แชร์

29. Pembalasan Atas Dosa

ผู้เขียน: Ardianda K
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-15 11:40:40

Antoni Winata melangkah perlahan melintasi lorong divisi sumber daya manusia, mengetukkan tongkat kayunya yang berujung perak di atas ubin marmer yang mengilap.

Langkah kakinya yang berat dan sedikit diseret mencerminkan kondisi fisiknya yang belum sepenuhnya pulih pasca-perawatan intensif beberapa bulan lalu.

Dia datang langsung ke lantai personalia tanpa didampingi asisten pribadi, berniat mencari berkas evaluasi kinerja tim pengawal eksekutif secara mandiri.

Langkah Antoni terhenti di depan
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Kudeta Sang Bodyguard   42. Pengasingan Harlan

    Bunyi moniter detak jantung di dalam ruang perawatan intensif berbunyi bip berulang kali dengan nada yang makin lemah. Antoni terbaring kaku di atas tempat tidur medis dengan pelbagai selang menancap di tubuhnya, memperlihatkan kondisi kesehatannya yang kembali kritis secara mendadak.Brian berdiri di samping ranjang dengan raut wajah pucat pasi dan mata yang memerah akibat kurang tidur. Sesekali, pria muda itu berjalan bolak-balik di lantai marmer, jemarinya memegang kepala yang terasa pening dihantam rentetan masalah.Teror dari kelompok suruhan keluarga Santoso, sub-keluarga mafia berbahaya di bawah naungan keluarga Sandekala, membuat paranoia Brian mencapai titik tertinggi. Brian makin senewen dan murka setiap kali menyadari Harlan tidak berdiri tepat di samping tubuhnya untuk mengawal."Kau dari mana saja, Harlan?!" bentak Brian dengan suara melengking saat Harlan melangkah masuk ke dalam ruang perawatan. "Di saat bajingan-bajingan mafia itu mengincarku, kamu malah sering menghi

  • Kudeta Sang Bodyguard   41. Tanda Tanya Besar Clara

    Aroma lantai yang baru dipel dan denting samar musik latar melingkupi udara retail supermarket tempat Clara bekerja. Pelanggan berlalu-lalang menuntun troli, sementara barisan lampu neon memantulkan cahaya terang ke atas rak-rak produk yang tertata rapi.Di lorong bagian makanan kemasan, Randy berjalan pelan bersama kekasihnya, Lidya, sembari mendorong troli belanjaan. Harlan sengaja belum pernah mempertemukan Clara dengan Randy secara langsung, membuat penyamaran kecil ini berjalan sangat mulus tanpa memicu kecurigaan."Yang itu pegawai kasirnya, kan?" bisik Lidya berpura-pura mengambil kotak sereal dari rak tinggi.Randy menoleh tipis, matanya melirik ke arah lorong kasir tempat seorang perempuan berseragam retail sedang melayani pembeli. Clara tersenyum ramah, mengoperasikan mesin pemindai harga dengan gerakan cekatan dan menyapa setiap pelanggan dengan kehangatan murni.Lidya mengambil dua kaleng minuman, berpura-pura membandingkan nutrisi di label belakangnya. "Dia kelihatan mani

  • Kudeta Sang Bodyguard   40. Saat Tabir Rahasia Terungkap

    Harlan memilih membisu, menyimpan rapat-rapat keraguan di dadanya tanpa pernah melontarkan satu pertanyaan pun kepada Clara. Pria itu menolak merusak kehangatan manis yang selama ini menjadi satu-satunya tempat bersandar di tengah kejamnya perang konspirasi.Hari-hari berikutnya berjalan seolah tidak terjadi apa pun di antara mereka berdua. Harlan tetap setia menjemput Clara di depan gedung kantor tempat perempuan itu bekerja setiap sore hari.Rintik hujan dan hembusan angin malam sering kali membawa mereka kembali ke kamar rumah susun yang remang dan tenang.Di atas ranjang yang sama, Harlan dan Clara kembali menumpahkan seluruh rasa lelah, saling mendekap erat dalam balutan gairah yang intens. Cumbuan mereka begitu panas dan terus membangkitkan berahi cinta yang selalu menunjukkan keinginan untuk saling melindungi.Namun, di balik kehangatan setiap sentuhan dan tatapan mata Clara, pikiran Harlan terus berkecamuk membayangkan sekelompok pria berjas yang tunduk patuh hari itu. Tak ha

  • Kudeta Sang Bodyguard   39. Darah dan Besi

    Harlan menghentikan langkahnya di balik pilar beton area parkiran luar, matanya menyempit menembus tirai tipis gerimis pagi. Di dekat pintu masuk samping gedung rumah susun, sosok Clara berdiri anggun dengan gaun kasual sederhana yang dibalut mantel cokelat.Di hadapan Clara, tujuh pria bersetelan jas gelap yang beberapa menit lalu berada di lorong rumah susun kini berdiri berbaris rapi. Pria-pria berperekatan fisik tegap yang tampak berbahaya itu memiringkan kepala mereka, menunduk dalam-dalam dengan gestur kepatuhan mutlak.Harlan menahan napasnya, merapatkan tubuhnya ke dinding cold-storage parkiran agar keberadaannya sama sekali tidak terdeteksi oleh siapapun.Pria itu menyaksikan bagaimana salah satu dari gerombolan berjas tersebut menyerahkan sebuah folder tebal berselotip segel hitam kepada Clara dengan kedua tangannya.Clara menerima folder tersebut tanpa ada sedikit pun raut wajah terkejut, cemas, atau takut seperti yang selama ini ditunjukkannya. Jemari halus perempuan itu m

  • Kudeta Sang Bodyguard   38. Perang Saraf

    Harlan menarik napas dalam-dalam saat menyapu punggung Clara yang mulus, merasakan detak jantung perempuan itu yang berdegup kencang di atas dadanya. Di dalam kamar rumah susun yang remang-remang, sisa-sisa gairah malam masih menyelimuti udara dingin di antara mereka.Clara menyandarkan kepalanya di dada bidang Harlan, membiarkan jemarinya menelusuri bekas luka samar di bahu pria itu. keheningan malam terasa sangat berharga bagi mereka berdua di tengah pusaran konspirasi berdarah yang terus mengintai."Harlan, sebenarnya siapa kamu yang sebenarnya sebelum menjadi pengawal?" bisik Clara pelan, menatap wajah Harlan dari dekat dengan pandangan sarat akan rasa ingin tahu.Harlan menghentikan belaian jemarinya di rambut Clara, matanya yang tadi lembut mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh jarak. Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit kamar, dengan halus menghindari tatapan mata Clara."Ada hal-hal dari masa lalu yang tidak perlu kamu ketahui, Clara," jawab Harla

  • Kudeta Sang Bodyguard   37. Teror Pembukaan

    Brian mengacak-acak rambutnya yang kusut sembari membuang tumpukan surat tagihan berstempel merah ke atas meja kaca. Matanya yang merah akibat kurang tidur menatap layar gawai yang terus menerus bergetar menayangkan panggilan masuk dari nomor tak dikenal."Anjing-anjing kasino itu tahu nomor pribadiku, Harlan!" teriak Brian dengan suara histeris yang dipenuhi rasa panik luar biasa.Harlan berdiri tegap di sudut ruangan, memperhatikan tubuh Brian yang gemetar hebat akibat kejaran utang dan merosotnya nilai saham pribadinya. Pria arogan yang dulu selalu bertindak sewenang-wenang itu kini hancur secara mental, terjerat oleh perangkap finansial yang dirancang dengan sangat rapi.Brian melangkah mendekati Harlan, mencengkeram kerah jas pengawalnya itu dengan jemari yang menegang ketakutan."Mulai detik ini, kau harus mengawalku dua puluh empat jam penuh, tidak boleh ada jarak satu meter pun di antara kita!"Harlan menepis tangan Brian dari kerah jasnya dengan gerakan lambat namun memancark

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status