เข้าสู่ระบบWarning : Adult roman 21+
Khaelia berdiri gemetaran dengan tubuh telanjang di depan Carter yang mengamatinya penuh minat. Pertama kalinya terjadi dalam hidup, ia menelanjangi diri sendiri dan berdiri dengan berani di depan seorang laki-laki. Berapa lama mereka saling mengenal? Hanya beberapa Minggu saja dan selama ini memang sering bersentuhan serta berciuman, tapi tidak pernah menyangka akan seperti ini. Melakukan sex tanpa cinta hanya demi kepuasan belaka.
Khaelia men
“Silakan duduk, mau pesan apa?”Joice menatap minuman Carter. “Sepertinya minumanmu enak.”“Memang, kamu mau ini?”“Tentu, aku ingin coba.”Carter memesan minuman yang sama, mulai menjawab pertanyaan basa-basi dari Joice. Bisa dikatakan kalau dirinya lebih banyak mendengar, bukan karena dirinya laki-laki yang pengertian, tapi memang tidak ingin berbagi rahasia apa pun dengan Joice.“Kenapa kamu diam saja? Apakah merasa bosan? Mau pindah ke bar?”Carter menggeleng. “Tidak, menurutku ceritamu menarik.” Berkilah dengan baik, ia melihat Joice tersenyum.“Beberapa waktu lalu sepupumu datang ke galeriku. Wajah kalian mirip ternyata, tidak heran kalau Emima juga sangat cantik. Dia datang bersama sekretarismu.”“Khaelia? Ke galerimu?” tanya Carter heran.Joice tersenyum kecil, memutar gelas di tangannya. “Aku juga kaget melihat
Sudah beberapa hari Carter bekerja sendirian karena Khaelia ke luar negeri mendampingi pengobatan Celila. Ia hanya mengantar dan setelah itu pulang lebih awal. Selama beberapa hari ini ia mengerjakan semua pekerjaan dibantu Bosman. Pematangan investasi baru selalu dilakukan hingga tiba di penghujung tahun dan seperti kebiasaan dari tahun ke tahun, selalu ada rencana untuk mengadakan pesta perusahaan untuk semua karyawan. Carter sudah membuat perhitungan kalau Khaelia akan tiba sehari sebelum pesta diadakan.Carter yakin kalau Khaelia ingin datang ke pesta pertamanya ini. Dari semenjak rencana terbentuk, Khaelia selalu bercerita dan bertanya dengan menggebu-gebu pada Carter, seberapa megah dan meriah biasanya pesta berlangsung. Sayangnya Carter tidak bisa memberikan jawaban pasti karena tidak pernah datang.“Aku menghindari keramaian, tidak terlalu suka berbaur dan berbasa-basi dengan banyak orang. Itulah kenapa banyak pegawai mengira pimpinan tertin
“Kalau begitu, kenapa harus ada pernikahan bisnis kalau ujungnya tidak ada cinta?”“Khaelia, dalam dunia kami pernikahan bisnis itu sudah lumrah. Seperti halnya Carlo dan Sofia, aku pun sama. Bulan depan harus ikut kencan buta.”“Kamu mau?”Emima mengangguk. “Harus dicoba setidaknya bertemu sekali. Kalau pun tidak cocok, tidak perlu dilanjut. Apa kamu tahu Carter juga dijodohkan? Anaknya menteri perdagangan, namanya Joice, dan sepertinya mereka sudah pernah bertemu.”Khaelia terdiam mendengar informasi yang baru saja terlontar dari bibir Emima. Siapa sangka kalau Carter ternyata sudah punya calon pendamping. Ia menunduk, menyesap minumannya dalam diam. Mencoba menenangkan dirinya yang menjadi tidak nyaman. Kegembiraan yang baru saja dirasakannya seolah menguap karena kabar soal Carter dan anak menteri perdagangan.“Pasti perempuan itu sangat cantik,” gumam Khaelia perlahan.“M
Khaelia memenuhi undangan Emima yang ingin mengajak mengobrol. Minggu malam, mereka bertemu di sebuah fancy restoran. Makan malam dengan nuansa nyaman dan cantik untuk para perempuan. Musik lembut mengalun di stereo dengan percakapan terdengar di berbagai sudut. Para pelayan dengan vest hitam mondar-mandir membawa nampan di tangan. Khaelia yang merasa tidak pernah punya teman akrab sebelumnya merasa senang dengan ajakan Emima. Mereka memesan es kopi dengan krim kental, spageti, serta kue yang cantik. Tadi pagi saat keluar dari rumah Carter, sejumlah uang masuk ke dalam rekeningnya dan membuat Khaelia tersentak kaget. Bagaimana tidak, jumlah uang yang masuk sangat banyak dan mengejutkannya.“Uang ini untuk apa, Tuan?” ia bertanya pada Carter saat tiba di rumah.“Uang jajan. Oh ya, mulai sekarang akan ada sopir yang mengantar jemput untuk bekerja. Kalau sewa rumahmu habis, jangan diperpanjang. Aku punya apartemen yang kosong di dekat k
“Kamu pasti kesakitan, maaf.”Permintaan maaf membuat Khaelia membuka mata. “Nggak perlu minta maaf, Tuan. Sesuai kesepakatan.”“Memang, tetap saja aku merasa bersalah.” Carter membuka tali di pergelangan tangan Khaelia. “Kamu diam saja, biar aku yang mengganti pakaianmu.”Menuruti apa kata Carter, Khaelia hanya berbaring pasrah saat tali dilepas dari pergelangan tangan. Dilanjutkan dengan G-string-nya yang sedikit rumit. Untungnya tali-tali yang membelit tubuh bukan jenis yang ketat, melainkan longgar dan lentur. Segera setelah Khaelia terbebas dari benda itu, Carter bangkit dari ranjang.“Tunggu di sini.”Khaelia berbaring miring karena punggungnya sedikit nyeri. Menatap Carter yang melangkah keluar. Ia hanya perlu bersabar sampai tubuhnya pulih kembali dari luka-luka. Tidak perlu melakukan apa pun. Memejam dan meresapi dingin yang membalut kulit, Khaelia mengutuk diri. Mengangg
Carter tidak tahu mulai kapan mempunyai perilaku begini, suka melihat beragam keindahan seks dan perempuan. Ia tidak mengatakan kalau dirinya menyukai BDSM, karena sejauh ini tidak terlalu ingin menyakiti Khaelia. Perasaan menggebu-gebu tentang bergulat dengan gairah dan sedikit rasa sakit, pikiran liar mengenai hasrat seksual yang melampaui imajinasi paling aneh sekalipun, dan juga bagaimana rasanya menguasai hidup dan jiwa seseorang melalui sentuhan. Dalam hal ini jiwa serta raga yang ingin dikuasainya adalah Khaelia. Seorang perempuan cantik dengan dada menggoda serta tubuh yang molek.Untuk standar dunia kecantikan, Khaelia bukan yang istimewa. Banyak perempuan di luar sana yang jauh lebih cantik dengan tubuh seksi, berpengalaman dengan seks, dan yakin mampu membuatnya puas. Namun, dari pertama bertemu hatinya sudah terpaut dengan Khaelia, terpikat dengan senyum yang santun, penampilan yang sopan, serta sikap yang blak-blakan tapi menggemaskan. Bersama Khaelia ia ingin me
Khelia sedang melintasi lobi yang hari ini cukup ramai saat ponselnya bergetar. Ada notifikasi yang tidak dikenalnya dan ternyata pemberitahuan uang masuk. Ia terbelalak karena tidak menyangka gajinya akan sebesar ini. Hampir lima kali lipat dari gaji di perusahaan terdahulu. Ia sudah tahu gajinya
Carter mendesah, merasakan hasrat menyerbunya hanya karena teringat Khaelia. Ia harus menyingkirkan semua pikiran buruk kalau ingin Khaelia betah di tempatnya bekerja. Ia kehilangan sekretaris lamanya karena laki-laki muda itu tidak kuat bergadang terus menerus, berganti lagi dengan perempuan dan h
Dalam benak Khaelia sedang sibuk memikirkan pekerjaan di kantor dan tidak peduli dengan perkataan sepupunya. Sudah biasa Mila selalu menentang pendapatnya, seakan menjadi sepupu paling peduli padahal tidak peduli.“Temen-temenku yang sarjana semua kerja di kantor besar. Saat weekend pada ngumpul di
Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah satu bulan Khaelia bekerja dengan Carter. Setiap hari melalui rutinitas yang sama. Membuat kopi, menyusun berkas, melakukan penjadwalan, dan setiap pukul 12 malam keduanya beristirahat 30 menit. Sesekali Carter memanggil pelayan untuk membawa cemila







