LOGIN"Aku tidak menyangka demi mendapatkan perhatianku, kau menjebakku untuk memiliki anakku!" *** Regina ingat dengan jelas, tujuannya hanyalah membalas dendam atas apa yang telah Henry lakukan padanya. Namun, dia tidak menyangka dirinya justru harus menjadi istri dan ibu, diusia yang baru 23 tahun karena pria yang menjadi saingannya itu. Regina harus terjebak dalam kontrak yang membuatnya terikat dengan Henry yang ingin membuatnya tunduk. Hanya, satu hal yang tidak dia mengerti, kenapa anak Henry menjadi darah dagingnya di saat Regina yakin tidak pernah tidur dengannya? Apa ini hanya rekayasa Henry untuk membuatnya berada dalam cengkeramannya? Apa pernikahan mereka akan mengubah segalanya?
View MoreThe champagne tasted like victory.
I stood in the corner of the Bellworth Gallery, watching Seattle's elite drift between my paintings like well-dressed ghosts. They clinked glasses, murmured appreciatively, and occasionally glanced at the small cards beside each piece that listed prices most of them wouldn't blink at.
Six figures. My art was selling for six figures.
Five years ago, I couldn't have imagined this moment. Five years ago, I was a broken girl sobbing into her pillow, wondering if the pain in her chest would ever stop. Now I was Wren Mercer, rising star of the Pacific Northwest art scene, dressed in a sleek black dress that cost more than my first apartment's rent.
"You're brooding again."
I turned to find Vera at my elbow, her dark curls piled artfully on her head, a knowing smirk on her crimson lips. My best friend had a sixth sense for catching me in moments of unwanted introspection.
"I'm not brooding," I said. "I'm observing. There's a difference."
"Uh-huh." She sipped her champagne, unconvinced. "You have that look. The one that says you're about to spiral into some deep, dark corner of your psyche and I'll have to drag you out with wine and trashy reality TV."
I couldn't help but smile. Vera Santos had been my lifeline since I'd arrived in Seattle, shattered and desperate to become someone new. She didn't know the full story—couldn't know, not without knowing what I really was—but she'd never pushed. She just... stayed.
"I'm fine," I said. "Really. This is everything I wanted."
It wasn't a lie. Not entirely. This *was* everything I'd worked for. Every late night in my cramped studio, every rejection letter, every moment I'd poured my heartbreak onto canvas until it transformed into something beautiful—it had all led here.
So why did I feel so hollow?
"Ms. Mercer?"
I turned to find a gallery assistant approaching, tablet in hand. "The collector from New York is asking about *Shattered Moon*. He's very interested in a private commission."
I nodded, slipping into professional mode. "I'll be right there."
Vera squeezed my arm. "Go. Schmooze. Make obscene amounts of money. I'll guard the champagne."
The collector was a silver-haired man with kind eyes and a wedding ring that probably cost more than my car. He wanted a companion piece to *Shattered Moon*—my largest work, a canvas dominated by a fractured lunar surface bleeding crimson into darkness below.
I didn't tell him what it represented. I never did. Let them see beauty in the wreckage. Let them find their own meaning in the chaos I'd expelled from my soul.
We were mid-negotiation when I saw it through the gallery's floor-to-ceiling windows.
A motorcycle.
Black, sleek, chrome catching the streetlights as it rumbled past. The rider was just a silhouette, leather-clad and anonymous, but my heart slammed against my ribs like it was trying to escape.
*It's not him. It's never him. He's a thousand miles away.*
"Ms. Mercer? Are you alright?"
I blinked, forcing my attention back to the collector. My hands were trembling. I pressed them flat against my thighs, willing the shake away.
"I'm fine," I said, my voice steadier than I felt. "Where were we?"
But for the rest of the night, I couldn't shake the feeling. That prickle at the back of my neck. That phantom ache in my chest that I'd spent five years learning to ignore.
The bond.
It was still there, buried deep, a splinter I couldn't remove no matter how hard I tried. Most days I could pretend it didn't exist. Most days I was Wren Mercer, successful artist, independent woman, master of her own destiny.
But some nights—nights like this, when the moon hung heavy and full outside the window—I remembered.
I remembered being twenty-one, dizzy with hope, feeling that golden thread snap into place between us.
I remembered his face. The horror in his steel-gray eyes.
I remembered the words that broke me.
*"You're like a sister to me, Wren. You'll only ever be a sister."*
By the time I got home, my mask was cracking. I kicked off my heels, poured myself a glass of wine I didn't really want, and stood before the one painting I'd never sell.
It hung in my bedroom, hidden from gallery owners and collectors and everyone who thought they knew me. A portrait I'd painted in those first agonizing months, when I couldn't stop seeing his face no matter how hard I tried.
Skyler Voss.
Dark hair. Steel eyes. That jaw sharp enough to cut glass. I'd captured him perfectly—the arrogance, the intensity, the hint of something softer he only showed when he thought no one was watching.
I hated that painting. I hated that I couldn't destroy it.
My phone buzzed on the counter. Mom. I let it go to voicemail, like I always did. The guilt was a familiar weight, but not heavy enough to make me answer. Not heavy enough to risk hearing about home, about the pack, about *him*.
I finished my wine, showered off the gallery's lingering perfume, and crawled into bed.
Sleep came slowly, and when it did,I dreamed of forests and moonlight and a black wolf howling at a blood-red sky.
"Henry, kau benar-benar memecatku? Apa kau tidak bisa membedakan masalah pribadi dan pekerjaan?" Reina memberikan protes keras. Henry menatap Reina dengan tatapan dingin. "Ini bukan masalah pribadi, Reina. Kau sudah melanggar keprofesionalis dengan mengabaikan tugasmu kemarin. Dan juga, aku ingin kita mengakhiri hubungan ini. Aku berharap kau segera bereskan barangmu dari apartemenku juga." Reina tersenyum pahit. "Kau ingin membuangku begitu saja setelah bosan padaku? Henry, aku akan membongkar kelakuanmu ini ke media." Henry tidak mengubah ekspresi dinginnya. "Lakukan saja!" "Baiklah. Kau pasti akan menyesalinya. " Reina pergi dengan membanting pintu dengan kesal. Henry tidak memedulikannya. Dia masih memiliki banyak hal yang harus dia lakukan. *** Regina merasa kesal melihat pesan yang tidak berhenti datang padanya. Tidak peduli berapa banyak dia memblokirnya. Pria itu tetap saja mengganggunya. "Regina, apa kau sudah menunggu lama? Maafkan aku." Regina mematikan ponse
"Kau tidak perlu mengantarku sampai ke dalam," ucap Regina dengan sopan. "Tidak. Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian dan juga aku ingin bertemu dengan anakmu. Kau mungkin menolakku saat ini karena anakmu, kan? Jika aku bisa membuatnya menyukaiku, kau juga akan menerimaku, kan?" ucap Harlan dengan percaya diri. Regina menatap dengan serius. "Harlan, jangan membuang waktu untukku. Kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik. Saat ini kehidupanku begitu rumit, kau mungkin akan menyesalinya."Harlan tersenyum lembut. "Tidak masalah. Aku siap menghadapi semuanya. Aku justru akan menyesal jika melepaskanmu."Regina menatap matanya. Dia dapat melihat ketulusan pria ini. "Baiklah. Jika Kau dapat menyayangi putraku, aku akan memperingatkannya, tetapi kau harus benar-benar tulus padanya." Harlan mengangguk. *** "Kevin, kenapa kau berada di luar?" Regina yang tiba di depan pintu apartemen dengan Harlan, menatap Kevin dengan cemas. "Paman Harlan, bawa Mamaku ke tempat lain. Saat ini Pap
Regina terdiam sejenak, terkejut dengan permintaan Kevin yang tak terduga. "Kevin, ini... bukankah kau tidak menginginkan perpisahan antara aku dan Henry. Kenapa kau menyarankan ini?" "Karena papa tidak peduli dengan perasaan Mama lagi. Aku tidak ingin Mama harus menerima pengkhianatan ini. Jika memang Papa memilih wanita lain, kenapa Mama tidak bisa bersama pria lain yang dapat membahagiakan Mama. Aku hanya ingin melihat Mama bahagia." Regina langsung memeluk Kevin erat. "Kevin, terima kasih telah memikirkanku. Aku akan mencoba bertemu dengan pria lain dan aku janji pria itu juga akan memperlakukanmu dengan baik lebih daripada Henry." Tangan mungil Kevin membalas pelukan Regina. "Mama tidak perlu memikirkanku. Selama Mama menemukan pria yang Mama cintai, aku tidak masalah siapapun pria itu." Regina tersenyum. Dia mengusap lembut rambut Kevin. "Ayo, tidur." Kevin mengangguk. Dia dengan cepat naik ke tempat tidur. Regina tidur di sebelahnya. Meskipun mencoba untuk terlelap,
Regina mengepalkan tangannya melihat foto yang tersebar di Internet. Regina dapat mengenali wajah wanita itu, meskipun harus kembali. "Jadi mereka bersama lagi?" Ponselnya langsung direbut oleh Rey. "Tidak perlu melihat gosip yang menganggu pekerjaanmu. Jika kau tidak bisa berkonsentrasi, lebih baik tidak perlu bekerja. Masih baik aku masih memberimu kesempatan bekerja dengan posisi pimpinan." "Aku tahu. Aku hanya kebetulan melihat foto itu." Regina kembali mengetik sesuatu. Rey meletakkan ponsel Regina. "Haruskan aku menyingkirkan wanita itu? Henry terlihat lebih bahagia dengan wanita itu daripada denganmu." Regina menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya dari gelombang emosi yang melanda. "Tidak perlu, Kak. Aku tidak ingin ikut campur masalah pribadinya.".Rey mencibirnya, "Bukankah kau sampai menentang Papa untuk menikah dengannya dan kau juga begitu keras kepala menolak kerja sama denganku dan Papa hanya karena pria itu. Apa cintamu sekarang sudah luntur?""Aku
"Regina akan menjadi CEO perusahaan menggantikanku!" Tuan Tan menegaskan. "Regina, bisakah kau mengatakan sesuatu kepada para kolega kita?"Regina mengalihkan pandangan. Dia mencoba untuk menenangkan perasaan dan pikirannya. Namun, suara keras tiba-tiba terdengar. "Aku tidak memberimu izin!" Pria yan
"Nyonya, Anda mau kemana?" agen properti itu menahan Regina."Aku tidak jadi menyewa tempat ini!" Regina dengan cepat melarikan diri. Agen properti itu mengambil ponselnya. "Tuan, Nyonya sudah melarikan diri. Saya sudah berhasil mengelabuinya. " Senyum licik terukir di bibir wanita itu. ***Regina ber
"Kau ingin pergi? Kemana kau bisa pergi? Tidak mudah mencari rumah dalam waktu singkat," cibir Regina. "Itu urusanku!" Regina langsung pergi begitu saja. Regina tidak perlu membereskan apapun karena semua adalah milik Henry. Saat kakinya melangkah melewati ruangannya, tanpa sengaja dia bertemu denga
"Kevin, aku pergi untuk bekerja bukan untuk liburan dan Regina juga memiliki pekerjaan lain yang harus dikerjakan. Aku tidak bisa membawanya bersamaku." Henry menjelaskan dengan tenang. "Papa, apa kau tidak takut sesuatu yang buruk akan terjadi? Aku hanya bisa mengandalkan Papa untuk melindungi Mama






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews