로그인Sekarang ini Carter bukan hanya merasa marah dan kesal tapi juga sangat geram. Karenia boleh saja beranggapan apa yang dilakukannya bukan hal buruk tapi bagi Carter sangat menganggu. Kalau tidak ingat hubungan mereka, ingin rasanya ia mendorong perempuan ini hingga terjengkang ke karpet.
Saat ia dilanda kemarahan yang memuncak, penyelamat datang dalam bentuk adik bungsunya. Clovis menuruni tangga setengah berlari, berdiri di hadapannya dengan sedikit terengah.
“Kak, Mama b
“Kenapa diam? Aku tebak kamu pernah memergoki sesuatu. Curiga dengan sikap istrimu tapi menutup mata, bukan?” Carter mengetukkan ujung rokok ke asbak dan abu berjatuhan mengotori permukaan meja. Ia mengisap dengan cepat, mematikannya lalu mengambil tisu untuk membersihkan permukaan meja. “Selama ini kamu abai dengan Sofia, kenapa marah saat tahu dia bersama laki-laki lain? Bukankah harusnya kamu senang?”“Carter, semua enggak semudah yang kamu pikirkan. Pernikahanku dengan Sofia bukan pernikahan biasa, tapi juga masalah bisnis.”“Aku tahu, dan perjanjian bisnis kita dengan keluarga Sofia bisa dikatakan berhasil. Kalau pun pernikahan kalian tidak berhasil, harusnya tidak masalah dan tidak akan mempengaruhi bisnis. Tidak akan ada yang menolak sebuah bisnis dengan laba yang besar. Benar enggak kataku?”Carlo menghela napas panjang lalu terbatuk karena tersedak asap. Carter menuang teh dari poci dan memberikan pada Car
Carter menatap kakaknya yang marah dengan heran. “Kamu datang tanpa memberitahu hanya untuk mencampuri urusanku?”“Cuih! Mana sudi aku mencampuri urusanmu? Tapi pelacur ini sudah ikut campur rumah tanggaku. Tanya sama dia, apa yang dikatakan pada Sofia? Dia mempengaruhi istriku sampai berselingkuh!”Kata-kata Carlo membuat Khaelia terkejut, menatap Carter dengan pandangan menyangka. “Tuan, saya enggak mungkin berbuat begitu. Mana mungkin saya berani mempengaruhi Nyonya Sofia?”“Halah! Terus saja kamu menyangkal. Sofia jelas-jelas mengatakan kalau semua yang dilakukannya sekarang karena nasihatmu! Apa katamu? Menyenangkan diri sendiri? Fokus pada kebahagiaan? Sekarang kamu mau tahu akibat dari nasihatmu itu? Istriku selingkuh! Dasar sekretaris miskin dan kurang ajar!”Khaelia merasa kakinya lemah dan tidak bertenaga, menatap Carlo yang mengamuk. Tidak pernah terbayang kalau dirinya akan dituduh melakukan sesu
Hari ini mereka datang ke kantor bersamaan, dengan begitu tidak ada pegawai yang berani mengganggu. Beberapa orang yang ingin bicara dengan Khaelia, menyingkir cepat saat melihat Carter. Bisik-bisik dan pandangan penuh ingin tahu tertuju pada keduanya. Kenapa seorang sekretaris bisa datang ke kantor menggunakan mobil yang sama dengan bos? Apakah mereka baru saja selesai rapat dan sengaja datang bersamaan? Tidak ada satu pun yang bisa menemukan jawabannya. Mereka melayangkan tatapan penuh rasa iri pada Khaelia yang berjalan di samping Carter.Berbeda dengan biasanya yang mulai bekerja di saat gelap, kali ini saat matahari masih terang keduanya sudah di kantor. Carter membuktikan omongannya yang ingin hidup secara normal bersama Khaelia. Belajar untuk tetap terjaga saat siang, dan istirahat kala malam. Mereka memasuki lift VIP dengan banyak mata mengawasi. Tiba di ruangan, yang dilakukan pertama kali oleh Carter adalah rapat pribadi dengan Bosman. Mendengar dan mencatat semua h
Sofia meraih rokok dan menyulutnya. Menatap Carlo yang marah dan berdiri sambil mengepalkan tangan di hadapannya.“Kenapa kamu marah?”Carlo mendesis keras. “Kamu masih tanya kenapa aku marah? Kamu gila, ya?”“Bukan gila, hanya bingung saja apa yang membuatmu marah.”“Brengsek! Laki-laki mana yang tidak marah saat mendapati istrinya sedang bermesraan dengan laki-laki lain. Aku yakin kalau aku tidak memergoki, pasti kalian sudah ada di tempat tidur, bukan?”“Apa pedulimu,” ucap Sofia cepat. Mengisap rokok dan meniupkan asapnya ke udara. “Memangnya kenapa kalau aku bersama laki-laki lain? Bukankah pernikahan kita membuatmu tertekan? Mustinya lebih bagus kalau aku berselingkuh, dengan begitu kamu punya alasan untuk menceraikanku.”“Sofia!”“Berhenti bersikap seakan kamu tersakiti, Carlo. Aku muak melihatnya!” Sofia bangkit dari kursi, berdiri menghadap jendela. Memunggungi Carlo yang berdiri dengan sejuta tanya dan kemarahan. Ia tidak pe
Carlo mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah kemacetan jalanan kota dengan amarah yang membakar dada. Hari ini adalah bencana besar bagi karirnya. Banyak negosiasi penting dalam pekerjaannya berujung gagal total. Investor mencabut penawaran, dan mitra bisnisnya membatalkan kesepakatan secara sepihak. Ia seharusnya bertahan di kantor hingga pukul tujuh malam untuk membereskan kekacauan itu, tetapi rasa frustrasi membawanya pulang lebih cepat. Ia sangat lelah dan hanya ingin merebahkan tubuh di ranjang, berharap dinginnya pendingin ruangan bisa sedikit mendinginkan otaknya yang mendidih.Di tengah lampu merah, Carlo mencengkeram kemudi erat-erat lalu merengkuh ponselnya. Layar menyala, menampilkan pesan singkat dari Karenia yang dikirim tadi pagi. Niatnya yang ingin mengajak perempuan itu makan malam romantis ditolak mentah-mentah tanpa alasan yang jelas. Kemarahan Carlo makin menjadi-jadi. Ia sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan Karenia. Kadang perempua
Mereka berbaring telanjang di atas ranjang besar, bercinta dengan sepenuh hati dan saling mengisi sepenuh jiwa. Khaelia mencintai Carter dan begitu pula sebaliknya. Apa pun yang akan terjadi, mereka akan hadapi bersama.“Bagaimana kalau orang tuamu tidak setuju dengan hubungan kita? Apakah Tuan akan bertahan?”Jemari Carter yang sedang menyusuri punggung Khaelia terhenti. Menatap tubuh telanjang yang tengkurap di hadapannya. Kulit putih, punggung mulus, dengan lekuk menggoda di bagian pinggang. Pinggul tidak terlalu besar tapi cukup berisi, dengan kaki jenjang dan dada yang membusung. Khaelia bertubuh sempurna, setidaknya di matanya. Untuk ukuran wajah, banyak yang lebih cantik tapi tidak ada yang lebih seksi dalam pandangan dan pikiran Carter. Hati dan pikirannya merasa bangga punya kekasih yang demikian hebat. Bukan hanya tubuh yang seksi, Khaelia juga punya otak yang encer. Segala hal dengan mudah dikuasai dan dipelajari. Tidak heran kalau Corrado juga tergila-gila, meskipun Carter
Laki-laki muda dan tampan itu bernama Carter June Solitaire. Tidak banyak yang tahu kalau ia adalah anak kedua dari keluarga Solitaire yang merupakan pemilik saham terbanyak sekaligus pimpinan di Capital Group. Carter yang berambut sehitam arang dan bermata tajam, saat ini sedang memandang seorang
Khaelia bergegas mengikuti Bosman menuju lift. Sedikit lega karena bossnya ternyata tidak setua bayangannya. Lobi dalam keadaan masih cukup ramai, ia menduga mereka adalah para pekerja yang sedang lembur. Tanpa sadar Khaelia mengamati Bosman diam-diam dan menyadari kalau kulit laki-laki itu cenderu
Warning : Adult roman story 21+Nama kota itu adalah Devil Town, tidak ada yang tahu bagaimana asal muasal nama itu diberikan. Kota iblis yang bagi banyak penduduknya memang perpaduan surga bagi orang kaya dan neraka bagi mereka yang tiak punya apa-apa.Devil Town merupakan kota besar dengan gedung
Khelia sedang melintasi lobi yang hari ini cukup ramai saat ponselnya bergetar. Ada notifikasi yang tidak dikenalnya dan ternyata pemberitahuan uang masuk. Ia terbelalak karena tidak menyangka gajinya akan sebesar ini. Hampir lima kali lipat dari gaji di perusahaan terdahulu. Ia sudah tahu gajinya







