LOGINPagi itu, rumah terasa berbeda.Deswita duduk sendirian di meja makan. Di hadapannya, sarapan yang disiapkan oleh asisten rumah tangga sama sekali tidak tersentuh. Sejak bangun tidur, pikirannya terus tertuju pada satu orang, yakni Ivan.Tidak ada pesan.Tidak ada telepon.Suaminya sama sekali tidak menghubunginya sejak pergi dari rumah. Bahkan, untuk sekadar berbasa-basi atau menanyakan kabarnya pun tidak.Deswita menatap kursi kosong di sebelahnya. Biasanya, Ivan akan duduk di sana sambil menikmati sarapan. Mereka juga selalu berbicara tentang rencana hari itu sebelum menjalani kesibukan masing-masing.Namun, kini kursi itu kosong.Tidak ada suara Ivan yang menyapanya. Tidak ada percakapan ringan yang biasanya mengisi pagi mereka. Bahkan rumah yang luas itu terasa terlalu hening ketika hanya dirinya yang berada di dalamnya.Deswita menghela napas berat. Ia beranjak dari meja makan, tanpa menyentuh sarapannya sedikit pun. Ada sesuatu yang hilang dari rumah itu, hingga membuat perasa
“Masa’ dia bawa uang di dompet sampe sejuta lebih,” ujar Nurul masih dalam keadaan heboh saat membicarakan perihal Arif pada suaminya. “Waktu dia ngeluarin semua uang yang seratus ribuan, yang lima puluhan masih ada tuh, nyisa di dalamnya.”“Itu baru di dompet,” sahut Irul yang juga ikut mendengarkan. “Belum yang di rekening.”“Sama emas!” timpal Nurul setuju dengan ucapan putranya. “Nggak mungkin orang kayak Arif nggak punya simpanan yang begitu-gitu.”“Pastinya!” ujar Bahlil menambahkan. “Tapi itu tadi, ternyata pernikahan Suci sama Arif itu nggak disetujui sama mertuanya.”“Nah! Iya itu!” seru Nurul menjentikkan jari lalu menunjuk Bahlil yang duduk di sampingnya. Mereka bertiga tengah menikmati makan malam di meja bundar sembari membicarakan Suci tanpa henti. Sejak tadi, topik pembicaraan mereka tidak jauh-jauh dari pernikahan Suci dan Arif, terutama setelah mengetahui bahwa keluarga Arif ternyata tidak sepenuhnya menerima Suci.“Tapi, Arif itu kelihatannya sudah cinta mati ke Suc
“Sayang!”Arif langsung bangkit dari duduknya ketika mendengar Suci menggumam pelan. Sejurus kemudian, kelopak mata istrinya terbuka perlahan hingga tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling memandang.“Maaas,” ucap Suci lirih. “Aku–”“Sshhh …” Arif menggenggam erat tangan Suci. “Nggak papa. Anak kita baik-baik aja. Nggak usah khawatir.”Suci mengangguk pelan. Sebelumnya, dokter memang sudah menyampaikan hal itu kepadanya, tetapi mendengar langsung dari Arif, membuat hatinya jauh lebih tenang. Setidaknya, ketakutan yang sejak tadi menggelayuti pikirannya perlahan mereda. Terlebih ketika sang suami kini sudah berada di sisinya. “Tapi, kamu harus bedrest sampai betul-betul pulih,” lanjut Arif kemudian mengusap pelan kepala Suci. Istrinya itu pasti memendam banyak pikiran yang tidak bisa diungkapkan setelah bertemu dengan Deswita. “Di sini?” tanya Suci sedikit serak.“Untuk sementara di sini,” jawab Arif mengangguk. “Pokoknya nurut apa kata Dokter.”Suci menghe
“Kata Dokter, kondisi Suci sudah stabil,” ujar Nurul memberi penjelasan persis dengan yang dikatakan dokter beberapa waktu lalu. Tidak ada yang kurang, hanya sedikit didramatisir untuk mendapatkan perhatian Arif.Deswita sama sekali tidak menyela. Sejak Arif datang dengan wajah tegang, wanita itu memilih tetap diam di tempat duduknya. “Intinya, Suci nggak boleh capek-capek dulu, apalagi stres,” lanjut Nurul kemudian melirik tajam pada Deswita. Tatapan mereka sempat beradu sesaat, tetapi Nurul lebih dulu memutusnya. “Apa itu bahasanya tadi … emm, bedrest!”“Makasih, Te. Saya titip Suci sebentar,” ucap Arif sambil melonggarkan genggamannya pada tangan Suci yang sedang tertidur. Ia kemudian melepaskannya dan beranjak menghampiri Deswita. “Aku mau bicara.”Tanpa menunggu jawaban Deswita, Arif keluar lebih dulu dari ruangan. Ia menunggu di depan kamar rawat inap VVIP yang ditempati Suci. Ia yakin, istrinya bisa mendapatkan kamar tersebut karena koneksi Deswita. Namun, tetap saja ada hal y
“Bu Mas …” panggil Suci lirih sambil mengatur napas. Jantungnya semakin berdegup kencang saat melihat cairan yang mulai membasahi kakinya. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain berharap semuanya baik-baik saja. “Bu …”Deswita menatap datar. Ia ragu beranjak dari tempatnya, karena menganggap wanita itu sedang bersandiwara. Suci memang terlihat menunduk sambil memegangi perutnya. Namun, ia menduga hal itu hanyalah kram yang bisa dialami oleh semua ibu hamil. Tinggal menunggu beberapa saat, maka kondisi tersebut pasti akan normal dengan sendirinya. “Bu Masniii …” Suci kembali memanggil dan kali ini suaranya lebih keras lagi.Sejurus kemudian, Masni memang memasuki ruang keluarga dengan membawa nampan. Namun, langkahnya mendadak terhenti ketika melihat Suci yang tengah membungkuk. Satu tangannya berada di perut dan satu lagi bertumpu pada sudut punggung sofa. “Mbak …” Dengan segera, Masni meletakkan nampan di atas meja ruang keluarga, lalu bergegas menghampiri Suci. Namun, langkahn
“Mbak …” Masni dengan segera menghampiri Suci yang berada di dapur, setelah melihat rekaman CCTV di ruang tengah. “Ada Bu Nurul di depan,” lapornya setelah mendengar suara bel beberapa waktu lalu.“Biarin aja, Bu,” jawab Suci santai sambil mengaduk segelas susu hangat. “Atau, Ibu bilang aja seperti yang disuruh Mas Arif. Sementara ini, kami pindah ke apartemen.”“Tapi, Mbak.” Masni semakin mendekat, penuh keraguan. “Nggak cuma Bu Nurul yang ada di depan. Ada satu ibu lagi. Kayaknya ibu itu yang pake sedan hitam. Eh, apa mereka datang berdua ya?”Suci yang baru saja mengangkat gelas susunya sontak menghentikan gerakannya. “Sedan hitam?” gumamnya sambil meletakkan kembali gelasnya di kitchen island. Masni mengangguk pelan. “Iya, Mbak. Mobilnya masih parkir di depan.”Entah kenapa, jantung Suci mendadak berdetak kencang. Ada satu kemungkinan yang tiba-tiba hinggap di benaknya dan ia tidak sanggup untuk membayangkan hal tersebut.Tanpa berkata apa-apa lagi, Suci segera melangkah menuju ru
“Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah memp
“Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me
“Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan
“Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan







