LOGINBibir Lovelle menyentuh bibir Xeyren.
Hangat, lembut, dan sepenuhnya tidak terduga. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti bergerak. Tangan Xeyren yang mencengkeram lehernya pun membeku di tempat. Tekanan yang tadi hampir mematahkan napas Lovelle tidak serta-merta hilang, tetapi kini terasa lebih longgar. Tubuh pria itu kaku, pikirannya membutuhkan beberapa detik untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Lovelle sendiri hampir tidak percaya dengan tindakannya. Tapi jika ia diam, ia akan mati. Jika ia berontak, tetap saja ia akan mati. Maka ia pun tidak lagi berpikir, hanya bertindak berdasarkan insting belaka. Lovelle bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak keras di dada, seiring dengan napasnya yang tersendat. Bibir mereka hanya bersentuhan selama beberapa detik, tetapi rasanya jauh lebih lama dari itu. Kemudian perlahan, Lovelle pun menjauh. Udara langsung menyerbu paru-parunya ketika tekanan di lehernya sedikit mengendur. Ia menarik napas dengan rakus, dadanya naik turun dengan cepat. Namun sebelum ia sempat mundur sepenuhnya, tangan Xeyren kembali bergerak. Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Lovelle dan menariknya kembali dengan satu gerakan kuat, membuat tubuh Lovelle hampir menabrak dadanya. Jarak mereka kini kembali terlalu dekat, hingga Lovelle bisa merasakan kehangatan napas pria itu menyentuh wajahnya. Xeyren menatapnya lekat dan lama. Matanya yang gelap dan tadi dipenuhi oleh kecurigaan, kini tampak berubah. Meskipun tetap saja sulit ditebak maknanya. Tatapan itu tetap tajam, tetap dingin, tetapi ada sesuatu yang baru muncul di dalamnya... seperti sebuah kilatan rasa ingin tahu yang berbahaya. Tatapan Xeyren turun sejenak ke bibir Lovelle, memandanginya selama beberapa saat, sebelum kembali ke tertuju ke mata biru pucat milik gadis itu. Cengkeramannya di leher Lovelle akhirnya benar-benar mengendur, meskipun tangannya masih berada di sana. Xeyren seolah belum memutuskan apakah akan melepaskannya atau tidak. “Berani sekali,” gumannya pelan. Suaranya rendah, dalam, dan sedikit serak. Nada yang membuat bulu kuduk Lovelle merinding. Gadis itu pun menelan ludah. Ia tidak tahu apakah tindakannya barusan berhasil menyelamatkan dirinya… atau justru malah memperburuk situasi. Namun satu hal yang pasti, Xeyren belum membunuhnya. Dan itu bagi Lovelle sudah merupakan sebuah kemenangan kecil. Pria itu sedikit memiringkan kepala, masih menatap Lovelle seolah sedang mempelajari makhluk aneh yang tiba-tiba muncul di hadapannya. “Biasanya,” ujar Xeyren perlahan, “orang yang menyelinap ke kamarku pada tengah malam, tidak pernah mencoba untuk menciumku.” Jari-jarinya yang besar bergeser sedikit di leher Lovelle, bukan lagi mencekik, tetapi tetap menahan. Seolah ia tidak berniat membiarkannya pergi begitu saja. Lovelle bisa merasakan pikirannya berpacu. Jika ini benar-benar dunia novel… jika pria di depannya benar-benar Xeyren Crow… maka setiap detik yang ia miliki adalah detik yang berbahaya. Dalam cerita yang ia baca, Daniela mati dengan cepat. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada kesempatan kedua. Xeyren langsung membunuhnya setelah menyadari bahwa pelayan itu adalah mata-mata. Namun sekarang alur cerita sudah berubah, karena Daniela dalam novel tidak pernah melakukan hal seperti ini. Xeyren masih menatapnya tanpa berkedip, dengan tatapan yang terasa seperti pisau yang menguliti setiap rahasia yang ia miliki. “Sekarang, kau akan menjelaskan” kata pria itu akhirnya. Nada suaranya tenang, tetapi penuh tekanan yang tak terlihat. Tangannya yang mencengkeram pergelangan tangan Lovelle mengencang sedikit. “Siapa kau sebenarnya…” Ia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat. “…dan apa yang kau lakukan di kamarku.” *** Keheningan di kamar itu tidak bertahan lama. Ketika Xeyren masih menatap Lovelle dengan tatapan tajam yang sulit ditebak, tiba-tiba suara langkah kaki berat terdengar di luar koridor. Langkah yang cepat dan teratur, seperti beberapa orang yang berlari. Lalu pintu kamar digedor dengan keras. DUK! DUK! DUK! “Tuan Crow!” Suara pria dari luar terdengar tegang. “Kami menemukan bukti penyusup di dalam Mansion. Seorang pelayan bernama Daniela dicurigai sebagai mata-mata. Kami datang untuk menangkapnya!” Darah Lovelle langsung terasa dingin dan jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan. Ia menoleh ke arah pintu, lalu kembali kepada Xeyren. Pria itu masih berdiri di depannya. Tangan besar yang tadi mencekik leher Lovelle kini bertumpu santai di sisi tubuhnya. Namun tetap saja aura berbahaya itu terasa kuat. “Buka pintunya, Tuan!” suara lain dari luar berkata. "Dia harus segera dieksekusi!" Lovelle merasa dunia di sekitarnya berputar. Tidak mungkin. Padahal ia sudah berusaha mengubah alur cerita! Ia mencium Xeyren, namun ternyata takdir masih mengejarnya. Dan sepertinya... dia masih berada halaman ke-lima. Manik biru pucat milik Lovelle tampak membelalak lebar, dan napas gadis itu menjadi tidak teratur. Ia tidak ingin mati lagi, tidak untuk kedua kali! Sementara itu Xeyren hanya berdiri diam sembari melirik ke arah pintu, sebelum tatapannya kembali tertuju kepada Lovelle. Ekspresinya tidak berubah. Tidak marah atau kesal, tapi justru tampak… berpikir. Beberapa detik pun berlalu, dan ketukan di pintu semakin keras. “Tuan Crow!” Akhirnya Xeyren menghela napas pelan. “Cukup.” Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk menghentikan kegaduhan di luar. Ia melangkah menuju pintu dan sedikit membukanya. Empat pengawal bersenjata berdiri di koridor dengan wajah tegang. “Kami datang untuk membawa Daniela, Tuan,” kata salah satu dari mereka. “Kami menemukan laporan bahwa dia menyelinap ke area pribadi Anda. Dia harus segera~” “Tidak.” Satu kata dari Xeyren memotong kalimat pria itu. Pengawal itu tampak bingung. “Tuan?” Xeyren bersandar santai di kusen pintu. “Eksekusi dibatalkan.” “Tapi dia~” “Aku bilang tidak.” Nada suaranya tetap tenang, tetapi ada sesuatu yang membuat para pengawal langsung terdiam. Xeyren menoleh sekilas ke arah Lovelle, disertai seulas seringai dingin yang tipis di wajahnya. “Dia tetap di sini.” ***Pisau di tangan Xeyren masih menyentuh dagu Lovelle. Bilahnya terasa dingin, hingga cukup dingin hingga membuat kulitnya merinding, dan memaksa Lovelle untuk menatap langsung ke dalam mata kelabu gelap itu. Tatapan yang begitu tenang… namun mengandung sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada amarah. Beberapa detik berlalu tanpa suara, hingga Xeyren akhirnya menarik pisaunya. Namun ia masih tidak menjauh, alih-alih duduk dengan santai di tepi meja di depan Lovelle. Kakinya yang panjangnya bersilang dengan sikap santai, kontras dengan aura mengancam yang mengelilinginya. Xeyren memutar-mutar pisau itu di antara jemarinya. “Sekarang, coba kita ulangi lagi pertanyaannya,” ucapnya pelan. Matanya kemudian menatap Lovelle dengan penuh perhatian. “Siapa kau sebenarnya?” Lovelle menelan ludah. Ia tahu bahwa identitas Daniela tidak akan bertahan lama. Xeyren terlalu pintar dan berbahaya, ia tidak akan percaya begitu saja pada cerita sederhana. Lovelle menarik napas pelan.
Lokasi : Salt Lake City, UtahLangkah Xeyren bergema pelan di koridor panjang di dalam Mansion miliknya. Udara malam masih terasa dingin setelah penerbangan dari Las Vegas, tetapi ekspresi pria itu tetap tenang seperti biasa. Christian berhenti beberapa langkah di belakangnya ketika Xeyren tiba di depan pintu ruang kerja pribadinya. Dua pengawal yang berjaga langsung berdiri tegak. “Tuan Crow," sapa mereka serempak. Xeyren hanya mengangguk singkat. “Buka pintunya.” Pintu besar itu lalu didorong perlahan. Di dalam ruang luas itu, Lovelle yang kini harus menjalani identitas sebagai Daniela, masih terikat di kursi kayu yang sama. Tangan dan kakinya tidak bebas bergerak. Ketika pintu terbuka, Lovelle langsung menoleh, dan seketika itu juga ia menahan napasnya saat bertemu pandang dengan Xeyren Crow. Pria itu berjalan masuk dengan langkah santai seolah tidak terjadi apa-apa malam ini,lnamun aura yang menyelimutinya terlihat berbeda. Lebih dingin dan berbahaya. Pengawa
Lokasi : Crown Casino, Kota Las Vegas. Di ruang VIP kasino mewah Las Vegas, Xeyren Crow duduk santai di meja poker bundar. Sikapnya dingin seperti biasa, penampilannya masih tetap mahal dan wajahnya terlihat tampan luar biasa, serta satu tangannya memegang kartu dengan tenang. Di seberangnya ada seorang pria bernama Lucien Moreau, seorang pengusaha dari Paris. Meskipun berusaha ditutupi, namun Lucien terlihat gelisah. Sesekali ia melirik pintu ruangan seolah sedang menunggu sesuatu. Dealer membagikan kartu terakhir, dan Xeyren menatap Lucien tanpa emosi. Senyum tipis Lucien terlihat kaku, matanya masih terpaku pada jam tangan dan pintu. Kali ini sepertinya ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa tidak sabarnya. Seharusnya saat ini ada pasukan khusus yang telah ia sewa dengan harga mahal untuk menyergap Xeyren, tapi kemana mereka sekarang? Brengsek! Ketegangan itu langsung tertangkap oleh Xeyren, yang akhirnya hanya mengukir sebuah senyum samar di satu sud
Xeyren lalu menutup pintu dan menguncinya, tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk membantah. Saat itu juga, Lovelle merasa lututnya menjadi lemas karena terlalu lega. Namun sayangnya, perasaan lega itu tidak bertahan lama. Saat Xeyren berjalan kembali ke arahnya, tatapan pria itu kini terlihat lebih gelap dari sebelumnya. “Sepertinya kamu beruntung, Daniela,” ujarnya pelan. Sebelum Lovelle sempat bereaksi, tangannya tiba-tiba saja ditarik. Ia kembali berontak, namun semua usahanya sia-sia. Dan hanya dalam beberapa menit kemudian, Lovelle sudah duduk di sebuah kursi kayu di tengah kamar. Pergelangan tangannya diikat kuat di belakang kursi dengan tali dari kulit. Ia mencoba bergerak, tetapi ikatan itu terlalu kuat dan semakin menggores kulitnya. Xeyren berdiri menjulang di depannya seraya memegang sebuah pisau, memantulkan cahaya lampu kristal di bilahnya yang tajam. Lovelle menelan ludah saat Xeyren berjalan perlahan mengelilinginya seperti predator yang mengam
Bibir Lovelle menyentuh bibir Xeyren. Hangat, lembut, dan sepenuhnya tidak terduga. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti bergerak. Tangan Xeyren yang mencengkeram lehernya pun membeku di tempat. Tekanan yang tadi hampir mematahkan napas Lovelle tidak serta-merta hilang, tetapi kini terasa lebih longgar. Tubuh pria itu kaku, pikirannya membutuhkan beberapa detik untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Lovelle sendiri hampir tidak percaya dengan tindakannya. Tapi jika ia diam, ia akan mati. Jika ia berontak, tetap saja ia akan mati. Maka ia pun tidak lagi berpikir, hanya bertindak berdasarkan insting belaka. Lovelle bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak keras di dada, seiring dengan napasnya yang tersendat. Bibir mereka hanya bersentuhan selama beberapa detik, tetapi rasanya jauh lebih lama dari itu. Kemudian perlahan, Lovelle pun menjauh. Udara langsung menyerbu paru-parunya ketika tekanan di lehernya sedikit mengendur. Ia menarik napas dengan rakus, dadany
Saat ini, ia berdiri tegak di sebuah kamar luas yang hangat dan elegan. Lampu kristal mewah yang bercahaya menggantung dari langit-langit yang tinggi, memantulkan kilau lembut ke dinding berpanel kayu gelap. Karpet tebal dan lembut menutup lantai, dan tercium aroma yang wangi di ruangan itu. Seketika Lovelle pun tertegun. Dimana dirinya sekarang? Tidak ada air, tidak ada sungai, dan tidak ada tiga pria pemabuk mesum yang mengejarnya. Dan pakaiannya pun... kering. Lovelle kembali menatap ke sekelilingnya dengan bingung. “Apa yang terjadi?” gumannya pelan. Mungkinkan ia sedang bermimpi? Atau mungkin juga tubuhnya mengalami hipotermia setelah jatuh ke dalam sungai yang dingin, lalu mulai berhalusinasi. Sebelum gadis itu sempat memikirkan lebih jauh, tiba-tiba sebuah suara pria yang dalam dan berat terdengar dari arah belakangnya. “Apa yang dilakukan seorang pelayan di dalam kamarku?” Lovelle pun membeku, lalu perlahan ia pun berbalik dan.... menatap seorang pri







