Masuk*** Alesha dibawa ke gudang kosong yang jauh dari pemukiman. Gudang yang terbengkalai. Tidak pernah ada lagi orang ke sana. Hanya mereka yang sering datang. Menjadikan tempat itu sebagai salah satu tempat markas. "Bawa dia masuk." "Oke bos." "Jangan lupa ikat dia. Nanti dia bisa kabur. Awas saja kalau dia kabur. Uang kita bisa melayang." "Bos tenang saja. Kami akan mengikatnya dengan baik. Ayo bawa dia." Mereka bertiga membawa Alesha ke ruangan di sebelahnya. Alesha diletakkan di atas kursi. Kemudian tubuhnya diikat menggunakan tali. Dari tangan hingga kaki. Setelah itu mereka kembali ke tempat tadi. Dimana bos berada. *** "Gimana? Sudah beres?" "Sudah bos." "Bos, apa bos yakin akan menerima pekerjaan ini?" tanya salah satu anak buah yang mengangkat tubuh Alesha. "Iya bos. Aku takut melakukan ini," sambung anak buah yang mengangkat tubuh Alesha satu lagi. "Udah, kalian jangan banyak tanya. Yang penting kita dapat banyak uang. Urusan itu serahkan sama aku. Aku tahu apa ya
"Alesha …." Alesha dan Furqan kompak melihat ke arah Fatih yang tiba muncul dan hampir memanggil nama Alesha. Fatih berhenti memanggil Alesha ketika menyadari yang dicari sedang bersama Furqan. Lantaran saat ini penampilannya seperti di kampus. Karena berjaga-jaga jika bertemu dengan teman-temannya. Tempat yang sering dikunjungi oleh mahasiswa. Bukan teman-teman malamnya. Furqan melirik secara bergantian antara Fatih dan Alesha. Sontak dia teringat kembali jika Alesha sudah menikah. Terutama dengan suami Alesha yang sedikit tidak asing. "Apa dia pacar kamu?" tanya Fatih menutupi kecurigaan Furqan dengan pura-pura tidak kenal dengan Alesha. Alesha memiringkan kepala. Kebingungan dengan pertanyaan Fatih. Dia adalah istrinya. Kenapa malah dia pacaran dengan orang di sampingnya. 'Kenapa Mas Fatih malah bilang aku pacarnya orang ini. Apa jangan-jangan orang ini kenal sama Mas Fatih ya,' tebak Alesha yang cepat peka dengan keadaan. "Bukan. Dia bukan pacar saya. Saya hanya bantu dia
"Jadi, hanya karena itu kamu marah lagi. Kamu jangan panik. Nanti kita kerjain balik.""Bukan hanya itu, tau.""Apalagi? Kok hidup kamu ribet amat.""Kamu tahu ibunya Fatih?""Nggak tuh," sahut Cindy cuek. Mana dia kenal kedua orang tua Fatih. Sama Fatih saja tidak akrab. Tau Fatih karena pacar Bella doang."Kamu yang serius dong," kata Bella naik pitam diabaikan."Aku beneran nggak kenal. Silahkan kamu lanjutkan omongan kamu," ucap Cindy duduk dengan tegak. Bella menatapnya dengan tajam. Tidak bercanda lagi."Jadi, dia ingin Alesha segera hamil. Jika sampai gadis tengik itu hamil, maka posisiku bisa terancam.""Iya sih. Kemungkinan besar kamu bisa ditinggal sama Fatih.""Oleh karena itu, aku sudah ada acara biar dia tidak mengandung anak Fatih," ujar Bella tersebut licik."Apa?" tanya Cindy penasaran."Akan aku buat dia mengandung anak orang lain.""Maksudnya kamu?""Aku akan menyewa orang agar gadis tengik itu hamil.""Apa kamu gila! Nggak! Kali ini aku nggak setuju sama kamu dan ak
Pada pagi hari Alesha dan Fatih sudah berada di meja makan. Hubungan Fatih dan Alesha kembali seperti semula. Alesha sudah tidak marah lagi kepada Fatih. Tidak baik marah terlalu lama. Fatih pun tidak menyinggung sama sekali tentang masalah kemarin. Itu sama saja dengan mencari gara-gara. Mereka berdamai tanpa ucapan kata maaf. Baik begitu saja. Seperti masalah kemarin tidak terjadi."Aaa!"Ketika mereka sedang sarapan, mereka mendengar suara teriakan dari Bella yang menggema. Keduanya tersentak kaget."Kenapa dengan Bella?" tanya Fatih melirik ke arah pintu ruang makan."Nggak tahu tuh. Mungkin dia dapat jackpot," sahut Alesha cuek mengangkat kedua bahu.Beda terlihat dari luar, dalam hati Alesha tertawa girang. Puas dengan reaksi dari Bella. Walaupun sedikit sayang tidak bisa melihat wajah Bella secara langsung."Alesha!" teriak Bella yang sudah berdiri di depan pintu ruang makan.Alesha dan Fatih sontak melihat ke arah Bella. Kedua mata itu melirik tubuh Bella dari atas sampai baw
*** "Bang Fatih mau ke mana?" tanya Alesha saat Fatih naik ke lantai dua. Alesha mengikuti Fatih dari belakang ketika masuk ke dalam rumah. Langkah Fatih sudah menuju ke lantai dua. Lantai yang jarang ditempati. "Aku mau istirahat di lantai atas," sahut Fatih yang berdiri di anak tangga pertama. "Kenapa Bang Fatih istirahat di atas. Apa ada sesuatu yang Bang Fatih sembunyiin?" tanya Alesha curiga. "Bukannya semalam kamu melarang aku tidur di kamar?" "Ah itu …." Alesha baru ingat jika semalam tidak membiarkan Fatih masuk ke dalam kamar. "Itu kan semalam," balas Alesha dengan suara kecil. "Jadi sekarang aku sudah boleh masuk ke kamar?" Alesha mengangguk kecil. Seandainya Fatih tidur sendiri, yang ada malah di goda Bella. Sekarang pun dia sudah tidak semarah semalam dan tadi pagi. Fatih menghela nafas. Tanpa ucapan sepatah kata lagi dia segera ke kamar. Sebelum Alesha berubah pikiran. Alesha melirik dan memastikan Fatih masuk ke dalam kamar. Kepalanya sedikit menjulur berusa
"Assalamualaikum Fatih." "Waalaikumsalam Umi." "Bagaimana kabar kalian. Kalian sudah jarang menelepon Umi." "Kami baik-baik saja, Umi. Umi dan Abi apa kabar?" "Alhamdulillah, kabar kami juga baik. Dimana Alesha? Umi mau dengar suara menantu Umi?' "Maaf Umi,sekarang Fatih lagi di di luar," sahut Fatih. "Kamu pergi sendiri. Alesha nggak ikut sama kamu?" "Alesha ada di rumah Umi. Fatih cuma pergi sebentar." "Oh gitu. Umi pikir kamu nggak ngajak Alesha. Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Alesha, baik-baik saja kan?" tanya Nyai Aisyah. Nyai masih was-was Alesha akan meninggalkan anaknya. Setelah mengetahui bagaimana perubahan Fatih. Namun setelah sebulan berlalu, tidak ada isu hubungan mereka renggang. Sehingga membuat Nyai sedikit berharap lebih kepada Alesha. "Kami baik-baik saja Umi. Ada apa Umi tanya seperti itu?" "Ah, nggak ada. Umi senang mendengarnya," sahut Nyai sedikit gugup ditanya balik. "Jadi, kapan Umi bisa mendapatkan cucu," lanjut Nyai. Jika mereka baik saja, kem







