Home / Zaman Kuno / Kutukan Sang Putri Antagonis / 3. Kemunculan Sang Pelindung Setia

Share

3. Kemunculan Sang Pelindung Setia

Author: Penra
last update Last Updated: 2026-03-15 12:43:14

Aku menatap Caelan dengan jantung yang seolah berhenti berdetak. Pria itu masih berdiri di ambang pintu perpustakaan, bayangannya memanjang di atas lantai kayu, menelan cahaya lampu minyak yang temaram. Seringai tipisnya benar-benar membuat bulu kudukku berdiri. Dia tidak terlihat seperti pengawal yang patuh, melainkan seperti pemangsa yang baru saja menemukan celah pada mangsanya.

"Apa maksudmu dengan takdir, Caelan?" tanyaku, berusaha menutupi getaran di suaraku dengan nada ketus yang biasa digunakan Aurelia asli.

Caelan melangkah masuk tanpa suara. Gerakannya begitu halus, hampir tidak manusiawi. "Takdir selalu punya cara untuk menyeret mereka yang mencoba lari, My Lady. Terutama seseorang dengan darah seperti Anda."

Aku menelan ludah, tanganku meremas pinggiran meja kayu di belakangku. "Jangan bicara berputar-putar. Aku sedang tidak ingin teka-teki."

"Saya hanya menjalankan tugas, My Lady. Kereta kuda sudah siap. Duke sudah menunggu di gerbang depan dengan sisa kesabaran yang sangat tipis," ucap Caelan. Dia kini berdiri tepat di hadapanku. Bau maskulin yang bercampur dengan aroma hutan yang dingin menguar dari tubuhnya.

"Aku tidak akan pergi," kataku nekat. "Katakan pada Ayah, aku pingsan lagi. Katakan racunnya bereaksi lagi. Apa pun!"

Caelan tertawa kecil, suara baritonnya terdengar rendah dan berbahaya. "Anda tahu itu tidak akan berhasil. Ini perintah kaisar. Jika Anda tidak muncul, kepala Duke—dan mungkin kepala saya juga—akan menghias gerbang kota besok pagi."

Aku terdiam. Dalam novel, upacara pemberkatan darah ini adalah bencana. Itulah saat di mana kekuatan primordial Aurelia bocor untuk pertama kalinya karena tekanan energi di aula istana. Itu adalah titik di mana ketiga pangeran itu mulai melihat Aurelia bukan sebagai wanita pengganggu, melainkan sebagai mangsa berharga yang harus dikuasai.

"Caelan, dengarkan aku," aku mendekat, memberanikan diri menatap matanya yang tajam. "Jika aku pergi ke sana, segalanya akan berubah. Sesuatu yang buruk akan terjadi."

"Sesuatu yang buruk sudah terjadi sejak Anda terbangun tiga hari yang lalu, bukan?" balasnya dengan tatapan yang seolah bisa menembus jiwaku.

Aku tersentak. "Apa... apa maksudmu?"

"Jiwa yang ada di dalam tubuh ini... Anda pikir saya tidak menyadarinya?" Caelan memiringkan kepalanya. "Aurelia Veridian yang asli tidak akan pernah membuang perhiasannya. Dia tidak akan pernah membaca buku sejarah membosankan seperti ini. Dan dia... dia tidak akan pernah menatap saya dengan ketakutan seperti itu."

Napas menderu di tenggorokanku. Dia tahu. Caelan tahu aku bukan Aurelia.

"Siapa kau sebenarnya?" bisikku, mundur selangkah hingga punggungku menabrak rak buku.

Caelan tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, aku melihat kilatan aneh di matanya. Untuk sepersekian detik, iris matanya berubah menjadi warna emas yang menyala, pupilnya memanjang seperti hewan buas. Di belakang tubuhnya, aku seolah melihat bayangan ekor berbulu yang melambai samar sebelum menghilang dalam kedipan mata.

"Siluman rubah..." gumamku lirih, teringat detail kecil di bab tengah novel yang pernah kubaca.

"Sstt," Caelan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri. "Jangan keras-keras, My Lady. Rahasia saya jauh lebih berbahaya daripada rahasia Anda."

Aku gemetar hebat. Ternyata pengawal pribadiku sendiri adalah sosok yang paling tidak terduga. "Kenapa kau memberitahuku? Kau bisa saja membunuhku sekarang karena aku bukan majikanmu lagi."

Caelan justru berlutut di depanku. Satu lutut menyentuh lantai, kepalanya menunduk hormat, namun tangannya meraih jemariku yang dingin. "Karena untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, jiwa di dalam tubuh ini tidak membuat saya muak. Aurelia yang lama hanya melihat saya sebagai anjing penjaga. Tapi Anda... Anda melihat saya sebagai ancaman. Itu jauh lebih menghibur."

"Aku tidak ingin menghiburmu, Caelan! Aku hanya ingin hidup!" teriakku frustrasi.

"Maka biarkan saya membantu Anda tetap hidup," katanya sambil mengecup punggung tanganku dengan lembut, namun cengkeramannya tidak membiarkanku lepas. "Saya adalah pelindung Anda. Bukan karena perintah Duke, tapi karena sumpah darah yang mengikat saya pada garis keturunan Veridian. Siapa pun yang ada di dalam tubuh ini, selama darah itu tetap mengalir, Anda adalah milik saya untuk dilindungi."

Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk. Rasa takut itu masih ada, tapi ada sesuatu yang lain. Kehangatan? Untuk pertama kalinya sejak aku terlempar ke dunia gila ini, aku merasa tidak benar-benar sendirian.

"Kau... kau bersungguh-sungguh?" tanyaku ragu. "Meskipun aku hanyalah jiwa asing yang tersesat?"

"Jiwa asing yang jauh lebih menarik daripada wanita sombong sebelumnya," Caelan berdiri kembali, wajahnya kembali datar seperti biasa, tapi matanya tidak lagi terasa sedingin tadi. "Sekarang, hapus air mata Anda. Pakai gaun yang paling tidak mencolok yang Anda punya, dan mari kita hadapi monster-monster di istana itu."

Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanianku. "Baiklah. Tapi jangan tinggalkan aku sendirian di sana, Caelan. Aku serius."

"Saya tidak akan pernah meninggalkan Anda, My Lady. Bahkan jika Anda yang memohon pada saya untuk pergi," jawabnya tegas.

Beberapa jam kemudian, kereta kuda mewah keluarga Veridian membelah jalanan ibu kota yang ramai. Aku duduk di dalam, mengenakan gaun biru tua yang sangat sederhana, tanpa satu pun permata di rambut perakku. Di depanku, Duke Veridian terus mengomel tentang betapa buruknya penampilanku malam ini.

"Kamu terlihat seperti pelayan, Aurelia! Di mana gaun sutra merahmu? Di mana kalung zamrud itu? Kamu ingin mempermalukan Ayah di depan kaisar?" bentak Duke sambil memukul lantai kereta dengan tongkatnya.

"Aku sedang masa pemulihan, Ayah. Terlalu banyak perhiasan hanya akan membuat kepalaku pusing," jawabku tenang, meskipun tanganku yang tersembunyi di balik lipatan gaun saling meremas satu sama lain.

"Pusing! Kamu benar-benar sudah berubah jadi pengecut! Ingat, dekati Pangeran Zayne malam ini. Jangan biarkan jalang dari keluarga Marquess itu mencuri perhatiannya!"

Aku hanya diam, menatap ke luar jendela. Di luar sana, langit mulai menunjukkan semburat warna merah yang tidak wajar. Bulan belum muncul, tapi atmosfernya sudah terasa mencekam. Di samping kereta, Caelan berkuda dengan gagah, matanya terus waspada mengamati sekeliling.

Begitu kereta berhenti di depan tangga megah istana, suara terompet kerajaan menggema, memekakkan telinga. Para bangsawan dengan pakaian serba mewah mulai berdatangan. Aku merasa seperti domba yang masuk ke sarang serigala.

Caelan turun dari kudanya dan membukakan pintu kereta untukku. Saat aku mengulurkan tangan untuk turun, dia membisikkan sesuatu yang hanya bisa kudengar.

"Tetap di dekat saya. Jangan menatap mata Pangeran Lucien, dan jangan pernah tersenyum pada Pangeran Zayne. Mengerti?"

Aku mengangguk cepat. "Lalu bagaimana dengan Alaric?"

"Si Werewolf itu? Jika dia mendekat, bersembunyilah di belakang saya. Baunya sangat mengganggu hidung saya," Caelan mendengus geli, tapi aku tahu dia tidak bercanda.

Kami berjalan memasuki aula besar yang sudah dipenuhi ratusan orang. Di ujung aula, di atas takhta emas yang tinggi, duduk sang kaisar. Dan di bawahnya, berdiri tiga pria yang paling ingin kuhindari seumur hidupku.

Lucien berdiri dengan jubah hitamnya, tampak bosan namun auranya menekan semua orang di sekitarnya. Alaric bersandar di pilar, matanya liar menyapu ruangan seolah mencari mangsa. Dan Zayne... dia berdiri tepat di tengah, memberikan senyum ramah pada setiap wanita yang lewat, namun matanya tetap sedingin es.

Tiba-tiba, pandangan Zayne tertuju padaku. Senyumnya tidak berubah, tapi dia sedikit memiringkan kepalanya, seolah sedang mengamati sesuatu yang baru.

"Lady Aurelia," suara Zayne menggema pelan namun entah bagaimana sampai ke telingaku melewati kebisingan aula. "Anda datang dengan penampilan yang... sangat berbeda malam ini."

Jantungku berpacu dua kali lebih cepat. Aku mencoba menundukkan kepala, tapi Caelan justru memegang pinggangku dari belakang, memberiku kekuatan untuk tetap tegak.

"Jangan tunjukkan rasa takutmu," bisik Caelan di telingaku.

Zayne mulai melangkah mendekat, membelah kerumunan bangsawan yang langsung memberi jalan untuknya. Setiap langkahnya terasa seperti detak jam menuju eksekusiku. Namun, sebelum Zayne sampai di hadapanku, lampu-lampu di aula tiba-tiba meredup.

Sebuah guncangan hebat terasa dari bawah lantai batu. Jeritan mulai terdengar saat kuali besar di tengah aula, yang berisi darah suci untuk upacara, mulai bergejolak dan mengeluarkan cahaya ungu pekat.

"Segelnya..." bisik seseorang di kegelapan.

Aku merasakan panas yang luar biasa menjalar dari bahu kiriku. Tempat di mana tanda bunga lima kelopak tersembunyi di balik kulitku. Aku mencoba menahan teriakan sakit, tapi tubuhku lemas.

Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menangkap tubuhku sebelum aku jatuh ke lantai. Bukan tangan Caelan. Wangi cendana dan sisa pembakaran yang pekat memenuhi indra penciumanku.

"Ketemu," bisik sebuah suara dingin yang membuat darahku membeku.

Aku mendongak dan menemukan sepasang mata merah yang berkilat di tengah kegelapan. Lucien. Sang Raja Iblis itu kini memeluk pinggangku dengan erat, sementara tangannya yang lain mencengkeram leherku dengan lembut namun mematikan.

"Lepaskan dia, Lucien!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   7. Bulan Darah

    "Aurelia, jawab aku! Kamu mau mati konyol atau ikut bersamaku?" Alaric menggeram, tangannya yang berotot masih mencengkeram bahuku dengan kuat.Aku menatap langit yang berwarna merah pekat itu dengan perasaan ngeri yang tidak bisa kujelaskan. Rasanya seperti melihat tumpahan darah di atas kain hitam. "Alaric, lepaskan. Kamu membuatku takut!""Aku tidak bercanda, Aurelia! Zayne itu iblis berkedok malaikat. Dia butuh darahmu untuk membuka gerbang itu!" Alaric membentak, membuat anak-anak panti asuhan semakin meringkuk ketakutan.Tiba-tiba, sebuah tangan dingin namun kuat menarik bahuku dari belakang, memaksaku menjauh dari jangkauan Alaric. Caelan sudah berdiri di sana, matanya berkilat emas tanda kemarahannya sudah di ubung-ubun."Cukup, Pangeran Serigala. Anda sudah cukup menakut-nakuti Lady saya hari ini," ucap Caelan dengan suara yang rendah dan mengancam."Siluman rubah ini lagi," Alaric meludah ke samping, wajahnya penuh kebencian. "Kamu pikir kamu bisa melindunginya sendirian?""

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   6. Pangeran Serigala yang Tempramen

    Suasana di aula istana mendadak beku. Suara musik yang tadi mendayu-dayu kini terputus seperti senar kecapi yang dipetik paksa. Aku menahan napas saat Alaric melangkah maju, setiap pijakannya seolah meretakkan lantai marmer. Matanya yang kuning keemasan berkilat liar, menembus kerumunan hingga mengunci mataku dengan intensitas yang mengerikan."Berikan aku penjelasan, Aurelia!" raung Alaric. Tangannya yang besar dan kasar mencengkeram bahuku, membuatku meringis kesakitan. "Kenapa bau Lucien ada pada tubuhmu? Apa kamu sudah menjual jiwamu pada raja iblis itu?""Lepaskan tanganku, Alaric! Kamu menyakitiku!" teriakku sambil berusaha meronta.Caelan tidak tinggal diam. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, dia sudah berdiri di antara kami, menepis tangan Alaric dengan kasar. "Jaga bicaramu, Pangeran Serigala. Lady Aurelia bukan tawananmu.""Dia berbau busuk, siluman!" balas Alaric dengan gigi yang menyeringai, memperlihatkan taringnya yang tajam. "Bau cendana dan asap... itu tanda kep

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   5. Pesona Pangeran Zayne

    Lampu obor yang dibawa para pengawal Zayne berpijar terang, menyapu setiap sudut perpustakaan yang tadi begitu gelap dan tenang. Zayne berdiri di sana, tepat di depan pintu yang baru saja ia dobrak. Senyumnya terkembang sempurna, jenis senyum yang sering menghiasi sampul majalah di dunia asalku, tapi di sini, senyum itu terasa seperti sembilu yang siap mengiris kulit. "Apa yang kamu lakukan di sini sendirian, Aurelia?" tanya Zayne. Suaranya terdengar sangat lembut, seolah ia benar-benar peduli. "Seluruh aula gempar karena serangan tadi. Aku mencarimu ke mana-mana sampai rasanya paru-paruku mau copot." Aku mencoba menelan ludah, berusaha keras agar lututku tidak beradu karena gemetar. Aku harus memainkan peran ini. Jangan biarkan dia tahu kalau kau baru saja bicara dengan Raja Iblis. "Aku... aku hanya takut, Pangeran," jawabku sambil menundukkan kepala, pura-pura meremas ujung gaun biru tuaku yang sederhana. "Kekacauan di aula tadi membuatku pusing. Aku tidak sengaja berlari ke sini

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   4. Pertemuan yang Tak Terelakkan

    Cengkeraman tangan Lucien di leherku terasa sedingin es, namun anehnya, sentuhannya tidak mencekik. Itu adalah klaim kepemilikan yang sangat nyata. Di tengah kegelapan aula yang hanya diterangi cahaya ungu dari kuali darah, aku bisa merasakan napasnya yang berat di dekat telingaku. "Lepaskan dia, Lucien! Jangan paksa aku menggunakan cara kasar!" teriak Caelan. Suaranya sudah tidak terdengar seperti manusia lagi, ada geraman binatang yang sangat dalam di sana. "Siluman rubah yang sombong," gumam Lucien, suaranya terdengar seperti beludru yang tajam. "Kamu pikir sumpah darahmu bisa menandingi takdir yang sudah tertulis?" Tiba-tiba, ledakan energi dari kuali di tengah aula semakin menjadi-jadi. Cahaya menyilaukan meledak, membuat semua orang di aula berteriak dan menutupi mata mereka. Tekanan udara yang luar biasa membuat pegangan Lucien sedikit melonggar. Ini kesempatanku. "Caelan! Lari!" teriakku entah pada siapa. Aku menyentak tubuhku dengan sisa tenaga yang kupunya. Dalam

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   3. Kemunculan Sang Pelindung Setia

    Aku menatap Caelan dengan jantung yang seolah berhenti berdetak. Pria itu masih berdiri di ambang pintu perpustakaan, bayangannya memanjang di atas lantai kayu, menelan cahaya lampu minyak yang temaram. Seringai tipisnya benar-benar membuat bulu kudukku berdiri. Dia tidak terlihat seperti pengawal yang patuh, melainkan seperti pemangsa yang baru saja menemukan celah pada mangsanya. "Apa maksudmu dengan takdir, Caelan?" tanyaku, berusaha menutupi getaran di suaraku dengan nada ketus yang biasa digunakan Aurelia asli. Caelan melangkah masuk tanpa suara. Gerakannya begitu halus, hampir tidak manusiawi. "Takdir selalu punya cara untuk menyeret mereka yang mencoba lari, My Lady. Terutama seseorang dengan darah seperti Anda." Aku menelan ludah, tanganku meremas pinggiran meja kayu di belakangku. "Jangan bicara berputar-putar. Aku sedang tidak ingin teka-teki." "Saya hanya menjalankan tugas, My Lady. Kereta kuda sudah siap. Duke sudah menunggu di gerbang depan dengan sisa kesabaran yang

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   2. Misi Tidak Terlihat

    "Masuklah," sahutku setelah berhasil mengatur napas yang sempat tersangkut di tenggorokan. Pintu terbuka dengan suara derit pelan. Sosok pria tinggi dengan bahu lebar melangkah masuk. Rambutnya hitam legam, kontras dengan kulitnya yang pucat. Caelan menatapku dengan mata tajam yang seolah bisa menguliti rahasia paling dalam di balik tempurung kepalaku. Aura di sekitarnya terasa berat, dingin, dan... berbahaya. "Anda terlihat pucat, My Lady. Apakah racun itu masih menyisakan sisa di tubuh Anda?" tanya Caelan. Suaranya datar, nyaris tanpa emosi, tapi aku bisa merasakan kecurigaan yang memancar kuat. "Aku hanya lelah, Caelan. Aku ingin istirahat," jawabku sesingkat mungkin. Aku takut jika bicara terlalu banyak, dia akan menyadari bahwa aku bukan Aurelia yang dia kenal. Caelan menyipitkan mata, memperhatikan setiap gerak-gerikku. "Duke sangat khawatir. Beliau meminta saya untuk tetap berada di depan pintu kamar Anda sepanjang malam." "Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Lily akan m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status