MasukLampu obor yang dibawa para pengawal Zayne berpijar terang, menyapu setiap sudut perpustakaan yang tadi begitu gelap dan tenang. Zayne berdiri di sana, tepat di depan pintu yang baru saja ia dobrak. Senyumnya terkembang sempurna, jenis senyum yang sering menghiasi sampul majalah di dunia asalku, tapi di sini, senyum itu terasa seperti sembilu yang siap mengiris kulit.
"Apa yang kamu lakukan di sini sendirian, Aurelia?" tanya Zayne. Suaranya terdengar sangat lembut, seolah ia benar-benar peduli. "Seluruh aula gempar karena serangan tadi. Aku mencarimu ke mana-mana sampai rasanya paru-paruku mau copot." Aku mencoba menelan ludah, berusaha keras agar lututku tidak beradu karena gemetar. Aku harus memainkan peran ini. Jangan biarkan dia tahu kalau kau baru saja bicara dengan Raja Iblis. "Aku... aku hanya takut, Pangeran," jawabku sambil menundukkan kepala, pura-pura meremas ujung gaun biru tuaku yang sederhana. "Kekacauan di aula tadi membuatku pusing. Aku tidak sengaja berlari ke sini untuk mencari ketenangan." Zayne melangkah mendekat. Setiap derap sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagiku. Ia berhenti tepat di depanku, lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh daguku, memaksaku menatap mata birunya yang secerah langit musim panas namun sedingin es kutub. "Mencari ketenangan di perpustakaan yang gelap?" Zayne terkekeh pelan. "Kamu benar-benar berubah, Sayang. Biasanya kamu akan berteriak histeris dan memintaku memelukmu jika ada bahaya. Tapi sekarang... kamu justru lari bersembunyi sendirian." "Orang bisa berubah setelah hampir mati karena racun, bukan?" balasku dengan nada sedikit berani, meski jantungku rasanya mau melompat keluar. Zayne menyipitkan mata, seolah sedang membedah setiap sel di wajahku. "Benar. Perubahan yang sangat menarik. Mari, kita kembali ke paviliunmu. Ayahmu sudah hampir gila karena mengira kamu diculik oleh monster-monster itu." Malam itu berakhir dengan Zayne yang mengantarku sampai ke depan pintu kereta kuda. Ia bersikap sangat ksatria, sangat sempurna, hingga para bangsawan lain yang melihatnya tampak berbisik iri. Tapi bagiku, setiap sentuhannya di punggungku terasa seperti jejak ular yang melata. * Keesokan malamnya, suasana istana jauh lebih megah. Perayaan seratus tahun kekaisaran tetap dilanjutkan dengan jamuan makan malam formal di aula emas. Kejadian mengerikan semalam seolah disapu bersih oleh pencitraan kaisar yang mengatakan bahwa itu hanyalah "gangguan teknis" pada energi suci. Aku duduk di kursi keluarga Veridian, mengenakan gaun abu-abu pudar dengan kerah tinggi. Aku sengaja tidak memakai riasan apa pun selain sedikit pemerah bibir. Aku ingin tenggelam dalam kerumunan, ingin menjadi bayangan. Namun, harapanku pupus saat sang pembawa acara meneriakkan nama anggota keluarga kerajaan. "Pangeran Mahkota Zayne Aethelgard!" Zayne masuk ke aula dengan jubah putih bersulam benang emas. Wajahnya bersinar, mempesona setiap wanita yang ada di sana. Ia berjalan dengan angkuh namun elegan menuju podium utama. Kaisar memberikan tanda agar Zayne memberikan pidato pembukaan. "Rakyatku, para bangsawan yang terhormat," suara Zayne menggema, berat dan penuh wibawa. "Kejadian semalam adalah ujian bagi kekuatan kita. Namun, di tengah kegelapan itu, aku melihat secercah harapan. Seseorang yang biasanya kita kenal dengan kemewahannya, justru menunjukkan sisi yang luar biasa rendah hati dan tenang." Firasatku mendadak buruk. Mulas di perutku semakin menjadi-jadi. "Lady Aurelia Veridian," Zayne menunjuk ke arahku. Seluruh mata di aula itu—ratusan pasang mata—langsung tertuju padaku. "Beliau adalah contoh nyata bahwa dalam menghadapi maut, kedewasaan dan ketenangan adalah kunci. Aku secara pribadi ingin memuji perubahan sikapnya yang kini lebih memilih kesederhanaan daripada kemewahan yang fana." Suara bisik-bisik langsung pecah seperti tawon yang diganggu sarangnya. "Lihat itu, apa dia benar-benar Aurelia?" "Kenapa dia pakai baju seperti rakyat jelata begitu?" "Apa dia sedang mencoba merayu Pangeran dengan gaya baru? Dasar rubah licik!" Aku merasa wajahku panas bukan main. Ini bukan pujian. Ini adalah cara Zayne untuk mengikatku di bawah lampu sorot agar aku tidak bisa lari ke mana-mana. Dia sedang menandai mangsanya di depan umum. Zayne turun dari podium dan berjalan lurus ke arah mejaku. Ayahku, Duke Veridian, langsung berdiri dengan wajah berseri-seri, merasa bangga karena anaknya disebut oleh pangeran mahkota. "Pangeran Zayne, sungguh sebuah kehormatan," Duke membungkuk dalam-dalam. "Duke, Anda memiliki putri yang sangat bijaksana," kata Zayne, lalu ia beralih padaku dan mengulurkan tangannya. "Lady Aurelia, maukah Anda berdansa denganku? Sebagai tanda syukur atas keselamatan kita semalam?" Aku menatap tangan itu. Jika aku menolak, itu adalah penghinaan bagi keluarga kerajaan. Jika aku menerimanya, aku akan masuk lebih dalam ke dalam jaringnya. Caelan, yang berdiri di belakangku sebagai pengawal, memberikan geraman halus yang hanya bisa kudengar. "Aku... aku merasa terhormat, Pangeran," kataku akhirnya, terpaksa meletakkan tanganku di atas telapak tangannya. Kami berjalan menuju tengah lantai dansa. Musik mulai mengalun, sebuah melodi waltz yang lambat namun terasa menyesakkan. Zayne menarik pinggangku mendekat, jauh lebih dekat dari yang seharusnya untuk sebuah dansa formal. "Kamu terlihat sangat cantik malam ini, Aurelia," bisiknya di dekat keningku. "Warna abu-abu ini membuat mata ungunu terlihat lebih... hidup. Dan jujur saja, jauh lebih menggoda daripada gaun merah norak yang biasa kamu pakai." "Terima kasih atas pujiannya, Pangeran. Aku hanya ingin berhenti menjadi pusat perhatian," balasku dingin. "Benarkah? Tapi tindakanmu justru membuatku tidak bisa berhenti menatapmu," Zayne memutar tubuhku dengan gerakan yang sangat halus. "Katakan padaku, apa yang terjadi di perpustakaan itu sebelum aku datang? Aku mencium bau cendana yang sangat kuat. Bau yang biasanya hanya dimiliki oleh para bangsawan dari dunia iblis." Jantungku berhenti berdetak sesaat. Dia tahu. Setidaknya dia mencurigai sesuatu. "Mungkin itu bau buku-buku tua, Pangeran. Anda tahu sendiri perpustakaan itu jarang dibersihkan," aku mencoba mencari alasan yang masuk akal. "Jangan bohong padaku, Aurelia," Zayne merapatkan tubuhnya, bibirnya kini nyaris menyentuh daun telingaku. "Aku mengenalmu sejak kecil. Kamu tidak pernah bisa berbohong tanpa meremas jarimu sendiri. Dan lihat... jarimu sekarang sangat tegang." Aku segera melemaskan peganganku pada bahunya, tapi sudah terlambat. Zayne tertawa kecil, suara tawa yang membuat darahku terasa membeku di dalam pembuluh darah. "Siapa pun yang merasukimu, dia jauh lebih pintar dari Aurelia yang asli," bisik Zayne dengan suara yang sangat rendah, hingga hanya aku yang bisa mendengarnya di tengah keriuhan musik. Aku tersentak, hampir saja kehilangan langkah dansaku. "Apa maksud Anda, Pangeran?" "Mata itu," Zayne menatap langsung ke dalam mataku. "Mata Aurelia yang dulu selalu penuh dengan obsesi dan nafsu untuk memilikiku. Tapi matamu... matamu penuh dengan ketakutan yang dalam dan... rasa jijik. Kamu jijik padaku, bukan?" Aku tidak bisa menjawab. Lidahku terasa kelu. "Sangat menarik," Zayne mengakhiri dansanya tepat saat musik berhenti. Ia membungkuk hormat, mencium punggung tanganku dengan sangat lama, matanya tidak pernah lepas dari mataku. "Aku tidak peduli siapa kamu sebenarnya. Tapi tubuh itu, darah itu... adalah milikku. Jangan coba-ciri bermain dengan Lucien atau siluman rubah itu di belakangku." Zayne melepaskan tanganku dan berbalik pergi dengan senyum malaikatnya, meninggalkan aku yang berdiri mematung di tengah aula yang penuh dengan tatapan benci dari para bangsawan wanita. Aku merasa perutku benar-benar mual sekarang. Zayne bukan hanya ingin kekuatanku. Dia tahu aku adalah jiwa lain. Dan yang paling menakutkan, dia justru terlihat sangat menikmatinya. "My Lady, Anda tidak apa-apa?" Caelan tiba-tiba sudah ada di sampingku, wajahnya terlihat sangat tegang. "Caelan... kita harus pergi dari sini sekarang juga," bisikku gemetar. "Dia tahu. Zayne tahu segalanya." Baru saja kami hendak melangkah menuju pintu keluar, sebuah pengumuman lain membuat seluruh ruangan hening seketika. "Pangeran Alaric dari klan Werewolf Utara memasuki aula!""Aurelia, jawab aku! Kamu mau mati konyol atau ikut bersamaku?" Alaric menggeram, tangannya yang berotot masih mencengkeram bahuku dengan kuat.Aku menatap langit yang berwarna merah pekat itu dengan perasaan ngeri yang tidak bisa kujelaskan. Rasanya seperti melihat tumpahan darah di atas kain hitam. "Alaric, lepaskan. Kamu membuatku takut!""Aku tidak bercanda, Aurelia! Zayne itu iblis berkedok malaikat. Dia butuh darahmu untuk membuka gerbang itu!" Alaric membentak, membuat anak-anak panti asuhan semakin meringkuk ketakutan.Tiba-tiba, sebuah tangan dingin namun kuat menarik bahuku dari belakang, memaksaku menjauh dari jangkauan Alaric. Caelan sudah berdiri di sana, matanya berkilat emas tanda kemarahannya sudah di ubung-ubun."Cukup, Pangeran Serigala. Anda sudah cukup menakut-nakuti Lady saya hari ini," ucap Caelan dengan suara yang rendah dan mengancam."Siluman rubah ini lagi," Alaric meludah ke samping, wajahnya penuh kebencian. "Kamu pikir kamu bisa melindunginya sendirian?""
Suasana di aula istana mendadak beku. Suara musik yang tadi mendayu-dayu kini terputus seperti senar kecapi yang dipetik paksa. Aku menahan napas saat Alaric melangkah maju, setiap pijakannya seolah meretakkan lantai marmer. Matanya yang kuning keemasan berkilat liar, menembus kerumunan hingga mengunci mataku dengan intensitas yang mengerikan."Berikan aku penjelasan, Aurelia!" raung Alaric. Tangannya yang besar dan kasar mencengkeram bahuku, membuatku meringis kesakitan. "Kenapa bau Lucien ada pada tubuhmu? Apa kamu sudah menjual jiwamu pada raja iblis itu?""Lepaskan tanganku, Alaric! Kamu menyakitiku!" teriakku sambil berusaha meronta.Caelan tidak tinggal diam. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, dia sudah berdiri di antara kami, menepis tangan Alaric dengan kasar. "Jaga bicaramu, Pangeran Serigala. Lady Aurelia bukan tawananmu.""Dia berbau busuk, siluman!" balas Alaric dengan gigi yang menyeringai, memperlihatkan taringnya yang tajam. "Bau cendana dan asap... itu tanda kep
Lampu obor yang dibawa para pengawal Zayne berpijar terang, menyapu setiap sudut perpustakaan yang tadi begitu gelap dan tenang. Zayne berdiri di sana, tepat di depan pintu yang baru saja ia dobrak. Senyumnya terkembang sempurna, jenis senyum yang sering menghiasi sampul majalah di dunia asalku, tapi di sini, senyum itu terasa seperti sembilu yang siap mengiris kulit. "Apa yang kamu lakukan di sini sendirian, Aurelia?" tanya Zayne. Suaranya terdengar sangat lembut, seolah ia benar-benar peduli. "Seluruh aula gempar karena serangan tadi. Aku mencarimu ke mana-mana sampai rasanya paru-paruku mau copot." Aku mencoba menelan ludah, berusaha keras agar lututku tidak beradu karena gemetar. Aku harus memainkan peran ini. Jangan biarkan dia tahu kalau kau baru saja bicara dengan Raja Iblis. "Aku... aku hanya takut, Pangeran," jawabku sambil menundukkan kepala, pura-pura meremas ujung gaun biru tuaku yang sederhana. "Kekacauan di aula tadi membuatku pusing. Aku tidak sengaja berlari ke sini
Cengkeraman tangan Lucien di leherku terasa sedingin es, namun anehnya, sentuhannya tidak mencekik. Itu adalah klaim kepemilikan yang sangat nyata. Di tengah kegelapan aula yang hanya diterangi cahaya ungu dari kuali darah, aku bisa merasakan napasnya yang berat di dekat telingaku. "Lepaskan dia, Lucien! Jangan paksa aku menggunakan cara kasar!" teriak Caelan. Suaranya sudah tidak terdengar seperti manusia lagi, ada geraman binatang yang sangat dalam di sana. "Siluman rubah yang sombong," gumam Lucien, suaranya terdengar seperti beludru yang tajam. "Kamu pikir sumpah darahmu bisa menandingi takdir yang sudah tertulis?" Tiba-tiba, ledakan energi dari kuali di tengah aula semakin menjadi-jadi. Cahaya menyilaukan meledak, membuat semua orang di aula berteriak dan menutupi mata mereka. Tekanan udara yang luar biasa membuat pegangan Lucien sedikit melonggar. Ini kesempatanku. "Caelan! Lari!" teriakku entah pada siapa. Aku menyentak tubuhku dengan sisa tenaga yang kupunya. Dalam
Aku menatap Caelan dengan jantung yang seolah berhenti berdetak. Pria itu masih berdiri di ambang pintu perpustakaan, bayangannya memanjang di atas lantai kayu, menelan cahaya lampu minyak yang temaram. Seringai tipisnya benar-benar membuat bulu kudukku berdiri. Dia tidak terlihat seperti pengawal yang patuh, melainkan seperti pemangsa yang baru saja menemukan celah pada mangsanya. "Apa maksudmu dengan takdir, Caelan?" tanyaku, berusaha menutupi getaran di suaraku dengan nada ketus yang biasa digunakan Aurelia asli. Caelan melangkah masuk tanpa suara. Gerakannya begitu halus, hampir tidak manusiawi. "Takdir selalu punya cara untuk menyeret mereka yang mencoba lari, My Lady. Terutama seseorang dengan darah seperti Anda." Aku menelan ludah, tanganku meremas pinggiran meja kayu di belakangku. "Jangan bicara berputar-putar. Aku sedang tidak ingin teka-teki." "Saya hanya menjalankan tugas, My Lady. Kereta kuda sudah siap. Duke sudah menunggu di gerbang depan dengan sisa kesabaran yang
"Masuklah," sahutku setelah berhasil mengatur napas yang sempat tersangkut di tenggorokan. Pintu terbuka dengan suara derit pelan. Sosok pria tinggi dengan bahu lebar melangkah masuk. Rambutnya hitam legam, kontras dengan kulitnya yang pucat. Caelan menatapku dengan mata tajam yang seolah bisa menguliti rahasia paling dalam di balik tempurung kepalaku. Aura di sekitarnya terasa berat, dingin, dan... berbahaya. "Anda terlihat pucat, My Lady. Apakah racun itu masih menyisakan sisa di tubuh Anda?" tanya Caelan. Suaranya datar, nyaris tanpa emosi, tapi aku bisa merasakan kecurigaan yang memancar kuat. "Aku hanya lelah, Caelan. Aku ingin istirahat," jawabku sesingkat mungkin. Aku takut jika bicara terlalu banyak, dia akan menyadari bahwa aku bukan Aurelia yang dia kenal. Caelan menyipitkan mata, memperhatikan setiap gerak-gerikku. "Duke sangat khawatir. Beliau meminta saya untuk tetap berada di depan pintu kamar Anda sepanjang malam." "Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Lily akan m







