LOGIN
Udara malam yang dingin di kota kecil itu terasa menggigit.
Setelah tengah malam, hampir tidak ada kehidupan yang tersisa di jalanan. Namun saat itu, suara langkah kaki yang berlari cepat memecah kesunyian. Lovelle White berlari sekuat tenaga. Sepatu kerjanya menghantam aspal dengan ritme yang cepat. Napasnya tersengal-sengal dan paru-parunya terasa seperti terbakar, setelah berlari tanpa henti sejak turun dari bus terakhir di halte yang berjarak beberapa blok dari apartemennya. Ia seharusnya sudah berada di rumah sekarang. Namun sejak turun dari bus, tiga pria mabuk mulai mengikutinya. Awalnya mereka hanya bersiul menggoda dan tertawa keras, tapi langkah mereka semakin cepat ketika melihat Lovelle berjalan sendirian di trotoar yang sepi. “Hey, tunggu sebentar, Cantik!” salah satu dari mereka berteriak dengan suara berat yang dipenuhi tawa menjijikkan. Lovelle tidak menoleh. Ia mempercepat langkahnya, berharap mereka hanya iseng dan akan menyerah setelah beberapa meter. Namun harapan itu pun segera hancur. “Hei, jangan lari!” pria lain berteriak. “Kami cuma mau bersenang-senang sedikit!” Tawa mereka kembali pecah, kasar dan kotor. “Tenang saja, kami juga akan membuatmu menikmatinya!” Kata-kata itu membuat darah Lovelle terasa membeku. Sepanjang jalan yang sepi itu tidak ada satu pun mobil yang lewat. Jendela-jendela rumah di kiri kanan jalan tertutup rapat, sebagian lampunya bahkan sudah padam. Kota kecil ini selalu redup lebih cepat dari kota besar. Tidak ada orang yang berjalan di trotoar, tidak ada toko yang masih buka. Hanya Lovelle dan tiga pria yang kini mengejarnya dengan langkah goyah namun cepat. “Dia melarikan diri!” salah satu dari mereka berseru dengan nada gembira yang membuat perut Lovelle mual. “Aku suka yang seperti ini. Lebih seru!” Langkah kaki mereka semakin dekat. Tanpa berpikir panjang, Lovelle berbelok ke arah jembatan tua yang melintasi sungai di pinggir kota. Angin malam terasa semakin dingin di sana, menerpa wajahnya hingga membuat matanya berair. Ia tahu tempat ini. Jembatan itu jarang dilalui orang pada malam hari. Namun Lovelle tidak punya pilihan lain. Ketika ia sampai di tengah jembatan, napasnya sudah hampir habis. Kakinya gemetar, paru-parunya terasa seperti akan meledak. Lalu suara langkah kaki di belakangnya berhenti. Lovelle berbalik, dan menatap nanar pada tiga pria yang berdiri beberapa meter darinya dengan posisi menyebar perlahan seperti pemburu yang mengepung mangsa. Salah satu dari mereka menyeringai lebar. “Kamu telah membuat kami berlari jauh sekali,” katanya sambil menyeka mulutnya dengan punggung tangan. “Tapi tidak apa-apa. Malam ini masih panjang.” Pria lain memandangi tubuh Lovelle dengan tatapan penuh nafsu. “Tidak ada orang di sini,” ucapnya santai. “Tidak ada yang akan mendengar kalau pun kamu berteriak.” "Pergi!" Lovelle mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh pagar besi jembatan yang dingin. Lalu ia menoleh ke belakang. Di bawah sana, sungai yang gelap mengalir dingin, memantulkan cahaya lampu jalan seperti pecahan kaca. “Jangan takut,” pria pertama berkata sambil melangkah maju. “Kami hanya ingin bersenang-senang sedikit.” Tawa mereka kembali pecah, sementara Lovelle merasakan jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa sakit. Ia tahu apa yang mereka inginkan, dan ia pun tahu bahwa ia tidak akan mampu melawan tiga pria dewasa sendirian. Tangannya menggenggam pagar besi di belakangnya. Dalam satu detik yang panjang dan sunyi, Lovelle pun telah membuat keputusan. Ia lebih memilih mati, daripada disentuh oleh tangan menjijikkan mereka. Tanpa berkata apa pun, Lovelle memanjat pagar jembatan itu. “Hey!” salah satu pria berseru kaget, namun sudah terlambat. Tubuh Lovelle telah terjun ke dalam kegelapan. Air sungai menyambutnya dengan benturan keras yang langsung merenggut napasnya. Dingin. Sangat dingin. Air itu terasa seperti ribuan jarum yang menghujam kulitnya sekaligus. Tubuh Lovelle langsung kehilangan kendali ketika arus sungai menyeretnya. Otot-ototnya kaku, paru-parunya yang terasa kejang mencoba menarik napas yang sia-sia. Ia mencoba bergerak, namun tubuhnya seolah menolak. Air yang membeku terasa menusuk ke dalam tulangnya, seketika membuatnya mati rasa. Pandangan Lovelle mulai menggelap. Namun di tengah kegelapan itu, ia melihat sesuatu. Sebuah cahaya. Cahaya putih yang menyilaukan, muncul entah dari mana di dalam air yang gelap. Dan cahaya itu pun terlihat semakin terang, semakin dekat. Detik berikutnya saat Lovelle membuka mata, tiba-tiba saja... ia sudah tidak lagi berada di dalam sungai. ***Pisau di tangan Xeyren masih menyentuh dagu Lovelle. Bilahnya terasa dingin, hingga cukup dingin hingga membuat kulitnya merinding, dan memaksa Lovelle untuk menatap langsung ke dalam mata kelabu gelap itu. Tatapan yang begitu tenang… namun mengandung sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada amarah. Beberapa detik berlalu tanpa suara, hingga Xeyren akhirnya menarik pisaunya. Namun ia masih tidak menjauh, alih-alih duduk dengan santai di tepi meja di depan Lovelle. Kakinya yang panjangnya bersilang dengan sikap santai, kontras dengan aura mengancam yang mengelilinginya. Xeyren memutar-mutar pisau itu di antara jemarinya. “Sekarang, coba kita ulangi lagi pertanyaannya,” ucapnya pelan. Matanya kemudian menatap Lovelle dengan penuh perhatian. “Siapa kau sebenarnya?” Lovelle menelan ludah. Ia tahu bahwa identitas Daniela tidak akan bertahan lama. Xeyren terlalu pintar dan berbahaya, ia tidak akan percaya begitu saja pada cerita sederhana. Lovelle menarik napas pelan.
Lokasi : Salt Lake City, UtahLangkah Xeyren bergema pelan di koridor panjang di dalam Mansion miliknya. Udara malam masih terasa dingin setelah penerbangan dari Las Vegas, tetapi ekspresi pria itu tetap tenang seperti biasa. Christian berhenti beberapa langkah di belakangnya ketika Xeyren tiba di depan pintu ruang kerja pribadinya. Dua pengawal yang berjaga langsung berdiri tegak. “Tuan Crow," sapa mereka serempak. Xeyren hanya mengangguk singkat. “Buka pintunya.” Pintu besar itu lalu didorong perlahan. Di dalam ruang luas itu, Lovelle yang kini harus menjalani identitas sebagai Daniela, masih terikat di kursi kayu yang sama. Tangan dan kakinya tidak bebas bergerak. Ketika pintu terbuka, Lovelle langsung menoleh, dan seketika itu juga ia menahan napasnya saat bertemu pandang dengan Xeyren Crow. Pria itu berjalan masuk dengan langkah santai seolah tidak terjadi apa-apa malam ini,lnamun aura yang menyelimutinya terlihat berbeda. Lebih dingin dan berbahaya. Pengawa
Lokasi : Crown Casino, Kota Las Vegas. Di ruang VIP kasino mewah Las Vegas, Xeyren Crow duduk santai di meja poker bundar. Sikapnya dingin seperti biasa, penampilannya masih tetap mahal dan wajahnya terlihat tampan luar biasa, serta satu tangannya memegang kartu dengan tenang. Di seberangnya ada seorang pria bernama Lucien Moreau, seorang pengusaha dari Paris. Meskipun berusaha ditutupi, namun Lucien terlihat gelisah. Sesekali ia melirik pintu ruangan seolah sedang menunggu sesuatu. Dealer membagikan kartu terakhir, dan Xeyren menatap Lucien tanpa emosi. Senyum tipis Lucien terlihat kaku, matanya masih terpaku pada jam tangan dan pintu. Kali ini sepertinya ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa tidak sabarnya. Seharusnya saat ini ada pasukan khusus yang telah ia sewa dengan harga mahal untuk menyergap Xeyren, tapi kemana mereka sekarang? Brengsek! Ketegangan itu langsung tertangkap oleh Xeyren, yang akhirnya hanya mengukir sebuah senyum samar di satu sud
Xeyren lalu menutup pintu dan menguncinya, tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk membantah. Saat itu juga, Lovelle merasa lututnya menjadi lemas karena terlalu lega. Namun sayangnya, perasaan lega itu tidak bertahan lama. Saat Xeyren berjalan kembali ke arahnya, tatapan pria itu kini terlihat lebih gelap dari sebelumnya. “Sepertinya kamu beruntung, Daniela,” ujarnya pelan. Sebelum Lovelle sempat bereaksi, tangannya tiba-tiba saja ditarik. Ia kembali berontak, namun semua usahanya sia-sia. Dan hanya dalam beberapa menit kemudian, Lovelle sudah duduk di sebuah kursi kayu di tengah kamar. Pergelangan tangannya diikat kuat di belakang kursi dengan tali dari kulit. Ia mencoba bergerak, tetapi ikatan itu terlalu kuat dan semakin menggores kulitnya. Xeyren berdiri menjulang di depannya seraya memegang sebuah pisau, memantulkan cahaya lampu kristal di bilahnya yang tajam. Lovelle menelan ludah saat Xeyren berjalan perlahan mengelilinginya seperti predator yang mengam
Bibir Lovelle menyentuh bibir Xeyren. Hangat, lembut, dan sepenuhnya tidak terduga. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti bergerak. Tangan Xeyren yang mencengkeram lehernya pun membeku di tempat. Tekanan yang tadi hampir mematahkan napas Lovelle tidak serta-merta hilang, tetapi kini terasa lebih longgar. Tubuh pria itu kaku, pikirannya membutuhkan beberapa detik untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Lovelle sendiri hampir tidak percaya dengan tindakannya. Tapi jika ia diam, ia akan mati. Jika ia berontak, tetap saja ia akan mati. Maka ia pun tidak lagi berpikir, hanya bertindak berdasarkan insting belaka. Lovelle bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak keras di dada, seiring dengan napasnya yang tersendat. Bibir mereka hanya bersentuhan selama beberapa detik, tetapi rasanya jauh lebih lama dari itu. Kemudian perlahan, Lovelle pun menjauh. Udara langsung menyerbu paru-parunya ketika tekanan di lehernya sedikit mengendur. Ia menarik napas dengan rakus, dadany
Saat ini, ia berdiri tegak di sebuah kamar luas yang hangat dan elegan. Lampu kristal mewah yang bercahaya menggantung dari langit-langit yang tinggi, memantulkan kilau lembut ke dinding berpanel kayu gelap. Karpet tebal dan lembut menutup lantai, dan tercium aroma yang wangi di ruangan itu. Seketika Lovelle pun tertegun. Dimana dirinya sekarang? Tidak ada air, tidak ada sungai, dan tidak ada tiga pria pemabuk mesum yang mengejarnya. Dan pakaiannya pun... kering. Lovelle kembali menatap ke sekelilingnya dengan bingung. “Apa yang terjadi?” gumannya pelan. Mungkinkan ia sedang bermimpi? Atau mungkin juga tubuhnya mengalami hipotermia setelah jatuh ke dalam sungai yang dingin, lalu mulai berhalusinasi. Sebelum gadis itu sempat memikirkan lebih jauh, tiba-tiba sebuah suara pria yang dalam dan berat terdengar dari arah belakangnya. “Apa yang dilakukan seorang pelayan di dalam kamarku?” Lovelle pun membeku, lalu perlahan ia pun berbalik dan.... menatap seorang pri







