Home / Fantasi / Kiss The Antagonist / 1. Lompat Ke Dunia Yang Baru

Share

Kiss The Antagonist
Kiss The Antagonist
Author: Black Aurora

1. Lompat Ke Dunia Yang Baru

Author: Black Aurora
last update publish date: 2026-03-13 21:05:34

Udara malam yang dingin di kota kecil itu terasa menggigit. Setelah tengah malam, hampir tidak ada kehidupan yang tersisa di jalanan.

Namun saat itu, suara langkah kaki yang berlari cepat memecah kesunyian.

Lovelle White berlari sekuat tenaga.

Sepatu kerjanya menghantam aspal dengan ritme yang cepat.

Napasnya tersengal-sengal dan paru-parunya terasa seperti terbakar, setelah berlari tanpa henti sejak turun dari bus terakhir di halte yang berjarak beberapa blok dari apartemennya.

Ia seharusnya sudah berada di rumah sekarang. Namun sejak turun dari bus, tiga pria mabuk mulai mengikutinya.

Awalnya mereka hanya bersiul menggoda dan tertawa keras, tapi langkah mereka semakin cepat ketika melihat Lovelle berjalan sendirin di trotoar yang sepi.

“Hey, tunggu sebentar, Cantik!” salah satu dari mereka berteriak dengan suara berat yang dipenuhi tawa menjijikkan.

Lovelle tidak menoleh. Ia mempercepat langkahnya, berharap mereka hanya iseng dan akan menyerah setelah beberapa meter.

Namun harapan itu pun segera hancur.

“Hei, jangan lari!” pria lain berteriak. “Kami cuma mau bersenang-senang sedikit!” Tawa mereka kembali pecah, kasar dan kotor.

“Tenang saja, kami juga akan membuatmu menikmatinya!”

Kata-kata itu membuat darah Lovelle terasa membeku.

Sepanjang jalan yang sepi itu tidak ada satu pun mobil yang lewat.

Jendela-jendela rumah di kiri kanan jalan tertutup rapat, sebagian lampunya bahkan sudah padam.

Kota kecil ini selalu redup lebih cepat dari kota besar. Tidak ada orang yang berjalan di trotoar, tidak ada toko yang masih buka.

Hanya Lovelle dan tiga pria yang kini mengejarnya dengan langkah goyah namun cepat.

“Dia melarikan diri!” salah satu dari mereka berseru dengan nada gembira yang membuat perut Lovelle mual.

“Aku suka yang seperti ini. Lebih seru!”

Langkah kaki mereka semakin dekat.

Tanpa berpikir panjang, Lovelle berbelok ke arah jembatan tua yang melintasi sungai di pinggir kota.

Angin malam terasa semakin dingin di sana, menerpa wajahnya hingga membuat matanya berair.

Ia tahu tempat ini. Jembatan itu jarang dilalui orang pada malam hari, namun Lovelle tidak punya pilihan lain.

Ketika ia sampai di tengah jembatan, napasnya sudah hampir habis. Kakinya gemetar, paru-parunya terasa seperti akan meledak.

Lalu suara langkah kaki di belakangnya berhenti.

Lovelle berbalik, dan menatap nanar pada tiga pria yang berdiri beberapa meter darinya dengan posisi menyebar perlahan seperti pemburu yang mengepung mangsa.

Salah satu dari mereka menyeringai lebar.

“Kamu telah membuat kami berlari jauh sekali,” katanya sambil menyeka mulutnya dengan punggung tangan.

“Tapi tidak apa-apa. Malam ini masih panjang.”

Pria lain memandangi tubuh Lovelle denganl tatapan penuh nafsu.

“Tidak ada orang di sini,” ucapnya santai. “Tidak ada yang akan mendengar kalau pun kamu berteriak.”

"Pergi!" Lovelle mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh pagar besi jembatan yang dingin.

Lalu ia menoleh ke belakang.

Di bawah sana, sungai yang gelap mengalir dingin, memantulkan cahaya lampu jalan seperti pecahan kaca.

“Jangan takut,” pria pertama berkata sambil melangkah maju. “Kami hanya ingin bersenang-senang sedikit.”

Tawa mereka kembali pecah, sementara Lovelle merasakan jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa sakit.

Ia tahu apa yang mereka inginkan, dan ia pun tahu bahwa ia tidak akan mampu melawan tiga pria dewasa sendirian.

Tangannya menggenggam pagar besi di belakangnya. Dalam satu detik yang panjang dan sunyi, Lovelle pun telah membuat keputusan.

Ia lebih memilih mati, daripada disentuh oleh tangan menjijikkan mereka.

Tanpa berkata apa pun, Lovelle memanjat pagar jembatan itu.

“Hey!” salah satu pria berseru kaget, namun sudah terlambat.

Tubuh Lovelle telah terjun ke dalam kegelapan.

Air sungai menyambutnya dengan benturan keras yang langsung merenggut napasnya.

Dingin. Sangat dingin.

Air itu terasa seperti ribuan jarum yang menghujam kulitnya sekaligus.

Tubuh Lovelle langsung kehilangan kendali ketika arus sungai menyeretnya.

Otot-ototnya kaku, paru-parunya yang terasa kejang mencoba menarik napas yang sia-sia.

Ia mencoba bergerak, namun tubuhnya seolah menolak.

Air yang membeku terasa menusuk ke dalam tulangnya, seketika membuatnya mati rasa.

Pandangan Lovelle mulai menggelap.

Namun di tengah kegelapan itu, ia melihat sesuatu.

Sebuah cahaya.

Cahaya putih yang menyilaukan, muncul entah dari mana di dalam air yang gelap.

Dan cahaya itu pun terlihat semakin terang, semakin dekat.

Detik berikutnya saat Lovelle membuka mata, tiba-tiba saja... ia sudah tidak lagi berada di dalam sungai.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Bianca
seruuu tor....
goodnovel comment avatar
Black Aurora
maaf, maksudnya gimana ya kakak...
goodnovel comment avatar
KUDALUMPINGKU KUDALUMPINGKU
cerita belum pasnya dari barisan 3 nya mohon di berbaik biar jelas terima kasih
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kiss The Antagonist    138. Takdir Yang Akan Menemukan Jalannya (Tamat)

    SATU TAHUN KEMUDIAN... Hujan turun perlahan di balik jendela ruang bersalin. Xavian berdiri tepat di sisi ranjang, tidak pernah melepaskan genggaman tangan Lovelle sejak wanita itu mulai merasakan kontraksi beberapa jam yang lalu. Pria yang selalu terlihat tenang itu tampak benar-benar gugup. "Tarik napas, Nyonya. Sedikit lagi." Suara dokter terdengar samar di tengah napas Lovelle yang memburu. Lovelle menggenggam tangan suaminya begitu erat, hingga buku-buku jari Xavian memutih. "Aku... tidak kuat lagi..." "Kamu pasti kuat, Love. Kamu sudah pernah melewati hal-hal yang jauh lebih berat daripada ini." Xavian segera membungkuk, mengecup kening istrinya yang dipenuhi keringat. Lalu tatapan mereka saling bertemu. Di dalam kedua pasang mata berbeda warna itu, masih tersimpan kenangan tentang kehidupan yang seharusnya tak pernah ada. Tentang seorang pria bernama Xeyren Crow, tentang seorang gadis yang pernah terlempar ke dunia lain. Tentang seorang putri... yang meng

  • Kiss The Antagonist    137. Tidak Akan Melepasmu Lagi

    "Hah? Menginap?" mulut Lovelle benar-benar terbuka saking kagetnya. "Tapi... kenapa??"Sayangnya pertanyaan itu sepertinya tidak akan mendapatkan jawabannya, karena Xavian yang akhirnya benar-benar tidak menjelaskan alasannya.Pria itu hanya berjalan ke arah sofa ruang tamu, melepas jas hitamnya, lalu melipatnya rapi di bagian atas sandaran.Lovelle masih berdiri mematung beberapa langkah darinya. "Tuan Claine...?"Tanpa menjawab, Xavian hanya melonggarkan dasinya, lalu duduk di sofa.Melihat ekspresi lelah di wajah bosnya itu, Lovelle pun mengembuskan napas pelan."Sebentar."Gadis itu masuk ke dalam kamar, lalu beberapa saat kemudian ia pun kembali seraya membawa sebuah bantal dan selimut tebal berwarna abu-abu."Apartemen saya cuma punya satu kamar," ucapnya sedikit canggung. "Maaf... jadi Anda harus tidur di sofa.""Tidak masalah." Xavian berucap sembari menerima bantal itu tanpa banyak bicara. Lovelle masih belum beranjak.Tatapannya terus mengamati pria yang siang tadi begitu

  • Kiss The Antagonist    136. Tidak Ada Pria Lain

    Sudah tiga hari berlalu sejak peristiwa Lovelle yang pingsan di kantor. Selama tiga hari itu pula, tidak ada lagi pembicaraan mengenai penglihatan aneh yang mereka berdua alami. Xavian seolah menghapus seluruh kejadian itu dari permukaan, ia pun kembali menjadi CEO C-Works yang dikenal semua orang. Sikapnya dingin, perfeksionis, dan sulit ditebak. Seolah pria yang memeluk Lovelle di dalam mimpi itu tidak pernah ada. Namun tak ada yang tahu... bahwa tatapan pria itu telah berubah setiap kali menatap Lovelle. *** "Mulai hari ini, Nona White dipindahkan ke Executive Office." Suara kepala HR terdengar jelas, dan Lovelle pun sontak mengangkat kepala. "...Maaf?" tanya gadis itu bingung. "Ini keputusan langsung dari Tuan Xavian Claine. Mulai sekarang Anda akan menjadi Executive Assistant beliau." "Apa?!" Kali ini Emma-lah yang menjerit pelan sembari mengguncang lengan Lovelle. "Gila... itu promosi mendadak yang luar biasa!" bisiknya pelan. Namun wajah Lovelle tampak a

  • Kiss The Antagonist    135. Bagian Dirimu

    Kelopak mata Lovelle terasa begitu berat saat ia berusaha membuka mata. Gelap. Sunyi. Tak ada suara sama sekali. "...Aku di mana?" Gadis itu hanya bisa tertegun kala melihat hamparan putih yang seolah tak berujung. Lalu perlahan, Lovelle pun mulai melangkah. Busana kerja yang tadi ia kenakan kini telah berganti menjadi gaun putih sederhana yang bergoyang diterpa angin. Ia pun mengernyit bingung. "Aneh..." Tempat ini terasa begitu asing, namun juga terasa seperti rumah. Tiba-tiba langkah kaki lain terdengar dari kejauhan, dan Lovelle pun menoleh. Matanya menangkap sesosok pria yang berjalan dari balik kabut putih. Tubuhnya tinggi, rambutnya gelap, serta tatapan kelabu yang begitu dikenalnya. Dingin dan tajam, namun jauh di dalam sana ada luka yang tidak akan pernah benar-benar sembuh. Napas Lovelle pun tercekat di tenggorokannya. "...Xeyren." Pria itu berhenti melangkah, dan untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap. Tidak ada senyum atay pelukan, hanya ad

  • Kiss The Antagonist    134. Perasaan yang Asing

    Xavian memejamkan mata begitu kuat hingga urat di pelipisnya menegang. Napasnya terdengar berat, cepat dan tidak beraturan... saat dua kehidupan saling bertabrakan di dalam kepalanya. Xavian Claine. CEO C-Works. Lahir, tumbuh, bersekolah, membangun perusahaan, mengambil alih puluhan bisnis. Semuanya nyata, semuanya memiliki kenangan. Namun di saat yang sama... ada kehidupan lain yang sama nyatanya. Pria bernama Xeyren Crow. Sebuah dunia yang seharusnya tidak mungkin ada. Seorang wanita bernama Lovelle. Seorang putri bernama Xeyrelle. Semuanya terasa begitu nyata hingga dadanya sesak dan sulit menghirup udara. Di sisi lain, Lovelle menatapnya dengan masih berurai air mata. "Tuan Claine..." "Jangan," potong Xavian dengan nada suaranya yang dingin. "Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Tapi aku tidak akan membiarkan beberapa potong halusinasi mengambil alih hidupku." Kalimat itu membuat Lovelle tercekat. "Tapi... ini bukan halusinasi...." "Bagaimana kau

  • Kiss The Antagonist    133. Penolakan

    Pintu ruang CEO menutup dengan bunyi "klik", yang malah terdengar seperti vonis hakim untuk terdakwa. Lovelle menatap gugup pria yang ada di depannya, dan berdiri membelakanginya. "T-Tuan Claine...?" Tidak ada jawaban. Xavian masih tak bergerak di posisinya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja kerja. Namun beberapa detik kemudian, satu pukulan keras menghantam permukaan meja, membuat Lovelle terlonjak kaget. BRAKK!! Napas Xavian tampak memburu. Kepalanya terasa seperti akan pecah. Ini tidak mungkin. Ia adalah Xavian Claine. Lahir di kota ini, dibesarkan oleh keluarganya, dan membangun C-Works dari nol. Lalu... siapa pria bernama Xeyren Crow itu?? Kenapa semua ingatan itu terasa lebih nyata daripada hidupnya sendiri?? Tangan pria itu pun mengepal semakin erat, lalu perlahan Xavian menoleh. Tatapan kelabunya kini begitu tajam, sama seperti tatapan Xeyren ketika pertama kali menodongkan senjata ke leher Lovelle. "Aku tidak tahu apa yang baru saja terja

  • Kiss The Antagonist    10. Kekasih

    “Ummh...” Lovelle mengerang lirih dengan kedua mata yang masih terpejam, kala ia merasakan sesuatu yang dingin dan solid mencengkeram lehernya. “Bangun, Miss Little Spy. Baru saja kutinggal sebentar, kamu malah ketiduran? Really?” Suara maskulin dan berat itu menusuk tajam telinga Lovelle, mem

  • Kiss The Antagonist    9. Pindah Posisi

    Tatapan Luca sedikit mengeras. “Sebuah ledakan terjadi pada mobil milik Lucien Moreau.” Ia menatap lurus ke dalam mata Xeyren. “Lucien dan seluruh pengawalnya tewas di tempat. Dan kebetulan,” lanjut Luca, “Anda adalah orang terakhir yang terlihat bersamanya di sebuah kasino beberapa jam sebelum k

  • Kiss The Antagonist    8. Kedatangan Sang Tokoh Utama Pria

    Suara baling-baling helikopter tiba-tiba terdengar membelah keheningan malam dari atas Mansion, membuat Lovelle yang masih terikat langsung membuka matanya lebar-lebar. Xeyren pun ikut melirik ke atas. Pisau yang tadi nyaris menyentuh bola mata Lovelle, kini tertahan di udara. Tatapan pria itu

  • Kiss The Antagonist    7. Nama Yang Sebenarnya

    Pisau di tangan Xeyren masih menyentuh dagu Lovelle. Bilahnya terasa dingin, hingga cukup dingin hingga membuat kulitnya merinding, dan memaksa Lovelle untuk menatap langsung ke dalam mata kelabu gelap itu. Tatapan yang begitu tenang… namun mengandung sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status