Se connecterWarning : Adult roman 21+
Khaelia berdiri gemetaran dengan tubuh telanjang di depan Carter yang mengamatinya penuh minat. Pertama kalinya terjadi dalam hidup, ia menelanjangi diri sendiri dan berdiri dengan berani di depan seorang laki-laki. Berapa lama mereka saling mengenal? Hanya beberapa Minggu saja dan selama ini memang sering bersentuhan serta berciuman, tapi tidak pernah menyangka akan seperti ini. Melakukan sex tanpa cinta hanya demi kepuasan belaka.
Khaelia men
Saat ini pandangan seluruh keluarga Solitare tertuju padanya.“Kenapa diam, Khaelia. Apakah yang aku katakan benar adanya? Bicara saja yang jujur sebelum masalah terlanjur melebar. Benar kamu bekerja sama dengan Corrado untuk mencurangi Carter, bukan?” desak Karenia dengan senyum penuh ejekan. “Ayo, jujur saja!”Khaelia menggeleng, ingin membantah keras tapi bibirnya seakan terkunci. Foto-foto itu juga menunjukkan dirinya berpelukan dengan Corrado. Sekilas terlihat seperti sepasang kekasih bermesraan, padahal aslinya tidak begitu. Namun, siapa yang akan percaya dengan penyangkalannya? Foto menunjukkan bukti yang sebaliknya. Ia dan Corrado bertemu, berpelukan, dan berada di ruang VIP hanya berdua. Tidak heran kalau semua orang berpikiran buruk padanya. Carter yang biasanya selalu membela, kali ini diam seribu bahasa seolah menunggu penjelasannya. Khaelia mencengkeram jari, sakit hati bukan karena foto-foto ini tapi karena wajah kaku Carter.
Jawaban itu tidak memuaskan bagi Corrado. Menginginkan sesuatu yang pasti, Corrado terus mendesak dan membuat Khaelia kesulitan. Tanpa sadar, ia menyesap anggur di tangan. Ia tidak mengerti apa yang diinginkan laki-laki ini dengan terus bertanya soal Carter. Apakah benar hanya penasaran atau ada niat lain? Khaelia sibuk bertanya-tanya, dan Corrado seolah tidak peduli dengan kegelisahannya.“Aku senang tentu saja kalau kamu dan Carter tidak menjalin hubungan. Untuk kamu tahu, kami berdua adalah teman sekaligus sahabat. Aku menghargainya, Khaelia. Melihat bagaimana Carter memperlakukanmu dengan baik membuatku bertanya-tanya ada apa dengan kalian. Aku pernah bertanya pada Carter tentang hubungan kalian dan dia menjawab kalau hubungan sebatas pekerjaan. Ternyata dia tidak berbohong, kamu pun mengatakan hal yang sama. Sungguh aku beruntung.”Khaelia tidak tahu apa maksudnya beruntung. Tentang hubungannya dengan Carter memang tidak ada apa-apa. Mereka bersentuhan
Khaelia melirik sepupunya dan tanpa banyak berpikir menyetujui ajakan Corrado. “Baiklah, tolong berikan alamatnya. Saya ke sana sekarang.”“Tidak usah. Kamu share lock saja. Biar sopirku yang menjemput.”“Percayalah, sopirku ada di mana-mana. Aku yakin yang paling dekat denganmu pun ada. Ayo, aku tunggu lokasimu.”Mau tidak mau Khaelia memberikan lokasinya pada Corrado. Ia bersiap menunggu jemputan paling tidak satu jam, dan selama itu pula ia harus meladeni obrolan Mila yang tidak berguna. Ternyata dugaannya salah. Corrado membalas pesannya dan mengatakan sopir akan tiba dalam lima belas menit. Ia tidak percaya membacanya.“Memangnya sopirnya ada di mana? Jangan-jangan memesan taksi untukku,” gumam Khaelia sedikit bingung.“Heh, mau ke mana kamu?” hardik Mila.Khaelia mengangkat bahu. “Kerja.”“Kamu pikir aku bodoh? Ini hari libur!”&l
Khaelia kabur dari kontrakan gara-gara Mila yang datang mendadak. Sepupunya itu menggedor pintu hingga nyaris membuat pemilik kontrakan marah. Ia bergegas keluar untuk menemui sepupunya.“Keluar juga kau! Sok penting sampai diajak ngomong aja susah!” bentak Mila.Memunggungi Mila, Khaelia mengunci pintu dengan dua gembok untuk jaga-jaga kalau ada yang mendobrak. Niatnya untuk beristirahat setelah beberapa hari kerja tanpa henti pun musnah. Ia berpikir untuk menginap di hotel terdekat agar bisa tidur dengan nyaman. Hal itu akan terjadi jika ia bisa mengusir Mila. Sepupunya ini memang kurang ajar sekali. Setelah tahu dirinya punya penghasilan bagus dengan limit kartu kredit yang cukup tinggi, Mila menjadi semakin berani untuk meminta.“Hei, jangan pura-pura budek!”Khaelia memutuskan untuk keluar dari gang, padahal tidak ada tujuan ke mana pun. Sekarang yang ada di pikirannya hanyalah lolos dari sepupunya yang mengesalkan ini. Dulu M
Keluarga Solitare berkumpul untuk menyambut kepulangan Celila dari luar negeri. Khaelia ada di antara mereka, bersama Karenia serta seluruh keluarga Emima. Saat Celila muncul dengan senyum terkembang di bibirnya yang pucat, semua orang menangis bahagia. Akhirnya, Celila sadar juga. Yang paling emosional adalah Eiwa dan Kaspia. Sebagai orang tua, keduanya sangat bahagia dan lega karena anak perempuan satu-satunya sudah pulih kembali.Celila berbaring di ranjang roda, didorong oleh dua perawat dan dijaga oleh dokter. Bayinya juga cukup sehat untuk digendong. Karena perjalanan jauh, orang-orang hanya diperbolehkan menggendong sang bayi tidak lebih dari dua menit. Si bayi kemudian dibawa pengasuhnya ke kamar atas.“Mama senang melihatmu, Sayang.” Eiwa mengecup pipi anaknya yang pucat, tetapi binar mata penuh kehidupan itu telah kembali. “Mama tidak menyangka hari ini akan tiba.”“Iya, Mama. Aku senang bisa sehat kembali,” Celila m
Pertunjukan orchestra yang diadakan di sebuah balai berjalan dengan meriah. Malam ini Sofia benar-benar gembira. Sudah lama ia tidak menonton musik yang membuat semangat dan gairahnya meningkat.Kehidupan sehari-harinya cukup membosankan dengan bekerja di kantor, mengurus rumah, dan berusaha mendapatkan cinta serta perhatian dari suaminya yang selalu bersikap dingin. Berbeda dengan Carlo, Adito memperlakukannya dengan baik dan penuh perhatian. Selesai menonton, keduanya memutuskan untuk makan. Kali ini Sofia mengikuti saran Adito untuk makan di sebuah kafe kecil yang menyediakan piza serta pasta.“Maaf, cuma bisa traktir makanan murah,” ucap Adito merasa tidak enak hati.Pemilik restoran menyuguhkan secara langsung pesanan mereka berupa salad, piza loyang sedang, dan spageti.“Waah, ini enak sekali.” Sofia mengambil satu potong piza dan mencicipinya. “Benar-benar piza rumahan yang lezat. Aku menyukainya, Adito.&rdquo
Setelah puas melihat-lihat, ia memutuskan untuk minum teh. Dengan malu-malu duduk di sofa sementara Carter merokok di sudut dekat gazebo. Menyesap tehnya, Khaelia diam-diam menatap profil atasannya. Carter yang ketampanannya tidak seperti manusia pada normal ternyata mempunyai sikap yang ramah. Tid
Laki-laki muda dan tampan itu bernama Carter June Solitaire. Tidak banyak yang tahu kalau ia adalah anak kedua dari keluarga Solitaire yang merupakan pemilik saham terbanyak sekaligus pimpinan di Capital Group. Carter yang berambut sehitam arang dan bermata tajam, saat ini sedang memandang seorang
Khaelia bergegas mengikuti Bosman menuju lift. Sedikit lega karena bossnya ternyata tidak setua bayangannya. Lobi dalam keadaan masih cukup ramai, ia menduga mereka adalah para pekerja yang sedang lembur. Tanpa sadar Khaelia mengamati Bosman diam-diam dan menyadari kalau kulit laki-laki itu cenderu
Warning : Adult roman story 21+Nama kota itu adalah Devil Town, tidak ada yang tahu bagaimana asal muasal nama itu diberikan. Kota iblis yang bagi banyak penduduknya memang perpaduan surga bagi orang kaya dan neraka bagi mereka yang tiak punya apa-apa.Devil Town merupakan kota besar dengan gedung







