แชร์

BAB 19

ผู้เขียน: LucioLucas
last update วันที่เผยแพร่: 2025-10-21 08:00:28

Sekarang ini Carter bukan hanya merasa marah dan kesal tapi juga sangat geram. Karenia boleh saja beranggapan apa yang dilakukannya bukan hal buruk tapi bagi Carter sangat menganggu. Kalau tidak ingat hubungan mereka, ingin rasanya ia mendorong perempuan ini hingga terjengkang ke karpet.

Saat ia dilanda kemarahan yang memuncak, penyelamat datang dalam bentuk adik bungsunya. Clovis menuruni tangga setengah berlari, berdiri di hadapannya dengan sedikit terengah.

“Kak, Mama b

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 106

    Setelah pertengkaran sengit mereka, Carlo memperhatikan istrinya menjadi lebih pendiam. Sofia tidak pernah menyapa, apalagi mengajaknya bicara. Bangun pagi, pergi bekerja, dan pulang saat waktunya tiba. Satu minggu berlalu dan sampai sekarang mereka masih enggan mengungkit masalah itu. Carlo masih bingung bagaimana mengatasi sikap istrinya. Di hari kedelapan, saat sarapan, Sofia yang biasanya hanya minum kopi kali ini ikut ke meja makan dan duduk di depannya.“Dokumen sudah aku siapkan. Kamu periksa lagi nanti saat senggang.”Carlo menatap map putih di hadapannya. “Dokumen apa?”“Perceraian,” jawab Sofia santai. Ia meminta kopi panas dari pelayan, membubuhkan sedikit gula, dan menyesapnya.Menatap tanpa menyentuh map itu, hati Carlo dibuat kalang kabut. Tetap berusaha tenang, ia mendorong piring berisi sosis dan telur yang masih tersisa, lalu mengelap bibir dengan serbet putih. Ia menghela napas panjang, mengamati Sofia

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 105

    Tiba di ruangan, Carlo sudah pergi. Meletakkan barang-barang yang dibeli ke dalam lemari es, Khaelia mencari keberadaan kekasihnya. Ia mendapati Carter berdiri di teras samping dengan rokok mengepul di sela bibir. Wajah tampan itu menyiratkan ketenangan yang menghanyutkan, tetapi Khaelia bisa melihat kegundahan yang tersembunyi di balik sikap tenangnya. Apa yang mereka bicarakan? Khaelia yakin bukan sekadar tentang Sofia.“Tuan, ini birnya.”Carter menoleh, menerima bir dingin dari Khaelia lalu menyesapnya. Ia duduk di sofa besar dan menepuk tempat kosong di sampingnya.“Duduklah, kita bicara sebentar sebelum lanjut bekerja. Paman dan sepupuku akan menelepon nanti tentang proyek baru. Kamu sudah siapkan semua?”Khaelia duduk di samping Carter, merapikan permukaan roknya. Setelah menerima gaji yang cukup besar dari Carter, ia mulai membenahi penampilan dengan membeli pakaian baru yang lebih modis, membuatnya tampil elegan serta angg

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 104

    Khaelia menyipit ke arah laki-laki muda dengan tingkat rasa percaya diri yang di luar nalar. “Aku enggak ada dendam apa pun denganmu. Malah enggak pernah ingat apa pun juga. Pergilah! Kamu menggangguku.”Yardan mengabaikan penolakan Khaelia, menatap tumpukan bir di meja dan beragam camilan. Ia tersenyum kecil dan melontarkan tatapan penuh iba pada Khaelia. Mendesah dalam hati karena perempuan yang pernah menjadi kekasihnya ternyata begitu putus asa.“Aku tahu hidupmu sulit setelah kita putus, Khaelia. Masih menjadi admin di gudang? Bagaimana kalau aku bantu kamu cari kerjaan lain?”“Nggak usah!”“Jangan menolak kebaikanku. Demi masa lalu harusnya kamu menurunkan ego dan rasa malu.”Khaelia menghela napas panjang, kekesalan kini menyumbat kepala dan membuat hatinya penuh amarah. Ia merapikan bungkus crackers, menyedot habis susu pisang, dan berniat untuk pergi.“Kamu mau ke mana? Tunggu, aku belum selesai bicara.”“Tidak ada l

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 103

    “Khaelia, kenapa kamu di sini?”Khaelia menatap Yardan, mantan kekasihnya yang mendadak muncul di hadapannya. Ia mendesah kasar. Di saat pikirannya sedang teramat kusut, justru ia harus bertemu dengan laki-laki yang paling tidak ingin ditemuinya seumur hidup. Tanpa rasa malu sedikit pun, Yardan menarik kursi plastik di seberang mejanya dan langsung duduk dengan senyum yang terkembang lebar, merasa kedatangannya sangat disambut.“Kasihan amat sendirian, aku temani ngobrol, ya?” tawar Yardan tanpa rasa dosa.“Nggak perlu, aku lebih suka sendiri,” tolak Khaelia dingin seraya memalingkan wajahnya.“Jangan begitu, bagaimanapun kita teman. Aku tahu kamu masih dendam padaku karena aku putuskan dulu. Rasa cinta yang besar bikin kamu marah, bukan? Aku paham itu, Khaelia. Tapi, waktu berlalu dan harusnya kamu sudah mulai melupakan itu semua,” ujar Yardan percaya diri.Khaelia memilih mengabaikannya. Tatapannya

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 102

    “Kenapa diam? Aku tebak kamu pernah memergoki sesuatu. Curiga dengan sikap istrimu tapi menutup mata, bukan?” Carter mengetukkan ujung rokok ke asbak dan abu berjatuhan mengotori permukaan meja. Ia mengisap dengan cepat, mematikannya lalu mengambil tisu untuk membersihkan permukaan meja. “Selama ini kamu abai dengan Sofia, kenapa marah saat tahu dia bersama laki-laki lain? Bukankah harusnya kamu senang?”“Carter, semua enggak semudah yang kamu pikirkan. Pernikahanku dengan Sofia bukan pernikahan biasa, tapi juga masalah bisnis.”“Aku tahu, dan perjanjian bisnis kita dengan keluarga Sofia bisa dikatakan berhasil. Kalau pun pernikahan kalian tidak berhasil, harusnya tidak masalah dan tidak akan mempengaruhi bisnis. Tidak akan ada yang menolak sebuah bisnis dengan laba yang besar. Benar enggak kataku?”Carlo menghela napas panjang lalu terbatuk karena tersedak asap. Carter menuang teh dari poci dan memberikan pada Car

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 101

    Carter menatap kakaknya yang marah dengan heran. “Kamu datang tanpa memberitahu hanya untuk mencampuri urusanku?”“Cuih! Mana sudi aku mencampuri urusanmu? Tapi pelacur ini sudah ikut campur rumah tanggaku. Tanya sama dia, apa yang dikatakan pada Sofia? Dia mempengaruhi istriku sampai berselingkuh!”Kata-kata Carlo membuat Khaelia terkejut, menatap Carter dengan pandangan menyangka. “Tuan, saya enggak mungkin berbuat begitu. Mana mungkin saya berani mempengaruhi Nyonya Sofia?”“Halah! Terus saja kamu menyangkal. Sofia jelas-jelas mengatakan kalau semua yang dilakukannya sekarang karena nasihatmu! Apa katamu? Menyenangkan diri sendiri? Fokus pada kebahagiaan? Sekarang kamu mau tahu akibat dari nasihatmu itu? Istriku selingkuh! Dasar sekretaris miskin dan kurang ajar!”Khaelia merasa kakinya lemah dan tidak bertenaga, menatap Carlo yang mengamuk. Tidak pernah terbayang kalau dirinya akan dituduh melakukan sesu

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 8

    Khelia sedang melintasi lobi yang hari ini cukup ramai saat ponselnya bergetar. Ada notifikasi yang tidak dikenalnya dan ternyata pemberitahuan uang masuk. Ia terbelalak karena tidak menyangka gajinya akan sebesar ini. Hampir lima kali lipat dari gaji di perusahaan terdahulu. Ia sudah tahu gajinya

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 7

    Carter mendesah, merasakan hasrat menyerbunya hanya karena teringat Khaelia. Ia harus menyingkirkan semua pikiran buruk kalau ingin Khaelia betah di tempatnya bekerja. Ia kehilangan sekretaris lamanya karena laki-laki muda itu tidak kuat bergadang terus menerus, berganti lagi dengan perempuan dan h

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 6

    Dalam benak Khaelia sedang sibuk memikirkan pekerjaan di kantor dan tidak peduli dengan perkataan sepupunya. Sudah biasa Mila selalu menentang pendapatnya, seakan menjadi sepupu paling peduli padahal tidak peduli.“Temen-temenku yang sarjana semua kerja di kantor besar. Saat weekend pada ngumpul di

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 5

    Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah satu bulan Khaelia bekerja dengan Carter. Setiap hari melalui rutinitas yang sama. Membuat kopi, menyusun berkas, melakukan penjadwalan, dan setiap pukul 12 malam keduanya beristirahat 30 menit. Sesekali Carter memanggil pelayan untuk membawa cemila

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status