LOGIN"Kemudian, suatu hari aku nggak sengaja berkunjung ke kediaman Keluarga Sutedja dan menyadari bahwa Ryan ternyata masih mencintaiku. Aku sangat bahagia saat itu," ujar Yunda dengan pipi yang sedikit merona. "Hari itu aku masuk ke kamar Ryan. Di bawah tempat tidurnya, aku menemukan surat cinta yang ditulis oleh Susan. Saat Ryan mengetahuinya, dia nggak memarahi Susan. Dia hanya menasihatinya agar membuang niat buruk itu. Bahkan Ryan memelukku tepat di hadapan Susan. Kami berdua mengira Susan akan mengerti."Makin Yessica mendengar cerita itu, ekspresinya makin menunjukkan kemarahan yang meluap. Dia seolah-olah bisa merasakan penderitaan itu sendiri. Mulutnya ternganga, ingin sekali menyela untuk memaki, tetapi dia menahan diri karena tidak ingin memotong cerita Yunda.Yunda melanjutkan, "Aku dan Ryan sebenarnya nggak tahu apakah Susan mengerti. Kenyataannya, setelah itu Susan terus mengusik Ryan dan menolak untuk melepaskannya. Bahkan setelah dia tahu aku dan Ryan akan segera bertunanga
Setelah menyimpan ponselnya, Yessica mendengar serangkaian suara notifikasi pesan yang masuk.Tak lama kemudian, nada dering telepon pun menyusul.Tanpa melihat layar pun Yessica tahu itu adalah telepon dari Daniel. Hanya urusan Susan yang bisa membuat pria itu mengirimkan pesan sebanyak ini padanya.Yessica mengentakkan kaki karena kesal, lalu langsung mematikan ponselnya tanpa pikir panjang.Begitu kembali ke ruangan, Yessica melirik sekilas kerumunan pria yang sudah terkapar di lantai atau sofa karena mabuk.Di seluruh ruangan pribadi itu, hanya Yunda yang tampak masih sadar.Bahkan Gavin pun tampak bersandar di sofa dengan mata terpejam, entah benar-benar tertidur atau tidak.Yessica mengerucutkan bibir dengan muak.Dengan kemampuan seperti ini, beraninya mereka berpikir untuk membuat Ryan mabuk.Yessica duduk kembali ke posisinya semula. Matanya melirik ke sekeliling, lalu dia mendekati Yunda sambil berbisik, "Kak Yunda, ke mana Pak Ryan pergi?"Yunda menatapnya dengan tatapan lem
Ryan tidak memberikan respons apa pun.Sementara itu, Yessica mengernyitkan kening sambil menatap Gavin dengan rasa muak. "Hei, Gavin! Jangan bilang kamu ingin aku membawamu pulang?"Gavin hanya menutupi matanya dengan telapak tangan, tidak mengucapkan apa pun.Yessica menendang kakinya pelan.Namun, Gavin tetap bungkam.Yessica memutar bola matanya dengan kesal. "Aku mau ke kamar mandi sebentar. Aku harap kamu nggak pingsan di sini."Yessica awalnya menuju kamar mandi di lantai tersebut, tetapi dia mendapati bahwa semua bilik toilet sedang terisi. Setelah menunggu sebentar, masih tidak ada seorang pun yang melangkah keluar. Jadi, dia akhirnya memutuskan untuk turun ke lantai bawah.Begitu kakinya menginjak lantai dasar, tiba-tiba seseorang berlari kencang, hingga nyaris menabraknya.Yessica tersentak, lalu buru-buru melangkah mundur demi menghindari tabrakan.Dia berusaha keras menahan diri agar tidak mengeluarkan kata-kata kasar.Yessica menahan napas, lalu menoleh ke arah orang ters
Susan menggosok matanya, sementara suaranya terdengar tidak jelas, "Apa yang kamu bicarakan?"Yunda menggertakkan giginya. "Berhenti bersandiwara! Susan, kamu sudah sadar sekarang, 'kan? Jangan berakting lagi, itu memuakkan."Kening Susan berkerut kesal, lalu dia meninggikan suaranya, "Ada apa denganmu? Apa yang kamu bicarakan? Aku benar-benar nggak mengerti!"Yunda melangkah maju, sementara tangannya terjulur untuk mencengkeram kerah baju Susan. "Susan, kamu ….""Yunda."Begitu suara Ryan terdengar dari arah belakang, sekujur tubuh Yunda menegang. Lengannya yang tadi mencengkeram kerah baju Susan pun mendadak kaku dan perlahan turun.Tubuh Susan yang sempat tertarik ke atas kehilangan keseimbangan saat dilepaskan. Dia terjatuh dari kursi ke lantai dengan bunyi keras, lalu erang lirih menahan sakit terdengar.Keringat dingin mulai muncul di kening Yunda. Dia langsung bergegas membantu Susan untuk berdiri.Yunda berujar dengan suara yang mendadak lembut, "Ayo, Susan, pelan-pelan. Hati-h
Yunda mengangkat gelasnya, lalu mendentingkannya pelan dengan gelas salah satu teman. "Kamu terlalu baik."Suasana hati Ryan hari ini sedang kacau. Dia tidak banyak berbicara, hanya terus menuangkan alkohol ke tenggorokannya.Suasana di dalam ruangan pribadi itu tetap meriah karena semua temannya berusaha keras menghidupkan suasana.Namun, Yunda yang duduk di samping Ryan bisa merasakan perubahan emosi pria itu dengan jelas.Yunda bisa menebak bahwa kegelisahan Ryan bermula sejak pertemuan singkat dengan Susan tadi.Hati Yunda terasa sesak.Yunda merasa ada percikan cinta lama yang mulai menyala kembali di antara Ryan dan Susan. Meskipun Yunda percaya diri dengan posisinya di hati Ryan, dia sangat memahami tabiat buruk pria, yang selalu memiliki ruang untuk menyimpan lebih dari satu wanita.Terlebih lagi pria seperti Ryan yang tampan dan kaya.Wanita mana yang tidak akan tergoda olehnya?Yunda teringat saat mereka berdua terjebak di ruangan yang sama, ketika Susan memainkan piano untu
Yunda sedikit tertegun. "Ryan?"Ryan melirik sekilas ke arah Susan yang berjalan terhuyung sambil berpegangan pada dinding di depan mereka. Dia berujar dengan suara berat, "Kalau dia ingin pergi, biarkan saja."Setelah berkata demikian, Ryan berbalik untuk menaiki tangga tanpa melirik ke arah Susan lagi.Bibir Yunda melengkung membentuk senyuman simpul. Dia memberikan tatapan penuh makna pada Susan, lalu segera berbalik mengikuti langkah Ryan.Gavin baru merasa puas setelah melihat itu. Dia pun menarik lengan Yessica untuk membawanya naik.Sementara itu, orang-orang lain yang mengikuti di belakang hanya bisa saling melempar pandang dengan canggung, lalu bergegas menyusul.Setelah berjalan beberapa langkah dengan tubuh limbung, Susan akhirnya terduduk di sebuah kursi di sudut ruangan. Kepalanya bersandar pada dinding, tampak sangat mengantuk.Kepergian para tokoh utama itu membuat bar sempat hening sejenak, sebelum akhirnya keramaian dan kekacauan kembali seperti sebelumnya.Di tengah k
Wajah Victor langsung menjadi muram. "Apa maksudmu?"Susan tidak ingin terlibat lagi dengan mereka. Dia berbalik, lalu berkata, "Ini sudah malam, aku mau istirahat."Dia mendorong Wirda keluar juga. Pada saat menutup pintu, dia mendengar suara Victor."Kak, Kak Yunda terus menunggumu. Kembalilah unt
Ini bukan undangan aktif dari Ryan, melainkan Susan yang dengan tidak tahu malu mengikutinya di kehidupan sebelumnya. Dia menggunakan alasan bahwa vila Keluarga Sutedja jauh dari sekolah.Susan sama sekali tidak mungkin mengulangi kesalahan yang sama.Dia dengan tegas menolak, "Nggak perlu, aku akan
Begitu Susan melangkah masuk, dia langsung dihentikan Victor di pintu depan.Victor menatapnya dengan tatapan dingin, mulutnya terkatup rapat seakan sedang menahan amarah. "Apa kamu memukul Feny dan Kak Yunda di rumah sakit?"Pria itu mengulurkan satu lengan untuk menghalangi di depan Susan. Kepalan
Saat jam istirahat, Susan baru saja melangkah keluar dari toilet, ketika tiba-tiba seember air langsung disiramkan ke kepalanya."Perebut kekasih orang, mati saja kamu!"Susan sudah menduga hal ini. Dia berhasil berdiri di luar jangkauan cipratan air, lalu menatap sebaskom air yang terjatuh di depan







