เข้าสู่ระบบPlaak ...
Nisa tersungkur, saat mendapatkan tamparan keras dari Yani—renternir yang meminjamkan uang kepadanya untuk membayar kerugian korban kecelakaan. "Sudah dua bulan kamu tidak membayar hutang! Kamu pikir saya ini gak butuh uang, apa?" Pekik Yani dengan suaranya yang menggelegar. "I-iya, Mami, saya pasti akan membayar hutang-hutang saya," Nisa memohon keringanan sambil menahan rasa perih pada sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah. "Begini saja, bagaimana jika kamu---" Yani tersenyum licik sambil menggantung kalimatnya. "Ba-bagaimana apa, Mam?" Nisa merinding melihat senyuman iblis yang keluar dari wajah wanita paruh baya yang ada dihadapannya saat ini. Yani menatap keseluruhan tubuh Nisa. Dia melangkahkan kaki dan mencengkram wajah Nisa dengan kasar. "Tubuh dan wajahmu tidak buruk, bagaimana jika kamu menjualnya saja?" Bisik Yani membuat Nisa menelan ludahnya dengan kasar. "Sa-saya akan membayar hutang-hutang saya, saya janji," ucap Nisa sambil berjalan mundur menjauhi Yani. Yani mendengus pelan sambil tersenyum licik. "Baiklah, saya kasih kamu waktu tiga hari. Jika kamu belum membayar hutang beserta bunganya! Maka---" Yani menatap keseluruhan tubuh Nisa. Di tempat lain. Fajar menatap dapur yang terdapat pakaiannya dan Amelia. Dia memicit kening, berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi. "Aku benar-benar tidak mengingat apapun." Sekuat apapun Fajar berusaha untuk mengingat, yang dia dapatkan hanya rasa sakit kepala yang menusuk. Dua jam berlalu. Tuk ... Tuk ... Tuk ... Fajar menoleh ke arah sumber suara. Dia melihat Amelia yang terlihat cantik seperti biasa. "Bagaimana? Apakah tubuhmu terasa ringan?" Amelia tersenyum manis menggoda, membuat Fajar semakin menundukkan pandangannya. Fajar membukakan pintu mobil untuk Amelia. "Kamu tahu, Fajar? Aku benar-benar menikmati malam panas kita, sehingga membuat tubuhku terasa lebih ringan saat ini," Amelia berbisik merdu, membuat Fajar semakin merasa bersalah. Melihat wajah Fajar yang merona dan ketakutan, Amelia pun tersenyum kecil. "Apa kamu sudah memikirkannya, Fajar?" Tanya Amelia, saat Fajar sudah duduk dibalik kemudi. "Kamu harus bertanggung jawab, atas apa yang terjadi tadi malam." "Nyonya!" Fajar membuka suara. Dia menarik napas dan menghelanya panjang. "Saya tahu saya bersalah. Saya benar-benar tidak mengingat apa yang terjadi tadi malam. Sungguh, saya berani bersumpah," ucap Fajar membuat Amelia mengernyitkan kening, mendengar apa yang pria itu sampaikan. "Dan, saya ingin tahu, pertanggung jawaban seperti apa yang Nyonya inginkan?" Amelia tersenyum kecil. "Emm, yang jelas kamu tidak akan rugi," jawabnya. "Maksud, Nyonya?" "Fajar!" Amelia mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah pria itu. "Kamu tahu? Selama aku berhubungan dengan mantan suamiku dulu, aku tidak pernah merasa terpuaskan seperti ini." Amelia menggantung kalimatnya, agar Fajar bisa memahami apa yang dia maksud. "Jadi, yang aku inginkan hanya kamu, Fajar. Aku ingin kamu bertanggung jawab atas rasa nikmat yang kamu berikan kepadaku. Aku ingin kamu selalu menghangatkan ranjang dan memuaskanku, saat aku minta," ucap Amelia sambil meraba dada bidang Fajar. Fajar menahan tangan Amelia. Dia benar-benar tidak suka dengan permintaan wanita itu. "Bagaimana? Cukup mudah 'kan?" "Maaf, Nyonya." Fajar sedikit menjauhkan tubuhnya dari Amelia. "Saya tidak bisa bertanggung jawab seperti itu." Amelia mengernyitkan kening. "Saya sangat mencintai istri saya, saya tidak bisa mengkhianati dia." "Benarkah?" Amelia tersenyum miring. "Lalu, apakah yang terjadi tadi malam bukan sebuah pengkhianatan?" Ya, apa yang Amelia katakan memang benar. Kejadian tadi malam adalah sebuah pengkhianatan yang dibuat oleh Fajar, walaupun pria itu tidak menyadari apa yang telah terjadi. "Aku hanya memintamu untuk memuaskanku saja. Aku janji dan bisa menjamin, tidak akan ada yang mengetahui tentang apa yang terjadi diantara kita. Lagi pula, bukankah kita sama-sama diuntungkan?" Bujuk Amelia. "Saya tahu jika yang terjadi tadi malam adalah sebuah pengkhianatan bagi istri saya. Untuk itu, saya akan memohon ampunannya agar bisa memaafkan saya. Saya akan melakukan apapun yang dia minta, agar istri saya memaafkan saya," ucap Fajar penuh keyakinan. "Ini sebuah kesalahan, Nyonya. Lagi pula, saya tidak menyadari apa yang terjadi tadi malam. Saya benar-benar---" "Tapi kamu melakukannya, Fajar. Kamu melakukannya dengan penuh gairah. Aku benar-benar terbuai dengan apa yang kamu lakukan pada tubuhku. Apa kamu tidak mengingatnya, Fajar? Apa kamu tidak mengingat ciuman panas kita? Apa kamu tidak mengingat apa yang sudah kita---" "Nyonya!" Fajar sedikit meninggikan suara dengan tangan yang mengepal diatas paha. "Saya benar-benar tidak mengingat apa yang terjadi tadi malam. Lagi pula, itu sebuah kesalahan, Nyonya. Itu sebuah dosa yang harus saya tanggung. Jadi, saya mohon, jangan minta saya melakukan dosa itu lagi." Amelia menggeram pelan, saat mendengar penolakan dari Fajar. "Lalu? Jika kamu tidak mau bertanggung jawab seperti apa yang aku pinta, apa kamu bisa membayarku?" Tanya Amelia, membuat Fajar terdiam dengan kening mengkerut. "Jika kamu tidak mau bertanggung jawab seperti apa yang aku pinta, maka kamu harus membayar atas tubuhku, Fajar. Kamu tahu 'kan? Jika aku bukanlah orang sembarang." Amelia tersenyum miring, saat melihat wajah pucat Fajar. "Biaya tubuhku tidak murah, Fajar." Menurut informasi yang Amelia dapat, jika pria itu memiliki kesulitan dalam keuangan. Ditambah lagi, pria itu berurusan dengan renternir. Fajar memejamkan mata dengan tangan yang terkepal, dia berusaha meredakan amarahnya. "Atau begini saja. Aku akan membayar tubuhmu untuk melayaniku," ucap Amelia. "Dan aku akan membayar dengan nilai yang tinggi. Bagaimana?" Fajar semakin erat mengepal tangannya. "Sekali permainan, aku akan membayar sepuluh juta." Amelia memperhatikan wajah Fajar yang semakin memerah. "Dan jika kamu bisa memuaskan aku lebih dari tadi malam, maka aku akan menamb---" "Maaf, Nyonya, saya tidak bisa. Saya tidak ingin melakukan perbuatan zina," potong Fajar membuat Amelia mengepal tangannya erat. "Kalau begitu, kamu harus membayarku," putus Amelia dengan tegas. * Amelia marah dan enggan melihat wajah Fajar, sehingga membuat pria itu dibebas tugaskan. "Bagaimana ini, Mas? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu sampai bisa dipecat?" Nisa merasa gundah, karena Fajar kehilangan pekerjaan, sedangkan mereka harus membayar hutang dalam minggu ini. Fajar menghela napasnya secara panjang dan berat. Dia sudah menduga, jika hal ini akan terjadi. Namun, melihat wajah sang istri yang terluka, membuat pria itu semakin merasa bersalah. Andai saja malam itu tidak pernah terjadi, mungkin dia masih bekerja dan menghasilkan uang. "Mas akan mencari pekerjaan lain, Dek, pekerjaan yang lebih baik." Fajar berusaha menenangkan Nisa. "Iya, Mas, tapi mau cari pekerjaan di mana? Memangnya siapa yang mau menerima mantan napi, Mas?" Nisa benar-benar merasa putus asa. Fajar menarik napas dan menghelanya secara panjang. Apa yang dikatakan oleh sang istri ada benarnya. Siapa yang mau menerima seorang mantan nara pidana seperti dirinya. "Tidak ada jalan lain, aku akan mencoba meminjam uang dengan kepala pelayan." Nisa bangkit dan bergegas untuk pergi. Sesampainya di rumah besar milik Amelia. Nisa langsung menemui Nela—kepala pelayan di rumah itu. "Saya mohon, Buk, tolong berikan saya pinjaman," pinta Nisa bersimbah air mata. "Aku akan memberikan pinjaman." Nisa dan Nela pun menoleh ke arah sumber suara, di mana terlihat Amelia berdiri menatap tajam ke arah Nisa. Amelia meminta Nisa untuk datang ke ruang kerja, di mana hanya ada mereka berdua saja. "Aku akan berikan berapapun yang kamu minta. Tapi dengan syarat," sambung Amelia lagi. "Sya-syarat?" "Ya, hanya satu syarat kecil saja." Nisa mengernyitkan. "A-apa syaratnya?" Amelia tersenyum licik, saat mendapati Nisa yang terlihat sangat putus asa. "Aku mau suamimu." "Ap--apa?" "Aku mau Fajar menjadi suamiku."Buk Inem melihat rambut Nisa yang masih basah dan tergerai. Sudut bibirnya pun tertarik untuk membentuk sebuah senyuman. "Kenapa Ibuk senyum-senyum?" Tanya Fajar saat menuju ke dapur."Oh, enggak kok, gak papa," jawab Buk Inem masih dengan senyuman yang mengulum di bibir. Fajar mengernyitkan kening, melirik ke arah sang istri yang tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi."Ibu ke depan dulu, ya!" Pamit Buk Inem masih dengan senyum yang terkulum di bibir."Iya, Buk." Fajar mengangguk pelan, membalas senyuman buk Inem dengan bingung.Namun, beberapa detik selanjutnya, Fajar paham kenapa buk Inem tersenyum penuh arti kepadanya saat melihat Nisa. Ya, rambut Nisa yang basah terurai, sudah menandakan jika telah terjadi sesuatu di antara mereka berdua. Di tambah lagi, tanda cinta yang Fajar ciptakan mengintip malu dari sela-sela rambut yang hitam terurai. Fajar pun ikut tersenyum saat menyadari hal itu semua."Kenapa, Mas?" Tanya Nisa yang memang tidak menyadari apa yang telah terjadi beberap
Amelia mengepalkan tangannya erat, saat mendapatkan informasi tentang Fajar, di mana pria itu sudah bertemu dengan Nisa."Brengsek!" Amelia menggebrak meja dengan kepalan tangannya. Dia benar-benar geram mendengar jika Nisa telah membawa Fajar pulang.Cling ...Amelia melirik ke arah ponselnya yang berbunyi. Dia bergegas mengambil benda datar yang seukuran telapak tangan, saat melihat notifikasi atas nama Fajar. Dengan dada yang bergemuruh, Amelia membuka isi pesan tersebut."Maaf, malam ini aku tidak bisa pulang. Aku akan menginap bersama Nisa dan anakku."Ya, satu kalimat pemberitahuan yang dikirimkan oleh Fajar, berhasil membuat Amelia memendam amarahnya."Akkhhh ...." Pekik Amelia, sambil melempar ponsel yang ada ditangannya.Desi yang melihat kondisi ponsel Amelia saat ini hanya bisa menghela napasnya secara perlahan dan panjang. Melihat bagaimana wanita itu marah, Desi bisa menduga, jika Amelia terobsesi kepada Fajar. "Bagaimana mereka bisa bertemu?" Geram Amelia sambil memuku
Sudah seminggu berlalu, Fajar terus mencari keberadaan Nisa. Akan tetapi, wanita yang sudah bertahun-tahun menemaninya di saat suka dan duka masih belum juga dia temukan keberadaannya. "Kemana lagi aku harus mencari kamu, Nisa?" Gumam Fajar sambil mengusap wajahnya yang terasa lengket dan berminyak.Seharian berkeliling mengendarai motor, demi mencari keberadaan sang istri. Bahkan, untuk mengisi perutnya dengan sepotong kue saja, Fajar tak mampu. Uang yang saat ini ada ditangannya, hanya cukup untuk mengisi bensin saja. Ya, Fajar harus berhemat, karena saat ini dia tidak memiliki pekerjaan tetap untuk menghasilkan uang.Fajar menghela napasnya secara perlahan. Perutnya semakin terasa perih dan terus berbunyi, bahkan tenggorokannya juga mulai terasa kering. Seharian mencari keberadaan Nisa, tanpa meneguk setetes air dan sesuap nasi, membuat tubuh pria itu melemas. "Apakah aku harus meminta tolong kepada Amelia? Untuk mencari keberadaan mereka?" Gumam Fajar. Tapi, mengingat jika Ame
Fajar menghela napasnya secara pelan. Dia hentikan motor dipinggir jalan. Matanya menatap kosong ke arah kendaraan yang berlalu lalang. "Di mana kamu, Dek?" Lirih Fajar, mencoba mencari sosok Nisa. Fajar mencoba mengingat siapa saja kerabat dekat mereka. Akan tetapi, semua hubungan telah putus, saat Nisa mencoba meminjam sejumlah uang dengan nominal yang besar karena dirinya. Ya, semenjak kejadian itu, Nisa dan ibunya seolah hidup tanpa saudara. "Gak! Gak mungkin Nisa pergi ke rumah mereka," gumam Fajar dan kembali mengusap wajahnya dengan kasar. "Ke mana kamu, Dek? Kenapa tidak ada kabar?" Fajar memutuskan untuk berkeliling, mencari keberadaan Nisa. Pria itu berpikir, jika Nisa pergi dari rumah, karena tidak sanggup membayar uang sewa. Tapi, di mana mereka saat ini? Ke mana Nisa membawa putra dan ibunya untuk berteduh? Angin mulai berhembus, langit pun perlahan mulai menghitam. Udara sejuk pun mulai menyentuh kulit Fajar dan membuat tubuhnya terasa dingin. Semua tanda
Nisa menatap toko bunga yang ada dihadapannya saat ini. Dia benar-benar tidak menyangka, jika Amelia juga memberikan sebuah toko untuk dirinya membuka usaha. Apa ini artinya jika dirinya tidak boleh mengharap nafkah dari Fajar lagi? "Bagaimana? Anda suka?" Tanya Desi sambil tersenyum kecil. Nisa menoleh ke arah sumber suara. "I-ini beneran untuk saya?" Nisa rasanya gak percaya dengan apa yang dia lihat. Desi tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, toko bunga ini untuk Anda!" Nisa menutup mulutnya yang terbuka. Dia benar-benar tidak menyangka, jika mimpinya untuk memiliki sebuah toko bunga bisa terwujud. "Tap-tapi---" "Syaratnya masih sama," potong Desi membuat Nisa mengernyitkan kening. "Jangan membuat masalah dengan Buk Amelia," sambung Desi. "Jangan ulangi kesalahan seperti tadi!" Desi memperingatkan. "Kesalahan yang mana?" Nisa merasa tidak memiliki kesalahan. Kalau soal mengabaikan Fajar, sudah sewajarnya 'kan dia mengabaikan sang suami? Karen
Nisa mengernyitkan kening saat Desi membawanya ke sebuah toko handphone. Bukankah tadi Desi mengatakan jika mereka ingin pergi ke suatu tempat? Tapi kenapa malah pergi ke toko ponsel?"Berikan handphone keluaran yang terbaru," ucap Desi kepada si penjaga ponsel. Nisa diam berdiri memperhatikan di samping Desi. Wanita itu sedikit pun tidak pernah berpikir jika ponsel yang dibeli oleh Desi adalah untuknya. Jangankan berpikir, berharap pun Nisa tidak!"Apa Anda suka dengan model ini, Nona?" Tanya Desi membuat Nisa mengernyitkan kening sambil menatap handphone yang ada di atas meja. "Saya tidak punya uang untuk---""Ponsel ini juga pemberian Buk Direktur Amelia," ucap Desi memotong kalimat Nisa. Nisa diam, dia hanya menatap datar ponsel yang ada di tangan Desi saat ini. "Apa ada merk atau model ponsel lain yang Nona inginkan?" Tanya Desi mengambil perhatian Nisa lagi. "Hmm? Tidak ada," jawab Nisa sambil menggeleng pelan. Ya, dia tidak terlalu paham tentang handphone keluaran terbaru







