MasukAmelia meraih ponselnya, mencari nomor seseorang dan membuat panggilan,
"Apa kamu sudah mendapatkan yang aku minta?" "Ya, sudah, Nyonya. Saya baru saja mengirim informasinya," jawab orang yang berada di seberang panggilan. Amelia memutuskan panggilannya, dia bergegas mengecek email yang baru saja masuk. "Ternyata wanita itu adalah istrinya!" gumam Amelia yang entah mengapa merasa kesal saat mengetahui kebenaran tentang Fajar. Merasa lelah dan pikiran yang jenuh,, Amelia pun memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. Amelia menutup kedua mata indahnya, menikmati rasa hangat dari air rendaman dengan aroma terapi yang menguar. Namun, bayangan Fajar memenuhi semua pikirannya. Ciuman pria itu, membuat Amelia menelan ludahnya dengan kasar. "Ahhh ..." Desahan halus yang terdengar merdu, membuat Amelia meraba tubuhnya yang terendam air. Dalam bayangan Amelia, tangan kekar Fajar mengangkat tubuhnya ke dalam pelukan pria itu, membuat gairah Amelia semakin memuncak. "Fajar, kamu benar-benar membuat aku frustasi!" Desah Amelia sambil meraba keseluruhan tubuhnya. Di tempat lain. Fajar merasa lapar, dia pun beranjak ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. "Hanya ada roti." Fajar mencari sesuatu yang bisa dia oleskan di atas roti. Akan tetapi, hanya terdapat selai strawberry saja di sana. Fajar tidak menyukai selai itu, karena rasanya yang sedikit asam dan tidak cocok di lidah. Fajar teringat, jika Yanto tadi sempat memberikannya sebuah coklat sebagai hadiah pernikahan. "Aku akan melelahkan coklat ini dan menjadikannya selai coklat." Fajar tersenyum dan mencari alat untuk memasak. "Wanginya benar-benar mengunggah selera," guman Fajar sambil membuat panggilan telepon dengan sang istri. Fajar pun berbincang-bincang dengan Nisa melalui panggilan suara sambil menikmati rotinya. Untuk membasahi kerongkongan, Fajar mengambil sebotol air soda yang ada di dalam kulkas. "Happy anniversary, sayang," ucap Nisa saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 00:02 wib. "Happy anniversary, istri cantikku," balas Fajar. "Hanya mendengar suaramu saja, sudah membuat tubuhku terasa panas dan bergairah." Fajar merasa jika tubuhnya benar-benar bergairah dan juga panas. Ditambah lagi kepalanya yang mulai berat dan pusing. Di sisi lain, Amelia yang baru saja turun mendengar ucapan romantis dari mulut Fajar, membuat hatinya seakan ada yang mencubit. "Beruntung sekali wanita itu bisa mendapatkan Fajar," batin Amelia dan menatap pria itu dari kejauhan. Tak ingin mendengar percakapan romantis Fajar dengan Nisa, Amelia pun berdehem saat turun dari tangga dengan sedikit menghentakkan kakinya. Fajar yang menyadari kehadiran Amelia, langsung berpamitan kepada Nisa dan menutup panggilan. Fajar menoleh ke arah Amelia, di mana malam ini wanita itu terlihat sangat seksi dengan pakaian tidur dan rambut yang basah terurai. "Kamu belum tidur?" Amelia berjalan mendekati Fajar. "Belum, Nyonya." Amelia melihat apa yang ada di atas meja kitchen set, seketika kening wanita itu pun mengkerut. "Fajar apa yang kamu minum---" Amelia menggantung kalimatnya, saat melihat Fajar memicit keningnya dengan pipi yang sudah merona. Bisa Amelia duga, jika saat ini Fajar sudah mabuk. Ya, air soda yang Fajar minum ternyata adalah minuman beralkohol. "Akkh ...," Desis Fajar dan hampir saja terjatuh karena tubuh yang tidak seimbang. "Fajar!" Amelia refleks mendekati pria itu, memegang tubuh Fajar agar tidak terjatuh. Aroma lembut yang masuk ke dalam indra penciuman Fajar pun, membuat pria itu semakin terlena. Matanya yang terasa berat, membuat Fajar menatap Amelia dengan sayu. Tapi, dalam pandangan Fajar saat ini bukanlah Amelia, melainkan sang istri. "Nisa!" Bisik Fajar, saat melihat wanita yang memeluknya saat ini adalah sang istri. "Nisa—hmppp ...." Mulut Amelia dibungkam oleh bibir Fajar. "Kamu di sini sayang? Aku sangat mencintai kamu," bisik Fajar menciumi rambut Amelia. Nafas Fajar yang panas, membuat bulu kuduk Amelia berdiri. Tidak hanya bulu kuduk, akan tetapi gairahnya juga ikut terbangun. "Nisa, maafin aku, sayang. Maafin aku yang sudah membuat kamu menderita selama ini. Maafin aku." Cupp ... Lagi, Fajar mencium bibir Amelia dengan lembut. "Ciuman ini?" Amelia menutup kedua matanya, menikmati ciuman yang diberikan oleh Fajar. Bahkan, dia ikut membalas ciuman pria itu. "Aku mencintai kamu, Nisa. Aku sangat mencintai kamu," bisik Fajar ditengah ciuman panas mereka. "Nisa! Aku bukan Nisa." Batin Amelia dan membuka mata, kemudian melepas ciuman panas mereka. Dengan napas yang terengah. "Fajar sadarlah, aku bukan Nisa. Aku Amelia. Aku bos kamu," ucap Amelia berusaha menyadarkan pria yang sudah membuat gairahnya memuncak. "Kamu istriku. Aku merindukan kamu, sayang. Aku sangat merindukan kamu." Fajar menarik tubuh Amelia, menciumi leher wanita itu, sehingga membuat Amelia mendesah pelan. "Pria ini sedang mabuk, haruskan aku mengambil kesempatan ini?" batin Amelia. "Tidak, aku tidak bisa mengambil kesempatan pada orang yang tidak sadar. Aku---" "Akkhhh---" Amelia mendesah sedikit kuat, saat Fajar menghisap lehernya dengan kuat. "Aku mencintai kamu, sayang, aku sangat mencintai kamu." Fajar kembali menciumi bibir Amelia, tangannya mulai meraba dan membuka sehelai kain yang ada pada tubuh wanita itu. "Fajar, ini bukan salahku. Kamu yang memancing gairahku," batin Amelia dan membuka pakaian Fajar. Ya, malam ini pun menjadi malam yang sangat panas bagi mereka berdua. Sudah lama bagi Amelia tidak merasakan sentuhan selembut dan sehangat ini, sehingga membuatnya benar-benar terbuai. Tidak hanya terbuai, Amelia benar-benar sangat terpuaskan dengan apa yang Fajar berikan kepadanya. Bahkan, mantan suaminya dulu tidak pernah membuat dirinya sepuas ini. Ya, Amelia mencapai puncak gairah hingga berkali-kali, semua itu karena Fajar. "Akkh ..." Fajar memegang kepalanya yang terasa berdenyut dan berat. "Apa kamu sudah bangun?" Suara yang tak asing membuat Fajar terpaksa membuka matanya. "I-ini---" Terkejut! Tentu saja. Wajah cantik, putih, bersih tanpa make up yang saat ini tersenyum kepadanya, membuat Fajar membulatkan mata. "Nyo---" "Sssttt ...." Amelia menutup bibir Fajar dengan jari telunjuknya, membuat pria itu seketika terdiam. "Kamu benar-benar hebat, aku benar-benar sangat terpuaskan." Kalimat yang Amelia ucapkan, membuat Fajar mengernyitkan kening. Seketika dia tersadar, di mana saat ini dia berada. Fajar mengintip ke tubuhnya yang tertutup selimut, di mana saat ini dia benar-benar tidak memakai sehelai benang pun. "Bagaimana kalau kita melakukannya lagi?" Pinta Amelia dengan wajah memelas sambil meraba dada Fajar. Fajar bingung dan panik, dia benar-benar tidak tahu kenapa bisa berakhir di ranjang sang bos. "Ma-maafkan saya, Nyonya. Maafkan saya. Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Maafkan saya." Fajar bergegas turun, menutupi tubuhnya dengan selimut. Amelia terlihat kecewa, tapi dia sudah menduga jika hal ini pasti akan terjadi. "Hmm, bagaimana caranya aku bisa memaafkan kamu? Jika kamu memanfaatkan tubuhku tadi malam?" Ucap Amelia masih dengan wajah memelas. Fajar benar-benar bingung, hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan saat ini. "Maafkan saya. Maafkan sa--" "Kamu harus tanggung jawab, Fajar. Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan terhadapku." Kalimat yang diucapkan oleh Amelia, membuat tubuh Fajar seolah disambar petir. Bagaimana caranya dia bertanggung jawab? Secara dia benar-benar tidak mengingat apa yang sebenarnya telah terjadi diantara mereka berdua. Di tambah lagi, Fajar merasa bersalah kepada Nisa, karena telah menodai pernikahan mereka dengan kejadian yang tak terduga ini. "Sebenarnya apa yang telah terjadi?" Batin Fajar masih bingung dengan kondisinya saat ini.Amelia menatap Fajar yang terlihat enggan untuk mencium dirinya. Walaupun begitu, tatapan matanya masih mengunci pria itu, memastikan sebesar apa cinta Fajar kepada Nisa. "Jika kamu tak mau, tidak masalah." Amelia masih menatap Fajar tanda berkedip sedikit pun. "Aku bisa memberikan uangnya besok. Tepat setelah akad nikah kita." Amelia menarik sudut bibirnya, saat melihat reaksi wajah Fajar yang berubah panik dengan kening mengkerut.Pria itu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menatap kosong ke arah lain dengan pikiran yang berkecamuk. Apa yang harus dia lakukan saat ini. Apakah ini adalah akhir dari kesetiaannya?Amelia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Kedua tangannya diletakkan tepat di atas sandaran tangan di setiap sisinya. Dagunya terangkat sedikit ke atas, dengan tatapan mata yang masih tertuju kepada Fajar.Merasa tak ada reaksi apapun dari Fajar, Amelia pun berinisiatif untuk menghitung waktu. "Sepuluh ... Sembilan .
Fajar tak sanggup melihat air mata sang istri. Dia menangkup wajah Nisa dan menghapus setiap air mata yang keluar. "Maafkan aku, Dek. Maafkan aku yang tidak sempurna ini!" Braakk ... Nisa dan Fajar terkejut, saat seseorang menendang pintu kayu rumah mereka hingga roboh. Nisa menghapus air matanya, bergegas menuju teras rumah bersama Fajar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. "Ka-kalian---" Suara Nisa terdengar bergetar. Fajar memeluk sang istri yang tubuhnya sudah bergetar ketakutan. "Waah, apakah kalian berpelukan untuk salam perpisahan?" Yani tertawa jahat. Nisa mencengkram erat lengan Fajar, menandakan jika wanita itu sangat ketakutan. Kedatangan Yani kali ini tidak seperti biasa. Nisa merasa ada kesialan yang akan menimpanya saat ini. Akankah Yani akan menyeretnya kehadapan pria hidung belang? Karena tidak bisa membayar hutang-hutang mereka?
Fajar mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menyangka jika sang istri tega memaksanya untuk menikah dengan Amelia. Walaupun Nisa telah mengancamnya, tetapi Fajar tetap enggan untuk menikah lagi."Bagaimana bisa aku mengkhianati pernikahan kita, Dek?" Lirih Fajar menatap sendu Nisa.Nisa berdesis pelan. "Bukankah kamu memang sudah mengkhianati pernikahan kita, Mas?" Fajar mengangkat kepalanya, menatap langit-langit kamar. Dia berusaha menarik napas, akan tetapi terasa sesak di dada."Jujur saja, aku sudah lelah hidup susah begini!" Suara Nisa terdengar jauh, padahal wanita itu berada di dekat Fajar."Tiga tahun kamu di penjara, Mas, aku banting tulang untuk menghidupi keluarga kita. Mengganti tugasmu sebagai seorang suami!"Air mata Nisa pun terjatuh. Jujur saja, sebenarnya dia enggan membahas perihal tentang kecelakaan yang dialami oleh Fajar tiga tahun lalu. Nisa ikhlas menjalani semuanya. Akan tetapi, rasa sakit yang ditorehkan o
Nisa sengaja pergi pagi-pagi sekali, karena dia enggan untuk melihat wajah Fajar. "Nisa!" Panggil Buk Nella.Nisa menoleh, keningnya sedikit mengkerut saat melihat wajah serius dari kepala pelayan."Ya, Buk?" Nisa mengeringkan tangannya yang basah."Kamu di panggil oleh nyonya besar ke ruang kerjanya," ucap Buk Nela, membuat Nisa menahan napasnya."Sekarang!" Titah Buk Nela dengan tatapan matanya yang tajam.Nisa mengangguk pelan, dia pun bergegas menuju ke ruang kerja Amelia."Mau apa lagi wanita itu?" Batin Nisa penasaran.Sesampainya di ruang kerja Amelia, Nisa mengetuk pintu hingga terdengar suara dari dalam ruangan. Dia membuka pintu dan melihat sosok Amelia yang sedang duduk di kursi kerjanya."Nyonya memanggil saya?" Tanya Nisa menahan rasa benci dan amarahnya. Amelia tersenyum miring. Senyuman yang seolah sedang mengejek Nisa saat ini. Melihat hal itu, Nisa pun refleks mengernyitkan keningnya."Aku pikir kamu gak akan kembali ke tempat ini," ucap Amelia sinis.Merasa tahu ke
Pandangan Nisa terlihat kosong. Dalam pikirannya saat ini hanyalah ribuan kalimat yang keluar dari mulut Amelia. Ya, wanita itu telah menceritakan apa yang telah terjadi antara mereka berdua. Nisa mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Amelia. Namun, rekaman dari cctv yang ada di villa, menunjukkan jika apa yang dikatakan oleh Amelia adalah sebuah kebenaran. Ya, kebenaran pahit yang harus Nisa terima. Tapi, bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi? Sang suami yang taat dalam beragama, bisa melakukan hal sehina itu?Nisa menghela napasnya dengan kasar. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu yang menimpa dirinya. "Bagaimana semua itu bisa terjadi?" lirih Nisa dengan air mata yang mengalir membasahi pipi. "Sayang!"Suara berat dan merdu yang selalu membuat Nisa merasa rindu dan bahagia,, kali ini membuat dirinya merasa jijik. Bahkan, untuk menoleh saja, enggan dia lakukan. "Ada apa? Apa yang sedang terjadi?" Fajar mendekati Ni
Plaak ...Nisa tersungkur, saat mendapatkan tamparan keras dari Yani—renternir yang meminjamkan uang kepadanya untuk membayar kerugian korban kecelakaan."Sudah dua bulan kamu tidak membayar hutang! Kamu pikir saya ini gak butuh uang, apa?" Pekik Yani dengan suaranya yang menggelegar."I-iya, Mami, saya pasti akan membayar hutang-hutang saya," Nisa memohon keringanan sambil menahan rasa perih pada sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah."Begini saja, bagaimana jika kamu---" Yani tersenyum licik sambil menggantung kalimatnya."Ba-bagaimana apa, Mam?" Nisa merinding melihat senyuman iblis yang keluar dari wajah wanita paruh baya yang ada dihadapannya saat ini.Yani menatap keseluruhan tubuh Nisa. Dia melangkahkan kaki dan mencengkram wajah Nisa dengan kasar. "Tubuh dan wajahmu tidak buruk, bagaimana jika kamu menjualnya saja?" Bisik Yani membuat Nisa menelan ludahnya dengan kasar."Sa-saya akan membayar hutang-hutang saya, saya janji," ucap Nisa sambil berjalan mundur menjauhi Ya







