LOGINSaat ini, ia berdiri tegak di sebuah kamar luas yang hangat dan elegan.
Lampu kristal mewah yang bercahaya menggantung dari langit-langit yang tinggi, memantulkan kilau lembut ke dinding berpanel kayu gelap. Karpet tebal dan lembut menutup lantai, dan tercium aroma yang wangi di ruangan itu. Seketika Lovelle pun tertegun. Dimana dirinya sekarang? Tidak ada air, tidak ada sungai, dan tidak ada tiga pria pemabuk mesum yang mengejarnya. Dan pakaiannya pun... kering. Lovelle kembali menatap ke sekelilingnya dengan bingung. “Apa yang terjadi?” gumannya pelan. Mungkinkan ia sedang bermimpi? Atau mungkin juga tubuhnya mengalami hipotermia setelah jatuh ke dalam sungai yang dingin, lalu mulai berhalusinasi. Sebelum gadis itu sempat memikirkan lebih jauh, tiba-tiba sebuah suara pria yang dalam dan berat terdengar dari arah belakangnya. “Apa yang dilakukan seorang pelayan di dalam kamarku?” Lovelle pun membeku, lalu perlahan ia pun berbalik dan.... menatap seorang pria yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tubuhnya tinggi sekali, bahunya lebar, dan wajahnya luar biasa tampan dengan garis rahang tegas dan mata gelap yang menatapnya tajam seperti pisau. Ada tattoo yang keluar dari kerah kemeja hitam di lehernya, juga keluar dari sela-sela bagian lengan kemeja di punggung tangannya. Namun yang paling mencolok dari semuanya, adalah aura dingin yang memancar darinya. Pria itu melirik tangan Lovelle, lalu sebuah senyum tipis terlukis di wajahnya. “Jadi kamu bukan pelayan biasa, hm?” desisnya pelan namun sinis. “Apa yang mau kamu lakukan dengan dokumen itu?” Lovelle mengikuti arah pandangannya, dan ia pun terkejut ketika melihat ada gulungan dokumen di tangannya sendiri! “A-Apa… ini??” Karena terlalu terkejut, tanpa sadar Lovelle pun menjatuhkan kertas itu ke atas lantai, lalu mundur ketakutan. Namun pria itu malah bergerak maju beberapa langkah. Satu tangannya yang besar terangkat, dan tiba-tiba langsung mencengkeram kuat leher Lovelle. Tubuh gadis itu pun sontak sedikit terangkat dari lantai. Dengan napas terengah, Lovelle berusaha menarik pergelangan tangan pria itu dari lehernya untuk melepaskan diri. “Apakah kau adalah mata-mata yang dikirim oleh musuh?” pria itu bertanya dengan nada sedingin es. Lovelle menggeleng panik. Ia mencoba bicara, namun cekikan itu membuat suaranya tidak bisa keluar. Oksigen yang semakin tipis juga membuat pandangan Lovelle mulai berkunang-kunang. Tanpa sengaja, matanya tertuju pada sebuah buku di atas meja. Dan saat itu juga ia membeku, saat melihat sebuah nama yang tertulis dengan tinta emas di bagian sampulnya. -XEYREN CROW- Serta-merta, Lovelle merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Xeyren… Crow? Nama yang unik dan cukup aneh. Serta... sama persis dengan tokoh antagonis dari novel yang sedang ia baca. Dan ruangan ini... Situasi ini… Lovelle merasa tidak pernah berada di sini sebelumnya, namun rasanya begitu familier. Rasanya ia pernah melihat deskripsi yang sama persis. Di buku itu, buku yang belum selesai ia baca. Tunggu. Jangan bilang kalau... Ia telah masuk ke dalam dunia novel??! Lovelle mulai terbatuk-batuk, tapi sekali lagi ia mencoba berpikir jernih. Jika ini benar… Jika ia benar-benar berada di dalam dunia novel, maka ia pun tahu siapa dirinya sekarang. Dia pasti Daniela. Seorang mata-mata yang menyamar menjadi pelayan di Mansion milik Xeyren Crow. Dan pria di depannya ini... adalah Xeyren Crow sendiri. Penjahat yang akan membunuh Daniela! Sial. Saat ini pasti dia berada halaman ke-lima, saat Xeyren memergoki Daniela dan langsung membunuhnya dengan darah dingin! Tapi Lovelle menolak untuk mati lagi. Entah dunia apa yang ia masuki sekarang, tapi kali ini ia harus hidup! Walau napasnya yang semakin tipis dan pikirannya kacau-balau, Lovelle berusaha untuk menjulurkan kedua tangannya ke depan dan meraih kerah kemeja hitam milik Xeyren. Dengan tenaga lemahnya yang tersisa, Lovelle lalu menariknya sekuat tenaga hingga wajah pria itu mendekat. Lovelle bisa melihat sekelebat keterkejutan di mata gelap pria itu. Dan sebelum Xeyren sempat bereaksi, Lovelle segera mendekatkan bibirnya. Lalu mencium bibir Xeyren. ***Pisau di tangan Xeyren masih menyentuh dagu Lovelle. Bilahnya terasa dingin, hingga cukup dingin hingga membuat kulitnya merinding, dan memaksa Lovelle untuk menatap langsung ke dalam mata kelabu gelap itu. Tatapan yang begitu tenang… namun mengandung sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada amarah. Beberapa detik berlalu tanpa suara, hingga Xeyren akhirnya menarik pisaunya. Namun ia masih tidak menjauh, alih-alih duduk dengan santai di tepi meja di depan Lovelle. Kakinya yang panjangnya bersilang dengan sikap santai, kontras dengan aura mengancam yang mengelilinginya. Xeyren memutar-mutar pisau itu di antara jemarinya. “Sekarang, coba kita ulangi lagi pertanyaannya,” ucapnya pelan. Matanya kemudian menatap Lovelle dengan penuh perhatian. “Siapa kau sebenarnya?” Lovelle menelan ludah. Ia tahu bahwa identitas Daniela tidak akan bertahan lama. Xeyren terlalu pintar dan berbahaya, ia tidak akan percaya begitu saja pada cerita sederhana. Lovelle menarik napas pelan.
Lokasi : Salt Lake City, UtahLangkah Xeyren bergema pelan di koridor panjang di dalam Mansion miliknya. Udara malam masih terasa dingin setelah penerbangan dari Las Vegas, tetapi ekspresi pria itu tetap tenang seperti biasa. Christian berhenti beberapa langkah di belakangnya ketika Xeyren tiba di depan pintu ruang kerja pribadinya. Dua pengawal yang berjaga langsung berdiri tegak. “Tuan Crow," sapa mereka serempak. Xeyren hanya mengangguk singkat. “Buka pintunya.” Pintu besar itu lalu didorong perlahan. Di dalam ruang luas itu, Lovelle yang kini harus menjalani identitas sebagai Daniela, masih terikat di kursi kayu yang sama. Tangan dan kakinya tidak bebas bergerak. Ketika pintu terbuka, Lovelle langsung menoleh, dan seketika itu juga ia menahan napasnya saat bertemu pandang dengan Xeyren Crow. Pria itu berjalan masuk dengan langkah santai seolah tidak terjadi apa-apa malam ini,lnamun aura yang menyelimutinya terlihat berbeda. Lebih dingin dan berbahaya. Pengawa
Lokasi : Crown Casino, Kota Las Vegas. Di ruang VIP kasino mewah Las Vegas, Xeyren Crow duduk santai di meja poker bundar. Sikapnya dingin seperti biasa, penampilannya masih tetap mahal dan wajahnya terlihat tampan luar biasa, serta satu tangannya memegang kartu dengan tenang. Di seberangnya ada seorang pria bernama Lucien Moreau, seorang pengusaha dari Paris. Meskipun berusaha ditutupi, namun Lucien terlihat gelisah. Sesekali ia melirik pintu ruangan seolah sedang menunggu sesuatu. Dealer membagikan kartu terakhir, dan Xeyren menatap Lucien tanpa emosi. Senyum tipis Lucien terlihat kaku, matanya masih terpaku pada jam tangan dan pintu. Kali ini sepertinya ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa tidak sabarnya. Seharusnya saat ini ada pasukan khusus yang telah ia sewa dengan harga mahal untuk menyergap Xeyren, tapi kemana mereka sekarang? Brengsek! Ketegangan itu langsung tertangkap oleh Xeyren, yang akhirnya hanya mengukir sebuah senyum samar di satu sud
Xeyren lalu menutup pintu dan menguncinya, tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk membantah. Saat itu juga, Lovelle merasa lututnya menjadi lemas karena terlalu lega. Namun sayangnya, perasaan lega itu tidak bertahan lama. Saat Xeyren berjalan kembali ke arahnya, tatapan pria itu kini terlihat lebih gelap dari sebelumnya. “Sepertinya kamu beruntung, Daniela,” ujarnya pelan. Sebelum Lovelle sempat bereaksi, tangannya tiba-tiba saja ditarik. Ia kembali berontak, namun semua usahanya sia-sia. Dan hanya dalam beberapa menit kemudian, Lovelle sudah duduk di sebuah kursi kayu di tengah kamar. Pergelangan tangannya diikat kuat di belakang kursi dengan tali dari kulit. Ia mencoba bergerak, tetapi ikatan itu terlalu kuat dan semakin menggores kulitnya. Xeyren berdiri menjulang di depannya seraya memegang sebuah pisau, memantulkan cahaya lampu kristal di bilahnya yang tajam. Lovelle menelan ludah saat Xeyren berjalan perlahan mengelilinginya seperti predator yang mengam
Bibir Lovelle menyentuh bibir Xeyren. Hangat, lembut, dan sepenuhnya tidak terduga. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti bergerak. Tangan Xeyren yang mencengkeram lehernya pun membeku di tempat. Tekanan yang tadi hampir mematahkan napas Lovelle tidak serta-merta hilang, tetapi kini terasa lebih longgar. Tubuh pria itu kaku, pikirannya membutuhkan beberapa detik untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Lovelle sendiri hampir tidak percaya dengan tindakannya. Tapi jika ia diam, ia akan mati. Jika ia berontak, tetap saja ia akan mati. Maka ia pun tidak lagi berpikir, hanya bertindak berdasarkan insting belaka. Lovelle bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak keras di dada, seiring dengan napasnya yang tersendat. Bibir mereka hanya bersentuhan selama beberapa detik, tetapi rasanya jauh lebih lama dari itu. Kemudian perlahan, Lovelle pun menjauh. Udara langsung menyerbu paru-parunya ketika tekanan di lehernya sedikit mengendur. Ia menarik napas dengan rakus, dadany
Saat ini, ia berdiri tegak di sebuah kamar luas yang hangat dan elegan. Lampu kristal mewah yang bercahaya menggantung dari langit-langit yang tinggi, memantulkan kilau lembut ke dinding berpanel kayu gelap. Karpet tebal dan lembut menutup lantai, dan tercium aroma yang wangi di ruangan itu. Seketika Lovelle pun tertegun. Dimana dirinya sekarang? Tidak ada air, tidak ada sungai, dan tidak ada tiga pria pemabuk mesum yang mengejarnya. Dan pakaiannya pun... kering. Lovelle kembali menatap ke sekelilingnya dengan bingung. “Apa yang terjadi?” gumannya pelan. Mungkinkan ia sedang bermimpi? Atau mungkin juga tubuhnya mengalami hipotermia setelah jatuh ke dalam sungai yang dingin, lalu mulai berhalusinasi. Sebelum gadis itu sempat memikirkan lebih jauh, tiba-tiba sebuah suara pria yang dalam dan berat terdengar dari arah belakangnya. “Apa yang dilakukan seorang pelayan di dalam kamarku?” Lovelle pun membeku, lalu perlahan ia pun berbalik dan.... menatap seorang pri







