MasukSuasana di aula istana mendadak beku. Suara musik yang tadi mendayu-dayu kini terputus seperti senar kecapi yang dipetik paksa. Aku menahan napas saat Alaric melangkah maju, setiap pijakannya seolah meretakkan lantai marmer. Matanya yang kuning keemasan berkilat liar, menembus kerumunan hingga mengunci mataku dengan intensitas yang mengerikan.
"Berikan aku penjelasan, Aurelia!" raung Alaric. Tangannya yang besar dan kasar mencengkeram bahuku, membuatku meringis kesakitan. "Kenapa bau Lucien ada pada tubuhmu? Apa kamu sudah menjual jiwamu pada raja iblis itu?" "Lepaskan tanganku, Alaric! Kamu menyakitiku!" teriakku sambil berusaha meronta. Caelan tidak tinggal diam. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, dia sudah berdiri di antara kami, menepis tangan Alaric dengan kasar. "Jaga bicaramu, Pangeran Serigala. Lady Aurelia bukan tawananmu." "Dia berbau busuk, siluman!" balas Alaric dengan gigi yang menyeringai, memperlihatkan taringnya yang tajam. "Bau cendana dan asap... itu tanda kepemilikan iblis. Apa yang kalian sembunyikan?" Zayne, yang tadi berdiri tidak jauh dari situ, hanya menonton dengan senyum tipis di bibirnya. Dia tampak menikmati tontonan gratis ini. "Cukup!" bentakku, suaraku meninggi hingga membuat beberapa bangsawan wanita di sekitar kami terlonjak kaget. "Aku lelah dengan tuduhan kalian. Aku baru saja sembuh dari racun dan sekarang kalian memperlakukanku seperti barang rampasan. Aku mau pulang!" Aku langsung berbalik, mengabaikan tatapan menusuk dari Alaric dan seringai licik Zayne. Caelan mengikutiku dengan sigap, memberikan perlindungan di belakangku. Malam itu aku benar-benar melarikan diri dari istana, namun aku tahu, ini baru permulaan dari kekacauan yang lebih besar. ****** Satu minggu kemudian. Aku berdiri di depan sebuah bangunan kayu tua dengan cat yang sudah mengelupas di pinggiran ibu kota. Baunya sangat berbeda dengan aroma mawar di kediaman Veridian. Di sini, bau lumpur, sampah, dan kemiskinan menyeruak kuat. Ini adalah panti asuhan "Cahaya Kecil", tempat yang di dalam novel hanya disebutkan sekali sebagai tempat Aurelia membuang barang-barang yang tidak ia sukai. "My Lady, apa Anda yakin mau masuk ke sana? Tempat ini sangat kotor," Lily berbisik sambil menutup hidungnya dengan saputangan sutra. "Aku yakin, Lily. Turunkan keranjang-keranjang makanannya," kataku sambil merapikan gaun cokelat tuaku yang sangat sederhana. Aku melangkah masuk ke halaman panti. Beberapa anak kecil yang sedang bermain bola kempis langsung berhenti. Mereka menatapku dengan mata bulat yang penuh ketakutan. Beberapa dari mereka bahkan langsung lari bersembunyi di belakang pintu kayu yang reyot. "Itu... itu Lady Penyihir," bisik seorang bocah laki-laki dengan baju compang-camping. "Sst! Jangan bicara keras-keras nanti kamu dikutuk jadi batu!" sahut temannya. Hatiku mencelos. Ternyata reputasi Aurelia di mata rakyat kecil jauh lebih buruk daripada yang kubayangkan. Bukan hanya benci, mereka benar-benar ketakutan. "Selamat pagi," sapaku selembut mungkin, mencoba memberikan senyum paling tulus yang kupunya. "Aku membawa banyak roti hangat dan buah-buahan. Apa ada yang lapar?" Seorang wanita tua dengan pakaian lusuh keluar dari dalam gedung. Dia adalah Ibu Martha, pengurus panti. Wajahnya yang penuh keriput tampak sangat tegang saat melihat kereta kuda dengan lambang keluarga Veridian di depan gerbangnya. "Lady Veridian... apa yang membawa Anda ke tempat rendah ini?" tanya Ibu Martha dengan suara gemetar. Dia tidak membungkuk hormat, tangannya justru mengepal di sisi tubuhnya. "Aku ingin membantu, Bu. Aku sadar selama ini aku sudah sangat egois. Jadi, aku membawa sedikit bantuan untuk anak-anak," jawabku sambil memberi isyarat pada pelayan untuk membawa masuk keranjang-keranjang roti. "Bantuan? Atau Anda ingin mengambil anak-anak kami untuk dijadikan tumit sihir Anda?" Seorang pria bertubuh besar dengan pakaian kuli tiba-tiba muncul di belakang Ibu Martha. Matanya menatapku dengan benci yang amat sangat. "Kami tahu siapa Anda! Wanita kejam yang suka menyiksa pelayan!" "Aku tidak bermaksud begitu—" "Pergi dari sini! Kami tidak butuh roti beracunmu!" Wanita itu menepis keranjang yang dibawa Lily hingga roti-roti hangat itu jatuh berserakan di tanah yang becek. Lily menjerit kaget. Aku mematung, menatap roti-roti yang kini kotor tertutup tanah. Rasa sesak mulai memenuhi dadaku. Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang baik agar nasibku berubah, tapi kenapa begitu sulit? Tiba-tiba, suara deru motor—ah bukan, ini dunia novel—suara derap kaki kuda yang sangat kencang terdengar. Sebuah bayangan besar melompati pagar panti asuhan dan mendarat tepat di tengah halaman dengan suara dentuman yang keras. "Siapa yang berani berteriak di depanku?!" raung sebuah suara yang sangat kukenal. Alaric berdiri di sana dalam wujud manusianya, tapi auranya sudah setengah serigala. Matanya menyala kuning, dan kuku-kukunya memanjang. Dia tampak sangat murka. Rakyat yang tadi mengerumuniku langsung kocar-kacir ketakutan. "Alaric? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyaku kaget. "Aku mencarimu ke seluruh kota, Aurelia! Kenapa kamu berkeliaran di tempat sampah seperti ini tanpa pengawalan?!" Alaric mendekat padaku, mengabaikan rakyat yang kini bersujud ketakutan di tanah. "Aku sedang melakukan amal! Jangan mengacau di sini!" kataku kesal. Alaric menatap roti yang berserakan di tanah, lalu menatap pria kuli tadi yang kini gemetar ketakutan. "Kamu... kamu yang membuang pemberian wanitaku?!" "B-bukan begitu, Tuan Pangeran... kami hanya..." Alaric menggeram pelan, sebuah suara rendah yang menggetarkan dada. Dia mencengkeram kerah baju wanita itu dan mengangkatnya hingga kakinya tidak menyentuh tanah. "Dia mencoba menjadi baik, dan kamu menghinanya? Apa kamu mau aku merobek tenggorokanmu sekarang?" "Alaric, hentikan! Jangan!" aku berlari dan memegang lengan Alaric yang berotot. "Lepaskan dia! Kamu malah membuat mereka semakin takut padaku!" Alaric menatapku, kemarahan di matanya perlahan meredup digantikan oleh kebingungan. "Dia menghinamu, Aurelia. Di klanku, siapa pun yang menghina pasangan pemimpin akan mati." "Aku bukan pasanganmu! Dan tolong, biarkan aku menyelesaikan ini dengan caraku sendiri," kataku tegas, menatap matanya dalam-dalam. Alaric mendengus kasar lalu melepaskan wanita tu hingga jatuh terjerembap. Dia berdiri di sampingku seperti anjing penjaga yang sangat besar dan sangat galak. Aku kembali menatap Ibu Martha dan anak-anak yang kini menangis karena ketakutan melihat Alaric. Aku berlutut di tanah yang kotor, mengabaikan noda lumpur yang mengotori gaun mahalku. Aku mulai memunguti roti-roti yang masih bersih di bagian dalamnya. "Aku minta maaf kalau kedatanganku membuat kalian takut," kataku dengan suara yang sedikit bergetar. "Aku tahu aku punya masa lalu yang buruk. Aku tidak minta kalian memaafkanku sekarang. Tapi tolong, jangan biarkan anak-anak ini lapar karena kemarahan kalian padaku. Roti yang di dalam keranjang lain masih bersih." Ibu Martha menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia melihat tanganku yang kotor karena lumpur, lalu melihat wajahku yang tidak lagi menunjukkan kesombongan. Perlahan, dia mendekat dan ikut berlutut di sampingku. "Lady... Anda benar-benar berbeda," bisiknya lirih. Satu per satu anak-anak mulai berani mendekat. Seorang gadis kecil dengan rambut kepang dua mengambil sebuah apel dari keranjang dan memberikannya padaku. "Ini untuk Kakak Cantik. Jangan menangis." Aku tersenyum, kali ini mataku terasa panas. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa seperti Ayra yang sedang terjebak, atau Aurelia yang sedang berakting. Aku merasa menjadi manusia yang berguna. Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Saat matahari mulai terbenam, langit di ufuk barat tidak berwarna oranye seperti biasanya. Warnanya merah pekat, seperti darah yang tumpah di atas kanvas hitam. "Lihat langitnya!" teriak salah satu warga. "Mitos itu benar... Bulan Darah akan segera tiba," bisik Ibu Martha dengan wajah pucat pasi. "Jika bulan benar-benar menjadi merah dalam tiga malam, maka Segel Aethelgard akan pecah, dan kegelapan akan menelan kita semua." Aku mendongak menatap langit yang mengerikan itu. Jantungku berdebar kencang. Dalam novel, Malam Bulan Darah adalah saat di mana eksekusi Aurelia direncanakan. Tapi sekarang, segalanya sudah berubah. "Aurelia," Alaric berdiri di belakangku, suaranya terdengar sangat serius. "Waktumu hampir habis. Zayne sudah mulai mengumpulkan pasukan bayangan. Kamu harus memilih, ikut denganku ke wilayah Utara sekarang, atau kamu akan menjadi tumbal pertama saat bulan itu muncul sempurna.""Aurelia, jawab aku! Kamu mau mati konyol atau ikut bersamaku?" Alaric menggeram, tangannya yang berotot masih mencengkeram bahuku dengan kuat.Aku menatap langit yang berwarna merah pekat itu dengan perasaan ngeri yang tidak bisa kujelaskan. Rasanya seperti melihat tumpahan darah di atas kain hitam. "Alaric, lepaskan. Kamu membuatku takut!""Aku tidak bercanda, Aurelia! Zayne itu iblis berkedok malaikat. Dia butuh darahmu untuk membuka gerbang itu!" Alaric membentak, membuat anak-anak panti asuhan semakin meringkuk ketakutan.Tiba-tiba, sebuah tangan dingin namun kuat menarik bahuku dari belakang, memaksaku menjauh dari jangkauan Alaric. Caelan sudah berdiri di sana, matanya berkilat emas tanda kemarahannya sudah di ubung-ubun."Cukup, Pangeran Serigala. Anda sudah cukup menakut-nakuti Lady saya hari ini," ucap Caelan dengan suara yang rendah dan mengancam."Siluman rubah ini lagi," Alaric meludah ke samping, wajahnya penuh kebencian. "Kamu pikir kamu bisa melindunginya sendirian?""
Suasana di aula istana mendadak beku. Suara musik yang tadi mendayu-dayu kini terputus seperti senar kecapi yang dipetik paksa. Aku menahan napas saat Alaric melangkah maju, setiap pijakannya seolah meretakkan lantai marmer. Matanya yang kuning keemasan berkilat liar, menembus kerumunan hingga mengunci mataku dengan intensitas yang mengerikan."Berikan aku penjelasan, Aurelia!" raung Alaric. Tangannya yang besar dan kasar mencengkeram bahuku, membuatku meringis kesakitan. "Kenapa bau Lucien ada pada tubuhmu? Apa kamu sudah menjual jiwamu pada raja iblis itu?""Lepaskan tanganku, Alaric! Kamu menyakitiku!" teriakku sambil berusaha meronta.Caelan tidak tinggal diam. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, dia sudah berdiri di antara kami, menepis tangan Alaric dengan kasar. "Jaga bicaramu, Pangeran Serigala. Lady Aurelia bukan tawananmu.""Dia berbau busuk, siluman!" balas Alaric dengan gigi yang menyeringai, memperlihatkan taringnya yang tajam. "Bau cendana dan asap... itu tanda kep
Lampu obor yang dibawa para pengawal Zayne berpijar terang, menyapu setiap sudut perpustakaan yang tadi begitu gelap dan tenang. Zayne berdiri di sana, tepat di depan pintu yang baru saja ia dobrak. Senyumnya terkembang sempurna, jenis senyum yang sering menghiasi sampul majalah di dunia asalku, tapi di sini, senyum itu terasa seperti sembilu yang siap mengiris kulit. "Apa yang kamu lakukan di sini sendirian, Aurelia?" tanya Zayne. Suaranya terdengar sangat lembut, seolah ia benar-benar peduli. "Seluruh aula gempar karena serangan tadi. Aku mencarimu ke mana-mana sampai rasanya paru-paruku mau copot." Aku mencoba menelan ludah, berusaha keras agar lututku tidak beradu karena gemetar. Aku harus memainkan peran ini. Jangan biarkan dia tahu kalau kau baru saja bicara dengan Raja Iblis. "Aku... aku hanya takut, Pangeran," jawabku sambil menundukkan kepala, pura-pura meremas ujung gaun biru tuaku yang sederhana. "Kekacauan di aula tadi membuatku pusing. Aku tidak sengaja berlari ke sini
Cengkeraman tangan Lucien di leherku terasa sedingin es, namun anehnya, sentuhannya tidak mencekik. Itu adalah klaim kepemilikan yang sangat nyata. Di tengah kegelapan aula yang hanya diterangi cahaya ungu dari kuali darah, aku bisa merasakan napasnya yang berat di dekat telingaku. "Lepaskan dia, Lucien! Jangan paksa aku menggunakan cara kasar!" teriak Caelan. Suaranya sudah tidak terdengar seperti manusia lagi, ada geraman binatang yang sangat dalam di sana. "Siluman rubah yang sombong," gumam Lucien, suaranya terdengar seperti beludru yang tajam. "Kamu pikir sumpah darahmu bisa menandingi takdir yang sudah tertulis?" Tiba-tiba, ledakan energi dari kuali di tengah aula semakin menjadi-jadi. Cahaya menyilaukan meledak, membuat semua orang di aula berteriak dan menutupi mata mereka. Tekanan udara yang luar biasa membuat pegangan Lucien sedikit melonggar. Ini kesempatanku. "Caelan! Lari!" teriakku entah pada siapa. Aku menyentak tubuhku dengan sisa tenaga yang kupunya. Dalam
Aku menatap Caelan dengan jantung yang seolah berhenti berdetak. Pria itu masih berdiri di ambang pintu perpustakaan, bayangannya memanjang di atas lantai kayu, menelan cahaya lampu minyak yang temaram. Seringai tipisnya benar-benar membuat bulu kudukku berdiri. Dia tidak terlihat seperti pengawal yang patuh, melainkan seperti pemangsa yang baru saja menemukan celah pada mangsanya. "Apa maksudmu dengan takdir, Caelan?" tanyaku, berusaha menutupi getaran di suaraku dengan nada ketus yang biasa digunakan Aurelia asli. Caelan melangkah masuk tanpa suara. Gerakannya begitu halus, hampir tidak manusiawi. "Takdir selalu punya cara untuk menyeret mereka yang mencoba lari, My Lady. Terutama seseorang dengan darah seperti Anda." Aku menelan ludah, tanganku meremas pinggiran meja kayu di belakangku. "Jangan bicara berputar-putar. Aku sedang tidak ingin teka-teki." "Saya hanya menjalankan tugas, My Lady. Kereta kuda sudah siap. Duke sudah menunggu di gerbang depan dengan sisa kesabaran yang
"Masuklah," sahutku setelah berhasil mengatur napas yang sempat tersangkut di tenggorokan. Pintu terbuka dengan suara derit pelan. Sosok pria tinggi dengan bahu lebar melangkah masuk. Rambutnya hitam legam, kontras dengan kulitnya yang pucat. Caelan menatapku dengan mata tajam yang seolah bisa menguliti rahasia paling dalam di balik tempurung kepalaku. Aura di sekitarnya terasa berat, dingin, dan... berbahaya. "Anda terlihat pucat, My Lady. Apakah racun itu masih menyisakan sisa di tubuh Anda?" tanya Caelan. Suaranya datar, nyaris tanpa emosi, tapi aku bisa merasakan kecurigaan yang memancar kuat. "Aku hanya lelah, Caelan. Aku ingin istirahat," jawabku sesingkat mungkin. Aku takut jika bicara terlalu banyak, dia akan menyadari bahwa aku bukan Aurelia yang dia kenal. Caelan menyipitkan mata, memperhatikan setiap gerak-gerikku. "Duke sangat khawatir. Beliau meminta saya untuk tetap berada di depan pintu kamar Anda sepanjang malam." "Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Lily akan m







