LOGIN"Ini bagus sekali," ujar Adeeva memandang kalung berlian di pegang nya dengan mata berbinar. "Kalau bukan karena Mas Rafael yang membelinya, aku juga nggak akan bisa beli. Aku harus mengumpulkan gaji selama 2 tahun baru bisa beli ini," monolog nya.Adiva tak bosan memandang sebuah perhiasan yang diberikan oleh Rafael khusus untuk nya. Ia tersenyum bahagia memiliki perhiasan yang mahal dan berharga itu. Sekaligus merasa beruntung mendapatkan hadiah dari kakak iparnya."Kalau dilihat-lihat..., Mas Rafael orang yang sangat setia dan juga dermawan. Kenapa Mbak Mela malah milih selingkuh, sih?" "Mas Rafael sudah menjadi suaminya dan dia mendapatkan suami dan juga Ayah yang sangat baik. Kenapa malah pakai selingkuh dan malah kembali ke masa lalunya?" Adiva menghela napas lelah."Apa aku rebut saja Mas Rafael dari Mbak Mela?" monolog Adiva dengan senyuman smirk.Entah mengapa sejak awal ia melihat perselingkuhan kakak dengan tunangannya, terbesit pikiran licik untuk merendahkan diri merebu
"Bagaimana menurutmu? Apa aku harus mempertahankan pernikahanku ini sedangkan rumah tanggaku tak ada kepastian untuk kedepannya?" tanya Rafael tampak putus asa.Adiva tampak termenung karena mendengar pertanyaan dari kakak ipar yang meminta pendapatnya. Ia sendiri juga bingung untuk memberikan pendapat. Dan ia pun juga tahu siapa pria yang menjadi selingkuhan kakaknya."Kalau Mas bercerai dengan Kak Pamela, bagaimana dengan Keira? Dia akan menjadi korban perceraian kalian berdua."Rafael bukan tidak tahu dampak yang akan didapatkan bila dirinya bercerai. Anaknya--- meskipun baru memiliki anak satu--- tapi dampak psikologis bisa terkena juga. Dan jika dirinya nanti melihat bahwa Keira membutuhkan figur ibu, apakah Rafael bisa berperan menjadi dua orang tua sekaligus? Jika Rafael menikah lagi apakah bisa istri barunya menerima kehadiran Keira? Sejauh mana yang ia ketahui, ibu tiri banyak memiliki perangai yang buruk. Ibu kandungnya saja tidak mempedulikannya, bagaimana dengan ibu tiri?
"Kau sudah lakukan apa yang Aku perintahkan?" tanya Rafael melirik ke arah Farid."Sudah, Tuan. Saya pastikan semua investor yang ada di perusahaan Tuan Davin akan pergi satu persatu." Farid tersenyum tipis memandang bosnya.Rafael mengangguk puas mendengar jawaban asistennya. Ia memerintahkan kepada Farid untuk menyerobot data perusahaan milik Davin dan meretasnya agar saham turun drastis. Dan itu berpotensi akan merugikan perusahaan milik Davin senilai trilyunan.Farid memperhatikan ekspresi wajah Rafael yang begitu tenang sekaligus misterius. Pria itu sudah bisa menebak bahwa Rafael akan melakukan tindakan berbahaya dan juga menakutkan bagi kedua orang pengkhianat itu. Istrinya, dan juga sahabatnya."Anda sepertinya tidak main-main dengan apa yang Anda lakukan," komentar Farid sambil menyulut api cerutunya."Aku bermain-main?" Rafael tertawa kecil. "kamu salah kalau bilang aku jadi bermain-main. Aku sedang mencari pacuan untuk adrenalin yang begitu menantang. Tapi masalahnya, aku
"Aku tidak menyangka kalau kamu ternyata masih ingat pulang ke rumah. Kenapa tidak terus-terusan tidur dengan selingkuhan mu di sana?" sindir Rafael kepada Pamela yang sedang menyisir rambutnya."Kamu sudah mendapatkan kepuasan darinya. Kenapa tidak menginap di sana beberapa hari supaya kamu bisa setiap saat melayaninya?" Rafael menyindir istrinya yang setelah semalaman tidak pulang ke rumah. Dan pulang ketika pagi tanpa merasa bersalah sedikitpun. Pamela menatap tajam suaminya yang terang-terangan menyindir."Enteng kamu berbicara seperti itu!" kata Pamela menahan kesal.Rafael berdecih. "Apakah aku harus berbicara lembut kepadamu?""Ini rumahku. Tentu saja aku bebas mau pulang atau tidak," sahut Pamela dengan sinis."Tapi ingat satu hal! Kamu bisa kehilangan hak rumah ini jika terus menerus bersama pria itu." Rafael sedikit memberikan ancaman kepada istrinya.Pria itu mendekati Pamela dan berbisik, "seleramu bagus juga. Sahabat ku yang kamu pilih sebagai selingkuhan mu."Pamela ter
"Kenapa kamu malah terlihat dan tidak pergi dari sana?" Pertanyaan itu hanya Rafael simpan dalam hati.Rafael dengan santai menaiki tangga tanpa menoleh ke arah belakang dimana adik iparnya kini berada. Pria itu terlihat lega setelah menyalurkan biologisnya walaupun melalui fantasi liar. Ini lebih baik daripada dia nantinya merasakan pusing kepala. Sedangkan Adiva yang tersadar dari lamunannya, merendahkan tubuhnya dengan lemah. Wanita itu berjongkok sambil mengatur detak jantung dan nafasnya yang tak beraturan. Berulang kali ia menggelengkan kepala seperti tak percaya dengan apa yang baru saja ia perhatikan. Adiva kembali melihat ke arah tangga di mana Kakak ipar nya telah menghilang. Ia meringis pelan sambil menoleh ke arah sofa tempat kakak iparnya melakukan fantasi liar. Ia menghembuskan nafas kasar mencoba membuang beban yang menghimpit rongga dada. "Kenapa aku bukannya pergi malah mematung dan memperhatikan itu semua?" Adiva menggigit ibu
"Menginap lah di rumah. Keira tidak ada yang menemani," kata Rafael kepada Adiva.Rafael membawa adik iparnya menginap di rumahnya untuk sementara. Ia tahu saat ini Adiva sedang terpuruk dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Dan ingin menenangkan diri. Adiva tak mau pulang ke rumah. Karena ia tak bisa menyembunyikan kesedihan dihadapan orang tuanya. Jika ia mengatakan bahwa Davin berselingkuh, yang ada dirinya yang disalahkan. Oleh karena perkataan yang disampaikan oleh adik iparnya itu, ia menginginkan Adiva untuk tinggal di rumahnya sementara dan pulang esok pagi. Dengan adanya Keira, bisa sedikit menghibur hati wanita itu. Sebab Adiva sangat dekat dengan Keira."Apa tidak masalah, Mas?" tanya Adiva menatap Rafael dengan keraguan.Rafael melirik sedikit. "Jangan sungkan. Kita keluarga."Rafael mengetahui bahwa Adiva merasa tak enak hati bila menginap di rumahnya. Mungkin, ia menjaga perasaan kakaknya. Wanita itu masih memikirkan perasaan orang lain di saat perasaannya sedang
"Di mana dia?" tanya Rafael melirik ke arah Farid."Sesuai permintaan Anda, saya sudah mengirimkan pesan kepada yang bersangkutan menggunakan nomor asing untuk memberitahukan hal ini," sahut Farid tersenyum tipis."Bagus." Rafael menyeringai tajam.Saat ini Rafael dan asistennya berada di dalam mob
"Ini, Tuan ... Nyonya selama ini berhubungan dengan pria ini." Beri tahu Farid.Rafael membuka dokumen yang diberikan oleh asisten kepadanya. Tadi malam, ia meminta Farid untuk mencari tahu tentang apa yang selama ini dilakukan oleh istrinya. Dan juga siapa pria yang menjadi simpanan sang istri. "
Mela melebarkan matanya ketika melihat sebuah kissmark berada di lehernya. Ia tak menyadari hal itu. Wanita itu kemudian menutup leher yang terdapat bercak merah keunguan dengan tangan lentiknya."Jawab ! kamu tidur dengan siapa?" geram Rafael menatap tajam istrinya.Pamela meneguk ludahnya dengan
"Kamu mau pergi lagi? Sudah 3 hari tidak pulang ke rumah, dan sekarang baru beberapa menit berada di rumah sudah mau pergi lagi?" Rafael terlihat marah melihat istrinya bersiap-siap akan pergi lagi. Padahal baru satu jam yang lalu wanita itu pulang.Pamela yang sedang menggunakan anting di telinga,







