegang stik masing-masing, beberapa pelayan mengikuti mereka untuk membawa bola serta peralatan lain. Lampu tambahan dinyalakan membuat halaman menjadi terang benderang. Eiwa mengajak Sofia dan Khaelia duduk di ruang santai
“Dokter mengatakan kalau kamu cocok menjadi donor Celila dan anaknya, aku harap kamu mau membantu mereka.” Eiwa membuka serbet dan meletakkannya di atas pangkuan, begitu pula yang lainnya.Khaelia mengikuti mereka, membuka serbet dan tersenyum pada Eiwa. “Nyonya, saya siap dan dengan senang hati membantu.”“Kalau anak dan cucuku selamat dengan darahmu, keluarga Solitare akan memberikan semua yang kamu inginkan!” Kaspia berucap dengan suara tegas. “Kami bukan orang yang tidak tahu terima kasih. Jangan salah, aku masih merasa kalau latar belakangmu tidak cocok menjadi sekretaris Carter, tapi untuk kesembuhan Celila, aku bisa terima apa pun itu.”Beberapa pelayan datang menghidangkan sup untuk makanan pembuka. Seketika aroma wangi dari kaldu bercampur krim semerbak di udara, semua orang mengambil sendok dan mulai mencicipi. Khaelia menyendok perlahan dan menikmati rasa lezat di lidahnya. Meski begitu tetap saja tidak
Seorang pemuda yang terlihat lugu, penyendiri, dan selalu giat belajar, siapa sangka punya kehidupan yang berbeda saat ada di luar rumah. Khaelia tidak peduli apa pun yang dilakukan Clovis di luar sana karena memang bukan urusannya. Menghargai rahasia pemuda itu, dan tanpa diminta pun akan menyimpannya. Bagaimanapun Clovis pernah membantunya, dan dirinya yang mengerti balas budi harus membalas kebaikan itu.Pandangannya bertemu dengan Clovis. Permohonan yang diucapkan dalam diam membuatnya mengerti.“Halo, Clovis,” sapa Khaelia ramah.Clovis mengangguk, merapikan letak kacamatanya. “Hai, kamu sekretaris yang punya golongan darah sama dengan Kak Celila?”“Iya, benar. Hari ini aku datang karena itu.”Kali ini Clovis menatap Carter dengan pandangan bertanya-tanya. Ada kekhawatiran di suaranya yang bergetar. “Ada apa lagi? Bukannya dokter bilang keadaannya sudah stabil? Tadi pagi aku tengok baik-baik saja.”Carter memasukkan tangan ke dalam saku
Suatu malam, Khaelia yang tidak ingin bertemu dengan pegawai yang merupakan asisten para manajer, berencana masuk ke lobi dengan sembunyi-sembunyi. Ia meminta tolong pada penjaga pintu untuk menyelundupkannya dari pintu samping. Sialnya malah bertemu dengan tiga perempuan dari bagian pemasaran. Khaelia mengerang dalam hati, mengibaratkan diri keluar dari kandang singa, masuk ke kandang buaya. Ia sedang tidak ingin menerima masalah dan entah kenapa selalu ada hal yang salah setiap kali bertemu dengan tiga perempuan ini.“Eh, kamuuu. Kita ketemu lagi. Masih ingat kami?”Tentu saja Khaelia mengingat mereka, Wika, Riana, dan Lita. Kali ini ia hanya tersenyum kecil.“Kamu mau ke atas, kan?” tanya Wika.“Iya, jam kerja udah dimulai,” jawab Khaelia.“Kamu bantu kami nggak?” Kali ini Riana yang bertanya. “Waktu itu aku pernah minta tolong sama kamu untuk mempromosikan kami pada Pak Bosman. Bagaimana? Ka
Tiba di ruangan, Khaelia menghela napas lega. Membuka komputer, menyalakan mesin espresso, dan mulai membalas email. Ia tersenyum membaca pesan dari Emima yang lucu. Menyenangkan punya seseorang untuk diajak bicara.“Khaelia, breaking news. Buruan buka laman gosip!” Ernest muncul di sela percakapannya dengan Emima. “Jangan sampai kena serangan jantung!”Khaelia yang penasaran membuka laman berita yang dimaksudkan Ernest dan terbelalak. Ada banyak sekali foto-fotonya bersama Carter di sana. Sebagian besar foto itu menampilkan saat dirinya sedang bersama Carter di pantai. Semakin banyak yang dilihatnya, semakin gemetar tubuh Khaelia.“Bagaimana ini? Tuan Carter pasti marah kalau lihat,” Khaelia membalas perkataan Ernest.“Nggak usah takut, sebentar lagi foto-foto itu akan hilang. Aku jamin itu. Paling bertahan sepuluh menit saja. Pihak pengacara sekarang pasti sedang bernegosiasi. Ngomong-
Khelia sedang melintasi lobi yang hari ini cukup ramai saat ponselnya bergetar. Ada notifikasi yang tidak dikenalnya dan ternyata pemberitahuan uang masuk. Ia terbelalak karena tidak menyangka gajinya akan sebesar ini. Hampir lima kali lipat dari gaji di perusahaan terdahulu. Ia sudah tahu gajinya
Carter mendesah, merasakan hasrat menyerbunya hanya karena teringat Khaelia. Ia harus menyingkirkan semua pikiran buruk kalau ingin Khaelia betah di tempatnya bekerja. Ia kehilangan sekretaris lamanya karena laki-laki muda itu tidak kuat bergadang terus menerus, berganti lagi dengan perempuan dan h
Dalam benak Khaelia sedang sibuk memikirkan pekerjaan di kantor dan tidak peduli dengan perkataan sepupunya. Sudah biasa Mila selalu menentang pendapatnya, seakan menjadi sepupu paling peduli padahal tidak peduli.“Temen-temenku yang sarjana semua kerja di kantor besar. Saat weekend pada ngumpul di
Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah satu bulan Khaelia bekerja dengan Carter. Setiap hari melalui rutinitas yang sama. Membuat kopi, menyusun berkas, melakukan penjadwalan, dan setiap pukul 12 malam keduanya beristirahat 30 menit. Sesekali Carter memanggil pelayan untuk membawa cemila







