ログインSekarang ini Carter bukan hanya merasa marah dan kesal tapi juga sangat geram. Karenia boleh saja beranggapan apa yang dilakukannya bukan hal buruk tapi bagi Carter sangat menganggu. Kalau tidak ingat hubungan mereka, ingin rasanya ia mendorong perempuan ini hingga terjengkang ke karpet.
Saat ia dilanda kemarahan yang memuncak, penyelamat datang dalam bentuk adik bungsunya. Clovis menuruni tangga setengah berlari, berdiri di hadapannya dengan sedikit terengah.
“Kak, Mama b
Karenia melepaskan cengkeramannya di dagu Khaelia. Ia bersedekap, menunjukkan kekesalannya pada Carter yang tiba-tiba sudah berada di sana.“Kenapa? Marah karena kami mengajak bicara sekretaris kesayanganmu?”Carter meraih lengan Khaelia dan menyampirkannya ke bahunya. “Khaelia, ayo bangun.”Khaelia menurut. Ia bangun dengan lengan melingkar di bahu Carter, sementara kepalanya berayun-ayun di udara. Tanpa ragu, meskipun ada dua perempuan di depannya, Carter melingkari pinggang Khaelia.“Aku pulang dulu. Selamat malam.”Carter tidak menunjukkan kemarahan atau emosi apa pun pada Karenia. Ia membawa Khaelia melewati pintu dan masuk ke mobil golf yang akan membawa mereka menaiki helipad.Karenia sangat tersinggung dengan sikap Carter, begitu pula Joice. Mereka tidak percaya kalau laki-laki yang dijodohkan dengan mereka lebih memilih perempuan lain daripada diri mereka. Keduanya mendesah bersamaan, lalu berpenc
Selesai pertemuan, Carter menolak ajakan Corrado untuk minum. Dengan dalih harus pulang karena ada hal mendesak, ia berniat mengajak Khaelia ke rumah pribadinya.Khaelia sedang mabuk karena selama acara makan tadi terus-menerus minum anggur yang disodorkan Emima. Keduanya mengobrol dengan suara lirih tentang Sofia, perhiasan, gaun, dan segala hal. Sambil mengobrol mereka terus minum, hingga tanpa sadar membuat keduanya mabuk.Emima digendong pulang oleh Ernest, sedangkan Khaelia masih cukup sadar untuk berjalan sendiri. Namun, tingkahnya mendapatkan kecaman bertubi-tubi dari Joice dan Karenia.“Bisa-bisanya seorang sekretaris mabuk?” Joice berucap bingung. “Keren amat dia.”“Carter, bagaimana kamu bisa sabar ngadepin sekretarismu itu? Kalau aku punya sekretaris macam dia, sudah aku pecat!” Karenia mencela, menatap Khaelia yang berjalan sempoyongan dengan kemarahan yang menyala di matanya. “Heih, perempuan miskin.
Dalam hati Carter memaki Corrado yang sengaja memancing masalah. Ia tahu kalau Khaelia pasti resah sekarang, seandainya bisa sudah pasti pindah meja dan memilih untuk menjauh. Sayangnya ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Khaelia harus tetap di sini, selalu di sampingnya dan tidak ke mana-mana.Beberapa kali tanpa sengaja ia mendengar bisikan dari para laki-laki di ruangan ini. Mereka mempunyai ketertarikan khusus pada Khaelia dengan beragam alasan. Selain beranggapan kalau bisa mendekati Khaelia berarti bisa mengorek informasi soal Capital Group, mereka juga memuja serta memuji tubuh serta wajah sekretarisnya. Banyak orang beranggapan kalau Khaelia terlalu cantik dan molek untuk jadi sekretaris. Pikiran kotor juga tercetus dari benak mereka, membuat Carter marah dan kesal. Karena itulah ia ingin menjaga sekretarisnya agar tidak didekati para laki-laki hidung belang itu.“Alasan pribadi, aku tidak bisa menjelaskan padamu karena menyangkut keluargaku.”
Pertemuan berlangsung selama lima jam tanpa henti. Membahas beragam masalah dari mulai inflasi, pengaruh daya beli masyarakat pada pelaku usaha, peraturan baru pemerintah, dan membuat perjanjian khusus untuk saling membantu. Selama pertemuan berlangsung, Khaelia mencatat semua hal yang dirasa penting dengan cermat, begitu pula para sekretaris lain. Para pimpinan mengelilingi meja, duduk di bagian depan. Sedangkan sekretaris berada di meja belakang.Setelah lima jam, pertemuan diakhiri dengan makan malam bersama. Kali ini para peserta berpindah ke ruang samping, yang merupakan tempat khusus untuk bersantap. Ada sepuluh meja bundar dikelilingi sepuluh kursi. Khaelia sudah memosisikan diri bersama para sekretaris lain saat Carter memanggil.“Duduk di sini, memangnya kamu mau membiarkan Emima sendiri? Lihat, mukanya mencebik dari tadi.”Emima meleletkan lidah. “Tahu aja kamu kalau aku bosan. Kepalaku sedikit sakit karena membahas masalah bisnis. Di
Sofia memainkan nada-nada dari tuts piano, jemarinya bergerak cepat dengan tubuh berayun. Di sampingnya seorang laki-laki muda mengangguk-anggukkan kepala mengikuti irama yang muncul dari permainan Sofia. Alunan nada, musik yang tercipta dengan indah, serta kemegahan melodi menghanyutkan keduanya. Seakan ingin mencurahkan perasaannya yang pedih dengan cinta tak berbalas pada suaminya, membuat Sofia bermain sepenuh hati. Tuts piano adalah penghibur sekaligus penyembuh untuknya. Jiwanya terasa hanyut dalam ketidakpastian serta terjerat kebodohan yang meluluhlantakkan kewarasan.Keseriusan membuat konsentrasi terkumpul hingga tidak menyadari sebuah kendaraan memasuki halaman. Satu ketukan terakhir dari nada membuat si laki-laki muda memberikan applause yang panjang dan nyaring.“Luar biasa, Nyonya. Kemajuan Anda pesat sekali.”Sofia bangkit dari kursi, tersenyum pada laki-laki muda di depannya. Bernama Adito, laki-laki berumur pertengahan dua p
Pertentangan dan persaingan dua perempuan itu terlihat sangat jelas. Sama-sama cantik, kaya raya, dan berbakat, keduanya adalah aset dari kota ini. Banyak laki-laki sekarang ini merasa iri dengan Carter karena berada di antara dua perempuan cantik serta hebat. Mereka menginginkan hal yang sama, kalau tidak bisa mendapatkan Joice yang secantik dewi dengan ayah yang berkuasa, dekat dengan Karenia juga hal yang sangat membanggakan. Dengan tubuh sexy dan wajah menawan, Karenia adalah dambaan laki-laki di kota ini. Semua pandangan tertuju pada mereka dan berharap ada drama cinta segitiga yang seru.“Karenia, kenapa terlambat? Apa kamu tahu kalau keberhasilan dari para pebisnis adalah sikap mereka yang selalu tepat waktu?”Teguran Joice dijawab dengan senyum kecil oleh Karenia. Bersedekap dengan kedua tangan berada di dada, wajahnya yang cantik terlihat bercahaya karena lampu yang terang benderang.“Sorry, ada beberapa masalah di ka
Setelah puas melihat-lihat, ia memutuskan untuk minum teh. Dengan malu-malu duduk di sofa sementara Carter merokok di sudut dekat gazebo. Menyesap tehnya, Khaelia diam-diam menatap profil atasannya. Carter yang ketampanannya tidak seperti manusia pada normal ternyata mempunyai sikap yang ramah. Tid
Carter mendesah, merasakan hasrat menyerbunya hanya karena teringat Khaelia. Ia harus menyingkirkan semua pikiran buruk kalau ingin Khaelia betah di tempatnya bekerja. Ia kehilangan sekretaris lamanya karena laki-laki muda itu tidak kuat bergadang terus menerus, berganti lagi dengan perempuan dan h
Dalam benak Khaelia sedang sibuk memikirkan pekerjaan di kantor dan tidak peduli dengan perkataan sepupunya. Sudah biasa Mila selalu menentang pendapatnya, seakan menjadi sepupu paling peduli padahal tidak peduli.“Temen-temenku yang sarjana semua kerja di kantor besar. Saat weekend pada ngumpul di
Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah satu bulan Khaelia bekerja dengan Carter. Setiap hari melalui rutinitas yang sama. Membuat kopi, menyusun berkas, melakukan penjadwalan, dan setiap pukul 12 malam keduanya beristirahat 30 menit. Sesekali Carter memanggil pelayan untuk membawa cemila







