Home / Zaman Kuno / Kutukan Sang Putri Antagonis / 4. Pertemuan yang Tak Terelakkan

Share

4. Pertemuan yang Tak Terelakkan

Author: Penra
last update Last Updated: 2026-03-15 12:54:03

Cengkeraman tangan Lucien di leherku terasa sedingin es, namun anehnya, sentuhannya tidak mencekik. Itu adalah klaim kepemilikan yang sangat nyata. Di tengah kegelapan aula yang hanya diterangi cahaya ungu dari kuali darah, aku bisa merasakan napasnya yang berat di dekat telingaku.

"Lepaskan dia, Lucien! Jangan paksa aku menggunakan cara kasar!" teriak Caelan. Suaranya sudah tidak terdengar seperti manusia lagi, ada geraman binatang yang sangat dalam di sana.

"Siluman rubah yang sombong," gumam Lucien, suaranya terdengar seperti beludru yang tajam. "Kamu pikir sumpah darahmu bisa menandingi takdir yang sudah tertulis?"

Tiba-tiba, ledakan energi dari kuali di tengah aula semakin menjadi-jadi. Cahaya menyilaukan meledak, membuat semua orang di aula berteriak dan menutupi mata mereka. Tekanan udara yang luar biasa membuat pegangan Lucien sedikit melonggar. Ini kesempatanku.

"Caelan! Lari!" teriakku entah pada siapa.

Aku menyentak tubuhku dengan sisa tenaga yang kupunya. Dalam kekacauan asap dan teriakan, aku tidak berlari menuju pintu keluar utama yang pasti sudah dijaga ketat. Aku berputar, mengangkat rok gaun biru tuaku, dan berlari menuju lorong gelap di balik pilar-pilar besar. Aku harus sembunyi. Aku tidak boleh tertangkap sekarang, tidak oleh Lucien, tidak juga oleh Caelan yang sedang kehilangan kendali.

Langkah kakiku bergema di lantai marmer lorong sayap barat istana. Napasku tersengal, paru-paruku terasa mau pecah. Aku terus berlari sampai melihat sebuah pintu kayu ek raksasa yang sedikit terbuka. Tanpa pikir panjang, aku menyelinap masuk dan langsung menutupnya rapat-rapat.

Hening.

Bau kertas tua, debu, dan aroma kayu manis langsung menyambutku. Aku berada di perpustakaan besar istana. Ruangan ini sangat luas, dengan rak-rak buku yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit yang gelap. Hanya ada sedikit cahaya bulan yang masuk dari jendela-jendela tinggi di atas.

"Aman... aku aman di sini," bisikku sambil bersandar di balik pintu, mencoba menenangkan jantungku yang berdegup gila-gilaan.

Aku melangkah perlahan ke bagian dalam perpustakaan, mencari sudut paling gelap untuk bersembunyi. Namun, saat aku melewati lorong rak bagian sejarah kuno, aku melihat setitik cahaya lampu minyak di kejauhan. Ada orang lain di sini.

Seharusnya aku lari, tapi rasa penasaranku lebih besar. Lagipula, siapa yang akan ada di perpustakaan saat semua orang sedang panik di aula? Aku mendekat dengan sangat hati-hati, memastikan langkah kakiku tidak bersuara di atas karpet tebal.

Di sebuah meja besar, duduk seorang pria. Dia mengenakan kemeja putih sederhana dengan lengan yang digulung sampai siku. Rambutnya hitam berantakan, dan dia tampak sangat fokus membaca sebuah buku besar dengan sampul kulit hitam yang terlihat sangat kuno.

"Teks ini salah," gumam pria itu pelan. "Interpretasi tentang kontrak jiwa di bab ini terlalu dangkal."

Aku mengernyitkan dahi. Itu adalah buku Deamonium Primordial, buku yang sedang kucari-cari untuk memahami kekuatan di tubuhku. Tanpa sadar, aku melangkah lebih dekat. "Sebenarnya, interpretasi itu benar jika kau melihatnya dari sudut pandang korban, bukan pembuat kontraknya."

Pria itu tersentak. Dia menoleh dengan cepat, matanya yang tajam menatapku dari balik bayang-bayang. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena cahaya lampu minyak yang minim, tapi auranya terasa sangat tenang, berbeda jauh dengan kegilaan di aula tadi.

"Siapa kamu? Dan kenapa seorang Lady bisa ada di sini dengan napas terengah-engah seperti baru dikejar hantu?" tanyanya. Suaranya rendah, terdengar seperti denting logam yang halus.

"Aku... aku hanya tersesat," jawabku cepat, mencoba memperbaiki tatanan rambutku yang berantakan. "Dan soal buku itu, di halaman seratus dua puluh, disebutkan bahwa setiap kontrak iblis memiliki celah pada emosi manusia yang tidak bisa diprediksi oleh sang iblis sendiri. Itu sebabnya bab itu terasa dangkal bagi mereka yang hanya mengejar logika kekuatan."

Pria itu menutup bukunya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya di kursi. Dia tampak tertarik. "Kamu mengerti bahasa kuno Aethelgard? Tidak banyak bangsawan wanita yang mau menghabiskan waktu dengan buku berdebu seperti ini. Mereka biasanya lebih suka membahas gaun dan pesta."

"Mungkin aku bukan bangsawan wanita biasa," kataku sambil memberanikan diri duduk di kursi di seberangnya. Di bawah cahaya remang-remang ini, aku merasa lebih berani. Dia tidak mengenalku, dan aku tidak mengenalnya. Ini adalah pelarian yang sempurna.

"Menarik," pria itu sedikit memajukan tubuhnya. Cahaya lampu kini menerangi sebagian wajahnya. Dia sangat tampan, dengan rahang yang tegas dan hidung mancung yang sempurna. Tapi ada sesuatu yang misterius di matanya. "Lalu, menurutmu, bagaimana cara memutus kontrak yang sudah terlanjur dibuat dengan darah?"

Aku terdiam sejenak, mengingat-ingat alur novel yang pernah kubaca. "Kontrak darah tidak bisa diputus, tapi bisa ditimpa. Dengan kontrak yang lebih kuat. Kontrak yang didasari oleh keinginan tulus, bukan paksaan atau keserakahan."

Pria itu terdiam cukup lama. Dia menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang mencoba membaca isi kepalaku. "Keinginan tulus... itu konsep yang sangat asing bagi makhluk yang hidup di kegelapan."

"Makhluk kegelapan juga punya hati, bukan? Hanya saja mereka terlalu takut untuk mengakuinya," balasku sambil tersenyum tipis.

"Kamu sangat berani bicara seperti itu," dia tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat merdu namun menyimpan sejuta rahasia. "Siapa namamu, Lady yang cerdas?"

Jantungku berdegup kencang. Jika aku menyebutkan namaku, ketenangan ini akan berakhir. "Sebut saja aku... orang yang sedang mencoba mengubah nasib."

"Jawaban yang diplomatis," dia berdiri dari kursinya, membuat bayangannya menelan tubuhku. Dia jauh lebih tinggi daripada yang kubayangkan. "Namaku... anggap saja aku adalah seorang sarjana yang bosan dengan keramaian istana."

"Seorang sarjana yang memiliki aura seberat ini? Kamu tidak pandai berbohong, Tuan Sarjana," kataku sambil berdiri juga.

Dia melangkah mendekat, mengitari meja hingga berdiri tepat di depanku. Wangi cendana dan sisa pembakaran yang pekat kembali memenuhi indra penciumanku. Tunggu. Bau ini... bau ini sama dengan bau pria yang menangkapku di aula tadi.

Mataku membelalak. Aku mendongak dan menatap matanya dalam-dalam. Di kegelapan ini, warna hitam matanya perlahan berubah menjadi semburat merah gelap yang sangat samar.

"Kamu..." suaraku tercekat di tenggorokan.

"Kamu lari dengan sangat cepat, Aurelia," bisiknya. Dia mengulurkan tangannya, merapikan satu helai rambut perakku yang jatuh di dahi dengan gerakan yang sangat lembut, namun membuatku merinding hebat.

"Lucien?" bisikku gemetar.

Pria itu tersenyum, tapi kali ini senyumnya tidak dingin. Ada kilatan ketertarikan yang sangat nyata di sana. "Aku datang ke sini untuk mencari jawaban dari buku-buku kuno ini. Tapi sepertinya, jawaban yang kucari justru sedang berdiri di depanku sekarang."

"Lepaskan aku. Aku harus pergi," aku mencoba mundur, tapi dia menahan pinggangku dengan satu tangan.

"Pergi ke mana? Kembali ke pelukan siluman rubah itu? Atau ke tangan saudaraku, Zayne, yang sudah menunggumu dengan jaring laba-labanya?" Lucien menundukkan kepalanya, hingga ujung hidungnya bersentuhan dengan hidungku. "Dunia ini tidak aman untukmu, Aurelia. Tapi di sampingku, kamu bisa menjadi apa pun yang kamu mau."

"Aku tidak mau menjadi milik siapa pun!" teriakku pelan, air mata mulai menggenang di mataku karena rasa takut dan bingung yang bercampur aduk.

"Kita lihat saja nanti," Lucien melepaskan tangannya, namun tatapannya masih mengunci tubuhku. "Pertemuan kita malam ini... aku tidak akan menganggapnya sebagai kecelakaan. Kamu tahu lebih banyak daripada yang kamu tunjukkan. Dan aku... aku sangat suka memecahkan misteri."

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah pintu perpustakaan. Suara itu cepat dan penuh amarah.

"Aurelia! Kamu di dalam?!" Itu suara Zayne.

Aku mematung. Jika Zayne melihatku di sini bersama Lucien dalam kondisi seperti ini, reputasiku akan hancur total, dan hidupku akan benar-benar berakhir malam ini.

Lucien hanya tersenyum tipis, tampak sangat menikmati ketakutanku. Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Ingat kata-katamu tadi, Lady yang cerdas. Kontrak bisa ditimpa dengan kontrak yang lebih kuat. Pikirkan tawaranku sebelum fajar tiba."

Dalam sekejap mata, Lucien menghilang dalam kepulan asap hitam yang tipis, meninggalkanku sendirian di tengah perpustakaan yang gelap. Detik berikutnya, pintu perpustakaan didobrak kasar oleh Zayne yang wajahnya terlihat sangat mengerikan di bawah cahaya obor.

"Ketemu!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   7. Bulan Darah

    "Aurelia, jawab aku! Kamu mau mati konyol atau ikut bersamaku?" Alaric menggeram, tangannya yang berotot masih mencengkeram bahuku dengan kuat.Aku menatap langit yang berwarna merah pekat itu dengan perasaan ngeri yang tidak bisa kujelaskan. Rasanya seperti melihat tumpahan darah di atas kain hitam. "Alaric, lepaskan. Kamu membuatku takut!""Aku tidak bercanda, Aurelia! Zayne itu iblis berkedok malaikat. Dia butuh darahmu untuk membuka gerbang itu!" Alaric membentak, membuat anak-anak panti asuhan semakin meringkuk ketakutan.Tiba-tiba, sebuah tangan dingin namun kuat menarik bahuku dari belakang, memaksaku menjauh dari jangkauan Alaric. Caelan sudah berdiri di sana, matanya berkilat emas tanda kemarahannya sudah di ubung-ubun."Cukup, Pangeran Serigala. Anda sudah cukup menakut-nakuti Lady saya hari ini," ucap Caelan dengan suara yang rendah dan mengancam."Siluman rubah ini lagi," Alaric meludah ke samping, wajahnya penuh kebencian. "Kamu pikir kamu bisa melindunginya sendirian?""

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   6. Pangeran Serigala yang Tempramen

    Suasana di aula istana mendadak beku. Suara musik yang tadi mendayu-dayu kini terputus seperti senar kecapi yang dipetik paksa. Aku menahan napas saat Alaric melangkah maju, setiap pijakannya seolah meretakkan lantai marmer. Matanya yang kuning keemasan berkilat liar, menembus kerumunan hingga mengunci mataku dengan intensitas yang mengerikan."Berikan aku penjelasan, Aurelia!" raung Alaric. Tangannya yang besar dan kasar mencengkeram bahuku, membuatku meringis kesakitan. "Kenapa bau Lucien ada pada tubuhmu? Apa kamu sudah menjual jiwamu pada raja iblis itu?""Lepaskan tanganku, Alaric! Kamu menyakitiku!" teriakku sambil berusaha meronta.Caelan tidak tinggal diam. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, dia sudah berdiri di antara kami, menepis tangan Alaric dengan kasar. "Jaga bicaramu, Pangeran Serigala. Lady Aurelia bukan tawananmu.""Dia berbau busuk, siluman!" balas Alaric dengan gigi yang menyeringai, memperlihatkan taringnya yang tajam. "Bau cendana dan asap... itu tanda kep

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   5. Pesona Pangeran Zayne

    Lampu obor yang dibawa para pengawal Zayne berpijar terang, menyapu setiap sudut perpustakaan yang tadi begitu gelap dan tenang. Zayne berdiri di sana, tepat di depan pintu yang baru saja ia dobrak. Senyumnya terkembang sempurna, jenis senyum yang sering menghiasi sampul majalah di dunia asalku, tapi di sini, senyum itu terasa seperti sembilu yang siap mengiris kulit. "Apa yang kamu lakukan di sini sendirian, Aurelia?" tanya Zayne. Suaranya terdengar sangat lembut, seolah ia benar-benar peduli. "Seluruh aula gempar karena serangan tadi. Aku mencarimu ke mana-mana sampai rasanya paru-paruku mau copot." Aku mencoba menelan ludah, berusaha keras agar lututku tidak beradu karena gemetar. Aku harus memainkan peran ini. Jangan biarkan dia tahu kalau kau baru saja bicara dengan Raja Iblis. "Aku... aku hanya takut, Pangeran," jawabku sambil menundukkan kepala, pura-pura meremas ujung gaun biru tuaku yang sederhana. "Kekacauan di aula tadi membuatku pusing. Aku tidak sengaja berlari ke sini

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   4. Pertemuan yang Tak Terelakkan

    Cengkeraman tangan Lucien di leherku terasa sedingin es, namun anehnya, sentuhannya tidak mencekik. Itu adalah klaim kepemilikan yang sangat nyata. Di tengah kegelapan aula yang hanya diterangi cahaya ungu dari kuali darah, aku bisa merasakan napasnya yang berat di dekat telingaku. "Lepaskan dia, Lucien! Jangan paksa aku menggunakan cara kasar!" teriak Caelan. Suaranya sudah tidak terdengar seperti manusia lagi, ada geraman binatang yang sangat dalam di sana. "Siluman rubah yang sombong," gumam Lucien, suaranya terdengar seperti beludru yang tajam. "Kamu pikir sumpah darahmu bisa menandingi takdir yang sudah tertulis?" Tiba-tiba, ledakan energi dari kuali di tengah aula semakin menjadi-jadi. Cahaya menyilaukan meledak, membuat semua orang di aula berteriak dan menutupi mata mereka. Tekanan udara yang luar biasa membuat pegangan Lucien sedikit melonggar. Ini kesempatanku. "Caelan! Lari!" teriakku entah pada siapa. Aku menyentak tubuhku dengan sisa tenaga yang kupunya. Dalam

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   3. Kemunculan Sang Pelindung Setia

    Aku menatap Caelan dengan jantung yang seolah berhenti berdetak. Pria itu masih berdiri di ambang pintu perpustakaan, bayangannya memanjang di atas lantai kayu, menelan cahaya lampu minyak yang temaram. Seringai tipisnya benar-benar membuat bulu kudukku berdiri. Dia tidak terlihat seperti pengawal yang patuh, melainkan seperti pemangsa yang baru saja menemukan celah pada mangsanya. "Apa maksudmu dengan takdir, Caelan?" tanyaku, berusaha menutupi getaran di suaraku dengan nada ketus yang biasa digunakan Aurelia asli. Caelan melangkah masuk tanpa suara. Gerakannya begitu halus, hampir tidak manusiawi. "Takdir selalu punya cara untuk menyeret mereka yang mencoba lari, My Lady. Terutama seseorang dengan darah seperti Anda." Aku menelan ludah, tanganku meremas pinggiran meja kayu di belakangku. "Jangan bicara berputar-putar. Aku sedang tidak ingin teka-teki." "Saya hanya menjalankan tugas, My Lady. Kereta kuda sudah siap. Duke sudah menunggu di gerbang depan dengan sisa kesabaran yang

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   2. Misi Tidak Terlihat

    "Masuklah," sahutku setelah berhasil mengatur napas yang sempat tersangkut di tenggorokan. Pintu terbuka dengan suara derit pelan. Sosok pria tinggi dengan bahu lebar melangkah masuk. Rambutnya hitam legam, kontras dengan kulitnya yang pucat. Caelan menatapku dengan mata tajam yang seolah bisa menguliti rahasia paling dalam di balik tempurung kepalaku. Aura di sekitarnya terasa berat, dingin, dan... berbahaya. "Anda terlihat pucat, My Lady. Apakah racun itu masih menyisakan sisa di tubuh Anda?" tanya Caelan. Suaranya datar, nyaris tanpa emosi, tapi aku bisa merasakan kecurigaan yang memancar kuat. "Aku hanya lelah, Caelan. Aku ingin istirahat," jawabku sesingkat mungkin. Aku takut jika bicara terlalu banyak, dia akan menyadari bahwa aku bukan Aurelia yang dia kenal. Caelan menyipitkan mata, memperhatikan setiap gerak-gerikku. "Duke sangat khawatir. Beliau meminta saya untuk tetap berada di depan pintu kamar Anda sepanjang malam." "Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Lily akan m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status