Share

2. Misi Tidak Terlihat

Penulis: Penra
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-15 12:31:00

"Masuklah," sahutku setelah berhasil mengatur napas yang sempat tersangkut di tenggorokan.

Pintu terbuka dengan suara derit pelan. Sosok pria tinggi dengan bahu lebar melangkah masuk. Rambutnya hitam legam, kontras dengan kulitnya yang pucat. Caelan menatapku dengan mata tajam yang seolah bisa menguliti rahasia paling dalam di balik tempurung kepalaku. Aura di sekitarnya terasa berat, dingin, dan... berbahaya.

"Anda terlihat pucat, My Lady. Apakah racun itu masih menyisakan sisa di tubuh Anda?" tanya Caelan. Suaranya datar, nyaris tanpa emosi, tapi aku bisa merasakan kecurigaan yang memancar kuat.

"Aku hanya lelah, Caelan. Aku ingin istirahat," jawabku sesingkat mungkin. Aku takut jika bicara terlalu banyak, dia akan menyadari bahwa aku bukan Aurelia yang dia kenal.

Caelan menyipitkan mata, memperhatikan setiap gerak-gerikku. "Duke sangat khawatir. Beliau meminta saya untuk tetap berada di depan pintu kamar Anda sepanjang malam."

"Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Lily akan menjagaku," kataku sambil melirik ke arah pelayanku yang masih gemetaran di pojok ruangan.

"Perintah Duke adalah mutlak, My Lady. Sama seperti keinginan Anda sebelumnya yang selalu ingin saya berada di dekat Anda, bukan?" Caelan melangkah selangkah lebih dekat, membuat insting pelarianku berteriak kencang.

Aku teringat dalam novel, Aurelia memang selalu memaksa Caelan untuk menemaninya hanya agar dia bisa menyiksa pria itu secara mental. "Itu dulu. Sekarang aku ingin sendiri. Keluar, Caelan. Ini perintah."

Ada jeda cukup lama sebelum Caelan akhirnya membungkuk hormat, meski aku tahu dia melakukannya dengan enggan. "Baik, jika itu keinginan Anda."

Begitu pintu tertutup, aku langsung merosot ke lantai. Tubuh ini terasa sangat lemah.

"Lily!" panggilku setengah berbisik.

"I-iya, My Lady?" Lily mendekat dengan ragu.

"Bantu aku. Ambilkan koper besar sekarang juga."

"Koper? Kita mau pergi kemana, My Lady?"

"Bukan pergi. Kita mau bersih-bersih. Ambil semua gaun merah darah itu, semua gaun dengan belahan dada rendah, dan semua perhiasan yang beratnya sampai bikin leherku mau patah. Masukkan semuanya ke koper!" perintahku tegas.

Lily melongo, mulutnya terbuka lebar. "Tapi... itu semua koleksi kesayangan Anda! Gaun merah itu adalah sutra langka yang hanya ada sepuluh di dunia!"

"Sekarang jadi sebelas karena aku tidak sudi memakainya lagi. Cepat, Lily! Jangan banyak tanya. Cari baju yang paling sederhana. Warna cokelat, abu-abu, atau biru pudar. Pokoknya yang membuatku terlihat seperti tembok rumah ini," kataku sambil mulai menarik gaun-gaun mahal dari lemari kayu ek yang besar itu.

Aku melemparkan gaun-gaun sutra berkilau itu ke lantai seperti tumpukan sampah. Dalam ingatanku, Aurelia selalu memakai pakaian yang memancing mata para pangeran. Dia ingin menjadi pusat perhatian. Tapi bagiku, menjadi pusat perhatian sama saja dengan memasang target di punggungku sendiri.

"My Lady, sungguh, Anda membuat saya takut. Apa kepala Anda terbentur saat jatuh tadi?" Lily mulai memunguti baju-baju itu dengan tangan gemetar.

"Kepalaku justru baru saja jernih, Lily. Aku tidak mau mati konyol hanya karena ingin terlihat cantik di depan pria-pria yang lebih suka melihatku dipenggal," gumamku sambil terus membongkar isi lemari.

Setelah dua jam berkutat, kamar yang tadinya seperti etalase toko perhiasan kini terlihat lebih manusiawi. Aku menyisakan beberapa gaun sederhana dengan kerah tinggi. Tidak ada lagi permata sebesar telur puyuh atau hiasan kepala yang mencolok.

"Nah, begini lebih baik," kataku sambil menghela napas lega. Aku melihat pantulanku di cermin. Tanpa riasan tebal dan baju yang berlebihan, wajah Aurelia terlihat jauh lebih muda dan... rapuh.

"Sekarang, Lily, ambil surat undangan dari Pangeran Zayne tadi."

Lily menyerahkan amplop emas itu dengan ragu. Aku mengambil pena dan kertas, lalu menuliskan balasan singkat.

"Katakan pada utusan istana, Lady Aurelia Veridian sedang tidak enak badan dan tidak bisa menghadiri pesta teh tersebut. Sampaikan permohonan maafku yang paling dalam, tapi aku butuh waktu setidaknya sebulan untuk pemulihan."

"Sebulan?! Tapi My Lady, Pangeran Zayne akan sangat tersinggung! Duke pasti akan marah besar!" seru Lily panik.

"Biarkan saja. Lebih baik ayahku marah daripada aku mati dipancung," balasku cuek.

Baru saja surat itu hendak kuserahkan pada Lily, pintu kamar terbuka kasar tanpa ketukan. Seorang pria paruh baya dengan jubah kebesaran bangsawan masuk dengan wajah merah padam. Duke Veridian. Ayah Aurelia yang ambisius.

"Aurelia! Apa-apaan ini?! Aku dengar dari pelayan depan kalau kamu menolak undangan Pangeran Zayne?!" teriaknya hingga pembuluh darah di lehernya terlihat jelas.

Aku berdiri, mencoba bersikap setenang mungkin meski lututku rasanya mau copot. "Iya, Ayah. Aku sedang sakit."

"Sakit? Kamu baru saja membongkar seisi kamarmu seperti orang gila! Kamu tahu betapa sulitnya mendapatkan perhatian pangeran mahkota?! Ini adalah tiket kita untuk naik ke puncak kekuasaan!" Duke mendekat, matanya melotot tajam.

"Kekuasaan tidak ada gunanya kalau aku sudah jadi mayat, Yah," kataku pelan tapi tegas.

Duke terdiam sejenak, tampak kaget mendengar cara bicaraku yang tidak lagi manja atau meledak-ledak. "Apa yang merasukimu, hah? Kamu biasanya akan melakukan apa saja demi Zayne!"

"Mungkin racun yang kuminum kemarin benar-benar membunuh Aurelia yang bodoh, Ayah. Sekarang aku hanya ingin hidup tenang di kediaman ini. Jangan paksa aku untuk pergi ke istana lagi."

Duke Veridian menatapku dengan tatapan tidak percaya. Dia mendengus kasar, lalu melihat ke tumpukan koper di sudut ruangan. "Terserah kamu! Tapi ingat, jika kamu kehilangan minat dari Pangeran Zayne, jangan harap aku akan terus membela reputasimu yang hancur itu di depan rakyat!"

Dia keluar dan membanting pintu. Aku mengembuskan napas panjang. Satu rintangan terlewati.

Beberapa hari pun berlalu. Aku benar-benar mengurung diri di dalam paviliun. Aku menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku sejarah di perpustakaan pribadi, mencoba memahami lebih dalam tentang dunia Aethelgard. Setiap kali Caelan datang untuk mengantarkan makanan atau pesan, aku selalu bersikap dingin dan mengusirnya secepat mungkin. Aku bisa merasakan tatapannya yang semakin tajam setiap harinya, seolah dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk menerkamku.

"My Lady, ada kabar buruk," Lily masuk ke perpustakaan dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya. Tangannya memegang sebuah gulungan kertas dengan segel resmi kekaisaran. Segel naga perak.

Jantungku berdegup kencang. "Jangan bilang itu dari Zayne lagi."

"Bukan, My Lady. Ini... ini titah langsung dari Kaisar. Bukan undangan, tapi perintah wajib."

Aku menyambar kertas itu dan membacanya dengan cepat. Mataku membelalak.

"Peringatan seratus tahun berdirinya kekaisaran... Semua anggota keluarga bangsawan tingkat tinggi wajib hadir tanpa terkecuali untuk upacara pemberkatan darah. Jika tidak hadir, maka akan dianggap sebagai tindakan pengkhianatan terhadap takhta," suaraku bergetar saat membaca baris terakhir.

"Upacara pemberkatan darah?" bisikku. Aku ingat bab ini di novel. Ini bukan sekadar pesta. Ini adalah momen di mana energi para bangsawan akan diuji di depan publik. Ini adalah jebakan.

"My Lady, kereta kuda sudah disiapkan di depan. Duke meminta Anda bersiap sekarang juga. Anda tidak punya pilihan," Lily tampak ingin menangis.

Aku meremas kertas itu hingga hancur. Upacara pemberkatan darah adalah awal dari terbongkarnya rahasia darah Aethelgard dalam tubuhku. Jika aku pergi ke sana, Lucien, Alaric, dan Zayne akan ada di sana. Mereka akan melihat kekuatanku bangkit untuk pertama kalinya.

Baru saja aku hendak berdiri, pintu perpustakaan terbuka. Caelan berdiri di sana, menatapku dengan seringai tipis yang baru pertama kali kulihat.

"Waktunya berangkat, My Lady. Takdir sepertinya tidak suka jika Anda bersembunyi terlalu lama."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   7. Bulan Darah

    "Aurelia, jawab aku! Kamu mau mati konyol atau ikut bersamaku?" Alaric menggeram, tangannya yang berotot masih mencengkeram bahuku dengan kuat.Aku menatap langit yang berwarna merah pekat itu dengan perasaan ngeri yang tidak bisa kujelaskan. Rasanya seperti melihat tumpahan darah di atas kain hitam. "Alaric, lepaskan. Kamu membuatku takut!""Aku tidak bercanda, Aurelia! Zayne itu iblis berkedok malaikat. Dia butuh darahmu untuk membuka gerbang itu!" Alaric membentak, membuat anak-anak panti asuhan semakin meringkuk ketakutan.Tiba-tiba, sebuah tangan dingin namun kuat menarik bahuku dari belakang, memaksaku menjauh dari jangkauan Alaric. Caelan sudah berdiri di sana, matanya berkilat emas tanda kemarahannya sudah di ubung-ubun."Cukup, Pangeran Serigala. Anda sudah cukup menakut-nakuti Lady saya hari ini," ucap Caelan dengan suara yang rendah dan mengancam."Siluman rubah ini lagi," Alaric meludah ke samping, wajahnya penuh kebencian. "Kamu pikir kamu bisa melindunginya sendirian?""

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   6. Pangeran Serigala yang Tempramen

    Suasana di aula istana mendadak beku. Suara musik yang tadi mendayu-dayu kini terputus seperti senar kecapi yang dipetik paksa. Aku menahan napas saat Alaric melangkah maju, setiap pijakannya seolah meretakkan lantai marmer. Matanya yang kuning keemasan berkilat liar, menembus kerumunan hingga mengunci mataku dengan intensitas yang mengerikan."Berikan aku penjelasan, Aurelia!" raung Alaric. Tangannya yang besar dan kasar mencengkeram bahuku, membuatku meringis kesakitan. "Kenapa bau Lucien ada pada tubuhmu? Apa kamu sudah menjual jiwamu pada raja iblis itu?""Lepaskan tanganku, Alaric! Kamu menyakitiku!" teriakku sambil berusaha meronta.Caelan tidak tinggal diam. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, dia sudah berdiri di antara kami, menepis tangan Alaric dengan kasar. "Jaga bicaramu, Pangeran Serigala. Lady Aurelia bukan tawananmu.""Dia berbau busuk, siluman!" balas Alaric dengan gigi yang menyeringai, memperlihatkan taringnya yang tajam. "Bau cendana dan asap... itu tanda kep

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   5. Pesona Pangeran Zayne

    Lampu obor yang dibawa para pengawal Zayne berpijar terang, menyapu setiap sudut perpustakaan yang tadi begitu gelap dan tenang. Zayne berdiri di sana, tepat di depan pintu yang baru saja ia dobrak. Senyumnya terkembang sempurna, jenis senyum yang sering menghiasi sampul majalah di dunia asalku, tapi di sini, senyum itu terasa seperti sembilu yang siap mengiris kulit. "Apa yang kamu lakukan di sini sendirian, Aurelia?" tanya Zayne. Suaranya terdengar sangat lembut, seolah ia benar-benar peduli. "Seluruh aula gempar karena serangan tadi. Aku mencarimu ke mana-mana sampai rasanya paru-paruku mau copot." Aku mencoba menelan ludah, berusaha keras agar lututku tidak beradu karena gemetar. Aku harus memainkan peran ini. Jangan biarkan dia tahu kalau kau baru saja bicara dengan Raja Iblis. "Aku... aku hanya takut, Pangeran," jawabku sambil menundukkan kepala, pura-pura meremas ujung gaun biru tuaku yang sederhana. "Kekacauan di aula tadi membuatku pusing. Aku tidak sengaja berlari ke sini

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   4. Pertemuan yang Tak Terelakkan

    Cengkeraman tangan Lucien di leherku terasa sedingin es, namun anehnya, sentuhannya tidak mencekik. Itu adalah klaim kepemilikan yang sangat nyata. Di tengah kegelapan aula yang hanya diterangi cahaya ungu dari kuali darah, aku bisa merasakan napasnya yang berat di dekat telingaku. "Lepaskan dia, Lucien! Jangan paksa aku menggunakan cara kasar!" teriak Caelan. Suaranya sudah tidak terdengar seperti manusia lagi, ada geraman binatang yang sangat dalam di sana. "Siluman rubah yang sombong," gumam Lucien, suaranya terdengar seperti beludru yang tajam. "Kamu pikir sumpah darahmu bisa menandingi takdir yang sudah tertulis?" Tiba-tiba, ledakan energi dari kuali di tengah aula semakin menjadi-jadi. Cahaya menyilaukan meledak, membuat semua orang di aula berteriak dan menutupi mata mereka. Tekanan udara yang luar biasa membuat pegangan Lucien sedikit melonggar. Ini kesempatanku. "Caelan! Lari!" teriakku entah pada siapa. Aku menyentak tubuhku dengan sisa tenaga yang kupunya. Dalam

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   3. Kemunculan Sang Pelindung Setia

    Aku menatap Caelan dengan jantung yang seolah berhenti berdetak. Pria itu masih berdiri di ambang pintu perpustakaan, bayangannya memanjang di atas lantai kayu, menelan cahaya lampu minyak yang temaram. Seringai tipisnya benar-benar membuat bulu kudukku berdiri. Dia tidak terlihat seperti pengawal yang patuh, melainkan seperti pemangsa yang baru saja menemukan celah pada mangsanya. "Apa maksudmu dengan takdir, Caelan?" tanyaku, berusaha menutupi getaran di suaraku dengan nada ketus yang biasa digunakan Aurelia asli. Caelan melangkah masuk tanpa suara. Gerakannya begitu halus, hampir tidak manusiawi. "Takdir selalu punya cara untuk menyeret mereka yang mencoba lari, My Lady. Terutama seseorang dengan darah seperti Anda." Aku menelan ludah, tanganku meremas pinggiran meja kayu di belakangku. "Jangan bicara berputar-putar. Aku sedang tidak ingin teka-teki." "Saya hanya menjalankan tugas, My Lady. Kereta kuda sudah siap. Duke sudah menunggu di gerbang depan dengan sisa kesabaran yang

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   2. Misi Tidak Terlihat

    "Masuklah," sahutku setelah berhasil mengatur napas yang sempat tersangkut di tenggorokan. Pintu terbuka dengan suara derit pelan. Sosok pria tinggi dengan bahu lebar melangkah masuk. Rambutnya hitam legam, kontras dengan kulitnya yang pucat. Caelan menatapku dengan mata tajam yang seolah bisa menguliti rahasia paling dalam di balik tempurung kepalaku. Aura di sekitarnya terasa berat, dingin, dan... berbahaya. "Anda terlihat pucat, My Lady. Apakah racun itu masih menyisakan sisa di tubuh Anda?" tanya Caelan. Suaranya datar, nyaris tanpa emosi, tapi aku bisa merasakan kecurigaan yang memancar kuat. "Aku hanya lelah, Caelan. Aku ingin istirahat," jawabku sesingkat mungkin. Aku takut jika bicara terlalu banyak, dia akan menyadari bahwa aku bukan Aurelia yang dia kenal. Caelan menyipitkan mata, memperhatikan setiap gerak-gerikku. "Duke sangat khawatir. Beliau meminta saya untuk tetap berada di depan pintu kamar Anda sepanjang malam." "Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Lily akan m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status