Home / Urban / Kudeta Sang Bodyguard / 30. Perihal DNA

Share

30. Perihal DNA

Author: Ardianda K
last update publish date: 2026-09-19 14:11:43

Antoni duduk di kursi kerja ruang pribadinya, menatap cangkir kopi bekas yang ditinggalkan Harlan beberapa saat lalu di atas meja lobi. Pria tua itu meraih ponsel khususnya, menekan satu nomor terenkripsi milik dokter pribadi keluarga Winata yang paling tepercaya.

"Dokter Hendra, datang ke ruang kerja utama sekarang juga tanpa menarik perhatian siapa pun," perintah Antoni dengan nada suara yang sangat bernyawa namun memendam kecemasan mendalam.

Kurang dari sepuluh menit kemudian, seorang pria p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kudeta Sang Bodyguard   32. Fakta dan Rasa Menyesal

    Antoni berdiri di balik jendela besar ruang kerjanya, menatap rinai hujan deras yang membasahi kaca tebal bangunan tinggi tersebut.Tangannya yang memegang tongkat kayu berujung perak bergetar halus, menahan kecemasan yang telah menggerogoti jiwanya selama berhari-hari.Sejak mengutus agen intelijen tepercayanya untuk melacak silsilah anak kandung Mirna Kusuma, Antoni tidak pernah bisa tidur dengan tenang. Setiap detik berlalu bagaikan siksaan lambat yang menagih bayaran atas dosa masa lalunya yang teramat kelam.Suara ketukan pelan di pintu kayu jati memecah keheningan ruangan yang sunyi dan dingin tersebut. Dokter Hendra melangkah masuk dengan wajah pucat pasi, menggenggam sebuah amplop cokelat tebal berselotip segel merah di tangannya."Hasil analisis laboratorium independen dari sampel yang kita ambil sudah keluar, Pak Antoni," ujar Dokter Hendra dengan nada suara yang sangat rendah, hampir berbisik.Antoni memutar tubuhnya perlahan, menatap amplop cokelat itu dengan pandangan mat

  • Kudeta Sang Bodyguard   31. Kehilangan Akal Sehat

    Rinka membanting cangkir teh porselennya ke atas piring tatakan hingga menimbulkan bunyi berdenting keras di dalam ruang makan mewah. Matanya menatap Brian dengan kilatan murka yang tidak lagi bisa disembunyikan di balik wajah anggunnya."Kau harus menikahi Agnes bulan depan, tidak ada penundaan lagi!" tegas Rinka dengan nada suara bariton yang menusuk indra pendengaran semua orang di ruangan itu.Brian mengusap wajahnya yang kasar, menggeser piring sarapannya dengan gerakan frustrasi yang amat jelas."Pernikahan bukan solusi instan untuk menutup kerugian kasino, Ibu, Agnes bahkan belum sepenuhnya memberikan lampu hijau!""Uang dari keluarga Agnes adalah satu-satunya suntikan dana segar yang bisa menyelamatkan lini bisnis kita!" potong Rinka cepat, matanya menyempit menembus iris mata putranya.Rinka sengaja menekan Brian dengan sangat keras demi mempercepat masuknya modal besar yang nantinya akan dialirkan secara tersembunyi untuk menyokong Soerja Group.Perusahaan keluarga lamanya y

  • Kudeta Sang Bodyguard   30. Perihal DNA

    Antoni duduk di kursi kerja ruang pribadinya, menatap cangkir kopi bekas yang ditinggalkan Harlan beberapa saat lalu di atas meja lobi. Pria tua itu meraih ponsel khususnya, menekan satu nomor terenkripsi milik dokter pribadi keluarga Winata yang paling tepercaya."Dokter Hendra, datang ke ruang kerja utama sekarang juga tanpa menarik perhatian siapa pun," perintah Antoni dengan nada suara yang sangat bernyawa namun memendam kecemasan mendalam.Kurang dari sepuluh menit kemudian, seorang pria paruh baya berkacamata tebal melangkah masuk membawa tas medis hitam yang terkunci rapat.Dokter Hendra membungkuk hormat, menyadari ketegangan luar biasa yang melingkupi raut wajah sang komisaris utama malam ini."Ambil sisa sampel DNA dari cangkir kopi ini dan amankan beberapa helai rambut pengawal pribadi Brian di pos penjagaan," ujar Antoni sembari menyerahkan kantong plastik steril ke tangan sang dokter.Dokter Hendra menerima sampel tersebut dengan tangkas, memasukkannya ke dalam wadah khus

  • Kudeta Sang Bodyguard   29. Pembalasan Atas Dosa

    Antoni Winata melangkah perlahan melintasi lorong divisi sumber daya manusia, mengetukkan tongkat kayunya yang berujung perak di atas ubin marmer yang mengilap.Langkah kakinya yang berat dan sedikit diseret mencerminkan kondisi fisiknya yang belum sepenuhnya pulih pasca-perawatan intensif beberapa bulan lalu.Dia datang langsung ke lantai personalia tanpa didampingi asisten pribadi, berniat mencari berkas evaluasi kinerja tim pengawal eksekutif secara mandiri.Langkah Antoni terhenti di depan sebuah meja kayu mahoni yang berantakan dengan tumpukan map tebal di area ruang arsip keamanan.Kepala divisi personalia yang kebetulan sedang melangkah keluar dari sudut ruangan lain langsung membungkuk hormat saat melihat sang komisaris utama berdiri di sana."Pak Antoni, ada yang bisa saya bantu untuk mencari dokumen resmi perusahaan sore ini?"Antoni mengibaskan tangan kirinya secara perlahan, mengisyaratkan agar staf tersebut tidak perlu repot-repot memberikan layanan formal secara berlebih

  • Kudeta Sang Bodyguard   28. Orang yang Lebih Berbahaya

    Harlan melangkah melintasi koridor berlapis marmer di lantai eksekutif Winata Group dengan langkah tegap, membetulkan letak jas hitam yang membungkus tubuh jangkungnya.Wajahnya yang semula pucat akibat demam kini kembali dingin dan tanpa ekspresi, siap menjalankan kembali peran penyamarannya di tengah sarang musuh.Di dalam ruang kerja utamanya yang luas, Brian sedang berdiri mengawasi deretan grafik saham yang masih menunjukkan tren merah di atas layar monitor besar.Suasana hatinya yang hancur akibat kekalahan finansial dan tekanan dari pihak kasino makin terbakar begitu melihat sosok Harlan muncul di ambang pintu ruangan."Dari mana saja kau, bajingan?" bentak Brian dengan suara melengking, melangkah lebar menghampiri Harlan dengan wajah yang merah padam oleh murka.Harlan hanya menundukkan kepalanya sedikit, menampilkan gesture penghormatan formal tanpa sedikit pun menunjukkan getaran gentar di matanya."Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Brian, saya mengalami gangguan

  • Kudeta Sang Bodyguard   27. Celah Fatal

    Harlan terbaring di atas tempat tidur lipat di dalam paviliun tempat tinggal sementaranya, menatap langit-langit kamar yang tampak berputar perlahan.Tubuhnya yang biasanya sekeras baja kini terasa berat, digerogoti demam tinggi akibat kelelahan fisik dan mental yang menumpuk setelah berhari-hari bertarung di balik bayangan.Di sudut ruangan, sebuah sinyal pendek dikirimkan oleh sistem pemantau kesehatan otomatis milik Randy ke dalam jaringan komunikasi pribadi Clara.Randy tahu hanya ada satu orang di dunia ini yang mampu membuat Harlan menurunkan dinding pertahanannya saat dalam kondisi paling lemah.Kurang dari satu jam kemudian, suara derit halus pintu depan berbunyi, disusul oleh langkah kaki terburu-buru yang melintasi lantai semen paviliun yang dingin.Clara melangkah masuk membawa kantong plastik berisi obat-obatan dan bahan makanan, matanya langsung menyapu sekeliling ruangan yang sunyi dan minim perabotan.Gadis itu terhenyak di ambang pintu kamar saat melihat Harlan terkula

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status